Thursday, June 12, 2008

Dilarang Ibu Menggunakan Jilbab

Pertanyaan:

Assalamu'alikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya.

Bagaimana jikasaya dilarang menggunakan jilbab oleh ibu saya, padahalsaya ingin sekali menggunakannya.

Terimakasih.

Wassalamu'alaikumWr.Wb.

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin wash-shalatu wassalamu ala asyrafil Anbiya wal Mursalin wa ba’du:

Pada dasarnya memakai jilbab merupakan kewajiban agama. Dalam hal ini Allah befirman,

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, serta kepada wanita kaum mukmin agar mereka mengenakan jilbab. Hal itu akan membuat mereka lebih dikenal sehingga tidak diganggu. Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab: 59)

Pada ayat di atas disebutkan bahwa hikmah memakai jilbab adalah agar identitas keislaman seorang wanita lebih dikenal dan mereka tidak disakiti atau diganggu.

Jadi, kewajiban memakai jilbab langsung berasal dari Allah Swt.

Di samping itu, dalam hadits disebutkan bahwa suatu ketika Asma binti Abu Bakar mendatangi Rasulullah saw dengan mengenakan baju tipis. Maka, Rasulullah berpaling darinya seraya berkata, ‘Wahai Asma, jika wanita sudah mengalami haid, ia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini (sambil menunjuk wajah dan telapak tangan).” HR Abu Daud.

Dengan demikian, karena jilbab merupakan kewajiban, maka ia tidak boleh dilepaskan meski diperintahkan oleh ibu atau orang tua. Pasalnya, Rasul saw. bersabda, “Tidak boleh taat dalam hal yang mengandung maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya boleh diberikan pada sesuatu yang makruf (baik).” (HR Muslim).

Karena itu, dengan memperhatikan kondisi Anda di atas, kami menyarankan agar Anda memperlihatkan dalil wajibanya berjilbab berikut argumen dan hikmahnya kepada ibu Anda. Di samping itu, perlu pula dikatakan bahwa orang yang berjilbab tidaklah kampungan. Sekarang jilbab sudah menjadi trend yang dipakai oleh banyak tokoh dan pejabat. Misalnya isteri wapres sekarang.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Sumber: Syariah Online

5 comments:

  1. wow, this is a really good article. You should write more stuffs like this.

    ReplyDelete
  2. Ini diambil dari Syariah Online. Ini bukan tulisan saya.

    ReplyDelete
  3. Memilih untuk tetap taat terhadap perintah Allah saat hidayah itu datang memang bukan suatu hal yang mudah,apalagi di zaman yang makin hedonis ini.

    Tapi saat hidayah itu datang dasertai halangan serta rintangan menghadang biasanya lebih indah loh saat kita mampu mempertahankan dan memilih nya.

    Dan biasanya hidayah yang di dapat bersusah2 lebih bertahan lama karena kita akan terus teringat beratnya berjuang pertama kali daripada yang di dapat dalam zona aman dan nyaman tanpa tantangan.

    Lihat saja perjuangan mempertahankan hidayah dari Rosulullah dan para Shahabatnya yang berdarah2,atau perjuangan Mush'ab bin Umair yang diboikot ibunda tercintanya,perjuangan mempertahankan hidayah pantang menyerah tapi harus tetap dengan cara yang ahsan,bukan konfrontasi.

    Semoga kita termasuk kedalam orang2yang terus bertahan dengan segala daya untuk mempertahan hidayah yang sekarang kita miliki,karena tidak semua orang mampu.

    ReplyDelete
  4. Oh, right, sorry. I mean you should post articles like this. So, when will you post articles on how to read qur'an correctly?

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh

    ANTARA TERMINAL SERANG DAN BANDAR LAMPUNG

    Membaca tanya jawab di atas aku jadi ingat perbincanganku dengan sahabat baruku yang terjadi dalam perjalanan atara pelabuhan Merak dan Bandar Lampung.

    Begini ceritanya:
    Jumat siang aku di sms adikku, isi sms mengatakan kalo Bunda tercinta masuk RS di Lampung karena ada keluhan di Ginjal. Aku memutuskan untuk menggambil cuti 3 hari.

    Karena setiap sabtu pagi aku ada pelajaran Qirooatii maka aku putuskan untuk berangkat ke Lampung ba'da zuhur. Jam 12.30 tanggal 19 Juli 2008, aku berangkat ke Lampung. Singkat cerita saat sampai di terminal Serang ada seorang gadis naik ke bis, dia masih muda, cantik. Oh ya pemandangan sepanjang jalan antara Serang sampai pelabuhan Merak sungguh menakjubkan dengan deretan pegunungan yang menghijau. Meskipun sudah puluhan kali aku melewati jalan ini tapi aku tidak pernah merasa bosan untuk selalu memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk menikmati pemandangan itu. Saking asyiknya melihat pegunungan aku sampai ga perhatian ama si gadis yang duduk tepat di belakangku, yang dari mulai naik sampai beberapa menit perjalan tak putus-putusnya bertelepon ria ama teman-temannya, dia mengabarkan kalo malam nanti ga bisa kumpul-kumpul karena mesti menengok neneknya yang baru saja masuk RS di Lampung.

