Wednesday, September 03, 2008

Telat Datang, Hidayat Nur Wahid Duduk di Barisan Belakang

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Sambil baca berita ini, saya senyum. Saya berpikir: kapan Indonesia bisa mendapat pemimpin negara yang rendah hati seperti ini? Saya sering lihat para politikus senior di tivi, yang dikelilingi oleh pengawal, asisten, dan orang-orang lain. Pada saat mereka hadir dalam suatu acara, mereka selalu jalan di tengah rombongan besar ke barisan kursi terdepan, seakan-akan tanpa kehadiran mereka, acara tersebut tidak sah.

Sekarang ada contoh yang berbeda. Datang telat, duduk di belakang!

Barangkali kebanyakan pejabat dan pemimpin senior dari partai politik tidak bersedia menunjukkan kerendahan hati seperti ini. Mungkin mereka lebih senang kalau dipuji dan dilayani terus oleh orang lain.

Seorang pejabat seharusnya melayani masyarakat, dan bukan minta dilayani. Sekarang ada contoh yang luar biasa dari Ketua MPR. Apakah yang lain bisa ikut?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Telat Datang, Hidayat Nur Wahid Duduk di Barisan Belakang

Rabu, 03/09/2008 16:30 WIB

Didit Tri Kertapati – detikNews

Jakarta - Ketua MPR Hidayat Nur Wahid datang terlambat pada acara pembekalan caleg nasional PKS. Hidayat langsung masuk ke ruangan dan duduk di kursi barisan belakang, yang merupakan barisan wartawan.

Hidayat tiba sekitar pukul 11.30 WIB dengan mengenakan batik lengan panjang. Setelah duduk di kursi bagian belakang, Hidayat langsung menyalami wartawan yang ada disebelahnya. Wartawan itu langsung kaget.

"Wah aku kaget juga pas dia duduk di sampingku," ujar seorang wartawan kepada detikcom, di Komplek Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2008).

Sadar Hidayat duduk di bagian belakang, beberapa kader PKS menyalami Hidayat dan mengucapkan selamat datang dengan bahasa Arab. Seorang kader sempat mempersilakan Hidayat untuk duduk di depan, tapi ditolaknya.

"Biar saja, terlambat duduknya di belakang," kata mantan Presiden PKS itu menanggapi tawaran tersebut.

Ketika ada wartawan yang mencoba memanfaatkan kesempatan tersebut untuk wawancara, Hidayat menolak dengan menunjuk ke arah depan. Itu artinya Hidayat ingin menyimak dahulu ttausiyah dari Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin.

Namun sampai Presiden PKS Tifatul Sembiring memberikan tausiyahnya, Hidayat menolak juga ajakan Tifatul untuk pindah ke kursi bagian depan. Hidayat pun tetap duduk di belakang sampai acara selesai.(ddt/nik)

Sumber: Detiknews.com

5 comments:

  1. ah biasa aja tuh. Ya mungkin Mas Gene terlalu terkesima dgn kelompok tertentu, jadi Mas Gene hanya melihat akhlaknya saja tetapi tidak melihat kewajibannya sebagai Muslim. Masih banyak orang muslim yg baik dan mungkin kalau jadi pemimpin akan menggoncangkan dunia dgn kebijakan yg berdasarkan hukum Allah. Saat ini belum ada satu pemimpin pung yg bisa memayungi umat Islam. kalau pun ada maka pemimpin tersebut hanya memikirkan wilayah/negaranya saja tanpa menggerakkan umat untuk menyatukan diri dibawah bendera "Laillahailllah muhammadarulullah", yang tanpa meilhat bangsa, warna kulit, wilayah atau apapun yg membedakannya tetapi hanya melihat satu aqidah Islam.

    Hidup dibawah hukum2 Islam adalah dambaan setiap Muslim yg mengharapkan Ridha Allah. Ternyata tidak cukup akhlak yg baik tetapi Hukum Islam wajib ditegakkan untuk menjadi Muslim yg Kaffah.

    Thanks

    ReplyDelete
  2. :)arif ini masih terpesona akan kejayaan kekhalifahan ottoman dll, kekhalifahan tanpa sekatan batas negara.., ide hebat emang rif, tapi sayangnya kita hidup di jaman yang berbeda dengan sang khalifah.

    Yang ada sekarang, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, ingin punya pemimpin yang amanah dan mau peduli dengan rakyatnya, buth perjuangan

    Tapi seharusnya, dari ribuan kemunafikan yang ada dinegeri ini, hal sekecil itu menjadi titik awal langkah untuk kemajuan tidak saja untuk ummat islam, saya bukannya terpesona dengan salah satu golongan seperti apa yg dibilang arif ke Mr. Gene...
    contoh kecil saja akhlak pemimpin kenapa harus dipandang sebelah mata.
    Tapi hal2 buruk selalu dibesar2kan media dan juga orang2, seakan dinegeri ini tidak pernah ada pemimpin yang bener2 memikirkan ummatnya.

