Wednesday, July 02, 2008

Lintasan Pemikiran Ketika Sedang Sholat


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr.wb

Ustadz yang kami cintai, mohon kiranya bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kami. Saya pernah membaca di dalam buku hadist tsulatsa ceramah-ceramah Hasan Al-banna, pada bab kesatuan yang kita inginkan dan da'i yang kita idamkan.

Pertanyaan saya tidak berkenaan dengan focus bab tsb. tapi pada bagian "diwaktu sholat magrib, hampir-hampir saya tenggelam untuk merenungkan hakikat ini, dan hampir juga saya menemukan jawabannya. Itu datang karena inspirasi ketika sholat. Tiada kebaikan pada sholat yang tidak mengandung adanya perintah dan larangan, dampak ruhani, dan inspirasi di dalamnya. sungguh sholat mengandung inspirasi. Sholat juga memuat perintah dan larangan."

Juga pada bab yang sama " Umar ra. pernah mengatakan , Sungguh aku pernah menertibkan tentaraku ketika aku sedang sholat"

Pertanyaan saya bagaimana hukum berfikir didalam sholat. karena pernah juga terjadi pada saya tiba-tiba saja (tanpa sengaja) terlintas pemikiran-pemikiran ketika sedang sholat walau memang isi dari pemikiran tersebut adalah suatu pemikiran yang baik jawaban dari suatu persoalan da'wah (mengenai mutarabi). Namun saya teringat akan kelicikan setan yang membisikan kita dengan sesuatu agar tidak khusu didalam sholat walau seakan itu adalah hal yang baik. Sebagaimana Nabi Adam digelincirkan oleh setan dengan alasan untuk kebaikan.

Wallahu'alam Wassalamu'alaikum wr.wb

Riza

Jawaban:

Assalamu 'alaikum wr.wb

Segala puja dan syukur kepada Allah Swt dan shalawat salam untuk RasulNya.

Shalat dianggap sah secara hukum apabila telah terpenuhi syarat dan rukunnya. Namun ada hal diluar hukum yang tidak kalah penting, yaitu sifat khusu’. Khusu’ lebih kepada keadaan mental. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, bahwa khusu’ meliputi enam hal, yaitu kehadiran hati, mengerti antara yang dibaca dan yang diperbuat, mengagungkan Allah Swt, merasa gentar terhadap Allah Swt, merasa penuh harap kepada Allah Swt, dan merasa malu terhadapNya. Seorang hamba mampu menghadirkan semua perasaan itu secara penuh ketika sedang shalat. Orang yang mampu melakukan shalat dengan khusu’ seperti inilah yang Allah janjikan dengan keberuntungan, sebagaimana dalam al-Quran:

قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون

Beruntunglah orang-orang berimana, yaitu mereka yang khusu’ dalam shalatnya.

Memang setiap orang punya tingkatan / kwalitas yang berbeda-beda dalam hal khusu’ ini. Ada yang sampai pada tingkatan mampu khusu’ dalam semua waktu shalatnya sehingga ia tidak ‘sadar’ dengan apa yang terjadi diluar shalat. Dan ada tingkatan dimana seseorang mampu khusu’ dalam sebagian besarnya, dan begitu seterusnya.

Namun bukan berarti orang yang ingat sesuatu ketika shalat, atau terlintas satu pikiran, tidak dianggap khusu’ sama sekali. Selama lintasan-lintasan pikiran itu tidak sampai merusak konsentrasi, atau bahkan membuat lalai,maka ia tetap masih dikatagorikan sebagai orang yang khusu’ sesuai dengan tingkatannya.

Oleh karenanya, lintasan-lintasan yang datang ketika sedang shalat, secara hukum tidak membuat shalat itu batal, namun apabila lintasan itu sampai mengganggu kekhusu’an, tentu hal itu mengurangi nilai/kwalitas shalat.

Sikap yang diambil adalah ketika seseorang sedang shalat dan tanpa disadari datang pikiran-pikiran diluar shalat, maka hendaklah segera untuk kembali kepada posisi semula sebagai orang yang sedang bermunajat kepada Allah Swt. jangan sampai lintasan itu membuat lalai, sehingga masuk dalam katagori orang-orang yang celaka, naudzubillah.

أريت الذين يكذب بالدين فذلك الذي يدع اليتيم ولا يحض على طعام المسكين فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهون الذين هم يراءون ويمنعون الماعون

Wallahu a’lam.

Wassalam

Sumber: Syariah Online

No comments:

Post a Comment