Tuesday, September 30, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1429 H


Taqaballallahu mina wa minkum.

Minal `aidzin wal faa idziin.


Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Semoga diampuni dosa-dosa yang sudah kita perbuat,

Barakah ALLAH dilimpahkan pada Kita semua,

Amal Ibadah Kita diterima,

Dan kita kembali ke Fitrah.

Amiinn.... yaa....Rabbal 'alamiin.


Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Gene Netto


Monday, September 29, 2008

Pemerintah: 1 Syawal Jatuh pada 1 Oktober

Senin, 29/09/2008 19:30 WIB

Pemerintah telah mengumumkan 1 Syawal 1429 akan jatuh pada 1 Oktober 2008. Dengan pengumuman ini, Hari Raya Idul Fitri akan dirayakan serempak.

"Izinkan kami menetapkan 1 Syawal pada Rabu 1 Oktober 2008," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni.

Hal itu disampaikan Maftuh dalam sidang Isbat di kantornya, Jalan Pejambon, Jakarta, Senin (29/9/2008).

Sebelumnya Ketua Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama M Mohtar Ilyas mengatakan, ijtima jelang syawal terjadi pada Senin 29 September pukul 15.13 WIB. Saat itu, posisi hilal di bawah ufuk.

"Berdasarkan keputusan dari PP Muhammadiyah dan almanak PBNU yang menyatakan 1 Ayawal pada 1 Oktober 2008. Demikian juga dari dewan dakwah Islamiyah," katanya.

Selain itu, 25 peneliti juga menyatakan tidak bisa melihat hilal pada hari ini.(ken/ndr)

Sumber: Detiknews.com


Saturday, September 27, 2008

Muslim dilarang berpuasa di Cina


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Mungkin di bulan puasa ada sebagian orang yang mengeluh.

· Tidak bisa pulang cepat dari kantor

· Kena macet di jalan

· Semua rumah makan penuh, sulit dapat tempat duduk

· Es buahnya kurang manis, kurmanya terlalu kering

· Belum dapat tiket kereta untuk mudik

· Dan seterusnya

Walaupun kita ada keluhan masing-masing, masalah apapun yang kita hadapi tidak seberat kehidupan orang Uighur di Cina (Uighur adalah suku asli di bagian barat dari Cina, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim).

Lihat berita dari Al Jazeera di sini: You Tube

Atas nama memberantas terorisme, orang Uighur dilarang berpuasa oleh pemerintah Cina.

- Murid, guru, PNS, dan orang pensiun dilarang berpuasa.

- Pria harus cukur jenggotnya dan wanita dilarang pakai jilbab.

- Di dalam satu kota, petugas periksa masjid 2x setiap minggu.

- Dilarang kumandang adzan dengan pengeras suara.

- Anak di bawah 18 tahun dilarang puasa, dan disuruh makan di sekolah.

- Anak di bawah 18 tahun juga dilarang masuk masjid.

(Jadi kalau ada anak atau PNS yang mau berpuasa, harus secara rahasia dan diam-diam.)

Kalau ada rumah makan yang tidak mau buka siang hari di bulan ramadhan, pemerintah mengancam akan berikan denda atau menutup rumah makan tersebut.

Semua kegiatan agama yang berkaitan dengan Ramadhan dilarang keras (shalat Tarawih?)

(Dalam bulan2 terakhir ini, telah terjadi beberapa peledakan bom, dan 20 polisi wafat dalam serangan tersebut, yang dinyatakan pemerintah sebagai “tindakan teroris”).

Kata pemerintah, mereka mau melawan terorisme, tetapi seluruh penduduk Muslim Uighur yang menjadi sasaran dan ibadah puasanya terganggu sekali.

Jadi, kalau besok ada teman yang mulai mengeluh tentang apa saja yang berkaitan dengan puasa, ajak dia merenung tentang apa yang dialami saudara Uighur kita di Cina. Di sana, orang yang berpuasa harus berani melawan pemerintah (dengan segala ancaman dan sangsinya).

Sungguh nikmat bagi kita di Indonesia yang diberikan kemudahan untuk berpuasa tanpa ancaman dari pemerintah.


Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Thursday, September 25, 2008

Kak Seto Diancam Dengan Pembunuhan Gaya Munir

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Kak Seto yang terkenal sebagai pejuang untuk anak bangsa diancam dengan pembunuhan. Kenapa? Karena inginkan anak bangsa selamat dari bahayanya rokok. Untuk alasan kecil seperti itu dia harus menghadapi ancaman kematian. Tidak bisa dibayangkan otak orang yang begitu tidak peduli pada anak bangsa dan kemajuan bangsa sampai dia berani mengancam orang baik yang ingin berbuat baik.

Semoga Allah melimpahkan rahmat, hidayah, dan keselamatan kepada orang-orang yang berjuang untuk kepentingan anak bangsa. Amin, amin, ya rabbal al amin.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

#######

Kak Seto Minta Dukungan Habib Rizieq Berantas Rokok

Wednesday, 24 September 2008 01:08

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengunjungi Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, untuk mendukung wacana fatwa haramnya rokok

Hidayatullah.com--Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengunjungi Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Shihab, untuk mendukung wacana fatwa haramnya rokok oleh Majelis Ulama Indonesia.

Datang selepas Zhuhur, Selasa, (23/9), di Polda Metro Jaya, Kak Seto mengungkapkan bahwa efek rokok sudah merembet ke anak-anak. Bahkan katanya, ada anak yang terkena kanker karena kepulan asap rokok yang dihisap ayahnya.

Kepada Habib Rizieq, Kak Seto juga menceritakan teror-teror yang diterimanya sejak kedatangannya ke MUI untuk meminta fatwa haram rokok. Kepada www.hidayatullah.com, Kak Seto mengaku telah enam kali menerima ancaman lewat telepon dari orang tak dikenal.

“Salah satu ancamannya, apa kamu mau di-Munirkan? (pejuang HAM Indonesia yang dibunuh secara misterius),” ujar Kak Seto menirukan sang penelpon gelap.

Mendengar paparan Kak Seto, Habib Rizieq mendukung sepenuhnya. Sebab secara pribadi HabibRizieq juga mengharamkan rokok. Bahkan Habib juga mengatakan kepada Kak Seto untuk tidak mempedulikan ancaman-ancaman gelap tersebut.

Meski agak meragukan MUI akan mengharamkan rokok, Habib mengatakan MUI tetap bisa mengeluarkan fatwa haram, dengan catatan, tidak bersifat memaksa.

Kepada Kak Seto, Habib mengatakan rumahnya bebas dari asap rokok. Habib mengaku melarang siapapun untuk merokok di dalam rumahnya. “Mau siapapun yang berkunjung, mau kyiai, pejabat, gubernur. Harus matikan rokok,” tegas Habib yang didampingi putri-putrinya.

Namun Habib mengaku tidak bisa sepenuhnya melarang anggota FPI untuk merokok. Masih dalam tahap himbauan katanya. Begitu juga dengan para pengurus FPI. “Tapi kalau sedang rapat, mereka tidak ada yang merokok. Bahkan ada juga pengurus yang kini sudah berhenti merokok,” katanya.

Habib yang mengaku pernah merokok, mengatakan sebenarnya dalil-dalil dari al-Qur`an dan al-Hadits yang mengharamkan rokok sangat kuat sekali. Bahkan dia sendiri sendang menulis buku saku tentang dalil-dalil haramnya rokok. Rencana buku itu akan ditujukan untuk internal FPI. [sur]

Sumber: Hidayatullah.com


#######

[28 September]:

Ada ralat dari Kak Seto. Ketemu Habib Rizieq hanya untuk silatulrahmi saja, bukan untuk minta dukungan.

Kak Seto Tak Minta Dukungan Habib Rizieq Soal Fatwa Rokok


Tuesday, September 23, 2008

Nama Mendunia, Gaji Rp 2,4 Juta

[ Senin, 22 September 2008 ]

Ilmuwan-Ilmuwan Indonesia Berprestasi Global

Enam ilmuwan Indonesia masuk daftar Wise Index of Leading Scientists and Engineer. Daftar tersebut dikeluarkan sebuah lembaga internasional berkredibilitas di bidang sains dan teknologi. Siapa saja mereka? Mengapa dalam hal ini kita masih kalah dengan Malaysia?

Malu. Itulah yang dirasakan Tjia May On ketika namanya masuk deretan Wise Index of Leading Scientists and Engineer bersama lima ilmuwan tanah air yang lain. Mengapa malu? Guru besar Fisika dari ITB (Institut Teknologi Bandung ) itu lantas membandingkan dengan negara lain.

