Sunday, February 18, 2007

Koreksi Tentang Sekolah Alam



Assalamu’alaikum wr.wb.,

Di dalam artikel yang saya tulis tentang pendidikan di sekolah swasta, ternyata saya salah menyebut nama sebuah sekolah.

Yang saya sebut sebagai Sekolah Alam yang ada jurang di belakang sekolah, ternyata nama tempat itu bukan Sekolah Alam di Jl. Anda 7X. Maaf bila ada yang menjadi bingung/kuatir karena kesalahan tersebut. Saya sudah membuat perbaikan di artikel saya yang disimpan di blog.

Kedua sekolah tersebut memang terletak di Cianjur. Karena salah satu orang tua mendapat artikel saya dan menyadari kesalahan tersebut, dia mengirim email kepada saya atas nama pengurus sekolah dan mengundang saya untuk mengunjungi Sekolah Alam (yang berbeda dengan sekolah yang saya bicarakan). Insya Allah saya akan bisa melakukan kunjungan nanti untuk menambahkan wawasan saya tentang sekolah ini.

Saya mengunjugi website dari masing-masing sekolah. Secara ringkas, yang saya lihat di website Sekolah Alam jauh lebih lengkap tentang cara kerja sekolah dan penjelasan yang ada cukup baik (untuk ilmu awal). Saya kagum membaca pernyataan ini:

“Untuk keamanan dan kenyamanan, rumah pohon hanya dapat dinaiki siswa dengan pengawasan dan sepengetahuan guru.”

Sumber:

Ini yang saya maksudkan di artikel saya dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan untuk para siswa. Saya jadi teringat jurang di belakang sekolah yang saya bahas dan mencari informasi yang serupa tentang keselamatan di website sekolah itu. Saya tidak menemukan. (Apakah begini kali: “Anak2 hanya diperbolehkan jatuh ke jurang dengan sepengetahuan guru???” Hahaha. Mudah-mudahan tidak begitu.)

Kalau hanya sekedar membandingkan website saja, Sekolah Alam jauh lebih maju sistemnya daripada sekolah yang satu lagi karena informasi yang tersedia di website jauh lebih lengkap. Saya juga ingin tahu tentang nilai akademis yang dicapai oleh siswa di Sekolah Alam ini. Sekolah dengan sistem Open Learning sangat baik tetapi harus dijaga juga nilai akademisnya. Mau tidak mau, anak ini harus berkompetisi dengan orang lain untuk masuk universitas nanti.

Kalau seandainya pengurus sekolah tidak mengerti pendidikan (seperti yang saya alami di sekolah lain) maka nilai akademis anak2 tidak bisa dijamin berkembang dengan semestinya karena anak2 terlalu banyak diberi kebebasan pada saat mereka seharusnya belajar. Sistem tidak terfokus pada perkembangan kognitif anak2. Misalnya, banyak anak yang senang masuk sekolah karena mereka tidak mendapat tes, tidak mendapat PR, dan ada banyak waktu untuk bersantai dan bermain.

Tetapi harus ada keseimbangan antara nilai emosional/spiritual dan perkembangan daya pikir (cognitive development). Untuk sekolah yang sifatnya eksperimental, seharusnya para pengurus sangat hati hati untuk memastikan bahwa sistem baru yang diterapkan itu tidak menghilangkan sistem lama yang terbukti mengajarkan skil kognitif (walaupun masih ada banyak masalah juga dengan sistem yang ada di Indonesia.)

Kalau di luar negeri, (misalnya di Australia) sangat sedikit orang tua yang inginkan anaknya masuk sekolah yang sifatnya eskperimental karena mereka teralu kuatir terhadap nilai akademis yang bisa hilang kalau tidak dijaga dengan baik. Kebanyakan orang tua ingin mengambil sekolah negeri karena sudah terbukti hasilnya.

Barangkali di Indonesia orang tua sudah begitu jenuh dengan sekolah negeri yang tidak pernah diperbaiki/berkembang sehingga mereka siap melakukan apa saja demi mencari jalan alternatif yang baik buat anaknya.

Pasti sangat sulit menjadi orang tua di Indonesia di mana pemerintah tidak peduli pada masa depan anak-anak. Saya sangat prihatin kalau memikirkan masa depan anak bangsa ini. Sayangnya, pemerintah tidak demikian juga karena mereka tidak mau betindak dengan cepat untuk melakukan perbaikan.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto




6 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr. wb.
    Maaf, sedikit koreksi lagi nih, Pak Gene. Sekolah Alam bukan berasal dari Sekolah Citra Alam.

    Sekolah Alam awalnya berlokasi di Jl. Damai - Ciganjur, tahun 1998-2000, kemudian pada pertengahan tahun 2001 pindah ke Jl. Anda 7x-Ciganjur, tepatnya di depan Keluarahn Ciganjur.

    Setelah Sekolah Alam pindah lokasi, yayasan pengelola tanah wakaf di jl. Damai mendirikan Sekolah Citra Alam.

    Wassalam,
    Vera

    ReplyDelete
  2. orang indonesia juga sieh silo sama bule, bule dianggapnya lebih pinter, lebih kaya, lebih well educated,padahal most bules in indonesia are bunch of losers in their countries.jadi intinya PD aja lagi, trust yourself, use your brain properly, optimalin potensi and we'll be fine. we don't need bules'help to make ourselves or our children to be smart and well-educated and broad knowledge.bule-bule di sekolah gue aja bego bego!

    ReplyDelete
  3. wah..setuju sama anonymous, indoneian always look up ma bule, they think bule is the GoD!! Disini aje, mereka bisa dapet bnyak fasilitas, padahal, kalo di negaranya mah, they're just losers. Di skolah gw juga bulenya bego2, cuma krena lebelnya Bule aja....

    ReplyDelete
  4. betul kok, sebenarnya orang indonesia itu pinter2, cuma ga seimbang aja ama fasilitas dan kreatifitas. Makanya sekolah juga jangan melulu akdemik yg diunggulkan, tp kreatifitas jg... soalnya kan kita kekurangan fasilitas.
    Klo mengenai guru yg bagus tuh dari sekolah pendidikan, menurutku sih ga harus begitu juga. Tapi gimana guru itu bisa memberikan pendekatan yg bagus ke anak2 murid. kalo dr sekolah pendidikan hasilnya kaku dan otoriter jg sama aja bohong.

    ReplyDelete
  5. wahh ngomongin pendidikan nggak ada yang bener nihh.. gak percaya gw ma kata kata... sekarang kongkret aja men.. kalo emang lo pengen indonesia pinter berani gak lo kayak si butet yang iklan kompas itu.. dan kalo emang lo dah usaha buat bikin pinter apapun itu usaha lo.. two thumbs up buat looo ... salam peace

    ReplyDelete
  6. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    ReplyDelete