Monday, April 21, 2008

Kepsek Siapkan “Tim Sukses” UN

JAKARTA - Menjelang pelaksanaan ujian nasional, Bisnis Jakarta menemukan indikasi kecurangan. Modus kecurangan ini dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik. Sejumlah sekolah swasta di Jakarta membentuk “Tim Sukses UN.” Tim ini dibentuk langsung oleh kepala sekolah dalam sebuah rapat guru. Rapat kemudian menunjuk guru-guru bidang studi menjadi tim inti.

Seorang guru di sekolah swasta di bilangan Jakarta Barat--- yang tidak mau dikorankan namanya--- menuturkan secara detail seluk beluk “Tim Sukses UN” ini. Sekitar dua pekan silam, kepala sekolah tempatnya mengajar mengumpulkan para guru. Guru bidang studi yang diujikan, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA ditugasi menjadi tim siluman.

Nama-nama mereka sejatinya telah didaftarkan sebagai guru pengawas di sekolah lain. Tetapi, karena masuk tim sukses UN, kehadiran para guru ini akan diganti oleh guru lain atau staf sekolah. “Saya bertugas sebagai pengawas UN di sekolah lain. Pengawasan dilakukan sistem silang. Nanti, pada hari H, saya tidak akan datang ke sekolah tersebut. Nama saya digantikan guru lain. Guru itu akan memakai nama saya. Saya diminta stand by di sekolah pukul 5.30 WIB. Selanjutnya, saya tinggal menunggu instruksi selanjutnya,” tegas guru swasta ini kepada Bisnis Jakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah ini juga membentuk Tim Sukses UN yang sama. Tugasnya mengambil lembar soal dan mengerjakan soal ujian nasional. Selanjutnya, tim ini mendistribusikan kunci jawaban ke murid-muridnya dengan berbagai cara. Salah satunya, siswa diminta pergi ke toilet. Di toilet, guru akan memberikan kunci jawaban. Siswa kemudian diminta mendistribusikan lembar jawaban itu ke teman-temannya.

Modus lain, kata guru ini, lembar jawaban siswa yang sudah dikumpulkan dibuka kembali di ruang kepala sekolah. Saat para pengawas dan tim independen dijamu makan-makan, tim sukses kemudian membuka lembar jawaban siswa. Para guru kemudian mengerjakan soal itu. Jawaban yang salah dihapus dan diganti yang benar. “Targetnya yang penting lulus,” imbuhnya.

Tak cuma itu, para pengawas yang sebagian besar direkrut dari mahasiswa bisa diajak kerja sama. Jika pengawas kebetulan lulusan sekolah tersebut, ia bisa diajak bekerja sama melakukan kecurangan, baik mendistribusikan lembar jawaban atau memberi kesempatan tim sukses membuka lembar jawaban dan dikerjakan kembali oleh para guru.

Untuk pekerjaan berat ini, para guru diberi tambahan honor. “Teman saya guru matematika tahun lalu diberi Rp 1 juta. Tahun ini belum tahu jumlahnya. Saya diminta datang dan mengerjakan soal siswa. Itu saja. Modusnya belum diketahui, bergantung situasi di lapangan,” akunya.

Prinsipnya, ia menolak melakoni tugas ini. Ia pun menyampaikan keberatan. Tetapi, pihak sekolah memaksanya untuk terlibat dalam tim sukses UN ini. Karena belawanan dengan hati nuraninya, ia menceritakan semuanya kepada Bisnis Jakarta. Pada saatnya nanti, ia pun akan menuturkan bagaimana liku-liku tim sukses UN sekolahnya bekerja. “Saya tetap akan bocorkan ke Anda,” akunya. (her)

**************

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Maaf, saya tidak bisa menemukan sumber asli dari artikel ini. Sudah saya carikan di Bisnis-Jakarta.com, tapi tidak ketemu.

Hanya ada post di situs seperti ini.

Yahoo groups

Google groups

Mungkin yang asli sudah dihapus dari situs Bisnis-Jakarta.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

No comments:

Post a Comment