Wednesday, June 18, 2008

Sinetron Melecehkan Dunia Pendidikan

Senin, 9 Juni 2008 | 03:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Tayangan sinetron di televisi nasional yang ber-setting sekolah dan menggunakan seragam sekolah justru telah melecehkan dunia pendidikan dan memberi contoh tidak baik dan tidak mendidik. Untuk itu, pemerintah harus mengambil tindakan tegas terhadap tindakan eksploitasi dunia pendidikan secara tak benar itu.

Depdiknas seharusnya turun tangan, mengeluarkan larangan untuk hal-hal tertentu kepada produser, agar tayangan untuk anak dan remaja tak kebablasan.

Demikian benang merah perbincangan Kompas dengan pakar pendidikan Hasrul Piliang dari Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), pengamat masalah pendidikan anak dan Redaktur Majalah Kritis! Media untuk Anak Ike Utaminingtyas, dan Direktur Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Erman Syamsuddin, yang dihubungi Kamis dan Jumat (6/6) di Padang dan Jakarta.

Hasrul mengatakan, ”Negara harus bertindak tegas. Tak cukup hanya pernyataan ’memprihatinkan dan/atau menyesalkan’. Ada etika-etika yang harus dipenuhi.”

”Pelecehan seksual antarpelajar seolah-olah sesuatu yang wajar. Mereka berdalih sinetron adalah potret remaja dewasa ini. Padahal, tak ada dunia pendidikan yang seperti digambarkan di sinetron-sinetron,” katanya.

Ike menegaskan, dunia sekolah sering digambarkan sebagai ajang berpacaran dan guru sering dilecehkan seolah-olah hanya bisa mengatakan anak didiknya bodoh, tolol, dan kata-kata lain yang tak pantas diucapkan pendidik.

”Sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan guru harus menularkan nilai-nilai positif, menjadi orang yang digugu dan ditiru (diikuti kata-katanya dan diteladani),” ujar Ike.

Menurut dia, boleh-boleh saja sinetron memakai atribut sekolah, tetapi harus memilah, patut atau tidak patut, dan memikirkan dampak negatifnya. ”Depdiknas harus mencermati, mana yang boleh dan yang tidak boleh ditayangkan,” ujarnya.

Erman mendesak pihak pengelola stasiun televisi menyeleksi ketat tayangan, terutama sinetron dengan sasaran anak-anak dan remaja, apakah ada unsur pendidikan atau tidak, berdampak positif atau tidak terhadap motivasi belajar dan kreativitas.

”Tayangan sinetron bukannya mendidik pemirsa (anak-anak dan remaja), tetapi cenderung merusak dan memberi contoh tak patut dicontoh,” ujarnya.

Agar bermanfaat bagi dunia pendidikan, sinetron harus berdasar komitmen, misalnya antara pihak sekolah dan produser. Kalau perlu, juga dengan gubernur/wali kota/bupati, sesuai dengan otonomi daerah. (NAL)

Sumber: Kompas

3 comments:

  1. Assalamu'alaikum.

    Bubarkan KPI ! Karena tidak mampu menegakkan aturan penyiaran di Radio dan Televisi. Hampir bosan melayangkan segala macam protes mengenai tayangan di TV yang mengekspose budaya pornografi, pornoaksi, kekerasan, matrealisme dan hedonisme, klenik dan pendangkalan akidah, dll. yang akan menimbulkan kemerosotan moral manusia.

    Teman saya, orang Korsel, akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan TV dari kehidupan anak-anakya.

    Mari kita hindarkan Indonesia dari tayangan TV yang tidak berguna.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  2. Lebih baik bila orang tua sanggup mematikan tivi dan bermain dengan anaknya.
    Tetapi terlalu banyak orang tua menggunakan tivi untuk menjadi babysitter bagi anaknya, supaya orang tua tidak usah repot main dengannya.
    Lalu anak itu menjadi kecanduan dengan play station dan televisi.

    ReplyDelete
  3. Jadi ingat di kampung, kalau selesai sholat maghrib di Mesjid, mau ngajarin anak-anak kecil mengaji, waktu sholat anak-anak kecil yang ikut sholat banyak tetapi setelah sholat jadi berkurang, ternyata sebagian dari anak-anak itu pergi ke rumah di depan masjid untuk nonton tv, saya lupa apa yang mereka tonton. Ternyata acara di tv sangat berpengaruh, sampai-sampai anak-anak itu tidak mau mengaji. Beruntung pihak pengurus masjid meminta kepada pemilik rumah yang ada didepan mesjid untuk tidak menyalakan tv sampai selesai sholat isya.

    Selain anak kecil ternyata banyak juga ibu-ibu yang terpengaruh oleh sinetron. Saya ingat waktu bulan puasa kemarin, banyak ibu-ibu pulang cepat-cepat bahkan ada yang masih pakai mukenah dengan alasan takut ketinggalan sinetron. Ternyata sinetron sudah berurat akar dengan jiwa mayarakat kita.

    Saya pernah dengar ada ibu bercerita bahwa dia
    bertengkar dengan suaminya karena rebutan untuk nonton tv, suaminya mau nonton acara lain, istrinya mau nonton sinetron. Ampuuun deh.

    Jangan salah, di Malaysia sinetron Indonesia banyak ditonton juga. Saya pernah denger ada mbak-mbak (orang Melayu) lagi ngebahas sinetron Bawang Merah Bawang Putih, hehehe.

    Wassalam

    ReplyDelete