''Malaysia saja punya 27 ilmuwan yang diakui dunia. Sampai-sampai dalam daftar itu kita ini masih kalah dengan Maroko, yang secara kultur dan kesejahteraan masyarakat jauh di bawah Indonesia,'' kata profesor berusia 74 tahun yang masih tampak energik ini ketika didatangi Jawa Pos di kantornya, kompleks kampus ITB, Jumat lalu (19/9).

Wise Index of Leading Scientists and Engineer adalah sebuah daftar yang dikeluarkan Comstech (Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation), lembaga yang bertujuan meningkatkan promosi serta kerja sama sains dan teknologi di antara negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Nama Tjia masuk deretan daftar tersebut karena konsistensinya dalam menekuni bidang partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dia juga menekuni penelitian polimer, optik nonlinier, dan superkonduktor.

Selama 33 tahun, Tjia tekun dengan penelitiannya itu, baik dilakukan secara individu maupun tim. Hingga kini, profesor kelahiran Probolinggo 25 Desember 1934 itu telah menerbitkan dua buku teks, 24 penelitian kolaboratif internasional, 86 jurnal ilmiah internasional, 44 presentasi simposium internasional, 44 publikasi jurnal nasional, dan 77 presentasi imiah nasional.

Sebagian karya ilmiahnya dipublikasikan di jurnal internasional Physical Review, Nuclear Physics, Physica C, International Journal of Quantum Chemistry, Review of Laser Engineering, dan Journal of Non-linear Optical Physics.

Tjia menyelesaikan studi sebagai sarjana fisika pada 1962 di ITB. Setahun kemudian dia melanjutkan belajar fisika partikel di Northwestern University, Amerika Serikat, hingga meraih PhD pada 1969 dengan tesis berjudul Saturation of A Chiral Charge-Current Commutator.

Pada 1966, risetnya bersama fisikawan CH Albright dan LS Liu masuk Physical Review Letters dengan judul Quark Model Approach in the Semileptonic Reaction.

Pada awal 1960-an, para sarjana fisika di Indonesia baru mempelajari partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dua bidang itu yang mengubah pandangan dunia secara radikal-revolusioner awal abad XX tentang alam semesta dan asal-usulnya. Sepuluh tahun kemudian, di Indonesia hanya ada lima nama yang punya otoritas untuk berbicara tentang kuantum dan relativitas. Salah seorang di antara mereka adalah Tjia. Empat nama lain kala itu adalah Ahmad Baiquni, Muhammad Barmawi, Pantur Silaban, dan Jorga Ibrahim. Mereka adalah angkatan pertama yang jumlah penerusnya relatif sedikit dibandingkan dengan bidang fisika terapan.

Tjia juga sempat ikut riset di International Center of Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan fisikawan peraih hadiah Nobel asal Pakistan, Abdus Salam. Saat itulah, dia meninggalkan fisika partikel dan memasuki riset polimer, optik nonlinier, dan superkonduktor. Dalam dua bidang terakhir itu, namanya menginternasional.

Penggemar musik klasik karya Bach, Haydn, Mozart, dan Beethoven itu lantas mengkritisi kebijakan pemerintah Indonesia yang kurang berpihak kepada pengembangan ilmu. Salah satu contohnya, tegas dia, adalah rendahnya kesejahteraan secara finansial yang diberikan pemerintah kepada ilmuwan dan peneliti. ''Saya tidak mencontohkan siapa-siapa, Anda lihat saya saja,'' ujar penerima penghargaan Satyalencana Karya Satya itu.

Tjia menceritakan, dia pensiun dari ITB dengan gaji Rp 2,4 juta. Sampai sekarang, dia bahkan tetap tinggal di kompleks perumahan pegawai ITB. Layaknya pegawai negeri sipil (PNS) lain, untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, dia bahkan masih sering ''mengamen'' mengajar di kampus lain. ''Seminggu dua kali saya mengajar di Universitas Indonesia (UI), naik kereta biar bisa baca-baca,'' tuturnya.

Tjia juga menyinggung seputar riset Indonesia yang tertinggal jauh dari negara lain. Semua, lanjut dia, mengarah kepada kesalahan pada sistem riset di Indonesia. Pertama, karena memandang orang secara pragmatis, berdasarkan gelar saja. Kedua, Indonesia belum sadar akan kekuatan riset. Dan, selanjutnya adalah paradigma pemerataan yang menyesatkan.

