Tuesday, July 29, 2008

Kesempatan Dakwah Untuk Penerjemah Muslim


[Mohon disebarkan]
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya ingin mohon bantuan dari para penerjemah yang punya waktu kosong dan ingin berdakwah.
Setelah saya menulis artikel Sangat Dibutuhkan Situs yang Menjelaskan Ajaran Dasar Islam, ada seorang pembaca bernama Mas Cece yang ingin membantu para muallaf dengan cara membuat situs baru yang menjelaskan dasar-dasar Islam dalam bahasa Indonesia.
Karena sudah ada banyak sekali situs seperti itu di dalam bahasa Inggris, sepertinya cara yang paling mudah adalah menerjemahan teks yang sudah ada dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Cece sudah membuat situsnya, bisa dilihat di sini:
Dan daftar situs yang menejelaskan Islam dalam bahasa Inggris sudah ada di blog saya.
Juga bisa didapat dari blog saya: http://genenetto.blogspot.com/
(Lihat di sebelah kanan bawah, bagian: Learn About Islam.)
Buat yang ingin bantu, silahkan cari 1 artikel dari salah satu situs tersebut, dan hubungi Cece dulu. Jelaskan apa yang akan diterjemahkan. Cece akan membuat daftar biar 2 orang tidak mengerjakan terjemahan yang sama.
Setelah selesai, tinggal email kepada Cece dan dia akan upload ke situsnya.
Silahkan hubungi Cece untuk informasi lebih lanjut, atau silahkan hubungi saya juga.
Cece Yaya Sudarya : ceceys {at} gmail.com
Gene Netto : genenetto {at} gmail.com
Terima kasih kepada teman-teman yang bisa membantu.
Buat yang tidak punya waktu atau tidak sanggup membantu, tolong sebarkan email ini saja kepada teman-teman yang lain yang punya skil untuk menterjemahkan bahasa Inggris > Indonesia.
Semoga Allah memberikan kemudahan pada usaha ini.
[Mohon disebarkan]
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Sunday, July 27, 2008

Pengakuan Guru 3: Kualitas Sekolah Negeri Rendah

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini adalah pengakuan dari seorang guru yang ditinggalkan sebagai komentar di post "Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke Sekolah Negeri".

Orang tua harus mulai peduli dan menjadi siap bertindak terhadap situasi dan kondisi ini. Orang tua harus mulai peduli dan siap menuntut pendidikan yang layak untuk semua anak bangsa. Orang tua yang lebih mampu pasti bersyukur bisa mendapat pilihan untuk memasukkan anaknya ke sekolah swasta tetapi seharusnya tidak perlu.

Di Australia, sebagai contoh, jumlah sekolah swasta sangat sedikit karena sekolah negeri sudah berkualitas dan gurunya juga. Tetapi di sini, jumlah sekolah swasta meningkat terus karena orang tua belum mau menuntut pendidikan yang layak untuk semua anak bangsa. Kalau sekolah negeri sudah berkualitas, sekolah swasta tidak diperlukan, kecuali untuk golongan yang paling kaya atau buat orang yang inginkan pendidikan khusus (berbasis agama, dll.).

Orang tua harus mulai peduli. Orang tua harus bertindak. Kalau tidak, pemerintah bisa mengabaikan aspirasi anak bangsa dengan mudah, karena tidak ada yang mau membela hak pendidikan buat anak-anak ini.

Semoga situasi ini bisa segera berubah.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai renungan untuk para orang tua.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

#######

Pengakuan dari guru sekolah negeri

Saya tidak terlalu terkejut mendengar kisah-kisah buruk anak yang bersekolah di sekolah negeri. Dari hasil observasi lapangan dengan mendampingi guru di sekolah negeri, saya sependapat dengan Anda. Di sekolah negeri satu kelas 30 -45 anak berjejalan. Dengan jumlah anak sebegitu banyak, sukar bagi guru untuk mengharapkan anak-anak (apalagi SD) duduk diam dan mendengrakan guru berbicara. Di mata para guru, proses belajar adalah menjadi copy cat gurunya, berbicara dan berfikir sperti mereka.

Sekolah yang saya dampingi termasuk (konon menurut diknas) adalah sekolah-sekolah unggulan. Tetapi dari 1 hari jam belajar kurang dari 60%nya dihadiri oleh guru pengajar dikelas. Selebihnya anak-anak dibiarkan 'belajar sendiri' dengan berbagai alasan, mulai dari guru yang harus rapat, ada tamu, pelatihan, mengunjungi teman sejawat sakit (mengapa dilakukan di jam kerja ya?) serta ber-MLM di ruang guru. Ketika guru hadir di kelas pun, pembelajaran sangat tidak efektif. Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris, murid-murid diminta presentasi tentang pet berkelompok 5 orang. Ketika presentasi hanya satu anak (dan biasanya yang paling pintar)saja yang berbicara dan 4 lainnya seperti boneka pajangan berdiri di depan kelas. Tidak ada feeback yang diberikan guru meskipun saya melihat ada beberapa kesalahan bahasa yang umum dilakukan murid dan cukup mengganggu pemahaman yang sangat bermanfaat jika dibahas.

Saya sungguh tidak heran kalau setelah 3+3+3= 9 tahun belajar Bahasa Inggris dari kelas 4 SD -3 SMA kemampuan berbahasa Inggris mereka tidak lebih dari yes/no/I don't know and I love you. Kalaupun ada anak yang kemampuannya lebih dari itu mungkin mereka les di luar atau mendapatkan cukup exposure berbahsa Inggris dari TV, lagu,bacaan, maupun internet.

Guru-guru di sekolah negeri umumnya memiliki kemampuan akademis dan metode pengajaran yang tidak memadai untuk layak disebut guru. Saya mengerti mengapa seseorang lulusan SPGA bisa menjadi guru bahasa Inggris dimana bahasa Inggrisnya sukar dipahami dan bagaimana seseorang lulusan IKIP jurusan Bahasa Inggris dan telah mengajar di SMA 20 tahun tidak bisa membedakan dan membandingkan fungsi simple present and present perfect tense. Beliau hanya tahu formulasi tense nya saja tanpa memahami dengan benar penggunaanya dari sisi makna. Bahkan ketika berbicara, bahasa Inggrisnya sangat kaku. Alasannya:

1. Guru sekolah negeri tidak direkrut dengan melewati ujian kemampuan bidanganya. Dahulu, ketika melamar jadi PNS tesnya adalah psikotes, pengetahuan umum dan pengetahuan Pancasila. Saya tidak tahu bagaimana dengan seleksi calon guru negeri sekarang.

