Tuesday, December 16, 2008

BNN: 1,1 Juta Pemuda Indonesia Pengguna Narkoba

By Republika Contributor
Senin, 15 Desember 2008 pukul 22:40:00

BANDA ACEH--Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat sekitar 1,1 juta pelajar dan mahasiswa Indonesia terlibat penyalahgunaan narkoba.

"Tingginya angka ini karena rumitnya penanganan masalah narkoba dan juga didorong oleh pesatnya ilmu pengetahuan, teknologi, transformasi,farmakologi dan teknologi informasi, maka semakin sulit mengatasi masalah ini," kata Kapus Cegah Lakhar Anang Iskandar saat penyuluhan narkoba kepada 200 pelajar SLTA di Banda Aceh, Senin.

Menurut Anang, BNN beserta jajarannya bersama-sama menangulangi bahaya penggunaan narkoba dengan cara menurunkan "demand and supply".

"Kita juga memberikan penyadaran kepada seluruh masyarakat yang rentan terhadap pengaruh penyalahgunaan narkoba supaya mereka memahami dan menemukan cara menolak, menghindari bahkan melawan peredaran gelap narkoba yang ada dilingkunganyya," kata Anang.

"Melalui kegiatan alternatif, Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), BNN mengharapkan agar para insan terdidik dapat menggali potensinya dalam mengaplikasikan kreasi dan gaya hidup sehat tanpa narkoba," katanya.

Sebelum penyuluhan P4GN bagi 200 SLTA tersebut, BNN Pusat selama 10 menit memutarkan film tentang bahaya narkoba dan jenis-jenis narkoba serta akibat dari penyalahgunaan narkoba .

Dalam penyuluhan itu juga ditampilkan atraksi sejumlah kegiatan siswa sebagai bentuk lain dari kegiatan menghidari penyalahgunaan narkoba. ant/pt

Sumber: Republika.co.id

2 comments:

  1. [komentar dari teman di milis pendidikan]:

    maaf mas gene, itu cuma 0.5 % jumlah penduduk Indonesia. Jadi 99.5 % tidak pakai narkoba. Kita masih baik koq.
    Mungkin gak ya?
    Hendri

    Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Mas,
    Coba pikir lagi. Satu juta itu adalah yang ketahuan (atau diperkirakan) dari statistik yang ada.
    Tetapi saya rasa bukan rahasia lagi bahwa polisi belum cukup profesional dalam menjalankan semua tugasnya, jadi saya ragukan apakah polisi cukup teliti dengan melakukan riset dan survei terhadap kasus seperti ini. Jadi, saya cukup yakin jumlahnya bisa jauh lebih besar lagi.
    Kalau 1 juta hanya 0,5 % dari jumlah penduduk, maka perlu dikaji lagi tentang siapa yang dibicarakan.
    1 juta itu perlu diukur bukan dari jumlah penduduk, tetapi dari jumlah REMAJA.
    Di Indonesia, ada sekitar 84 juta anak (0-18 tahun).
    Kalau jumlah remaja, saya kurang tahu.
    Misalnya, remaja, dari tahun 13-18 adalah 40 juta (kurang lebih).
    Sekarang baca lagi:
    1 juta dari 40 juta remaja Indonesia pakai narkoba, dan itu suatu perkiraan yang didasarkan kasus yang KETAHUAN oleh polisi.

    Sekarang berfikir lagi: berapa banyak kasus yang tidak ketahuan oleh polisi.
    Saya dulu kenal beberapa orang yang memaki narkoba di sini (teman saya sebelum masuk Islam, dan juga murid bahasa Inggris saya setelah saya masuk Islam). Dari mereka, saya hanya kenal 1 orang yang pernah ditangkap dan dipenjarakan.
    Sisanya tidak pernah ditangkap.

    Jadi, ada 1 juta remaja dari sekitar 40 juta remaja.
    Dan 1 juta itu yang ketahuan.
    Kalau angka riil adalah 5juta…?? Bagaimana masa depan bangsa ini?
    5 juta (misalnya) dari sekitar 40 juta remaja memakai narkoba, dan mungkin sekitar 60-80% dari mereka adalah orang MUSLIM…

    Masih mau anggap masalah kecil?
    Dari teman2 saya sebelum masuk Islam, dan setelah masuk Islam, yang memakai narkoba mayoritas itu adalah remaja (SMA, mahasiswa), dan hampir semuanya Muslim. Termasuk murid di sekolah2 favorit, termasuk juga murid di sekolah swasta Islam, dll.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete
  2. [Tambahan komentar di milis pendidikan]:

    Assalamu'alaikum wr.wb.,

    Memang pasti sulit untuk mendapatkan data yang 100% akurat di sini. Di negara mana pun pasti juga sulit, apalagi di sini. Untuk mendaftarkan warga sebelum pemilu masih diragukan validitas, padahal cukup dengan isi formulir. Bagaimana dengan survey terhadap
    suatu hal yang melanggar hukum?
    Saya rasa kita lebih baik kuatir daripada tidak, dan kita lebih baik
    mengajarkan anak muda tentang bahayanya narkoba daripada tidak
    membahasnya sama sekali.