Soal gelar itu, Tjia konsisten. Ketika dia menjabat sekretaris jurusan (satu-satunya jabatan birokrasi yang pernah dia emban), dia mengusulkan agar setiap papan nama staf pengajar ITB tidak mencantumkan gelar. Dan, itu dia lakukan selama menjabat.

''Zaman sekarang, setelah jadi doktor, orang terus merasa jadi gusti,'' kritiknya. ''Indonesia punya banyak doktor, tapi banyak yang mandul!'' sambungnya.

Di Amerika Serikat (AS), terang Tjia, seorang ilmuwan bisa saja masuk ke dunia birokrat. Menjadi kepala NASA, misalnya. Namun, di AS, track record seorang calon kepala NASA benar-benar dilihat. Jadi, karya-karyanya berupa hasil penelitian atau publikasinya yang menjadi pertimbangan. Di sana, terang dia, orang yang benar-benar teruji dan berpengalaman saja yang bisa duduk di posisi strategis semacam itu. ''Hasilnya jelas memuaskan, kebijakan-kebijakannya benar-benar mengena dan dapat membangun,'' tegasnya.

Menurut Tjia, hal itu menjelaskan mengapa di Indonesia banyak kebijakan, terutama di dalam dunia sains dan teknologi, yang tidak mengena dan terkadang justru melenceng jauh. Selain itu, banyak dana riset hanya terbuang percuma karena tidak efektif dan efisien akibat orang-orang yang berkecimpung di dalamnya hanya bergelar doktor, tanpa karya dan kompetensi nyata.

Menurut Tjia, pengajaran fisika di Indonesia justru membunuh kreativitas murid. Baik yang diajarkan di setingkat SMP maupun SMA. Dia mencontohkan, proses mengajar selama ini hanya ditekankan kepada satu proses pemahaman fenomena alam, atau lazim dikenali sebagai proses deduktif. Bila cara itu yang digunakan, proses itu tidak akan berhasil membuat anak menjadi kritis analitis. Justru efek sampingnya membunuh kreativitas anak. Terutama dalam upaya menyisir fakta-fakta dari fenomena rumit untuk menghasilkan konsep hipotesis atau model teori yang sederhana.

''Mengapa negara kita semrawut? Jawabannya karena orang hukum hanya bicara bukti, bukan fakta,'' katanya.

Dalam pengajaran fisika di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, menurut Tjia, anak diajarkan terlatih menurunkan rumus. Namun, sebaliknya, anak tidak diberi ruang untuk melatih melakukan generalisasi, abstraksi, atau idealisasi dari fakta atau fenomena alam untuk merumuskan suatu model teori. ''Padahal, dalam melakukan generalisasi inilah, tumbuh kreativitas anak dalam melihat fenomena alam,'' katanya. (zul/kum)

Sumber: Jawapos.co.id


Renungan Ramadhan 1: Puasa Tanpa Shalat

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Di bulan suci Ramadhan ada satu kelompok di tengah ummat Islam yang cukup aneh. Mereka adalah orang yang sangat peduli terhadap puasanya dan takut bisa batal, bahkan sampai mereka bertanya-tanya kepada ustadz tetang perkara ini dan itu karena takut puasanya akan dihitung batal atau nilainya berkurang. Kalau kita perhatikan kepedulian tinggi mereka terhadap puasanya, kita mungkin saja menyangka bahwa mereka adalah orang saleh karena sangat nampak kepedulian mereka terhadap puasa.

Tetapi anehnya, mereka itu justru tidak melakukan shalat wajib!

Selama satu hari dan satu malam ada kewajiban shalat 5 kali, dan juga boleh ditambah dengan puluhan shalat sunnah. Tetapi orang ini mengabaikan shalat wajib, dan juga shalat sunnah, dan hanya memberikan perhatian terhadap puasanya saja seakan-akan boleh pilih salah satunya.

Sebagai umpamaan, bayangkan kalau hal seperti ini terjadi:

Seorang bapak pulang dari kantor dan ketemu isterinya di pinggir jalan, sedang memandang rumah mereka yang setengah hancur setelah kebakaran. Isteri menggendong anak perempuannya tetapi anak laki-laki mereka tidak kelihatan di mana-mana.

Si suami bertanya, “Mana anak laki-laki kita?” dan dengan enteng sekali isteri menjawab, “Ohh, dia sudah mati Mas. Terbakar hidup-hidup.”

