Tuesday, September 11, 2007

Kontainer Kapal Sebagai Kelas

(Jawaban saya di milis SD Islam mengenai sekolah yang ingin menggunakan kontainer kapal untuk menjadi kelas di sekolah. -Gene)

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Apakah ada yang bisa menjelaskan keinginan untuk menggunakan kontainer bekas?

Pertama, bagaimana kalau kontainer itu digunakan untuk membawa limbah yang beracun (toxic waste) untuk 10 tahun? Bukannya ada bekas2 di dalamnya? Apakah bisa hilang dengan sekali gosok pakai wipol?

Bagaimana kalau pernah digunakan untuk mengangkut barang yang radioaktif? Ada bekas juga. Apakah sekaligus, setiap kontainer yang dibeli itu diperiksa oleh ilmuan untuk memastikan bahwa dia dalam keadaan bersih dari segala macam limbah atau radiasi? Apakah ada yang punya alat dan biaya untuk melakukan pemeriksaan?

Bagaimana kalau dipakai untuk mengangkat limbah medis, sehingga tercemar dengan berbagai macam penyakit? Sekali gosok dengan wipol sudah cukup?

Barangkali container itu dijual karena sudah tercemar, dan oleh karena itu tidak bisa dipakai lagi!!! Lalu, dijual bebas di Indonesia (yang tidak melakukan pemeriksaan dan tidak punya hukum ketat seperti di negara barat), dan dibeli untuk…. Ruang sekolah! Asyik!! Kontainer bekas yang ditolak oleh industri karena tercemar dengan radiasi tingkat rendah dijadikan ruang kelas! Ide yang gemerlang! Dari siapa sih ide ini?

Negara ini penuh dengan sumber alam yang sangat kaya. Apakah kontainer bekas merupakan solusi yang terbaik?

Kenapa tidak pakai bambu saja?

Kenapa tidak menjadi lebih kreatif, misalnya, bikin kompetisi untuk desainer dan arsitek muda. Minta solusi untuk membangun ruang kelas dengan harga dibawah sekian juta. Hadiahnya 20 juta. Beberapa sekolah bisa bergabung untuk kumpulkan dana hadiah, karena solusi akan bermanfaat untuk semua.

Kalau sudah ada hasil dari kompetisi, cantumkan semua solusi di internet untuk kepentingan semua sekolah.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

***************

Hendri wrote:

Waalaikum salam wr.wb.

wah saya merasa bertanggung jawab untu menjawabnya.

ada beberapa alasan mas.

1. yang pasti besi lebih awet sehingga biaya dibagi umur menjadi murah misalakan umur konteiner 50 tahun mungkin lebih biaya 50 juta jadi pertahun cuma 1 juta bandingkan dengan bahan bambu walaupun lebih murah tapi umurnya pasti lebih pendek sehingga biaya pertahunnya lebih mahal.

dan setahu saya konteiner bekas karena umur ekonomis atau karena faktor asuransi.

2. saya setuju kita kaya sumberdaya alam, karena indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. kita juga mempunyai garis pantai terpanjang di dunia, kita juga mempunyai pulau terbanyak didunia, dan bangsa ini memiliki > 60 % jenis terumbu karang di bumi ini. jadi kita kaya banget pak. bahkan uranium-pun sebagai bahan dasar nuklear ada di lampung dan banyak katanya.

3. kalo mas gene mau jalan-jalan ke darmaga (mungkin marunda Priok) pak gene akan menemui bagaimana kontainer disulap jadi kantor yang nyaman sekali.

maaf jika salah

wassalam

Hendri

***************

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Mas Hendri,

Saya percaya bahwa kontainer itu murah. Saya juga tahu kontainer dipakai untuk kantor, terutama di tempat bangunan, dsb. Maksud saya adalah saya meragukan "niat" dari orang yang menjualnya.

Setelah melihat berita bahwa limbah toksik dari negara tentangga seperti Singapura diimpor ke indonesia (dalam kontainer) untuk dibuang ke pulau-pulau dan laut di dalam wilayah negara ini, saya jadi tidak percaya bahwa orang yang menjual kontainer itu akan jujur soal "kebersihannya".

Apakah anda atau teman anda pernah memeriksa sebuah kontainer untuk mencari tahu kalau ada bekas-bekas limbah? Atau radiasi bekas dari bahan radioaktif?

Kalau belum pernah memeriksa, kenapa langsung percaya saja bahwa kontainter tersebut adalah "bersih" dan cocok untuk anak kecil? Kalau seandainya ada bekas apapun, anak pasti akan kena efek lebih cepat daripada orang dewasa karena daya tahan tubuhnya dan kekebalan tubuh lebih rendah daripada dewasa.

