Friday, December 26, 2008

Anak Bertengkar, Orang Tua Tak Perlu Reaktif

By Republika Newsroom
Senin, 15 Desember 2008 pukul 16:42:00

Bill Cosby pernah berkata, "Anda tidak benar-benar menjadi orang tua hingga memiliki anak kedua," Orang tua dengan satu anak mungkin agak sulit memahami ini. Sementara mereka dengan dua anak atau bahkan lebih, akan cepat menangkap maksud kalimat Bill. Pemeran The Cosby Show itu merujuk pada pertengkaran, percekcokan, yang relatif berlangsung terus menerus antar saudara kandung.

Tidak bisa dipungkiri, memiliki lebih dari satu anak memberikan kesempatan bagi mereka belajar banyak hal. Anak bisa belajar berbagi, bagaimana menjadi teman, mencintai dan berjalan bersama, juga bekerja sama dalam hubungan kakak dan adik. Ada banyak hal positif dalam kehidupan keluarga dengan lebih satu anak, meski bisa jadi ada orang tua yang berseloroh, "Tidak dalam keluarga saya,"

Pertengkaran yang kerap muncul di antara saudara kandung memang menjadi salah satu frustasi utama bagi orang tua. Sehingga tak heran, reaksi tipikal orang tua terhadap pertengkaran, salah satunya ialah berteriak, "Diam!" atau "Kalian membuat pusing!" atau mengancam, mengabaikan perasaan negatif anak yang sedang muncul, dan menentukan pemecahan solusi untuk anak secara sepihak. Semua reaksi itu, bisa ditebak, malah menjadi bahan bakar bagi pertengkaran lebih lanjut.

Salah satu kiat yang ditulis oleh positiveparenting.com, ketimbang bereaksi terhadap pertengkaran, orang tua lebih baik bersikap pro aktif, yakni berdiri di luar tanpa mental dan sikap menghakimi. Kadang anak membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu sendiri. Oran tua dapat mengajari cara bernegosiasi setelah periode tenang kemudian. Ajari anak untuk berkata, "Saya akan beri kami ini untuk itu," Ini setidaknya membantu mereka belajar win-win solution, atau semua sama-sama dapat. Kemampuan ini sangat diperlukan saat anak-anak kembali bersitegang hingga di masa depan mereka kelak.

Hal lain yang dapat dilakukan orang tua ialah menunjukkan kepercayaan jika anak-anak mereka dapat menyelesaikan sendiri. Salah satu contoh ucapkanlah, "Saya lihat ada dua anak dengan satu boneka, dan saya percaya kalian dapat mengatur sendiri berdua sehingga kalian sama-sama senang saat bermain,". Tentu nyatakan kalimat itu dengan aura keyakinan dan tinggalkan ruangan. Anda akan terkejut bagaimana mereka saling berbagi.

Atau bisa juga orang tua merunduk ke level anak-anak, dan dengan penuh kasih sayang meminta barang yang menjadi pokok pertengkaran atau menenangkan mereka. Sering kali anak-anak akan memberikan mainan yang diperebutkan. Awalnya Carol DeVeny, pemilik pusat pengasuhan anak sehari ,skeptis dengan cara ini. Setelah dilakukan, ia menuturkan dua bocah balita itu pun berhenti berkelahi, dan memberikan mainan pada Carol seraya berkata, "Kami akan berbagi mama,". Mendengar itu Carol pun sampai menitikkan air mata.

Terakhir, orang tua mesti mengingat untuk mengakui dan menerima bentuk emosi. Segala bentuk perasaan itu boleh, tapi tidak semua aksi dan tindakan diperbolehkan. Orang tua bisa saja berkata, "Kamu marah dengan kakakmu karena ia merusakkan truk mu. Kamu bisa katakan itu dengan kata-kata, tidak dengan pukulan,". Catat selalu, perasaan buruk perlu dikeluarkan sebelum orang beralih ke perasaan lebih baik, dan ajarkan anak untuk melakukan.

Sebaliknya ketika orang tua bereaksi terhadap pertengkaran dengan kekerasan, mereka justru--dengan tidak cerdas--menjadikan saudara sebagai musuh. Lagi pula di masa depan, generasi muda lebih membutuhkan kemampuan bernegosiasi dan bekerjasama dalam urusan pekerjaan maupun pribadi. Orang tua dapat mengawali mengajarkan skill penting itu sejak usia anak-anak, dan berpikir perbedaan luar biasa yang dapat mereka raih dalam hidup mereka./it

Sumber: Republika.co.id

No comments:

Post a Comment