Tuesday, November 25, 2008

Jan 09: Anak Sekolah Wajib Masuk Jam 6.30 Utk Mengatasi Kemacetan

Anak Sekolah Masuk 06.30 WIB
Prijanto: Semua Kritik Hanya Membela Kepentingan Pribadi

Taufiqqurahman - detikNews
Minggu, 23/11/2008 23:25 WIB
Jakarta - Kebijakan sekolah masuk pukul 06.30 WIB mulai Januari 2009 di DKI Jakarta menuai banyak kritik dari berbagai kalangan. Namun kritik tersebut dianggap oleh Wagub DKI Jakarta Prijanto sebagai alasan untuk membela kepentingan pribadi saja.

"Saya sudah membaca berbagai berita dan pendapat. Semua masukan yang ditulis media cetak dan kritik itu hanya menempatkan pada posisi kepentingan pribadi," ujarnya saat menghadiri acara Urang Minang Barelek Gadang di Rantau di Istora Senayan, Jakarta, Minggu malam (23/11/2008).

Prijanto mencontohkan, salah satu alasan penolakan kebijakan tersebut adalah karena orang tua khawatir anaknya tidak bisa bangun pagi. "Itu kan masalah pribadi," imbuhnya.

Menurut Prijanto, semua pihak diwajibkan untuk sadar dan bersama-sama berjuang untuk mematuhi aturan tersebut. Berbagai alasan yang selama ini dilontarkan, semoga tidak menghambat pelaksaan aturan itu nantinya.

"Perlu dicatat bahwa jam 06.00 WIB pagi itu di Jakarta sudah 30 derajat Celcius, jadi tidak gelap lagi", kata Prijanto.

Ia pun mengimbau pada seluruh guru dan siswa sekolah agar memahami tujuan dari adanya aturan ini. Menurutnya, bangun pagi untuk sekolah bukanlah sebuah momok yang menakutkan.

"Justru dia (anak sekolah) akan masuk lebih cepat karena jalanan masih sepi," pungkasnya.(mad/mad)

Sumber: Detiknews.com

########

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Dalam rangka mengatasi kemacetan, Pemda DKI ingin mewajibkan anak sekolah masuk jam 6.30 daripada jam 7.00. Perlu ditanyakan, di mana ada hasil riset yang membuktikan bahwa ini akan lebih baik bagi anak dan sekaligus bermanfaat untuk mengurangi kemacetan? Atau apakah tidak perlu melakukan riset dan hanya cukup dipikirkan atau dimimpikan Gubenur saja, maka pasti bermanfaat?
Sungguh tidak bijaksana ide ini.

Coba bertanya pada seorang guru sekolah. Salah satu masalah terbesar adalah anak yang datang telat di sekolah. Dan kalau anak masuk lebih cepat berarti guru juga harus masuk lebih cepat. Apakah guru tersebut juga harus mengantarkan anak kandungnya sendiri ke sekolah sebelum dia juga berangkat kerja (di lain tempat)? Jadi jam berapa dia harus tinggalkan rumah? Bagaimana dengan orang tua (karyawan biasa) yang sekolah anaknya dan tempat kerjanya cukup jauh?

Yang menjadi suatu masalah bagi anak adalah bila dia berangkat ke sekolah dengan buru-buru dan tidak makan pagi. Tidak adanya sarapan ini punya efek yang cukup buruk bagi seorang anak ketika harus berkonsentrasi di kelas. Kalau sekarang ada sekian persen anak yang masuk sekolah tanpa sarapan (karena buru-buru), nanti jumlah anak yang kurang makan hanya bakalan bertambah, bukan berkurang.
Efeknya apa terhadap anak ini secara fisik dan psikologis?

Tetapi Gubenur dan Wakil Gubenur sepertinya tidak peduli pada kepentingan anak anda. Mereka hanya ingin bertindak untuk mengatasi kemacetan, katanya. Kalau anak ibu kota diganggu, tidak jadi masalah. Anak dan cucu mereka (dari Gubenur dan Wakil Gubenur) pasti masuk sekolah swasta (yang jam masuknya bebas, terserah sekolahnya) jadi bukan anak atau cucu mereka yang harus berangkat lebih pagi. Dan anak atau cucu mereka pasti diantar naik mobil, dan tidak harus naik Metro Mini.

Apakah hanya ada satu cara ini untuk mengatasi kemacetan? Mengganggu anak sekolah?
Sudah jelas tidak ada kepedulian tinggi dari Gubenur dan Wakil Gubenur terhadap anak-anak di ibu kota. Bis sekolah yang muncul untuk sementara sudah lama hilang dari jalan. Kenapa? Anggaran habis? Dihabiskan ke mana?

