Saturday, April 14, 2007

Ada Yang Menebak: Revolusi Pendidikan


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Tetapi perlu dipahami juga ada suatu hal yang lain yang baru terjadi dalam 100 tahun terakhir ini di negara2 barat, dan tidak ada hubungan dengan teknologi sama sekali! Apakah ada yang tahu? (Dari Post: Jangan Membatasi Diri + Belum Ada Yang Menebak)

Ternyata hanya sedikit yang ikut menebak. Yang paling pertama mendapat jawaban yang benar adalah Ibu Shamara (di Blog). Dia mengatakan negara2 yang telah maju ini melakukan revolusi pendidikan. Dengan mengadakan wajib sekolah K-12 dalam 100 tahun terakhir di negara barat, banyak sekali yang berubah di masyarakat. Ini bukan alasan satu-satunya kenapa negara2 barat lebih maju, tetapi menjadi salah satu landasan untuk semua keberhasilan yang lain.

Kalau kita periksa sejarah lebih dari 100 tahun yang lalu, seorang anak petani akan ikut menjadi petani, anak tukang jahit menjadi tukang jahit, dan seterusnya. Mayoritas dari masyarakat buta huruf, dan hanya anak orang kaya dan bangsawan bisa mendapat pendidikan. Ada sedikit sekali sekolah swasta (misalnya sekolah Eton yang didirikan pada tahun 1440 AD) dan tidak ada sekolah negeri. Selain dari itu, ada anak orang kaya yang mendapat pelajaran di rumah dengan guru khusus (tutor) yang datang ke rumah setiap hari.

Untuk anaknya orang miskin, yang paling utama adalah mendapatkan pekerjaan supaya bisa makan setiap hari. Tidak kerja = tidak makan. Uang yang dihasilkan bapak dan ibu belum cukup untuk memberi makan kepada anaknya. Lalu setelah terjadi revolusi industri, ada banyak hal yang berubah dalam waktu yang relatif singkat. Dimulai sistem serikat buruh. Gaji karyawan, buruh dan tukang mulai naik. Kesejahateraan anak mulai dipikirkan pemimpin bangsa. Sekolah menjadi wajib. Awalnya, hanya sampai kelas 9-10, atau umur 15-16 tahun, dan hanya anak yang berniat kuliah akan teruskan sekolah sampai Kelas 12. Tetapi secara bertahap, setiap negara mulai wajibkan K-12, dan tentu saja kualitas pendidikan dan kualitas guru meningkat terus.

Dengan demikian, mayoritas dari masyarakat menjadi sanggup membaca dan menulis. Penjualan koran dan buku meningkat. Orang yang lahir dalam keluarga yang miskin ada harapan baru untuk “melebihi” bapaknya dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih baik. Ini merupakan sebuah revolusi pendidikan yang belum pernah terjadi sepanjang masa.

Tingkat “literacy” (sanggup baca tulis) di Selandia Baru, misalnya, mencapai 99% dari masyarakat. Membaca buku menjadi hal yang biasa. Hampir setiap rumah ada koleksi buku buat anak. Di Amerika, jumlah sekolah, perpustakaan umum, universitas dan jumlah pemenang piagam Nobel meningkat terus-terusan di dalam 100 tahun terakhir. Beda dengan Indonesia.

Kenapa revolusi pendidikan membantu negara2 ini maju? Karena orang yang hanya lulus SD (atau putus sekolah sebelum lulus SD) belum mendapat daya pikir yang terbentuk untuk menganalisa, membaca, menulis, berargumentasi, berbeda pendapat dan tetap berteman, bermimpi dan seterusnya. Yang sering saya jumpai di sini adalah orang yang lulus SD, menjadi pembantu rumah tangga atau tukang, dan sikapnya “nrimo” saja. Pasrah. Ini dunia saya. Saya tidak bisa menjadi lebih dari ini. Dan sikap ini ada dulu di dunia barat, lebih dari 100 tahun yang lalu.

Seseorang yang sudah lulus SMA dengan kualitas guru dan pendidikan yang bermutu tentu saja, sangat berbeda pikirannya dengan orang yang hanya lulus SD. Tambahan pendidikan itu membentuk daya pikir yang membantunya dalam semua hal. Untuk bisnis misalnya, pada saat orang lain hanya bisa melihat 1 solusi, anak yang sudah mendapatkan pendidikan yang baik bisa melihat 5 solusi. Hal yang sederhana seperti ini mendorong banyak perubahan di masyarakat di dalam semua bidang.

Semua kemajuan di negara barat bisa dikaitkan dengan peningkatan pendidikan masal di masyarakat. Orang yang sebelumnya bisa “dibohongi” mulai membaca sendiri undang-undang negara dan ingin terlibat dalam pengurusan kotanya atau negaranya. Orang bisa menyebarkan informasi secara tertulis untuk mencapai ratusan ribu orang, tanpa harus ketemu. Sebelumnya, seorang pemimpin harus bertemu langsung dengan rakyat untuk menyampaikan suatu ide. Sekarang, cukup ditulis artikel oleh wartawan dan efeknya sama. Informasi dan ilmu menjadi milik rakyat dan bukan milik kaum elit dan politikus.

Di Indonesia masih ada yang menginginkan seorang Presiden yang hanya lulus SMA. Menyedihkan sekali. Kita seharusnya mencari yang terbaik untuk masa depan bangsa, bukannya mundur ke masa lalu.

Saya dulu menjadi orang pertama di keluarga besar saya yang masuk kuliah di Australia. Sekarang ada beberapa sepupu yang lebih muda yang kuliah juga. Hal itu hanya terjadi karena pemerintah di Australia memberikan subsidi untuk kuliah bagi orang yang tidak sanggup. Kalau saya diwajibkan bayar penuh, saya juga tidak sanggup kuliah. Inilah yang bisa terwujud kalau sekolah diwajibkan dan kuliah dipermudah. Sampai sekarang, niat saya untuk melakukan S2 dan S3 belum tercapai karena saya memikirkan biayanya dan juga waktunya yang harus dihabiskan untuk mendapatkan gelar itu.

Lebih dari 100 tahun yang lalu, anak yang pintar dari keluarga yang miskin tetap tidak bisa sekolah. Sekarang, semua anak diwajibkan bersekolah dan anak pintar yang miskin itu mendapat kesempatan yang hampir setara dengan anaknya orang kaya. Inilah yang perlu kita utamakan untuk masa depan bangsa Indonesia.

Di Indonesia masih ada “penjajahan mental” yang tersisa dari zaman Belanda dan Orde Baru. Bentuk pemikiran ini hanya bisa berubah kalau masyarakat mendapatkan pendikan yang layak dan pendidikan menjadi hak setiap anak bangsa dan bukan orang elit saja.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

No comments:

Post a Comment