2. Guru bahasa Inggris di sekolah negeri tidak dijaga mutu akademisnya. Ketika saya mengajar di satu kursus Bhs Inggris yang paling populer di Indonesia, setiap tahun para pengajar wajib mengikuti proficiency test. Berdasarkan hasil prof test ini ditentukan tingkat kenaikan hourly rate-nya. Guru yang kemampuan proficiency-nya jalan di tempat penghasilannya juga jalan di tempat dan jumlah jam mengajarnya lebih sedikit dibandingkan yang profieciency-nya meningkat.

3. Di tingkat wilayah, ada banyak supervisor mata pelajaran yang mestinya berkeliling memantau dan menjadi tempat konsultasi para pengajar. Akan tetapi yang saya lihat di lapangan, ketika berkunjung ke sekolah mereka tidak masuk ke kelas-kelas dan mengamati guru mengajar. Mereka biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu ngobrol dengan kepsek dan pulang setelah mendapatkan salam tempel dari beliau. Sesi konsultasi lebih ditekankan pada ada atau tidak adanya lesson plan buatan guru yang akan dijadikan bukti laporan kunjungan kepada atasanyya dikantor.

4. Ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) lintas sekolah yang sedikitnya melakukan pertemuan 1 bulan sekali. Tetapi di lapangan fasilitas ini nyaris tidak berfungsi. Presentasi yang dilakukan dalam pertemuan MGMP lebih banyak dihabiskan dengan perdebatan seputar kapan tunjangan ini itu bisa mereka terima, bagaimana mengisi berkas-berkas administrasi sekolah, dan sejenisnya. Kalaupun ada presentasi dari sesama guru, seringkali presentasinya tidak menjawab kebutuhan guru yang paling mendesak, misalnya bagaimana meningkatkan motivasi siswa belajar di kelas, bagaimana meng-handle kelas besar untuk kegiatan speaking. Seringkali juga presentasi dilakukan dalam Bahasa Indonesia (padahal semua yang hadir adalah guru Bhs. Inggris) dengan alasan agar pesan tersampaikan secara utuh dan menghindari kesalahpahaman. Atau yang mempresentasikan sama bloonnya dengan yang mendengarkan. Guru-guru swasta sering menganggap menghadiri MGMP sebagai sebuah beban. Mereka benar, nyaris tidak ada pembelajaran dari MGMP ini. Tambahan lagi acara sering molor dan agenda pertemuan tidak jelas. Sekolah-sekolah swasta yang cukup bermodal memilih untuk memanggil pelatih dari universitas atau mengirimkan para guru pada sesi-sesi pelatihan di Sampoerna Teacher Training atau di UI. Guru-guru sekolah negeri umumnya harus berjuang sendiri untuk memintarkan dirinya.

5. Guru sekolah negeri tidak dapat dipecat meskipun profesional mengajarnya sangat rendah. Hanya menteri pendidikan yang dapat memecat mereka. Ada juga sekolah negeri dengan komite sekolah yang sangat berdaya sehingga dapat mendesak kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas guru dengan berusaha mencari guru pendamping yang lebih berkwalitas. Guru pendamping ini diseleksi oleh komite sekolah dan dibayar dengan dana komite sekolah.

6. Kepala sekolah banyak yang tidak punya cukup waktu untuk menggiring para guru untuk lebih profesional. Kepala sekolah sibuk ’mengemis’ ke pemerintah tentang betapa butuhnya bangunan fisik sekolah sehingga murid-murid harus belajar dengan atap yang bocor di sana-sini. Kemudian pemerintah merenovasi sekolah mereka menjadi mentereng. Rengekan mereka tidak berhenti, selanjutnya mereka mendesak pemerintah dan komite sekolah untuk membelikan peralatan belajar canggih seperti laptop, in-focus, CCTV, class (home) theater dengan TV seukuran gajah. Bahkan yang lagi trend sekarang adalah meminta dirinya dan kroninya di sekolah dibiayai studi banding ke Australia dan Inggris seperti bapak-bapak di DPR itu dengan alasan mempersiapkan SBI (Sekolah Berstandard Internasional).

Kesimpulan saya, murid-murid di sekolah negeri nyaris tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah. Kalau anak ibu pintar di sekolah, mungkin karena sudah in-born. Kalau dia disekolahkan ditempat yang baik, saya percaya kualitas anak ibu bakal lebih melesat. Hanya anak-anak yang cerdas dan independent learner saja yang bisa survive belajar di sekolah negeri. Jika anak ibu termasuk yang biasa-biasa saja, sukar untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Apalagi anak-anak yang kemampuannya di bawah rata-rata, mereka akan tergerus oleh keliaran suasana sekolah negeri.

Hasil keberadaan mereka di sekolah-sekolah negeri seperti di atas adalah anak-anak yang tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang berkepala dan berhati kosong. Mereka yang bekerja tanpa melibatkan otak dan hatinya, persis seperti sekawanan zombie. Merekalah yang kita lihat sehari-hari; para guru yang mengajarkan anak kita di sekolah, para pegawai negeri lainnya, para pejabat, para anggota DPR, dll. Mungkin dulu mereka pernah melewati masa-masa pembentukan di sekolah-sekolh negeri semacam ini sehingga mereka menjadi orang yang tegaan, tega menipu rakyat dan mencuri dana BOS anak-anak miskin. Sungguh, saya menjadi sangat emosional ketika harus menceritakan kebobrokan di sekolah negeri.

