Wednesday, November 26, 2008

Sekolah Lebih Pagi dan Kemacetan

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Yang saya anggap paling aneh di dalam semua komentar dari pejabat Pemda DKI, tidak ada SATUPUN yang bicara tentang Metro Mini, Kopaja, dan bis kota lain yang tidak layak dipakai oleh karyawan perkantoran. Yang dibicarakan mereka hanya seputar jumlah kendaraan (mobil pribadi) naik setiap tahun dan menjadi penyebab macet. Mereka tidak pernah mau menjelaskan KENAPA mereka begitu lalai sehingga mereka tidak mau melarang bis kotor dan rusak itu beroperasi di dalam DKI.

Kenapa bukan ini yang menjadi solusi kemacetan: MENYEDIAKAN BIS KOTA YANG BERKUALITAS.

Sekarang mereka mulai bicara lagi tentang MRT. Mau bikin MRT, subway, monorail, balon udara atau apapun, tetap tidak menjadi solusi tepat selama tidak ada angkutan umum (bis kota) yang layak. Apalagi busway membuat jalan-jalan lebih macet dan tidak menjadi solusi (tetapi menyediakan proyek yang banyak, ya!)

Selama Pemda DKI tidak mau menjelaskan alasan kenapa mereka mempertahankan bis rusak seperti Metro Mini dan Kopaja selama puluhan tahun dan tidak mau berjanji untuk menggantikannya, kita hanya bisa mencari solusi yang lain seperti mobil pribadi dan motor.
Salah siapa?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

########

Cita-cita Tak Antre di Jalan
Lebih baik disediakan angkutan massal.

Awal tahun depan bisa menjadi masa tersulit bagi Rizzkie Rahman. Betapa tidak, peraturan pemerintah yang mempercepat jam masuk sekolah memaksa bocah 8 tahun bangun lebih pagi.
"Biasanya dibangunin paksa, eh, sekarang malah harus lebih pagi lagi," kata Tri, 28 tahun, ibu Rizzkie. Tiap hari anaknya baru siap berangkat sekolah pukul 07.30. Kata Tri, perlu satu jam untuk memaksa Rizzkie mandi, berkemas, dan sarapan. Belum lagi waktu tempuh bocah itu dari rumahnya di kawasan Kayu Putih ke sekolahnya di Rawamangun, Jakarta Timur. "Bisa setengah jam. Pas datang pas masuk," ujar Tri.

Akhir pekan lalu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengumumkan peraturan tentang jam sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yang harus dimulai pukul 06.30, atau lebih awal setengah jam. Semua itu dilakukan, "Demi mengurangi kemacetan 6 hingga 14 persen karena transportasi anak sekolah," kata Prijanto.

Riza Hashim, Kepala Subdinas Pengendalian Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya Dinas Perhubungan DKI Jakarta, menganalisis, pukul 07.00 hingga pukul 09.00 merupakan jam macet rutin di Jakarta karena saat itu semua orang bersamaan "turun" ke jalan. "Ribuan kendaraan melintas. Bayangkan, seperti apa macetnya," ujar Riza kepada Tempo, Ahad lalu.
Ia mengatakan titik sentra kemacetan di Jakarta tersebar merata. Di lima wilayah Ibu Kota, setiap perempatan jalan bisa dikatakan menjadi sentra kemacetan.

Akhir 2007, Traffic Management Centre Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya menyebutkan ada 81 titik kemacetan di Jakarta. Angka ini naik tajam menjadi 116 titik pada pertengahan 2008. [SETELAH DIBUAT JALUR BUSWAY YANG TIDAK MENJADI SOLUSI TETAPI BAGIAN DARI MASALAH – Gene].

Menurut Riza, kemacetan lantaran tak sebandingnya pertumbuhan ruas jalan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Menurut data PT Permintori, perusahaan konsultan transportasi Dinas Perhubungan DKI, pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 9 persen per tahun, sementara ruas jalan hanya bertambah 0,01 persen.

Jumlah rute angkutan per hari juga fantastis. Dalam sehari, Permintori menghitung ada 20,7 juta perjalanan di Jakarta. Dari jumlah itu, perjalanan para pekerja mencapai 32 persennya atau 5,6 juta trip, sedangkan perjalanan para pelajar mencapai 30 persen atau 5,3 juta trip.
Riza menegaskan, Pemerintah DKI Jakarta sudah melakukan beragam upaya, dari menetapkan aturan 3 in 1 hingga mengoperasikan berbagai moda angkutan massal. Namun, pengurangan kemacetan nyaris nihil. "Kami membagi waktu keberangkatan pengguna jalan. Agar tak turun ke jalan bersama-sama," kata Riza.

