Wednesday, February 21, 2007

Balasan Komentar Milis SD-Islam 2



Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terima kasih atas undangannya masuk milis ini Pak Arif. Saya memang bukan seorang ahli dari segala-galanya berkaitan dengan pendidikan, dan saya tidak pernah menklaim begitu. Saya hanya merasa sangat sedih ketika orang tua “ditipu” oleh pengusaha yang menjual impian kosong. Yang dirugikan adalah saudara saya di dalam Islam. Dan oleh karena itu saya merasa beban moral untuk membantu mereka. Sudah sepuluh tahun saya diam terus karena semua teman menyatakan saya bakalan “diserang” oleh orang yang pro-sekolah tersebut. Saya sekarang menyesal bahwa saya tidak membocorkan informasi ini dari 5 tahun yang lalu.

Untuk 1 minggu ini, saya sudah habiskan waktu berjam-jam untuk membalas email dari puluhan orang tua yang sangat prihatin terhadap sekolah swasta dan sekolah negeri. Masih ada puluhan yang belum sempat saya menjawab, karena sekarang terlalu banyak yang masuk setiap hari. Dan ini adalah masalah karena saya tidak jadi mengerjakan tugas yang lain yang juga penting buat saya.

Saya merasa sudah sangat jelas bahwa tujuan artikel pertama saya hanya untuk mengagetkan para orang tua karena semuanya merasa sekolah terkemuka itu yang terbaik, tanpa tahu sisi lainnya. Dan para guru Indonesia sekaligus pengurus sekolah tidak ingin membuka “aib” ini. Orang tua hanya tahu ada masalah setelah 1 tahun, kemudian menyesal masuk sekolah tersebut.

Saya termasuk orang yang sangat bangga dan kagum dengan guru Indonesia yang baik di sekolah negeri yang bisa berhasil dan mengajar dengan baik di tengah2 tantangan yang begitu besar (dan ada banyak sekali guru yang baik, karena saya pernah bertemu dengan ratusan dari mereka). Saya juga kagum dengan yayasan sekolah kecil atau kepala sekolah negeri yang juga berjuang dengan semangat yang baik. Dan saya selalu senang membantu mereka dengan apa saja yang bisa saya lakukan.

Tetapi, yang saya bahas di artikel saya kemarin bukan orang inilah, tetapi “pengusaha” yang hanya membuka sekolah karena merasa malas membuka toko atau usaha baru yang lain. Dan mereka itu sebuah kaum yang makin berkembang pada saat ini. Dan juga para guru, yang tidak memiliki ilmu yang baik untuk mengajar.

Bagi bapak/ibu yang tidak mengenal saya, cobalah mencari seorang guru di sebuah sekolah swasta atau negeri yang memang mengenal saya dan bertanya kalau saya pernah menolak suatu permintaan darinya. Saya justru siap merugikan diri sendiri untuk membantu dan membela guru dan sekolah yang baik. Dan maksud saya adalah sekolah dan guru yang memang berusaha untuk memberi pelajaran yang baik, dengan usaha yang jelas, bukan sekedar menyuruh anak2 kerjakan dan hafalkan soal supaya guru berhak menerima gaji.

Waktu saya diminta Pusdiklat DKI untuk memberi pelajaran bagi sekelompok guru SD Negeri, saya tidak minta tarif sama sekali karena niat saya adalah membantu para guru dan lewat mereka, para murid di sekolah2 negeri. Saya diberikan honor, tanpa saya minta apa saja, termasuk uang transportasi juga tidak diminta.

Pernah saya kunjungi sebuah sekolah Islam kecil di Bandung (saya lupa namanya), dan saya menjadi sangat kagum. Semua guru berkualifikasi, semuanya di-interview satu per satu, dan jawaban mereka 100% sesuai dengan ilmu saya. Lingkungan sekolah bagus, kurikulum bagus, kepala sekolah sangat terbuka untuk menjelaskan segala sesuatu tentang sekolahnya. Dan semua itu saya laporkan kepada anggota yayasan.

Tetatpi pada saat saya kunjungi sebuah sekolah Islam dengan ukuran sedang di Kebayoran Lama, saya sangat kaget dengan begitu banyak sampah di lapangannya. Hampir semuanya kantong plastik (plastik bekas minuman saat istirahat). Saya mencari tempat sampah dan tidak menemukan satupun di seluruh sekolah (di luar kelas). Bagaimana mungkin sekolah ini bisa dikatakan “dikelolah dengan baik”, padahal ada sampah di mana-mana. Guru mana? Kepala sekolah mana? Orang tua tidak komplain juga? Di tembok di sebelah tangga ada tulisan “Kebersihan adalah sebagian dari keimanan.” Apakah saya perlu kualifikasi khusus untuk mengetahui bahwa membuang sampah di mana-mana di sekolah adalah hal yang tidak baik dan tidak juga Islamiah?

Mengenai komentar bahwa saya “hanya” seorang guru bahasa Inggris, memang betul. Saya hanya seorang guru. Saya hanya belajar tentang pendidikan di manca negara selama 15 tahun. Saya hanya memiliki puluhan buku dengan judul seperti Teacher Training, Classroom Management, School Administration, School Based Management, Educational Psychology, Curriculum Development dan seterusnya. Saya hanya sekedar membacanya dan hanya sekedar memahaminya. Saya hanya berhobi membaca terus tentang pendidikan. Berarti tidak ada gelar khusus kalau hanya sekedar membaca.

Saya ada beberapa teman yang juga ahli kurikulum dan ahli administrasi sekolah, dan juga ahli pendidikan bahasa yang ilmunya lebih tinggi dari saya. Saat ketemu mereka, kita membahas pendidikan lebih dari topik yang lain. Kalau saya mendapat masalah di bindang pendidikan dan ingin minta saran, saya telfon mereka dan kita hanya sekedar membahas kurikulum dan sebagainya untuk berjam-jam. Kita hanya sekedar saling mengirim email juga. Email itu saya hanya sekedar membaca dan memahaminya. Hanya itu saja.

Jadi benar, kualifikasi dan gelar saya “hanya” sebagai seorang guru bahasa dan sejarah.

Saya akan berusaha untuk menjawab setiap email yang saya terima dari orang tua. Saya tidak dibayar. Tugas saya yang lain jadi tidak selesai. Saya menjadi capai. Dan jawaban yang paling sering ditulis adalah “Maaf Ibu, saya tidak tahu kalau sekolah itu baik atau tidak baik. Saya belum mengunjunginya dan belum mendapat informasi dari guru yang saya percayai tentang kualitas sekolahnya.”

Jadi dengan
segala hormat, kelihatannya memang Mr. Gene harus meng
- update lagi ke-ilmuannya - he's so conventional and
'jadul banget'.

Saya sama sekali TIDAK menyatakan bahwa sistem hafalan adalah baik atau benar. Dan saya juga TIDAK menyatakan bahwa melakukan hands-on learning adalah hal yang tidak baik.

Di luar negeri semua orang bicara experimental learning, holistic learning, environment based education.

“Semua orang” boleh-boleh saja membahas sesuatu. Tidak berarti mereka benar dan teori mereka akan dibuktikan benar pada 10 tahun mendatang. Kalau kita lihat website sekolah di Cina atau Russia, “semua orang” menyatakan bahwa Tuhan tidak ada dan mempelajari agama hanya membuang waktu. Apakah benar?

Dan berapa persen sekolah yang menjadi “eksperimental” dari seluruhnya? (Maaf, saya paling tahu tentang sistem pendidikan di Australia, NZ, Amerika dan Inggris). Misalnya kalau “semua orang” di Australia sedang membicarakan sekolah “eksperimental learning”, kenapa semua sekolah negeri tidak diubah menjadi “eksperimental” juga??? Ada alasan: karena yang namanya “eksperimen” dengan masa depan anak2 biasanya dilakukan dengan sangat hati2 dan dipantau, disurvei, diselediki terus, karena orang tua dan para alhi pendidikan justru takut bahwa eksperimen tersebut tidak akan berhasil. Mereka tidak mau “asal” membuat sebuah sistem pendidikan baru, dan telah dilakukan riset yang benar jauh hari sebelum sekolah itu berdiri.

Jadi berapa persen dari jumlah seluruh sekolah yang ada yang menjadi sekolah “eksperimental”? 35%? Atau barangkali 0,3%?

Di negara mana dulu? Bagaimana pandangan dunia terhadap sistem pendidikan di negara tersebut. (Ini agak mirip dengan membahas mazhab – setiap orang bisa milih mazhab sendiri, dan masing masing bisa dikatakan “benar” dari pandangan tertentu!)

Kalau di luar negeri tidak ada mayoritas dari ahli pendidikan yang merasa yakin dengan sistem tersebut, kenapa justru banyak yayasan di sini inginkan mayoritas dari sekolah swasta menjadi tempat untuk melakukan eksperimen terhadap Khalifa Allah? Tidak berarti sistem yang ada sekarang di sekolah negeri yang terbaik, tetapi orang yang bijaksana tidak akan langsung lari ke esktrim kiri dari ekstrim kanan demi membangun sekolah yang begitu berbeda. Di tengah2 ada banyak ilmu yang baik yang sudah terbukti keberhasilannya. Hal itu tidak jadi dibahas di sini, sepertinya.

Di sini saya tidak menemukan sistem pemantauan yang sama dari kaum Professor Pendidikan seperti yang saya ketahui ada di Australia dan negara lain. Itulah yang saya kuatirkan: anak2 ini menjadi sebuah “eksperimen” benaran di mana yayasan asal mendirikan sekolah dan ingin melihat hasilnya pada 10 tahun mendatang. Kalau ternyata tidak baik? Bagaimana masa depan anak2 itu?

Saya rasa sudah cukuplah dari saya. Mohon maaf kalau ada merasa terganggu. Mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung. Inysa Allah saya akan bisa membantu dengan menyebarkan sedikit ilmu di milis ini dan saya juga akan tetap berjuang untuk menyadarkan para orang tua bahwa sekolah idaman mereka tidak sehebat yang mereka perkirakan.

Terima kasih atas waktunya membaca tulisan saya. Semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

No comments:

Post a Comment