Sebagai orang tua dan guru, setiap kali saya melihat proses pembodohan anak-anak di kelas-kelas, hati saya rasanya teriris-iris dan marah sekali. Saya sangat beruntung punya pilihan untuk tidak mengirim anak-anak saya ke sekolah sampah semacam ini. Beberapa teman saya berusaha untuk memasukkan anaknya ke sekolah ungulan di tempat saya bekerja dengan cara menyogok jutaan rupiah, meskipun saya sudah menceritakan kondisi sekolah sejujurnya, tentang kualitas guru dan system pembelajaran di kelas. Anehnya, mereka tetap lebih percaya pada nama besar sekolah ini. Dengan alasan, jika anaknya bersekolah di sekolah negeri, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk UI dan ITB. Benarkah?

Orang tua yang sebenarnya mengetahui dan memiliki kebebasan finansial untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya, tetapi memilih untuk menutup mata demi gengsi anaknya diterima di sekolah negeri unggulan, wajib merasa bersalah kalau kelak anak-anak ibu juga berkualitas sampah. Saya sangat setuju dengan ibu yang memilih untuk kelaparan daripada membiarkan anaknya diproses menjadi zombie di sekolah-sekolah negeri berkualitas sampah.

Semua yang saya ceritakan ini bukanlah lagu baru. Kalau pendidikan di sekolah memang bermutu dan dapat diandalkan, kursus-kursus bahasa Inggris, bimbel, dan les-les pelajaran di rumah-rumah tidak akan tumbuh menjadi bisnis yang subur. Mengapa anak-anak kita tidak bisa pe-de hanya dengan mengandalkan pengajaran di sekolah untuk menghadapi UAN dan test masuk sekolah? Mengapa mereka baru merasa pede setelah mengikuti bimbel luar sekolah dengan membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan kesempatan digeber 1-2 bulan penuh dari pagi hingga sore mengunyah soal-soal test masuk universitas?

Selama 3 tahun belajar di sekolah, apa yang dilakukan/ dipelajari anak-anak kita? Kalau punya waktu silahkan hitung berapa banyak uang dan waktu yang telah dihabiskan untuk mengirimkan anak-anak kita ke sekolah, lantas hitung bagaimana output yang didapatkan mereka. Mahal dan murah tidak bisa dihitung dari berapa yang Anda bayarkan tetapi diperbandingkan dengan apa yang kita dapatkan dari pembayaran tsb. Mengirimkan anak ke sekolah negeri, meskipun yang katanya unggulan sekalipun, bisa lebih mahal daripada di sekolah swasta yang bermutu. Sudah waktunya kita berhenti menilai kualitas sekolah dari segi kemasan sekolah unggulan, sekolah negeri berstandard internasional, sekolah negeri kategori mandiri, bla..bla..bla....

JANGAN MAU DITIPU LABEL SEKOLAH YANG DIBERIKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL EVALUASI SEKOLAH YANG DILAKUKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL UJIAN NASIONAL. JANGAN PERCAYA DENGAN PIALA SELEMARI YANG DIPAJANG DI LOBY SEKOLAH. INI BUKAN INDIKATOR SEKOLAH BERKUALITAS

Sekolah-sekolah negeri menjadi unggul bukan karena sistem dan guru-gurunya berkualitas unggulan (jauh panggang dari api), tapi karena mereka berkesempatan memilih input yang berkualitas dibandingkan sekolah lain. Jadi sekolah itu unggul karena memang anak bapak dan ibu sudah unggul ketika memasuki sekolah tersebut, bukan karena dijadikan unggul oleh sistem sekolah. Jangan tergiur dengan jumlah siswa yang memenangkan segala macam lomba dari lomba makan kerupuk tingkat sekolah hingga olimpiade fisika tingkat dunia. Sekolah nyaris tidak melakukan apa-apa terhadap anak-anak yang memang dari rumah sudah unggul. Tidak selayaknya sekolah menjual prestasi mereka untuk menipu orang tua murid seolah-olah merekalah yang telah bekerja keras mengantarkan anak-anak kita menjadi unggulan. Kalau anak Anda bodoh, jangan berharap untuk jadi pintar, meskipun kemungkinan ini ada (dengan cara sekolah berkolaborasi untuk memanipulasi nilai raport dan ujian nasional sehingga anak ibu berkesan ’pintar’ di atas kertas). Tulisan saya ini pasti akan sangat menyakitkan bagi teman-teman saya sesama guru. Tetapi begitulah yang saya lihat di sekolah negeri di mana saya bekerja sampai detik ini.

Kalau Anda termasuk orang tua yang tidak punya pilihan selain menyekolahkan anak di sekolah negeri, masih ada harapan untuk menghindari anak-anak Anda terperangkap dalam zombinisasi. Ayolah, bapak dan ibu...jadilah orang tua yang kritis. Kritiklah kami para guru dan kepala sekolah sepedas-pedasnya. Jangan hanya manggut-manggut di rapat komite. Kalau teman-teman saya memble dan kepala sekolah cuex terhadap kualitas pengajaran sekolah, mungkin karena Anda juga memble, tidak mau peduli pada pendidikan anak-anak sendiri dan percaya seratus persen pada pembodohan yang dilakukan sekolah yang konon berlabel ’unggulan’. Anda menuntut guru bekerja keras, bagaiman kalau dimulai dengan Anda menunjukkan kepedulian pada kualitas dengan mengeritik kami di rapat komite. Dengan adanya undang-undang sisdiknas, bapak dan ibu punya power dan berhak untuk ikut campur merubah sekolah ke arah yang lebih bermutu. Kami para guru perlu disentil dan dibangunkan dari ketidakpedulian kami. Oh ya, kalau mengkritik jangan cuma berani di milis. Bicaralah di rapat komite, galang dukungan dari sesama ortu. Atau kalau sekolah tetap tidak peduli, tulis saja di koran ternama. Karena bagi sekolah, nama baik lebih penting dari realitas. Biasanya mempan. Jadilah ortu yang kritis, kalau memang Anda mencintai putra-putri Anda dan ingin melihat mereka tumbuh menjadi yang terbaik dari diri mereka masing-masing.

Ayo lah...jangan memble dan cuex. Jangan beraninya ngedumel di belakang. Ayo ngomong di rapat komite, tulis di koran, atau lapor DPRD komisi pendidikan dan KPK!