Dan kalau mau mengatasi kemacetan, sepertinya lebih bermanfaat kalau banyak orang tinggalkan mobil di rumah dan menggunakan transportasi umum. Kalau betul, ada pertanyaan:
“KENAPA SETELAH PULUHAN TAHUN, MASIH ADA BIS KOPAJA DAN METRO MINI DI JALAN-JALAN IBU KOTA, PADAHAL TIDAK LAYAK DIPAKAI?”
Ada apa di belakangnya sehingga bis-bis yang kotor, rusak, berpolusi tinggi dan tidak layak ini bisa berada di ibu kota terus?

Daripada bikin jalur busway terus, dengan bis impor, anggaran yang tinggi untuk membangun shelter, jembatan dan fasilitas lain, KENAPA tidak menggunakan uang yang sama untuk menggantikan semua bis yang tidak layak dengan bis kota yang berkualitas?
Dengan menggunakan bis buatan dalam negeri, bisa menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. (Atau mungkin Indonesia tidak sanggup membuat bis kota. Hanya pesawat.)
Dengan menambahkan jumlah bis kota yang layak, dan hilangkan yang tidak layak, mungkin lebih banyak orang bersedia menggunakan transportasi umum.
Dengan bis kota berkualitas tinggi, yang menggunakan jalur kiri, tidak perlu pengeluaran besar untuk membangun jembatan dan shelter dengan lampu. Uang yang dihemat bisa digunakan untuk menambahkan jumlah bis.
Mungkin ini solusi yang ideal bagi pejabat DKI yang peduli pada masyarakat dan ingin mencari solusi yang baik.

Tetapi sebaliknya, kalau pejabat tidak peduli pada rakyat, dan tidak peduli pada anak-anak di ibu kota, maka solusinya adalah menambahkan jalur busway dengan bis impor, habiskan anggaran untuk membangun jembatan, shelter dan memperbaiki jalur busway yang rusak terus, biarkan Metro Mini dan Kopaja berjalan terus (KENAPA?), dan paksakan anak ibu kota masuk sekolak lebih cepat, tanpa menyediakan bis sekolah karena anggarannya habis!
Dari kebijakan ini, sungguh tidak kelihatan kepedulian terhadap rakyat atau anak-anak anda.

Coba bayangkan bila Gubenur mengeluarkan perintah bahwa SEMUA anak, keponakan dan cucu dari semua pejabat Pemda DKI wajib masuk sekolah negeri yang terburuk di wilayahnya (bukan sekolah swasta yang berkualitas tinggi), dan wajib berangkat sekolah naik Metro Mini atau Kopaja.
Kalau ada perintah seperti itu, baru saya bisa percaya bahwa Gubenur merasa malu atas kondisi sekolah dan transportasi umum di Jakarta.

Saran-saran:
Hilangkan kebijakan bodoh yang akan memaksakan anak sekolah masuk jam 6.30 (mulai Januari 2009), sebelum ada hasil riset yang membuktikan bahwa itu memang terbaik untuk anak-anak itu, gurunya, dan masyarakat.
Kembalikan bisa sekolah untuk kepentingan anak sekolah.
Hilangkan bis kota yang tidak layak seperti Metro Mini dan Kopaja.
Sediakan bis kota yang berkualitas, yang buatan dalam negeri, yang berjalan di jalur kiri saja. (Dengan demikian, tidak perlu membangun shelter dan jembatan baru, tidak perlu perbaikan jalan, lampu, loket, dan sebagainya).
Berhenti membangun jalur Busway baru, dengan anggaran besar untuk bisnya, renovasi bis (untuk pasang pintu di sebelah kanan), pembangunan shelter, jembatan, perbaikan jalan, dan lampu.
(Lampu-lampu itu ternyata menyala sepanjang malam, bahkan setelah bisnya sudah tidak beroperasi. Dan dinyalakan juga dalam shelter dan jembatan seperti di Pancoran, di mana belum ada bis yang beroperasi. Tidak ada bisnya, tetapi lampu di shelter dinyalakan sepanjang malam untuk berbulan-bulan!!?? – Tetapi tidak ada anggaran untuk bis sekolah!!??)
Minta Gubenur dan Wakil Gubenur berusaha untuk peduli pada rakyat dan membuat kebijakan yang membantu rakyat, bukan membantu orang yang mencari proyek.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment