Sunday, May 25, 2008

Aborsi di Inggris


Ini berita menarik. Di Inggris ada usaha untuk mengurangi batas waktu untuk melakukan aborsi. Sekarang, batasnya 24 minggu. Ada usaha untuk kurangi batas waktunya menjadi 22 minggu saja. Usaha ini ditolak oleh anggota Parlemen Inggris, 304 suara lawan 233. Ternyata, bayi yang berumur di atas 24 minggu perlu dilahirkan. Tetapi kalau sebelumnya, silahkan dibuang saja.

Orang yang setuju dengan aborsi (disebut kaum “pro-choice”) mengatakan tidak ada alasan ilmiah untuk mengurangi waktunya. (Mereka inginkan waktu yang sebanyak mungkin bagi sang ibu untuk membuang bayinya). Tetapi yang lebih aneh lagi, 3 Menteri Kabinet yang beragama Katolik minta batas waktu dikurangi menjadi 12 minggu saja. (Saya kira sebagai orang Katolik, mereka akan menolak aborsi sama sekali. Ternyata tidak.)

Statistik pemerintah menunjukkan ada 193,737 wanita di Inggris dan Wales yang melakukan aborsi pada tahun 2006.

Kata mantan menteri Edward Leigh, yang punya 6 anak, “Tempat yang paling berbahaya di Inggris adalah di dalam kandungan ibu. Seharusnya menjadi tempat yang paling aman.”

Saya jadi berfikir, di Indonesia berapa banyak aborsi per tahun?

Di sini apakah ada yang kumpulkan statistiknya? Dan karena ilegal, apakah statistik itu bisa benar? Atau perkiraan saja?

Dan anak yang tidak diinginkan itu dibuang ke mana? Yang jelas tidak dimandikan dan dikuburkan di Tanah Kusir. Jadi, ke mana?

Kemarin saya ketemu dengan seorang teman (dokter), dan dia ceritakan berapa banyak wanita datang ke kliniknya setiap hari untuk minta aborsi. Dan itu di sebuah klinik kecil! Di satu kota kecil! Di luar pulau Jawa!

Bagaimana kondisi nyata di kota besar seperti Jakarta? Dan siapa yang peduli?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

MPs back 24-week abortion limit

Story from BBC NEWS:

Published: 2008/05/20 23:26:39 GMT

© BBC MMVIII

3 comments:

  1. Postingan ini mengingatkan saya pada seorang lelaki Vietnam yang bersedia menampung para wanita hamil dan merawat bayi-bayi yang dilahirkan.

    "Sitting cross-legged on a straw mat in the middle of the living room, Tong Phuoc Phuc sings a soothing Vietnamese lullaby. For a moment, his deep voice works magic, and the tiny room crammed with 13 babies is still.

    Phuc giggles like a proud papa. He's not related to any of them, but without him, many of these children likely would have been aborted. And to Phuc, abortion is unimaginable.

    The 41-year-old Catholic from the coastal town of Nha Trang has opened his door to unwed expectant mothers in a country that logs one of the world's highest abortion rates. In 2006, there were more than 114,000 abortions at state hospitals in Ho Chi Minh City — outnumbering births.

    Most pregnant, unmarried Vietnamese women have few options. Abortion is a welcome choice for many who simply cannot afford to care for a baby or are unwilling to risk being disowned by their families.

    The communist government calls premarital sex a "social evil." Abortion, however, is legal and performed at nearly every hospital. And unlike in some Western countries where the issue is hotly contested, the practice stirs little debate here.

    But shelters for women who want to keep their babies are rare. Phuc promises them food and a roof until they give birth, and then cares for the children until the mothers can afford to take them. In the past four years, he's taken in 60 kids, with about half still living in his two houses.

    "Sometimes we have 10 mothers living here ... sleeping on the floor," says Phuc, a thin man with dark, weathered skin and teeth stained brown from years of smoking. "The problem is that a lot of young people live together and have sex, but they have no knowledge about getting pregnant. So they get abortions."

    Phuc says he made a deal with God seven years ago when his wife encountered complications while in labor with their son. He vowed that if they were spared, he would find a way to help others. As his wife lay recuperating after the difficult birth, he recalls seeing many pregnant women going into the delivery room but always leaving alone".

    ReplyDelete
  2. Wah. Vietnam juga payah. Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada informasi nih. Bisa dapat dari mana kira-kira?
    Saya punya sebuah artikel tentang aborsi di Amerika. Teman saya Iksan sudah menterjemahkan ke bahasa Indonesia. Mengerikan sekali. Saya ingin post di blog tetapi saya takut banyak orang tidak kuat membacanya.

    ReplyDelete
  3. Indonesia juga sama parahnya dan bahkan tidak ada bedanya antara desa dan kota besar (Jakarta). Info yang terakhir saya tahu, dari depkes bahwa 200 juta penduduk Indonesia yang mengalami aborsi 75 %, dan bahkan saya pernah mendengar langsung dari salah seorang pelaku aborsi mengatakan pada saya bahwa dia sudah 7 kali aborsi hanya karena takut pada orang tua karena dia belum menikah (bukannya takut pada Allah karena dia sudah zina dan aborsi 7 kali!).

    Dan 10 tahun yang lalu pun saya mendengar langsung dari seseorang yang saya bertemu tidak sengaja, orang tersebut sedang mencoba bertanya pada saya tempat/klinik aborsi yang mungkin dikira saya tahu. Saya pikir akan bertanya apa..., saya terkejut sekali lalu saya sarankan untuk berterusterang pada ortu dan menemui pacarnya barangkali mau bertanggung jawab lalu katanya tidak mungkin karena sudah beristri. Yang anehnya dia bercerita 'malu' ketika suster memeriksa, saya katakan jadi anda tidak malu ketika berzina padahal disaksikan Allah?!,... jawabannya malah nyengir kuda...

    Lebih gila lagi dizaman sekarang para orang tua pun melegalkan aborsi yang di lakukan oleh anaknya bahkan di temani untuk melakukan aborsi plus bersama pacar ananknya. Saya pernah dihadapkan dengan kasus diluar dugaan justru saya yang di caci maki..

    Survei langsung pun pada beberapa anak SMA, SMP, SD (kelas 4-6) tidak saja di Sekolah swasta dan negri dari pendapat anak sekolah tersebut mengatakan mereka sudah mengerti (untuk ada SD apa itu ciuman sampai hubungan sex)sedang untuk anak SMP dan SMA mereka mengatakan dari 48 murid dikelasnya yang sudah melakukan sex pranikah 40 % dan yang melakkan aborsi 20% dan yang sudah berkali-kali aborsi 15%,... dan bahkan mereka mengatakan aborsi jalan teraman dari 'ketangkap' orang tua....

    Sedang jawaban dari 3 kategori orang tua tentang tanggapannya pada aborsi yaitu pertama orang tua awam religius mengatakan apapun kejadiannya jangan dilakukan aborsi, sedang kedua untuk orang tua awam peduli-pernah melakuan aborsi mengatakan jika masih di bolehkan agama dan darurat apa salahnya dan ketiga orang tua modern-gaul mengatakan syah dan legal untuk menjaga martabat dan gengsi dan merupakan sudah hal yang lumrah saja.

    *** Posting saja artikel tentang aborsi di Amerika untuk sebagai bahan rujukan buat pembaca Indonesia. Kalau pun mengerikan tapi jika semua orang indonesia tahu yang terjadi di masyarakat yang sebenarnya tentu saya rasa akan sama mengerikannya... kebebasan tanpa malu yang terjadi di masyarakat.

    Rina

    ReplyDelete