Monday, January 21, 2008

Penelitian: 30% Pelajar Sukabumi Diduga Lakukan Seks Bebas


Senin, 21 Januari 2008

Hasil penelitian Dinas Kesehatan setempat, sepanjang tahun 2007, 30% pelajar Sukabumi diduga lakukan seks bebas. Dianggap sebagai bentuk pergaulan biasa

Hidayatullah.com--Sebanyak 30 persen pelajar di Kota Sukabumi, Jawa Barat, diduga telah melakukan seks bebas. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat sepanjang tahun 2007.

Umumnya, para remaja ini menganggap prilaku seks bebas sebagai gaya hidup atau bagian dari pergaulan. Perilaku ini diduga sebagai salah satu pemicu tingginya kasus penyebaran HIV Aids di Kota Sukabumi selama tujuh tahun terakhir yang mencapai 206 kasus.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) dr Rita Fitrianingsih mengatakan, perilaku seks bebas ini telah melibatkan pelajar yang bukan hanya berasal dari tingkat SMU saja tapi juga kalangan pelajar SMP.

Tingginya prilaku seks bebas ini, telah ikut memicu peningkatan jumlah kasus penyebaran Aids yang mampu mencapai 206 kasus, di samping akibat penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkoba. Sebab, kata Rita, kedua perilaku tersebut memiliki keterkaitan dalam hal kasus penyebaran Aids.

"Penelitian yang kami lakukan dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat, menunjukan perilaku seks bebas ini telah dianggap sebagai pergaulan bagi kalangan pelajar. Ini jelas menjadi kerisauan bagi para orangtua sebab perilaku tersebut sangat rawan terjadinya penyebaran penyakit menular," kata Rita Fitrianingsih kepada wartawan usai mengikuti seminar sehari tentang bahaya HIV/Aids di Aula pertemuan Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Kota Sukabumi, Ahad (20/1/2008).

Lebih lanjut Rita menjelaskan, jumlah kasus pengguna narkoba sepanjang tahun 2007 mencapai 900 orang. Dari jumlah itu, 90 persen pengguna yang telah menjalani rehabilitasi di antaranya, diketahui telah kembali aktif menggunakan narkoba. Hal ini diduga akibat tingginya distribusi narkoba di wilayah Kota Sukabumi.

Masih ditahun 2007, dinas kesehatan kembali menemukan kasus baru dalam hal penyebaran virus HIV Aids, yakni sebanyak 44 kasus. Jumlah temuan kasus baru ini, tutur Rita, jauh lebih rendah dari jumlah temuan kasus baru pada tahun 2006 yang mencapai 94 kasus.

"Untuk temuan baru kasus HIV Aids pada tahun 2007 sebanyak 44 kasus dengan kasus kematian sebanyak 24 kasus. Angka temuan kasus baru itu lebih rendah ketimbang temuan kasus pada tahun 2006. yang mencapai 94 kasus. Secara akumulasi jumlah penderita HIV Aids selama tahun 2000-2007 mencapai 206 kasus," papar Rita.

Untuk meminimalisir dampak buruk narkoba, Dinas kesehatan Kota Sukabumi tengah menjalankan program pertukaran jarum suntik atau Needle Exchange.

Sumber: hidayatullah.com

6 comments:

wati said...

Pendidikan seks harus diberikan secara formal di sekolah mulai tingkat SMP. Banyak ortu yg masih merasa tabu untuk membicarakan seks dengan anak-anak. Pergaulan tidak berpengaruh banyak selagi kita berpegang teguh pada nilai2 agama yg diyakini. Tanamkan pada diri masing-masing NO SEX BEFORE MARRIAGE.
Berhubungan seks diluar nikah adalah dilarang oleh agama.

Anonymous said...

gw salah satu orang yang pernah "salah jalan", tapi sekarang dah tobat nyesel senyesel2nya...
Gw pernah pesantren 3 tahun, gw ngerti itu dosa besar, tapi gw nekat karena rasa penasaran setelah nonton dvd "begituan" dan tidak dapat menahan hawa nafsu setelah ada tempat pelampiasan...
masa lalu yang kelam!!!! mudah2an Allah mau mengampuni dosa gw...:(

Dan sekarang gw dah punya 2 anak perempuan, duh..ngeriii banget!

menurut anda bagaimana? ngga menjamin ya anak keluaran pesantren...kaya gw ini...

lizaz said...

Hmmmm, anonymous.... kata orang lebih baik mantan kriminal ketimbang mantan ustazd!!! Yah mudah2an anak2 dapat lebih terjaga.

Wah, boleh sharing pengalaman nih. Menurut saya sex edu diajarkan sejak dini dan materinya disesuaikan dengan level anak. Kalau sejak smp telat dong, anak-anak keburu tahu terlalu banyak hal yang berhubungan masalah sex lewat media2 massa , keluarga, tetangga, orang asing ataupun teman teman.

sex edu harus menjadi bagian penting dalam kurikulum dan bukan hanya transfering information karena jatuhnya ga puguh alias ga ngaruh.
Saya pernah mengajar (kelas 5 sd)tentang menyambut datangnya masa remaja dan sex edu dalam tema "unique me: Making your own choices" hampir 3 bulan. Hanya membahas hal itu agar mendalam dan membekas.
Setiap hari mereka research, interview, membuat dan mencari jawaban, diskusi dengan teman, guru (agama, olah raga, science BP, semua guru terlibat),phycholog, orang tua, remaja yang lebih besar.

Sangat risky sekali membawa tema seperti itu apalagi saya belum menikah,sedangkan keingintahuan anak anak luar biasa, mereka bertanya sangat detail dan kritis dan banyak misconception yang membuat kita kualahan. Kami melakukan kerjasama dengan banyak pihak dan intens terutama dengan orang tua.

Tema itu akan diulang di setiap tahun dengan bobot dan kekhususan yang berbeda. Issu keremajaan dan sex edu seyogyanya sering diulang dan di kaji, dan fokus pada konsep diri agar selalu belajar intropeksi. Dan tidak sambil lalu.

Semoga diknas benar benar serius dengan hal ini kalau ingin masa depan generasi muda indonesia dapat diandalkan.

Phenomena yang ada di hidayatullah.com adalah salah satu contoh kasus dan ini mrpkn pr panjang bagi kita semua.
lizaz

Anonymous said...

keluaran pesantren ya ga jamin lebih baik dari pada yg ga pesantren, kalau ga pernnah nyantren tapi rajin nimba ilmu agama dan rajin meningkatkan kulitas ibadah dan agamanya terus rajin memperbaiki diri dan rajin untuk kembali pada Alloh setelah melakukan kesalahan, akhir adalah lebih baik dari awalnya....

Anonymous said...

tapi kalau masuk pesantren bisa bikin jadi lebih baik kenapa enggak, semua tergantung kembali ke pribadinya mau apa enggak terus memperbaiki diri dalam koridor nilai2 yg terdapat dalam Al-qur'an dan hadits

agit ariffiandi said...

waduh parah juga yah...malu juga...
karena aku tinggal di sukabumi.
kalau denger-denger cerita dari adikku yang kelas 3 SMA, di sekolahnya juga sering terjadi PBA alias pregnant by accident.
perasaan waktu SMA dulu tahun 98, gak ada yang kayak begituan.

Kalo menurutku solusi yang tepat untuk permasalahan ini adalah revitalisasi fungsi keluarga sebagai pendidikan agama, moral dan etika. anak-anak yang mempunyai orang tua yang peduli terhadap pendidikan anak-anaknya pasti tidak akan terlibat masalah seperti ini.