Yayat Supriyatna, pengamat tata kota Universitas Trisakti, mengatakan kemacetan selama ini merupakan bentuk kegagalan pemerintah mengubah pola transportasi dari individu ke arah transportasi massal dengan cepat. "Mending disediakan angkutan massal ketimbang maksa anak-anak bangun pagi," ujarnya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi meminta pemerintah menggelar dialog dulu dengan anak-anak dan guru. Ia mengingatkan, jika kebijakan itu diterapkan, anak-anak jangan dikorbankan. "Seperti kurang tidur dan terlambat masuk sekolah," ujarnya. ISTI | FERY FIRMANSYAH | EKA UTAMI

Macet dari Hulu ke Hilir

Yayat Supriyatna, pengamat tata kota Universitas Trisakti: kualitas layanan lalu lintas di Jakarta berada pada kelas C atau D. Ia menunjukkan beberapa fakta:

· Rata-rata kendaraan hanya bisa melaju maksimal 30 kilometer per jam.
· Jumlah kendaraan di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang tahun ini mencapai 9,5 juta, atau meningkat dua juta unit dibanding 2006.
· Panjang jalan 7.650 kilometer dengan luas 40,1 kilometer persegi.
· Ada 236.908 kendaraan di setiap kilometer persegi jalan raya.

FERY FIRMANSYAH

Sumber: Korantempo.com


*****

Editorial : Kontroversi Sekolah Lebih Pagi

Rencana pemerintah DKI Jakarta memajukan waktu masuk sekolah bisa memicu masalah baru. Kebijakan ini belum dikaji mendalam. Tak ada jaminan kemacetan lalu lintas di Ibu Kota bakal terurai hanya karena jam pelajaran di sekolah dimulai lebih pagi. Namun, siapa korban kebijakan kontroversial ini sudah jelas, yakni para pelajar.

Anak-anak harus tiba di sekolah pada pukul 06.30, maju setengah jam dari waktu yang berlaku selama ini. Kebijakan yang mulai efektif pada 1 Januari 2009 ini mengubah jam biologis para siswa. Sebab, seperti yang dikeluhkan oleh para guru, selama ini pun banyak siswa mengalami masalah dengan bangun pagi. Bila diminta bangun lebih pagi lagi, tentu akan semakin banyak siswa yang menderita.

Pemerintah perlu memikirkan dampak perubahan itu bagi siswa. Memajukan waktu masuk sekolah berarti pula mengurangi jam tidur. Boleh jadi hal ini akan berimbas pada perkembangan otak maupun fisik anak-anak sekolah. Bagaimanapun, mereka butuh waktu tidur yang cukup agar otak dan fisiknya tumbuh sempurna. Kurang tidur juga bisa membuat para pelajar mengalami depresi.

Memajukan waktu masuk sekolah belum tentu pula merupakan solusi jitu mengurangi kemacetan. Mungkin saja benar, berdasarkan survei, perjalanan ke sekolah merupakan 30 persen dari jumlah lalu lintas di pagi hari. Tapi mengubah waktu masuk sekolah jangan-jangan hanya akan menggeser kemacetan menjadi lebih pagi. Soalnya, pada pagi hari sudah banyak pula orang berangkat kerja.

Jelas penyebab kemacetan adalah tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan panjang jalan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 8 juta. Adapun luas ruas jalan hanya 27 juta meter persegi. Dengan data statistik ini, bila semua kendaraan bermotor keluar garasi pada waktu bersamaan, lalu lintas akan tumpah hingga wilayah Tangerang dan Bekasi dan tak bisa bergerak.

Kemacetan juga akibat kecenderungan warga Jakarta yang lebih suka mengendarai mobil pribadi ketimbang menumpang angkutan umum. Layanan angkutan umum yang buruk dan jumlahnya yang terbatas membuat kebiasaan itu sulit diubah. Program busway, yang semula diharapkan akan membuat para pemilik kendaraan pribadi beralih ke jenis transportasi umum, ternyata tak berjalan mulus. Penumpang terpaksa berdesakan setiap hari karena jumlah busnya terlalu sedikit. Beberapa koridor busway yang sudah dibangun malah dibiarkan telantar.
Mestinya, itulah yang perlu dibenahi oleh pemerintah daerah. Kalau saja pemerintah mampu menyediakan sarana transportasi umum yang nyaman dan memadai, dengan sendirinya warga akan mengistirahatkan kendaraan pribadi.

Kemacetan lalu lintas juga sering disebabkan oleh pembangunan yang tak mengindahkan konsep tata kota yang ideal. Pusat perkantoran dan belanja seolah dibiarkan dibangun di mana saja di segala penjuru Ibu Kota.

Begitu pula sekolah. Saat ini kebanyakan sekolah favorit berada di tengah kota. Andaikata pemerintah kembali menghidupkan sistem rayonisasi pendidikan sehingga sekolah favorit tersebar di semua wilayah, kemacetan berkurang dengan sendirinya. Dan, anak sekolah tak perlu bangun lebih pagi.

Sumber: Korantempo.com

No comments:

Post a Comment