    Balik saja dulu ke realita hidup rif, tentang dunia islam dan hukum islam, masih harus diperjuangkan dan insyaalloh banyak yang berjuang untuk itu termasuk kamu, tapi sebentar, jangan dulu melihat kelingkup yang besar..dunia dan pemimpinnya, tapi ke diri kita dulu, lingkungan sekeliling kita, sudahkah..hal itu diterapkan??........, dimulai dari hal kecil saja bisa merubah dunia.

    ReplyDelete
  3. Oh tentu saya terpesona bagaimana tidak ternyata belum ada sistem kenegaraan yg sebaik dan sesempurna sistem Islam (Khilafah). Belum pernah ada sistem yang sebaik dan seadil sistem Islam.

    Zaman boleh berganti tetapi manusia tetap sama, tetap memiliki nafsu syahwat, tetap lapar, tetap haus, tetap buang hajat, tetap ingin dihormati, tetap ingin dihargai, tetap ingin diperlakukan adil, dll. Dulu mungkin belum ada pesawat, mobil, kulkas atau bom nuklir, tapi semua itu ternyata tidak merubah sifat2 dasar manusia tsb.

    Islam memiliki obyek hukum yang tidak berubah juga. Dulu hukum Islam diturunkan untuk menghukumi segala permasalahan manusia, dan sekarangpun juga masih tetap manusia, bukan berganti dengan hewan atau benda2 mati spt pesawat, mobil, nuklir dll.

    Saya bukan memandang sebelah mata, justru saya memandang dgn dua mata, sehingga nampak jelaslah bahwa yg dibutuhkan untuk menjadi muslim yg kaffah tidak hanya akhlak yang baik tetapi juga diperlukan penerapan hukum2 Islam. Kalau ada muslim/pemimpin yg berakhlak baik maka itu entry point untuk menuju dan mengajak kepada umat untuk bersatu menuntut penegakan syariah islam. Justru kalau ada seorang muslim yg berakhlak baik tetapi blm mengajak umat untuk bersatu menuntut penerapan Islam maka kita wajib mengingatkan bahwa jangan lupa kita butuh dan diwjibkan untuk menegakkan sistem yg diridhai Allah.

    Banyak sekali dinegeri ini yg memikirkan umat islam tetapi sedikit yg mau menggunakan sistem Islam untuk menghukumi segala permasalahan umat. Misal Ibu Menteri Sri Mulyani itu juga memikirkan umat bagaimana kebijakannya bisa menguntungkan banyak pihak, tetapi dia dalam membuat kebijakan tidak berdasarkan atas sistem ekonomi Islam. Misal Bpk Jimly Assidiqi, beliau juga selalu memikirkan Umat tetapi beliau dalam menghukumi Undang2 tidak berkiblat pada Hukum Islam. padahal akhlak mereka baik2 tetapi kok sampai detik ini umat tidak merasa sejahtera, apa karena mereka kurang baik atau meraka menggunakan hukum lain?

    Ya kita harus melihat realitas hidup yang ada. kalau saat ini kita masih hidup dgn sistem yg bukan islam maka tugas kita adalah mengajak saudara, teman, rekan, masyarakat dll untuk memahami apa itu sistem islam, bagaimana hukum penerapannya, dan mari kita perjuangkan.

    Saya dan bahkan para ulama salaf pun tidak akan berani mengklaim bahwa diri mereka sudah baik atau cukup baik untuk menghuni surga dan hanya memikirkan dirinya sendiri untuk masuk surga. Tetapi yang hanya dilakukan oleh saya dan para ulama adalah berusaha untuk menjadi baik dan terus berusaha. Pada saat saya berusaha maka saya menempuh jalan untuk menyampaikan apa yg sudah saya tau, karena saya tidak tau sampai seberapa baikkah saya boleh berdakwah menyampaikan apa yg saya tau.

    Ketika saya hanya tau 2 dari 10 maka saya akan sampaikan 2 yg saya tau. Karena saya tidak tau apakah saya bisa sampai tau ke derajat yg 10.

    Saya memulai merubah dunia dgn hal kecil, yakni cuma tulis2 di blog, chatting, dialog dgn sahabat dll. kerna saya yakin akan janji Allah bahwa Allah akan meneguhkan kembali agama yg telah dirihaiNya.

    Berikut ini adlah dalil tentang akan hadirnya sitem islam setelah sitem ditaktor seperti ini.


    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون

    Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).

    « تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ ».

    “Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).

    كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

    Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

    « لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ…»

    Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu. (HR uslim dan Tsauban)

    «وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ »

    Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku; yang akan ada adalah para khalifah dan mereka berjumlah banyak. (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).

    semogar bermanfaat.

    Wassalamualaikum wr wb.