#######

Baca Juga:

Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke SD Negeri

Pengakuan Guru 2: Kelas “Bilingual” Kacau

Pengakuan Guru: Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Kacau!

Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua

Friday, July 25, 2008

Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke SD Negeri


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Teman saya mengirim tulisan ini kepada saya untuk disebarkan kepada orang lain sebagai sebuah peringatan. (Dia juga seorang guru seperti saya). Untuk orang tua yang tergolong mampu di Indonesia, ada sekolah swasta yang mahal, tetapi untuk orang yang miskin, hanya ada sekolah negeri yang jauh dari standar tinggi yang layak. Staf di sekolah tersebut juga mungkin tidak kompeten menjadi guru dan tidak mengerti pendidikan (juga belum tentu punya ijazah pendidikan). Saya tidak bisa bayangkan masa depan bangsa ini seperti apa setelah puluhan juta anak tidak mendapat kesempatan menuntut ilmu yang baik dan mereka dengan mudah bisa diberi julukan seperti ‘autis’, ‘anak nakal’, dan lain-lain oleh guru mereka yang tidak kompeten. Walaupun saya sering membicarakan masalah pendidikan di sekolah swasta, tidak secara automatis berarti sekolah negeri adalah institusi pendidikan yang lebih baik.

Di dalam salah satu post di blog, saya sudah memberi pendapat saya bahwa Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua. Tetapi kalau orang tua tidak mau ambil tindakan secara pribadi dan bersatu untuk menuntut hak pendidikan buat semua anak bangsa, dan selalu mengharapkan bahwa ‘orang lain’ akan tangani masalah ini, saya yakin tidak akan ada perubahan dalam waktu singkat.

Kapan bangsa ini akan mendapatkan pemerintah yang peduli pada pendidikan?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

##########

Pagi ini saya masuk kantor telat. Pada saat saya masih di rumah bikin kopi, pembantu saya berkomentar bahwa anaknya menjadi bermasalah di sekolah. Saya kaget dengan pernyataan tersebut karena anaknya baru masuk Kelas 1 SD pada minggu yang lalu. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi ‘bermasalah’ hanya dalam satu minggu? Saya bertanya kenapa.

“Dia tidak bisa menulis dan para gurunya sudah mengatakan dia anak malas dan tidak mau berusaha.”

Saya tarik nafas panjang dan mulai menjelaskan tentang pendidikan di sekolah negeri di sini yang memang kurang layak karena seringkali tidak sesuai dengan teori perkembangan anak kecil. Saya jelaskan bahwa anak saya juga berumur 6 tahun dan baru masuk sekolah, dan juga baru mulai belajar menulis. Saya jelaskan bahwa memang tugasnya seorang guru untuk mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar [yang berarti guru harus mengembangkan niat seorang anak untuk mau belajar sendiri tanpa disuruh] dan saya mengatakan saya yakin anaknya tidak senang belajar menulis karena pelajaran dari guru tidak terasa menarik atau bermanfaat. Anak itu pasti ditekankan dengan cara yang tidak benar oleh gurunya. Proses belajar mesti menarik dan membahagiakan buat anak-anak karena kalau mereka menjadi bosan, mereka tidak akan mau belajar.

Ibu itu mendengar dengan baik, dan setuju dengan komentar saya, lalu tiba-tiba dia bertanya, “Apa itu autisme?”

Tentu saja saya langsung merasa sangat kaget dan bertanya kenapa dia mau tahu tentang itu.

“Karena gurunya mengatakan anak saya autis!”

“….APA???? Guru anak kamu di SD mengatakan anak kamu autis???”

Perlu saya jelaskan bahwa anak tersebut juga datang ke rumah saya setiap hari setelah sekolah. Dia main bersama dengan kedua anak kandung saya dan menunggu ibunya selesai kerja supaya mereka bisa pulang bersama. Saya sangat kenal anak pembantu saya ini dan saya sering memperhatikan dia bermain dengan anak saya. Dia berkomunikasi dengan baik, senang dengan semua macam mainan anak, punya daya imaginasi yang baik, dan seterusnya. Semua tanda-tanda anak autis justru TIDAK KELIHATAN di dalam perilakunya, dan sebagai seorang anak kecil yang biasa, dia sangat mirip dengan anak saya yang seumur dengan dia.

Kenapa dia bisa dikatakan ‘autis’ oleh guru SDnya? Apakah karena dia tidak menjawab gurunya dengan baik? Karena dia tidak mau nurut?

Siapa gurunya yang merasa sanggup bicara seperti ini? Sepertinya dia tidak punya latar belakang di bidang psikologi anak. Dan ternyata sang guru jelaskan kepada ibu ini bahwa dia ‘bisa tahu’ anak autis karena pernah dapat 1 anak autis di dalam kelasnya beberapa tahun yang lalu!

Jadi, menurut guru ini, seorang anak bisa dikatakan autis bila dia:

· Tidak bisa menulis setelah duduk di kelas satu SD selama 1 minggu

· Tidak nurut dengan guru saat disuruh menulis

Bagaimana dengan tanggapan orang tuanya? Tentu saja mereka tidak tahu apa-apa tentang autisme dan mereka langsung percaya ada masalah dengan anaknya karena SEORANG GURU sudah mengatakan begitu, berati pasti benar kalau seorang GURU yang mengatakannya.

Orang tua yang awam ini membuat solusnya sendiri sebagai terapi autis untuk anak mereka: anak itu (yang berumur 6 tahun) dimarahi oleh bapaknya, disuruh pergi dari bapak karena dia bikin bapak malu dengan autisnya, dan sama ibunya DIHUKUM dengan latihan menulis berjam-jam di rumah setiap hari. Tetapi anehnya, tegoran keras dan hukuman ini tidak berhasil mengobatinya dan anaknya tetap ‘autis’ karena tetap tidak mau nurut dengan guru di kelas pada saat dipaksakan menulis!

Saya habiskan banyak waktu pagi ini dengan mencari dan download info tentang autisme dalam bahasa Indonesia supaya bisa meyakinkan pembantu saya bahwa anaknya bukan penderita autis dan dia hanya seorang anak biasa yang mendapat guru yang tidak mau direpotkan dengan mengajar skil menulis di kelas satu SD.