    Akhirnya bis sampai di Merak, dan kami (aku dan gadis cantik) turun berbarengan dan aku menegur dia lebih dulu, dan karena kami sama-sama mau ke Lampung akhirnya kami sepakat untuk jalan bareng. sebelum kami naik kapal kami sepakat untuk makan siang dulu, ternyata dia gadis yang baik, kami tiba-tiba saja menjadi sahabat dan dari obrolan yang sangat formal akhirnya kami ngobrol sampai ke wilayah yang sangat penting bagi wanita muslimah dewasa yaitu: JILBAB. Oh ya, waktu kami selesai makan waktu menunjukkan pukul 14.45 ini berarti kami tertinggal kapal cepat yang berarti kami harus naik kapal besar. Di kelas II penumpang kapal sepi...maka obrolan kami berlanjut..aku lupa dari mana awal obrolan kami, tiba-tiba kami sudah ngobrol secara serius tentang Jilbab.

    Tentang gadis itu akhirnya aku tau, dia adalah mahasiswi dari salah satu sekolah tinggi di bandung yang sedang menyusun skripsi.

    Mungkin obrolan kami berawal dari pertanyaan dia tentang "sudah berapa lama aku memakai pakaian muslimah" dan waktu itu aku jawab "belum lama, baru 8 (delapan tahun)". Dia terus bertanya...bagaimana awalnya sampai aku bisa memakai jilbab. dan aku jawab:
    'Aku memakai jilbab dengan nekad". Kenapa aku bilang nekad? ya karena di akhir januari 2001 pada hari sabtu pagi aku pergi ke pasar Jatinegara untuk membeli 5 potong jilbab dengan warna-warna; putih, coklat, hitam, krem,dan biru. Hari minggu semua jilbab aku cuci dan hari senin aku menjadi sosok yang baru.

    Aku juga cerita ke si Gadis, bahwa untuk memutuskan memakai jilbab tidaklah mudah, meskipun sudah puluhan kali aku baca surat Al-Ahzab (33) ayat 59 tapi hatiku belum tergerak juga, aku belum tersentuh hidayah. Apalagi aku lagi senang-senangnya menikmati dunia kerja yang memberikan aku materi berlebih. Aku jatuh ke dunia hedonisme...

    Meskipun waktu itu aku lom berjilbab,aku tidak segan-segan memberikan hadiah jilbab untuk keponakanku yang masih SMA ( dia telah memakai jilbab begitu masuk SMA), inilah salah satu kebodohanku ( aku membuat jalan ke syurga untuk keponakan, tapi tidak untuk diriku).

    Alhamdulillah, karena sayangnya Allah Subhanahu wata'ala kepadaku, aku sering melihat kecelakaan yang berakibat berdarah-darah, aku menggigil setiap melihat kecelakaan di jalan raya, TERINGAT DIRI YANG BELUM BERJILBAB. Inilah hidayah yang aku terima, aku SANGAT TAKUT KALAU AKU MATI SEBELUM AKU MENGENAKAN PAKAIN MUSLIMAH. Karena bisa saja aku mengalami kecelakaan seperti orang-orang yang sering aku lihat. Maka dengan modal nekad itulah aku bisa berjilbab.
    Selamat tinggal dunia hura-hura.....selamat datang dunia yang menentramkan.

    Kembali ke si gadis, akhirnya dia cerita kalo sebenarnya dia pernah memakai jilbab. Dimulai di rumah tantenya di Bandung, tapi waktu pulang ke rumah orang tuanya di....., si jilbab melayang jatuh ke tanah karena Ayahnya tercinta melarang si gadis untuk mengenakan jilbab. Dengan linangan air mata dia bercerita bahwa diantara seluruh sanak saudara wanita yang baligh hanya tinggal dia yang belum mengenakan baju muslimah, padahal tidak tanggung-tanggung kakeknya adalah pemilik sebuah pesantren dan Omnya dimana dia tinggal adalah seorang yang sangat dermawan yang sering membagikan jilbab ke penduduk miskin di sekitar pesantren tersebut. Koleksi jilbabnya pun sudah bertumpuk tapi kenapa tak kunjung menutup aurat?
    Alasan pertama adalah larangan sang ayah
    Alasan kedua sang pacar tak mengizinkan dia untuk berjilbab.
    Oh ya dia juga bercerita saat SMP dia sekolah di Pesantren. Dia adalah gadis yang cerdas dan santun, pandai membaca alquran dan luas pemahaman agamanya. Tapi kenapa tak kunjung memakai jilbab????? matanya basah kuyup...aku bisa merasakan kepedihan hatinya...antara keinginan memakai jilbab dan niat yang belum juga mantap.
    Aku hanya bisa memberi nasehat agar dia selalu berdoa, agar Allah segera memantapkan hatinya untuk menjadi muslimah sejati, dia pun berjanji akan segera mungkin menutup auratnya.

    Saudara muslimah tercinta, alasan saya menulis cerita ini adalah agar kita dapat memetik pelajaran dari cerita ini, yang antara lain:
    1. Agar kita tidak bersikap bodoh, membiarkan kita sendiri membuat jalan ke syurga untuk orang lain tapi tidak untuk diri sendiri.
    2. Kalo hendak menikah, pilihlah laki-laki yang benar-benar mencintai Islam, sehingga dia tidak akan melarang istri untuk memakai jilbab.
    3. saat muslimah punya anak maka sang suami akan menjadi bapak, jangan sampai kita memiliki suami yang melarang anak gadisnya untuk mengenakan pakaian muslimah.

    Demikian ceritaku...maaf kalo banyak salah.
    Salam sayang untuk adikku di Bandung, doaku agar nanti kalo nanti kita bertemu dirimu sudah berbusana muslimah.

    Terakhir, maaf ya Gene.....udah menuh-menuhin blogmu.

    ReplyDelete