    Kalau solusi, saya juga kurang tahu karena belum memikirkannya. Tetapi ini jelas menjadi masalah di manca negara. Kalau di negara barat, hanya sebatas masalah sosial, tetapi di sini menjadi masalah agama juga. Kalau orang muda terbiasa memakai narkoba, apakah mungkin shalatnya akan dijaga? Dan bagaimana dengan dosa2 lain, seperti seks, judi, alkohol, dll? Kalau satu sudah menjadi biasa, mungkin lebih mudah untuk coba2 yang lain.
    Alkohol tersedia di mana2 di sini, bahkan di Hero dan di Carrefour.
    Ada juga warung yang jual. Sebaliknya, di Australia, tidak ada toko swalayan yang menjual alkohol (seingat saya), karena tidak diperbolehkan pemerintah.
    Kalau ada anak yang sudah merasa bebas menggunakan narkoba, apakah
    mungkin dia tidak akan tertarik untuk coba alkohol juga, padahal bisa didapatkan dari berbagai tempat?

    Saya sangat kuatir pada masa depan bangsa ini. Semua orang tua
    sepertinya sangat sibuk dengan urusan bisnis dan ekonomi. Ada yang
    berusaha untuk menjaga akhlak dan ibadah anaknya, tetapi di dalam
    rumah di mana bapak kerja dan ibu kerja, dan anak sering sendirian,
    dengan uang di kantong dan internet di kamar, saya rasa bahaya yang muncul cukup besar.
    Waktu saya baru tiba di sini dari Australia, dan belum masuk Islam,
    semua teman saya Muslim! Tetapi mereka bukan Muslim yang beribadah dgn baik. Mereka orang Muslim yang tinggal di ibu kota, terbiasa main
    seks, minum alkohol, berjudi, aborsi, ke disco dan lain-lain. Karena kenal beberapa orang seperti itu, mereka memperkenalkan orang lain yang setara.
    Sejak saya masuk Islam dan menjaga guru bahasa Inggris, ada beberapa
    anak yang mengaku kepada saya bahwa mereka memakai narkoba dan
    berzina. Sepertinya mereka merasa lebih bebas bicara dengan orang
    bule, karena bule pasti paham hal-hal seperti itu dan tidak akan kaget (menurut mereka). Ada yang minta saya janji untuk tidak kasih tahu orang tuanya, lalu dia ceritakan semuanya.
    Ada sebagian anak yang sering saya bujuk untuk shalat, dan
    alhamdulillah ada yang mulai shalat lagi. Ada anak yang diajak diskusi tentang bahaya penyakit seks, lalu dia tunjukkan kondom di dompetnya (anak SMP, umur sekitar 16 tahun).
    Ada yang mengaku selalu hisap ganja sebelum berangkat sekolah. Kalau ditanyakan tentang teman2 yang lain, rata2 anak seperti itu bisa sebutkan jumlah teman yang sama dengan dia.
    Ada satu anak, dari Al Azhar, dan setiap kali saya lihat dia di
    koridor sebelum kelas mulai, dia selalu berada di lantai, mencium
    pacarnya, dengan masih memakai seragam Al Azharnya. Ketika saya tanya kenapa anak dari sekolah Islam bisa begitu, dia jelaskan. Katanya banyak anak justru dikirim ke sekolah Islam seperti itu karena sudah menjadi "nakal". Dan setelah tiba di situ, mereka bukan menjadi lebih baik, tetapi malah memberikan pengaruh buruk kepada yang lain. Jadi, sepertinya ada dua kubu di dalam sekolah2 Islam. Anak yang baik dari keluarga yang baik, dan anak nakal yang dikirim ke sana untuk menjadi baik. Sayangnya, dari kelompok kedua itu, mereka malah ketemu banyak teman yang setara di dalam sekolah tersebut. pengaruh dari orang tua
    terlalu kecil dan mereka anggap dengan dikirim ke sekolah Islam,
    masalah sudah selesai.

    Bagaimana semua masalah ini bisa diatasi kalau orang tua tidak dekat
    dengan anak kandungnya sendiri, dan tidak pernah diskusi tentang hal seperti ini?
    Anak itu lebih mungkin bicara kepada saya, sebagai gurunya, daripada bicara kepada orang tuanya.
    Solusinya? Saya kurang tahu. Masalah ini sangat luas.

    Wassalamu'alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete