Tuesday, December 09, 2008

Yang main game komputer secara berlebihan 2

Ada komentar dari teman di milis, pada artikel:

Yang main game komputer secara berlebihan ternyata tidak kecanduan

+ Dear Gene, jelas sekali bahwa masalah 'acceptance' pada anak-anak dan remaja merupakan masalah besar dalam pendidikan yang jika tidak ditangani dengan baik maka efek negatifnya akan menjadi masalah besar dalam kehidupan anak selanjutnya.

Artikelmu ini membuat saya tercenung memikirkan sistem pendidikan kita. Apakah sekolah-sekolah kita telah menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak kita? Apakah
anak-anak kita semua merasa gembira dan diterima oleh para guru dan kawannya? Satu tindakan bullying yang tidak ditangani dengan segera dengan cepat akan menyebar dan menjadi mode yang akan sulit ditangani oleh sekolah kalau sudah membesar. Setiap tindakan bullying akan meninggalkan luka psikologis pada siswa yang terkena dan akan sulit untuk ia lupakan sepanjang hidupnya.

Sekolah Islam saya yakin bisa menjadi contoh bagi lingkungan yang ramah dan menyenangkan. Bukankah 'senyummu adalah sedekahmu' bisa kita jadikan sebagai aturan pokok dalam sekolah Islam? Bukankah 'setiap umat Islam adalah kawan' patut menjadi prinsip yang patut dijadikan
perhatian utama dalam lingkungan sekolah Islam?
Thanks for the article!

Salam
Satria


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Pak Satria,
Saya rasa di Indonesia (dan banyak negara lain) ada masalah yang besar sekali yang belum dibahas oleh kebanyakan orang, baik itu orang tua maupun pejabat. Dan kalau kita lihat anak yang ekonominya maju sedikit, mereka pasti minta dibelikan playstation. Dan orang tua yang sibuk dengan urusan masing2 tidak mau menolak. Mereka ingin belikan apa yang diinginkan anak untuk berbagai alasan. (Misalnya, orang tua merasa bersalah karena sering keluar; atau mereka tidak bisa/tidak mau negosiasi dengan anak jadi lebih gampang kasih saja; atau mereka memang tidak bisa memikirkan sisi buruk dari mainan spt playstation kalau waktu main tidak diatur.)

Yang menjadi masalah bukan playstation itu sendiri, tetapi efek samping kalau sudah ada di dalam rumah. Anak jadi main secara berlebihan, dan tidak ada orang tua yang mau melarang. Mereka lihat anak lagi main dengan bahagia, dan orang tua senang karena ada “waktu kosong” bagi ibu/bapak untuk nonton sinetron, baca majalah, bongkar motor dan sebagainya. Tidak ada orang tua yang mau matikan playstation dan suruh anak main Lego (atau yang lain) dengan orang tua.

Kalau sudah disediakan playstation, maka semua masalah anak diatasi dengan cara “mundur dari dunia” dan itulah yang dijelaskan dalam artikel dari BBC tersebut. Bullying, tekanan dari orang tua, tekanan dari kakak, gangguan keluarga (orang tua ribut), guru yang jahat, PR yang berlebihan, keadaan ekonomi yang sulit (anak juga sadari kalau orang tua menderita) dan seterusnya, semuanya diatasi dengan cara main game secara berlebihan.
Di dalam dunia game, semua anak bisa menjadi jagoan. Dengan latihan sedikit, bisa menang terus. Daripada ada orang tua yang mengatakan “Kamu hebat! Kamu jagoan” ada tulisan di layar “You’re the winner!” dan itu membuat anak sangat senang kalau tidak pernah dapat dari orang tua di sekitarnya.

Semua anak perlu dipuji untuk meningkatkan semangat mereka. Sayangnya, kebanyakan orang tua, dan juga mungkin kebanyakan guru, tidak mau belajar dan tidak mau memahami psikologi anak. Jadi, kalau terjadi suatu masalah, solusi dari orang dewasa justru bukan solusi dan seringkali malah menambah beban dan tekanan pada si anak.

Beberapa bulan yang lalu, saya diundang memberikan ceramah di sebuah acara wisuda dari sebuah pesantren. Saya sudah siapkan ceramah tentang “Sunnah Nabi”, yang di dalamnya membahas sikap mulia Nabi SAW dengan anak. Ini sebagian dari catatan saya:


Nabi SAW sangat lembut. Tidak memukul, tidak menghinakan atau menghujat isterinya. Kalau kita? (Kita: Banyak suami yg pukuli isteri, menghardik, menghinakan, meremehkan, bahkan ada yg bunuh isterinya).

Hadits: “Rasulullah tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap isteri maupun terhadap pelayannya, kecuali dia berjihad di jalan Allah.” (HR Muslim No 4296)

Nabi SAW lembut dengan anak, tidak menghardik, tidak memukul, tidak ngomel-ngomel. Tidak memaksa. Sabar menghadapi anak. Tidak mengganggu anak yang sedang bermain.
Kalau kita? (Kita: Banyak orang tua dan guru yg sangat keras, selalu marah, sering memukul, anak selalu disalahkan dan dihukum).

Hadits: Dari Anas yang berkata: “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan 'Mengapa engkau lakukan?' dan pula tidak pernah mengatakan 'Mengapa kau tidak mengerjakannya?'” (HR Bukhari, No 5578)


Karena saya sudah siap membahas ini (sunnah Nabi secara luas), maka saya tidak merasa sanggup untuk mengubahnya pada titik terkahir, karena saya sudah baca catatan saya, dan sudah ada “persiapan mental” untuk membahas semua bahan ini.
Tetapi pada saat saya datang dan duduk, pembicara yang pertama sudah mulai bicara, dan saat saya dengar, ada pikiran bahwa saya sebaiknya mengubah ceramah saya karena bentrok dengan dia. Tetapi setelah dipikirkan, saya ambil keputusan untuk tetap baca apa yang sudah disiapkan.

Kenapa menjadi masalah?
Karena pembicara pertama adalah USTADZ YANG MENJADI PEMBINA UTAMA DI PESANTREN, dan satu bagian dari ceramah dia adalah:
SEMUA ANAK BOLEH2 SAJA DIPUKUL, KARENA TIDAK AKAN RUSAK, DAN ORANG TUA HARUS TEGAS DAN KERAS DALAM MENGONTROL ANAKNYA BIAR TIDAK MENAJDI LIAR.

Bahkan dia mengatakan “Saya sering memukul anak, tetapi tidak mereka ‘tidak patah’”.

Setelah dia membahas perlunya memukul anak dan tegas terhadap mereka, saya naik dan mengatakan yang 100% terbalik.

Malah di dalam ceramah saya, saya bertanya kepada semua:
“Kalau ada orang tua atau guru yang merasa harus memukul anaknya terus, dari mana mereka ambil contoh ini? Yang jelas, ini bukan contoh dari Nabi mulia kita, jadi dari mana contohnya? Apakah dari orang kafir? Mereka tidak peduli pada contoh Nabi Muhammad jadi mereka bebas memukul anaknya. Tetapi ternyata, dia manca negara, orang kafir sudah sadari bahaya memukul anak karena sangat mengganggunya secara psikologis, dan merekapun berhenti. Di semua sekolah barat, guru DILARANG memukul anak. Jadi kalau ummat Islam masih mau, dan Nabi SAW tidak mencontohkan, dari mana perbuatan ini? Ada 3 pilihan: dari Nabi SAW, dari orang kafir, dari Iblis.
Dan sudah saya jelaskan, Nabi SAW tidak pernah memukul anak untuk alasan apapun, dan orang kafirpun sekarang juga tidak! Jadi….?
“Memukul anak bukan SUNNAH NABI dan kalau ada orang Islam yang memukul anak secara berlebihan, tanpa menyadari bahayanya, dia bukan pengikut Muhammad SAW!”

Semua orang tua tepuk tangan dengan keras, ada pun yang teriak (mendukung) dan berdiri. Pak ustadz diam di kursi, dan kelihatan sibuk menulis dan membalas sms terus sampai ceramah saya selesai 30 minit kemudian.

Kalau orang tua sadar tentang apa yang mereka lakukan kepada anaknya, mungkin mereka akan menangis keras dan merasa menyesal. Tetapi sayangnya, kebanyakan orang tua justru tidak sadar. Dan sulit untuk membuat mereka mendengar. Dan kalaupun mereka mau dengar, sulit untuk membuat mereka percaya bahwa perbuatan mereka sangat mengganggu anaknya.

Jadi orang tua, guru, kakak kelas dsb tetap mengganggu anak2, dan anak2 itu tidak bisa mencari solusi sendiri. Dia minta playstation saja, dan bertahan hidup di dunia komputer. Lebih mudah begitu daripada menghadapi kehidupan yang sulit.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

No comments:

Post a Comment