Tuesday, June 03, 2008

WHO : Larang Iklan Rokok

Assalamu’alaikum wr.wb.,

WHO minta semua pemerintah di seluruh dunia melarang iklan rokok. Mereka lihat betapa liciknya produsen rokok yang kehilangan profit di negara barat dan sedang pindah sasaran ke Asia dan negara berkembang.

Coba cari tukang yang tidak merokok. Sopir angkot, sopir bis, sopir taksi. Tukang becak. Pemulung yang sangat miskin pun masih bisa merokok.

Tetapi bukan orang miskin saja yang merokok. Di café dan rumah makan di Jakarta, kelihatan lebih banyak yang merokok daripada tidak.

Dokterpun banyak yang merokok.

Kapan ini akan berakhir?

Sayangnya, pemerintah masih “membutuhkan” uang pajak dari penjualan rokok. Hasil penjualan rokok juga membantu banyak pemilik warung yang hanya bisa hidup karena bisa dipastikan ada penjualan rokok setiap hari.

Di negara yang kekurangan stok beras, tanah yang bisa digunakan untuk menanam padi, jagung, dll, digunakan untuk tanam tembakau.

Kapan ini bisa berakhir? Sudah menjadi lingkaran setan.

Sekarang, dari produsen rokok, anak bangsa menjadi sasaran.

Kalau orang dewasa di negara barat makin sadar atas kerugian menjadi perokok, produsen rokok bukannya taubat dan mencari bisnis baru, tetapi hanya sebatas pindah sasaran saja. Anak bangsa yang dibidik sekarang.

Kapan pemerintah akan membentuk program yang baik untuk mengurangi kecanduan pada rokok, dan hilangkan ilkan rokok dari lingkungan kita? Siapa yang akan melindungi anak bangsa dari bahaya rokok bila orang tua tidak mau, pemerintah tidak mau, dan industri rokok malah menginginkan anak menjadi kecanduan?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene


WHO: Larang Iklan Rokok

Minggu, 01 Juni 2008

Dalam peringatan hari tanpa tembakau Se-dunia setiap 31 Mei, Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan negara-negara di dunia untuk melarang semua iklan rokok

Hidayatullah.com--WHO menuduh produsen rokok menggunakan teknik pemasaran yang semakin canggih untuk memikat anak-anak muda agar merokok, khususnya anak-anak perempuan di negara-negara yang lebih miskin.

Badan PBB itu mengatakan semakin sering mereka melihat atau mendengar iklan rokok, semakin besar kemungkinan mereka memulai kebiasaan itu. Imbauan itu disampaikan untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Se Dunia yang dicanangkan WHO. Organisasi itu mengatakan hanya 5% dari penduduk dunia yang melarang iklan, promosi dan pemberian sponsor dari rokok.

WHO mengatakan pembatasan yang berlaku saat ini tidak cukup untuk melindungi 1,8 miliar anak muda di dunia, yang menjadi sasaran iklan rokok di internet, majalah, film, konser dan acara olahraga.

'Pesan berbahaya'

Di Rusia, yang tidak banyak memiliki undang-undang anti-rokok, jumlah wanita dan anak perempuan yang merokok berlipat tiga dalam 10 tahun belakangan. Namun di Kanada, di mana iklan rokok sangat dibatasi, jumlah perokok di negara itu adalah yang terendah dalam 40 tahun. Inggris juga baru-baru ini mengumumkan rencana untuk melarang mesin penjual rokok, untuk mencegah anak-anak dan remaja merokok.

WHO juga menuduh pihak produsen rokok terus berusaha menarik calon perokok di kalangan anak muda dengan mengaitkan rokok dengan "kehidupan mewah, semangat dan daya tarik".

Sebagian besar perokok memulai kebiasaan ini sebelum usia 18 tahun, dengan hampir seperempat dari mereka pertama kali merokok pada usia di bawah 10 tahun, menurut badan PBB itu. Dalam survei WHO yang diselenggarakan di seluruh dunia pada anak-anak usia 13-15 tahun, 55% dari mereka mengatakan melihat iklan rokok di jalan, sementara 20% dari mereka memiliki barang yang memperlihatkan logo merek rokok.

Douglas Bettcher, direktur Kampanye Bebas Rokok oleh WHO, mengatakan larangan penuh perlu diterapkan untuk melindungi anak-anak muda dari pesan-pesan berbahaya dari rokok. [bbc/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

4 comments:

  1. [dari teman lewat email]

    Assalamu'alaikum wR wB

    Masalah rokok memang sudah jadi lingkaran setan, khususnya di Indonesia. Market size rokok di Indonesia lebih dari 100 trilyun per tahun, itu baru yang resmi tercatat. Sementara di daerah2 banyak perusahaan rokok lokal. Perusahaan2 besar seperti GG, Djarum & Sampoerna omzet per tahunnya diatas 20 trilyun. Jumlah tenaga kerja yang terserap juga banyak banget, apalgi untuk kategori SKT. Jadi penerimaan cukai rokok buat negara juga tinggi.

    Di negara2 maju memang edukasi mengenai bahaya rokok relatif lebih berhasil (karena orang2nya mau membaca & mendengar kali ya), makanya Altria Group, induk perusahaan Philip Morris mau akuisisi Sampoerna. Kalo tetap di north america & europe pasti pasarnya makin mengecil.

    Satu2nya jalan ya terus edukasi tentang bahaya merokok, tidak hanya functional claims (kesehatan, dll) tapi juga emotional claim kayak penegasan bahwa merokok bukan sesuatu yang keren - secara lebih intensif & dengan materi advertising yang bagus.

    Ironisnya, rakyat miskin susah2 cari uang ditengah kenaikan BBM tapi tetap bela2in beli rokok.

    ReplyDelete
  2. Saya membaca hasil survei dari Asosiasi Untuk Indonesia Sehat bahwa semakin banyak perempuan menjadi perokok aktif. Rata-rata perempuan mulai merokok pada usia 14-15 tahun.

    Dalam survei yang dilakukan pada 3040 perempuan siswi SMP, SMA dan Mahasiswa di Jakarta dan Sumatera Barat, 88,78% mengaku pernah merokok 1-10 batang dama hidupnya.

    Adapun alasan untuk mengisap rokok itu bermacam-macam.

    1) Mengurangi stress (54,59%)
    2) Untuk bersantai (29,36%)
    3) Ikut-ikutan yang dilakukan kaum
    lelaki (12,84%)
    4) Kebiasaan dalam kelompok (2,29%)
    5) Agar dapat diterima dalam suatu
    kelompok 0,92%)

    Menurut pendapat saya pribadi sangat susah untuk menghilangkan kebiasaan merokok di masyarakat. Karena berdasarkan hasil survei alasan paling banyak mengapa orang-orang merokok adalah menghilangkan stress (walaupun survei di atas untuk kaum perempuan saja, tapi saya yakin tidak akan jauh berbeda dengan alasan kaum pria merokok)

    Di masa sekarang ini dengan mahalnya harga barang-barang kebutuhan hidup, meningkatnya harga BBM, susahnya mendapatkan pekerjaan, demo dimana-mana bukannya semakin bertambah saja orang-orang yang mengalami stress. Makanya banyak kita lihat orang-orang miskin yang ngebelain-belain beli rokok daripada beli kebutuhan yang lebih penting. Mereka berpikir merokok dapat mengobati stress walau hanya untuk sesaat saja.

    Wassalam

    ReplyDelete
  3. Kalau harga rokok Rp 100.000 per bungkus, pasti jumlah remaja yang merokok berkurang. Pemerintah bisa menambahkan pajaknya seperti yang dilakukan di negara barat. Dan sekaligus bisa melarang iklan rokok.

    ReplyDelete
  4. Benar juga kalau harga rokok sangat mahal jumlah remaja yang merokok akan berkurang. Disamping itu akan ada dampak negatif dengan mahalnya harga rokok. Misalkan Untuk remaja yang merokok agar diterima oleh kelompok atau karena kebiasaan dalam kelompok, atau memang sudah kecanduan rokok akan melakukan cara apapun agar dapat membeli rokok. Pihak orang tua juga yang repot. Kalau orang tua tidak dapat memberi uang, mereka bisa melakukan kejahatan seperti mencuri, merampok, mencopet dan yang lainnya. Dengan begini angka kriminalitas bisa meningkat.

    Mungkin diperlukan pendidikan khusus tentang bahaya merokok di sekolah-sekolah sedini mungkin seperti juga pendidikan mengenai bahayanya melakukan seks bebas.

    Wassalam

    ReplyDelete