    Arif/ardobinardi

    ReplyDelete
  4. sorry cuma nanya:) kirain orang HT..., uraiannya persis yg di bilang amir HT

    saya awam ttg masalah hukum2, saya cuma nulis apa yg saya tahu dan saya lihat jg, semangat km sungguh menggebu2..., bagus lha..,

    tapi sebagai referensi, gali juga uraian dari pakarnya:
    coba di yusril.ihzamahendra.com baca bag. Beranda nya: Hukum islam dan pengaruhnya terhadap hukum nasional indonesia. Tulisan beliau saya pikir cukup berimbang.

    agar punya tambahan referensi dan penjelasan yg bisa imbang. Tidak dari satu sudut pandang saja.

    salam:)

    ReplyDelete
  5. Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Kata Ardo: “ah biasa aja tuh.”
    >>Benar Mas? Tolong tunjukkan berita setara:
    Megawati Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang
    Jusuf Kalla Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang
    Gus Dur Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang
    Akbar Tanjung Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang
    Aburizal Bakrie Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang
    Dan seterusnya!
    Ada berita begitu? Saya belum pernah melihatnya.

    Kata Ardo: “Ya mungkin Mas Gene terlalu terkesima dgn kelompok tertentu, jadi Mas Gene hanya melihat akhlaknya saja tetapi tidak melihat kewajibannya sebagai Muslim.”
    >>Coba baca komentar saya di atas deh. Tidak ada hubungan dengan kelompok apa pun. Saya tidak membicarakan kelompok. Saya bicarakan sikap rendah hati seorang pemimpin MPR. Itu saja. Baca lagi, baca kata-kata saya, dan lihat bahwa saya bicarakan kemuliaan seorang pejabat negara. Itu saja. saya ingin sekali melihat berita “Megawati Duduk di Barisan Belakang karena Telat Datang.” Dan kalau ada, saya akan kagumi juga, apalagi kalau dia sedang punya jabatan sebagai Presiden, Wapres, atau ketua MPR.
    Oke?

    Kata Ardo: “Saat ini belum ada satu pemimpin pung yg bisa memayungi umat Islam. kalau pun ada maka pemimpin tersebut hanya memikirkan wilayah/negaranya saja tanpa menggerakkan umat untuk menyatukan diri dibawah bendera "Laillahailllah muhammadarulullah", yang tanpa meilhat bangsa, warna kulit, wilayah atau apapun yg membedakannya tetapi hanya melihat satu aqidah Islam.”
    >> Ya, jelas tidak ada. Apakah (misalnya) Ardo mau nurut dengan orang Pakistan yang tidak dikenal setelah dijelaskan ke Ardo bahwa org itu telah menjadi Khalifa buat semua orang Islam sedunia? Benar, mau? Dan kalau dia mengeluarkan pendapat2 yang menurut kamu “aneh”, apakah mau diterima begitu saja dan dituruti? Karena orang lain menyatakan dia adalah Khalifa? Sedangkan pendapat kamu tidak ditanggapi, dan orang Indonesia tidak bisa masuk seleksi karena proses memilih Khalifa diatur ketat oleh orang Pakistan (misalnya)?
    Jadi, kecuali semua orang Islam bisa mengabaikan batasan negara (Malaysia boleh ambil secara bebas dari Indonesia?) dan bersatu menjadi satu komunitas, tidak mungkin lagi ada Khalifa dunia.
    Bagaimana cara memilihnya? Kalau penguasa Pakistan mengangkat satu orang menjadi Khalifa, dan Saudi mendukung, lalu MUI ribut dan bilang org tersebut tidak bisa diterima, Ardo mau nurut sama siapa? MUI atau Khalifa dari Pakistan yang tidak dikenal?
    Gimana dengan tetangga Ardo? Kalau dia tidak mau terima, apakah kamu mau memaksakan dia untuk terima? Kalau dia masih tidak terima, apakah kamu mau mengatakan bahwa dia telah murtad dan kafir. Lalu kamu membunuhnya karena dia tidak mau nurut dengan Khalifa yang kamu yakini benar?
    Dan seterusnya…
    Menciptakan kembali Khalifa bukan hal yang begitu gampang dan sederhana. OIC saja tidak bisa sependapat dalam banyak hal, dan itu hanya untuk urusan yang cukup ringan. Bagaimana mereka bisa bersatu untuk mengangkat khalifa?
    Konperensi HT di Indonesia kemarin habiskan berapa puluh milyar? Hasilnya apa? Hanya pembicaraan rutin yang mereka ulangi setiap tahun, tanpa perubahan apapun (kaya DPR ya? Hehe).
    Menurut saya, daripada bicara terus tentang hal yang tidak mungkin diwujudkan begitu saja, dan tidak didukung oleh orang selain mereka saja, lebih baik ambil uang tersebut dan menyekolahkan anak yatim. Kalau begitu, akan ada hasil yang jelas. Tetapi kalau bicara tentang khalifa setiap tahun (dari dulu sampai sekarang) tetap tidak akan ada perubahan, dan tidak mungkin terjadi begitu saja.
    Begitu saja pendapat saya.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.,

    ReplyDelete