Saya sangat tidak suka sikap banyak orang sekarang yang dengan buru-buru siap memberi julukan pada seorang anak pada saat ada tanda-tanda awal dari suatu sikap yang ‘tidak normal’. Setiap anak adalah manusia yang berbeda, individu, unik, dan istimewa. Kenapa tidak bisa dihargai begitu saja?

Saya jadi memikirkan anak saya yang sangat pintar dan sensitif. Bagaimana nasibnya bila dia juga dapat guru yang sama di sekolah yang sama? Guru itu akan mengatakan apa tentang anak saya? (Saya hampir tempatkan anak saya di SD yang sama juga karena takut sekolah swasta terlalu mahal untuk keluarga saya).

Pada umur 6 tahun, dia masih baru mulai belajar membaca dan menulis, punya kepribadian yang sensitif, mengubah mood dengan cepat, sangat logis, dan seterusnya. Pada suatu saat dulu, dia menjadi bosan di TK, lalu dia keluar dari kelas dan pulang sendiri (rumah saya tidak terlalu jauh). Tetapi, syukurlah, guru di TK swasta itu bisa mengatasi masalah ini dengan baik, tapi memberikan julukan buruk kepadanya, tanpa memberikan hukuman, dan tanpa mengganggu hatinya. Memang benar, ada sebagian anak di masyarakat yang punya gangguan belajar yang menghambat proses belajar mereka di sekolah. Tetapi kita mesti lebih berhati-hati dalam menentukan anak mana yang ‘bermasalah’.

Apakah ada masalah dengan anak atau dengan sistem pendidikan di mana anak hanya bisa dihargai bila mereka 100% rukun dalam semua perkara seperti klon? Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti bedanya antara pelajaran yang dipusatkan pada anak (disebut child-centered) dan pelajaraan yang dipusatkan pada guru dengan sisitem hafalan saja (teacher-centered, rote learning). Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti macam-macam metodologi pendidikan dan psikologi anak? Seharusnya pertanyaan inilah yang perlu ditanyakan sebelum anak kita di kelas satu SD boleh dikatakan ‘autis’, ‘tidak pintar’, ‘anak nakal’, ‘bermasalah’ dan seterusnya.

Saya bekerja dengan keras sekali supaya anak saya bisa masuk sekolah swasta yang baik. Yang saya anggap ‘baik’ itu bukan ditentukan oleh nilai di rapor anak saya atau rankingnya di kelas, tetapi didasarkan pada satu pertanyaan sederhana. Pada saat saya bertanya kepada anak saya berumur 6 tahun tentang kenapa dia suka sekolah, dia selalu jelaskan bahwa dia suka sekolah karena para gurunya sayangi dia dan itulah jawaban yang paling saya inginkan. Dia masuk sekolah dengan semangat dan punya semangat untuk belajar terus karena gurunya sangat baik terhadap dia dan bisa mendidiknya dengan cara yang layak untuk seorang anak kecil. (Dan karena itu, kedua anak saya tetap pada sekolah swasta yang sama untuk TK dan SD).

Terus terang, saya lebih mau kelaparan (untuk menghemat uang) daripada kirim anak saya ke SD Negeri.

Semoga bermanfaat,

Seorang Ibu di Jakarta

Thursday, July 24, 2008

Lebih utama makan atau berperang?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terasa sangat aneh bahwa pada saat negara maju membuang makanan pada skala besar (lihat Pembuangan makanan pada skala besar di Inggris), juga terjadi kelaparan di negara lain. Diperkirakan jutaan orang akan kena kelaparan di Africa kalau tidak segera dikirim makanan. (Gambar di sini: In pictures: Ethiopia's impending famine.)

Bagaimana dengan negara lain yang tidak masuk berita? Di indonesiapun juga terjadi kelaparan, hanya mungkin tidak separah yang di Afrika.

Di dunia modern ini, di mana astronaut bisa berada di stasiun luar angkasa, dan dokter bisa melakukan operasi dengan menggendalikan tangan robot lewat internet dari lain negara, sangat aneh bahwa masalah-masalah yang paling sederhana masih belum ditangani oleh pemerintah di masing-masing negara.

Bayangkan kalau pengeluaran AS untuk perang Iraq disalurkan kepada orang paling miskin di dunia. Bayangkan kalau penghasilan dari BBM dan Migas di Indonesia disalurkan kepada warga yang paling miskin daripada diberikan kepada perusahaan minyak kaya asal AS?

Masih ingat ini: “Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen.” (Lihat BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk).

Minyak dan gas dari Indonesia diambil oleh perusahaan minyak Amerika, dll. Mereka bayar pajak ke pemerintah Amerika, dan uang pajak itu dihabiskan untuk perang. Orang miskin yang lapar di Indonesia dan di Afrika dibiarkan mati kelaparan saja.

Ini dunia apa? Apakah bisnis memang begitu penting? Sepertinya sifat-sifat manusiawi makin hilang di dunia globalisasi. Yang ada persaingan bisnis yang meningkat secara tajam dan orang yang paling tidak mampu bersaing dibiarkan mati saja.

Demi uang. Demi profit. Demi kemenangan strategis dalam perang.

Anak yang dibesarkan di dalam dunia globalisasi seperti apa di masa depan…? Apakah masih akan ada “kepedulian sosial” dalam 20 tahun mendatang?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Wednesday, July 23, 2008

Jakarta: In Desperate Need of Improvement

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Artikel ini sudah diterjemahkan dan disebarkan di milis dan blog. Ini kesan orang asing terhadap Indonesia. Bagaimana mungkin pemerintah mengharapkan orang asing mau berbondong-bondong datang ke sini? Turisme di lain negara adalah hal yang ditanggapi secara serius. Tetapi di sini, jangankan turis, kebtutuhan masyarakat lokal seringkali diabaikan.

Kalau mau lihat artikel alsinya dalam bahasa Inggris, linknya ada di bawah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Oleh Andre Vitchek

Worldpress.org contributing editor

July 26, 2007

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta, the fourth largest city in the world. In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.

Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta , yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately 'pro-market' profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.

Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.

Most Jakartans have never left Indonesia, so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore; with Hanoi or Bangkok. Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a 'hell on earth,' the local media describes Jakarta as "modern," "cosmopolitan,” and "a sprawling metropolis."

Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota "modern", "kosmopolitan" , dan "metropolis" .

Newcomers are often puzzled by Jakarta’s lack of public amenities. Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila, another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at Intramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.

Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

But in Jakarta, there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.

Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak mungkin dipikirkan di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word "sidewalk." Almost anywhere in the world (with the striking exception of some cities in the United State , like Houston and Los Angeles ) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public transportation in areas with high concentrations of people.

Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar "internasional”). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana tr ansportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

In Jakarta, there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, 'details' that are symbols of urban life anywhere else in the world.

Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.

Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its 'shop-till-you- drop' image to that of the centre of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.

Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.

Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Petronas Towers, among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orchestra companies as well top international performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery.

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower, salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major attraction millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia . Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Bangkok's colossal temples and palaces coexist with extremely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila .

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.

Now back to Jakarta. Those who have ever visited the city's 'public libraries' or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be 'profitable' (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).

Nah, sekarang balik ke Jakarta. Siapapun yang bernah berkunjung ke "perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap "menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia - Masya Alloh! (pent.) - (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).

Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now controls almost everything, from residential housing to what were once public areas.

Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.

While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage system, wastewater treatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kuala Lumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.

Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban train links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Putrajaya. The "Rapid" system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on "Rapid" costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.

Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr ajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok contracted German firm Siemens to build two long "Sky Train" lines and one metro line. It is also utilizing its river and channels as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi, Singapore, Kuala Lumpur and gradually from Bangkok. Jakarta, thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.

Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi, Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok . Jakarta? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin.

Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin.

Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expatriates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?

Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??

Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.

Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in some instances from its poorer neighbours like Port Moresby, Manila and Hanoi.

Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Comparative statistics have to be transparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. "We have to watch out," said a concerned Malaysian filmmaker during New Year's Eve celebrations in Kuala Lumpur. "Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta!"

Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati" kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kuala Lumpur. “Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kuala Lumpur akan bernasib sama seperti Jakarta!"

Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?

Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kuala Lumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.

Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya

Sumber: Artikel ini sudah diterjemahkan dan disebarkan di milis dan blog, tapi kalau mau lihat artikel alsinya dalam bahasa Inggris, ada di sini:

Jakarta: In Dire Need of Improvement

Andre Vltchek

Worldpress.org contributing editor

July 26, 2007

Tuesday, July 22, 2008

Translations Of The Qur'an In Various Languages

Translations Of The Qur'an In Various Languages
For those who need translations of Al Qur’an in other languages, it is available here. The text can only be read, and cannot be copied. The translations are provided from the King Fahd Holy Quran Printing Complex.


Some of the languages are:
  • English
  • German
  • Chinese
  • Greek
  • Korean
  • Indonesian
  • Spanish
  • Urdu
  • Filipino
  • Thai
  • Turkish
  • Sindhi
  • And so on
[Indonesian language]

Terjemahan Al Qur’an dalam berapa bahasa

Untuk orang yang membutuhkan Al Qur’an dalam bahasa lain, disediakan di sini. Teks hanya bisa dibaca dan tidak bisa dikopi. Semua terjemahan ini disediakan oleh King Fahd Holy Quran Printing Complex.


Contoh bahasa yang ada:
  • Inggris
  • Jerman
  • Cina
  • Yunani
  • Korea
  • Indonesia
  • Spanyol
  • Urdu
  • Filipino
  • Thai
  • Turki
  • Sindhi
  • Dan seterusnya

Monday, July 21, 2008

Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua


Assalamu’alaikum wr.wb.,

[Ada pembaca yang bertanya kepada saya tentang solusi terhadap masalah pendidikan yang saya bicarakan. Ini jawaban saya.]

Pak, saya sudah coba menjawab pertanyaan anda dalam komentar saya di post Pengakuan Guru 2. Saya yakin bahwa semua masalah ini bisa diselesaikan oleh orang tua yang peduli.

Kalau kita sedikit mempelajari sejarah serikat buruh di manca negara, kita bisa tahu bahwa demi kesejahteraan bersama, para pekerja bergabung dan menyatu di dalam sebuah serikat buruh.

Awalnya, mereka memang dilawan oleh pemerintah (dengan menggunakan polisi untuk memukuli mereka). Mereka juga dilawan oleh pemilik perusahaan, yang siap terima kerugian besar dengan menutup pabriknya, asal berhasil memecah-belahkan pekerja yang berprotes.

Di Inggris, ada sejarah mogok kerja satu kelompok yang berlangsung lebih dari 1 tahun lamanya. Para pekerja tidak mau kalah dan pemerintah/pengusaha juga tidak mau kalah.

Sejarah membuktikan bahwa walaupun menggunakan semua cara (polisi, ancaman hukum, pemerasan, ancaman fisik, sogokan, pemukulan, dll.) pemerintah pada akhir hari tetap kalah.

Kenapa?

Karena industri hanya ada selama ada pekerja. Tanpa pekerja, tidak ada industri. Yang namanya CEO atau direktur bukanlah orang yang membuat barang di pabrik. Sejarah serikat ini menunjukkan bahwa kalau suatu kaum benar2 kompak dan menuntut haknya, tanpa mundur, mereka insya Allah akan memang. Atau minimal bisa dikatakan mereka mempunyai kekuatan untuk bernegosiasi dengan pemerintah/pengusaha supaya mendapat hasil yang saling menguntungkan daripada menguntungkan satu pihak dan sangat merugikan yang lain.

Karena Indonesia belum melewati tahap perkembangan ini (satu bagian dari perkembangan demokrasi di manca negara), maka mayoritas dari pekerja di sini belum pernah bergabung dalam suatu serikat. Karena itu, orang tua biasa tidak punya konsep ini di dalam benak mereka. Mereka tidak berfikir untuk mogok. Mereka tidak berfikir untuk turun ke jalan dengan aksi damai dan menuntut haknya. (Sering dianggap tugas mahasiswa saja).

Menurut saya, hanya cara inilah yang paling mungkin memberikan hasil yang nyata dalam waktu dekat. Kalau menunggu partai politik yang bersih dan peduli mendapatkan kekuasaan di pemerintah, maka kita harus menunggu terlalu lama.

Bayangkan saja:

Senin depan, semua orang tua di seluruh Indonesia menolak bekerja/masuk kantor (selain fungsi umum yang penting/darurat – dokter, polisi, dll.) Semua pekerja biasa yang juga orang tua, dengan rukun, tetap di rumah dan tidak bekerja. Atau sekaligus, menghadiri demo rakyat 1 juta orang di semua jalan raya di semua kota.

Tututan orang tua hanya satu: pendidikan yang layak dari pemerintah untuk semua anak bangsa sekarang juga.

Kalau tuntutan tidak diterima, bulan depan orang tua janji mogok kerja lagi, tetapi untuk 3 hari, dan seterusnya. Kerugian negara bisa berapa untuk satu hari saja? Apakah mungkin pemerintah tidak takut dan abaikan aksi seperti ini? Saya yakin tidak mungkin.

Pengusaha pasti marah besar, dan mungkin juga ada sebagian orang yang dipecat, diancam akan dipecat, atau kena hukuman yang lain. Tetapi walaupun tingkat suksesnya hanya 60%, pemerintah pasti takut pada massa yang begitu kompak. Mereka pasti takut dilengserkan oleh rakyat yang menolak pemerintah. Ini yang terjadi pada Presiden Marcos di Filipina. Dia dijtatuhkan karena orang biasa turun ke jalan dan berdiri depan tentara. Mereka menolak Marcos karena inginkan perubahan. Ternyata, tentara ikut bersimpati pada mereka dan tidak bertindak. Akhirnya Marcos kabur ke luar negeri. (Kemarin di Myanmar aksi yang sama dimulai, tetapi tentara bertindak terhadap rakyat. Sayangnya, rakyat cepat kalah dan tidak mau teruskan perjuangannya.)

Dengan tindakan seperti ini, pemerintah akan sadar bahwa masyarakat TIDAK MENERIMA kelalaian mereka di bidang pendidikan. Tetapi masalah utama adalah masyarakat Indonesia belum berani untuk ambil tindakan seperti ini (berarti masih siap menerima kelalaian pemerintah). Di sini lebih banyak orang takut pada pemerintah daripada berani ambil risiko demi masa depan anak mereka dan semua anak bangsa sekaligus. Dan tindakan seperti ini hanya bisa berhasil kalau ada rasa perjuangan bersama, di mana semua orang tua saling peduli pada yang lain.

Saat ini, kalau anak tetangga putus sekolah, belum tentu kita peduli. Paling kita mengatakan sedih, dan tetap beli mobil baru, naik haji, bikin pesta pernikahan buat anak kita yang habiskan 200 juta, dan seterusnya. Belum ada rasa komunitas. Belum ada rasa “sama-sama punya anak, sama-sama peduli pada anak orang lain”.

Orang kaya peduli pada anak mereka saja. Mungkin orang miskin ingin mendapatkan kesempatan korupsi juga di kantor supaya anaknya bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan anaknya orang kaya. Tidak ada rasa komunitas. Tidak ada rasa saling peduli. Semua orang bertindak sendiri-sendiri, dan komplain sendiri-sendiri.

Kalau kita menjatuhkan beberapa tetes air mata di atas kepala pemerintah dan pejabat, kepala mereka menjadi sedikit basah dan cukup dilap dengan tisu. Lalu dilupakan. Kalau 100 juta orang tua menjatuhkan tetesan air mata mereka di atas kepala pemerintah pada saat yang sama, hasilnya adalah banjir raksasa. Mana mungkin diabaikan?

Orang tua harus bersatu dan menyusun strategi untuk melawan kebijakan pemerintah yang abaikan hak anak bangsa. Kalau tidak, tidak akan ada perubahan.

Semuanya ada di tangan orang tua. Mau bersatu, atau mau menangis sendiri? Terserah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Saturday, July 19, 2008

Pengakuan Guru 2: Kelas “Bilingual” Kacau


Dalam pertemuan dengan seluruh orangtua murid calon kelas bilingual di satu SMP, saya berusaha untuk menyamakan ekspektasi mereka pada realitas yang kami miliki di sekolah. Lebih tepatnya lagi, saya berusaha untuk menurunkan ekspektasi mereka yang terlalu tinggi terhadap Bahasa Inggris para pengajar. Ada tiga kondisi dimana Bahasa Inggris akan digunakan. Garis besarnya, penggunaan Bahasa Inggris sbb:

Pertama, Bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar untuk membuka dan menutup kelas. Membuka kelas termasuk greeting, conducting an opening prayer, dan light talk [= pembicaraan ringan].

Kedua, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa untuk memberikan perintah sehari-hari dari guru ke murid-murid. Misalnya please open your book [at] page bla..bla..bla, come forward, work in pairs, put away your books, prepare a piece of paper, don’t cheat, and so on. Semua guru yang mengajar di kelas bilingual, kecuali guru Bhs Indonesia, wajib menggunakan Bahasa Inggris dalam dua kondisi di atas. Mereka telah dilatih berkali-kali untuk memastikan pronunciation-nya minimal comprehensible enough [dapat dipahami saja] bagi murid-murid. Kami tidak dapat berharap native-like language production [= tidak berharap penggunaan bahasa Inggris seperti native-speaker]. It’s simply far-fetched [= sangat tidak mungkin].

Ketiga, khusus untuk pengajar science, math, dan IT, mereka wajib menggunakan bahasa Inggris untuk penyebutan istilah-istilah khusus dalam pelajarannya. Prosedurnya begini, pertama-tama materi disampaikan sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia. Jika murid-murid telah memahami konsep dasar yang diajarkan, guru akan menjelaskan ulang konsep tersebut dalam Bahasa Indonesia tetapi menggunakan term-term khusus dalam Bahasa Inggris. Misalnya untuk mathematical operator symbols dibaca dalam Bahasa Inggris, luas bidang (area), keliling (perimeter, circumference) and so on. Untuk biologi, penyebutan bagian tanaman dalam bahasa Inggris, misalnya root, stem, leaf, branch, twigs… Tetapi susunan kalimat bahasa pengantar ketika guru menjelasakan baik dalam penjelasan pertama maupun berikutnya tetap dalam Bahasa Indonesia. Maka Bhs Inggris digunakan dalam menjelaskan pelajaran sebatas penggunaan istilah-istilah ilmiah. Saya punya alasan logis yang kalau dijelaskan disini bisa panjang. Yang pasti, hal ini akan mengurangi beban content teachers.

Penjelasan ini tidak memuaskan kepala sekolah, karena tidak ‘menjual’ sekolah. Salah satu ortu secara pribadi mengatakan pada saya bahwa beliau membatalkan anaknya masuk kelas ini karena berharap anaknya mendapatkan eksposure bahasa Inggris seketika dia menginjakkan kaki di gerbang sekolah. Ibu ini mengharapkan para guru bercasi-cis-cus dalam Bahasa Inggris di sekolah sebagaimana yang dilihatnya disekolah-sekolah berbahasa Inggris dengan immersion program. Again, it’s simply far-fetched [sangat tidak mungkin].

Saya jelaskan beberapa type dan kondisi program bilingual yang dikenal dalam literatur pengajaran Bahsa asing, mulai dari immersion program (mis di JIS, BIS), transitional, maintenance, dst. Guru-guru yang ada di sekolah kami tidak direkrut dengan kemampuan Bahsa Inggris yang memadai untuk mampu mengajar dalam immersion program. Lantas ibu ini bertanya, mengapa diberi label ‘bilingual’ kalau bahasa Inggris digunakan dalam kondisi yang amat sangat terbatas? Dan mengapa orangtua harus membayar jauh lebih banyak SPP dibanding kelas reguler sementara perbedaannya hanya sebatas fasilitas fisik saja. Saya tidak bisa menjawab. The principal was not happy, neither was the mother. But I’m glad to bring them back to reality. I’m not a good salesperson, indeed. Saya harus siap-siap cari kerjaan lain, mungkin semester depan she would kick me out [diusir kepala sekolah].

[Komentar dari Pak Satria Dharma]

Bravo untuk Anda! Jelas sekali bahwa motivasi para kepala sekolah RSBI ini adalah hendak MENIPU para orang tua dengan segala kamuflase yang bisa ia lakukan agar orang tua mau masuk ke program RSBI. Motifnya jelas sekali adalah UANG. Jadi sama sekali tidak ada idealisme disitu. Saya bersyukur bahwa Anda memutuskan untuk memenangkan hati nurani Anda dan bukannya ikut terseret permainan gila para kepala sekolah.

Saya benar-benar gregetan dengan situasi ini dan ingin mengajak Anda dan teman-teman lain untuk membongkar kebohongan program RSBI ini. Kalau tidak maka kita ikut berdosa membiarkan kebohongan ini berkelanjutan tanpa kita berusaha untuk mencegah.

Salam,

Satria

Sumber: (dari Pak Satria Dharma)

[Komentar dari Gene Netto]

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Sekali lagi ada pengakuan dari seorang guru yang berani, yang jujur dalam menceritakan kondisi nyata dan kualitas sekolah yang sangat jauh dari harapan orang tua. Perlu dikumpulkan berapa banyak pengakuan seperti ini sebelum orang tua menyadari penipuan yang dilakukan terhadap mereka, baik dari sekolah atau kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), maupun dari kelas bilingual di sekolah swasta?

Semua kelas ini punya landasan yang sama: UANG.

Ilmu yang diharapakan orang tua untuk anaknya adalah suatu hal yang belum tentu muncul, dan kalau memang ada sebagian anak yang mendapatkan ilmu bahasa Inggris yang diinginkan orang tua, belum tentu didapatkan dari sekolah. Justru sangat mungkin dia dapatkan dari internet, dari tivi kabel, dari dvd dan vcd, dari buku, dari kakaknya, dan seterusnya. Sekolah swasta dan kelas bilingualnya yang mahal itu belum tentu menjadi sumber utama dalam perkembangan bahasa anak-anak ini, terutama bila di dalam sekolah/kelas tersebut, tidak ada ahli pengajaran bahasa asing yang sudah tahu caranya mengajarkan bahasa asing dengan baik kepada anak kecil. Ada banyak sekali efek samping yang bisa muncul kalau bahasa asing diberikan dengan cara yang kurang baik. Tetapi jarang harapkan sekolah akan memberitahu orang tua/kustomer.

Kapan orang tua di Indonesia akan menjadi kompak dan menuntut sistem pendidikan yang berkualitas buat semua anak bangsa?

Orang tua mengharapkan dengan bayar mahal di sekolah swasta, minimal anak mereka menjadi lebih pintar daripada anak tetangga, dan dengan itu mendapatkan kesempatan yang lebih luas di dunia ini. Tetapi semua orang tua di seluruh nusantara mengharapkan hal yang sama buat anak mereka, baik orang tua itu direktur bank maupun supir taksi. Kapan orang tua di Indonesia akan bersatu dan dengan kepedulian pada SEMUA anak bangsa, bersuara keras dan menuntut hak pendidikan yang layak buat semua anak bangsa, tanpa lihat siapa bapaknya, atau berapa banyak uangnya?

Bangsa ini bisa maju kalau mayoritas dari penduduk mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu yang baik di dalam sekolah yang baik. Kapan para orang tua akan mulai peduli pada anak tetangga dan bergabung untuk menuntut perhatian yang wajar dari pemerintah negara ini untuk semua anak bangsa?

Semuanya ada di tangan orang tua.

Sekarang, yang kaya ditipu dengan sekolah SBI dan bilingual. Yang miskin diabaikan saja dan aspirasi mereka untuk anak mereka (yang persis sama dengan aspirasi orang kaya untuk anak mereka) sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Situasi dan kondisi ini tidak akan berubah sampai orang tua bergabung, dan mulai peduli pada anak tentangga dan pendidikan yang layak buat semua anak bangsa.

Bukannya itu hak mereka?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto