Thursday, July 24, 2008

Lebih utama makan atau berperang?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terasa sangat aneh bahwa pada saat negara maju membuang makanan pada skala besar (lihat Pembuangan makanan pada skala besar di Inggris), juga terjadi kelaparan di negara lain. Diperkirakan jutaan orang akan kena kelaparan di Africa kalau tidak segera dikirim makanan. (Gambar di sini: In pictures: Ethiopia's impending famine.)

Bagaimana dengan negara lain yang tidak masuk berita? Di indonesiapun juga terjadi kelaparan, hanya mungkin tidak separah yang di Afrika.

Di dunia modern ini, di mana astronaut bisa berada di stasiun luar angkasa, dan dokter bisa melakukan operasi dengan menggendalikan tangan robot lewat internet dari lain negara, sangat aneh bahwa masalah-masalah yang paling sederhana masih belum ditangani oleh pemerintah di masing-masing negara.

Bayangkan kalau pengeluaran AS untuk perang Iraq disalurkan kepada orang paling miskin di dunia. Bayangkan kalau penghasilan dari BBM dan Migas di Indonesia disalurkan kepada warga yang paling miskin daripada diberikan kepada perusahaan minyak kaya asal AS?

Masih ingat ini: “Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen.” (Lihat BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk).

Minyak dan gas dari Indonesia diambil oleh perusahaan minyak Amerika, dll. Mereka bayar pajak ke pemerintah Amerika, dan uang pajak itu dihabiskan untuk perang. Orang miskin yang lapar di Indonesia dan di Afrika dibiarkan mati kelaparan saja.

Ini dunia apa? Apakah bisnis memang begitu penting? Sepertinya sifat-sifat manusiawi makin hilang di dunia globalisasi. Yang ada persaingan bisnis yang meningkat secara tajam dan orang yang paling tidak mampu bersaing dibiarkan mati saja.

Demi uang. Demi profit. Demi kemenangan strategis dalam perang.

Anak yang dibesarkan di dalam dunia globalisasi seperti apa di masa depan…? Apakah masih akan ada “kepedulian sosial” dalam 20 tahun mendatang?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

No comments:

Post a Comment