Kalau ada sekolah yang ingin masukkan anak saya ke dalam kontainer bekas, saya akan minta jaminan dari sekolah (dari ilmuan) bahwa kontainer tersebut adalah bersih. Kalau seandainya, kontainer itu pernah dipakai untuk mengangkat bahan radioaktif, dan masih ada bekasnya sehingga industri tolak penggunaannya, dan kontainer itu ada di Singapura, apakah perusahaan tersebut mau bayar mahal untuk membuangnya secara benar? Rugi dong! Lebih mudah dan cepat menyogok petugas di Tanjung Priok, dan jual kepada siapa aja yang mau beli di Indonesia, dengan harga MURAH tentu saja. Mungkin negara ini tidak punya alat canggih untuk memeriksa semua kontainer yang masuk, dan juga tidak peduli. So? Yakinkah kontainer itu bersih?

Kalau, seandainya, dalam 15 tahun mendatang, banyak mantan murid dari sekolah itu kena tumor dan kanker padahal masih remaja, apakah sekolah akan mengatakan “Dari mana penyakit itu ya? Tidak ada hubungan dengan sekolah. Kontainer kita bersih kok. Dilap 2 kali dengan Wipol setelah kita beli.”

Yakin?

Mau taruh nyawa anak anda bahwa semua kontainer di seluruh wilayah Indonesia adalah bebas dari semua kuman, penyakit, infeksi, kotoran, bahan toksik dan radiasi juga? (Maaf, saya kehabisan kosa kata dalam bahasa Indonesia, karena bukan ilmuan. Haha. Coba ini: germs, bacteria, infectious particles, fungus, fungal spores, toxic residue, radioactive particles, radioactive residue, and so on).

Yakin? Benar benar yakin?

Maaf, saya tidak yakin!

Sekali lagi saya bertanya, kenapa tidak mencari solusi yang lebih kreatif?

Bikin kompetisi dan biarkan insinyur dan arsitek mencari solusi.

Belum coba, tapi sudah yakin kontainer yang terbaik.

Saya belum yakin.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

CONTOH:

More than 5 million shipping containers, 2 million rail cars and some 11 million trucks go into the US every year. In January 2002, a 120-kg package giving off 9,400 curies of radioactive iridium, was shipped via FedEx [??? Kok bisa ya??] from Paris to Louisiana where it was found to be leaking radiation. The US government is introducing the use of new, "smart" radiation detectors at border checkpoints, ports, and airports. But because there are other ways for nuclear materials to get into the US, an extensive radiation detection system distributed throughout major cities may be the only sure way of detecting the movement of radioactive material or a radiological device.

Claims nuclear waste stored in Australian hospital car park:
CANBERRA - One state is keeping nuclear waste in a shipping container parked in a hospital car park, Industry Minister Ian Macfarlane says.
"I know each state health system has nuclear waste," Mr Macfarlane told Network Ten today."Are they storing it, as it's suggested in one case, in a shipping container in the car park of their general hospital?"

Dan yang ini sangat menarik: prosedur untuk mengurangi komtaminasi pada shipping container dan cask.

Katanya, staf akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa kontaminasi (dari radiasi) akan ditentukan pada tingkat yang seminim mungkin. Berarti masih ada tingkat kontaminasi radiasi, dan hanya akan dikurangi sebanyak mungkin, bukan dihilangkan 100% (karena tidak bisa?).

DRAFT - PROCEDURE FOR CASK DECONTAMINATION

1 PURPOSE

The purpose of this procedure is to describe the methods for decontamination of casks and shipping containers to maintain contamination levels as low as practicable.

“Maintain levels as low as possible” Masa? Apa begitu saja sudah cukup?

“Oke Budi, silahkan masuk Lab Komputer. Radiasi dari Uranium di dalam kelas ini sudah pada tingkat serendah mungkin. Masuk saja. Tembok sudah dilap dengan wipol. Aman deh.” (Kok kaya nonton Simpsons aja?)

Bagaimana kalau kontainer sudah rusak berat (terkontaminasi berat dan tidak bisa dibersihkan lagi)? Jual aja ke Indonesia, India, Cina, Vietnam dsb. Mereka selalu siap beli apa saja, ASAL MURAH!

Bukannya kita bisa mencari solusi yang lebih baik dan lebih aman untuk anak bangsa ini?

Semoga bisa.

Gene

No comments:

Post a Comment