Sang suami kaget sekali, dan bertanya lagi, “Kenapa tidak diselamatkan juga?” Lalu dengan tenang si isteri menjawab, “Emang dua-duanya penting? Masih ada yang satu ini. Kenapa harus peduli pada yang lain?”

Jadi anak perempuan yang diselamatkan itu seperti puasanya yang mau diamankan dan dijaga dengan sangat hati-hati. Dan shalat wajibnya seperti anak laki-laki yang biarkan mati kebakaran saja, seakan-akan kalah penting dengan anak yang lain.

Bisa bayangkan? Bagaimana perasaan Allah ketika ada sebagian dari hambanya yang menujukkan sikap seperti ini terhadap puasa dan shalat? Satu sangat dijaga dan diutamakan, dan satu lagi diremehkan dan diabaikan. Bagaimana perasaan Allah? Kenyataan ini adalah suatu hal yang sungguh tidak masuk akal dan sangat disayangkan bila ada orang yang bisa utamakan puasa di atas shalat seakan-akan kita boleh pilih-pilih.


ANCAMAN TERHADAP ORANG YANG TIDAK SHALAT

38. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,

39. kecuali golongan kanan,

40. berada di dalam surga, mereka tanya menanya,

41. tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,

42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

(QS. Al Mudatsir 74.38-43)

Saya ingat dengan betul seorang teman kantor beberapa tahun yang lalu. Pada saat kita buka puasa bersama di kantor, dia maju ke posisi depan untuk ambil makanan dengan cepat. Dengan suara bercanda, saya tegor dia dan mengatakan, “Ehh, orang Kristen belakangan dong. Kita yang puasa! Hahaha.” (Saya tidak serius dan hanya bercanda dengan dia.)

Tetapi saya kaget setengah mati ketika dia menjadi sedikit marah dan mengatakan “SAYA ORANG ISLAM!”

Selama beberapa tahun di kantor yang sama, saya tidak pernah melihat dia di musholla dan karena waktu shalat kita terbatas, saya yakin dia tidak akan sempat shalat di lain tempat. Ternyata dia termasuk kaum yang saya sebutkan dia atas: shalat diabaikan, tetapi puasa dijaga dengan sangat hati-hati.

Kenapa bisa begitu? Saya tidak tahu ada berapa banyak orang Muslim seperti itu di Indonesia, tetapi saya yakin bukan sedikit. Semoga saudara kita itu bisa segera menyadari pentingnya shalat sebelum waktu mereka di bumi ini sudah habis. Semoga mereka bisa segera bertaubat dan kembali melakukan shalat wajib yang tidak kalah penting dengan puasa.

Saya ingat sebuah tafsir dari kitab fiqih yang pernah dijelaskan kepada saya oleh guru saya almarhum KH Masyhuri Syahid, yang mengatakan bahwa seseorang yang dengan sengaja tinggalkan shalat wajib, walaupun hanya 1 kali saja, sudah menjadi kafir alias murtad dari agama Islam. (Ini hanya satu pendapat dan ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwa dia masih Muslim tetapi berdosa besar.)

Alangkah baiknya bila saudara kita ini yang lebih peduli pada puasa di atas shalat bisa segera menjadi sadar dan kembali ke contoh Rasulullah SAW. Ibaratnya puasa dan shalat menjadi anak, masa satu anak diselamatkan dari api tetapi yang lain dibiarkan mati saja seakan-akan tidak punya nilai?

Semoga tahun depan, jumlah orang yang seperti itu sudah berkurang dan Insya Allah akan datang harinya di mana sudah tidak ada lagi orang Muslim yang bisa pilih-pilih antara dua ibadah yang Allah wajibkan bagi kita. Amin, amin, ya rabbal al amin.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Bintang Nur Wahid Makin Terang


17/09/2008 07:59

Malikul Kusno & Ahluwalia

INILAH.COM, Jakarta - Popularitas mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid, makin tinggi saja. Dia jadi calon presiden kalangan muda terpopuler. Beranikah PKS mengusung Ketua MPR itu maju ke medan perang tahun depan?

Ini memang belum murni pilihan rakyat. Ini angka yang disodorkan hasil survei. Tapi, gejala ini menandai perkembangan baru popularitas politisi PKS itu. Jika PKS bisa mengakomodir kaum intelektual dan aktivis serta masyarakat profesional di luar partai, bisa jadi Nur Wahid bakal lebih cemerlang.

Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) menyebutkan Nur Wahid merupakan capres muda terpopuler yang pilihan masyarakat. Ia mendapatkan 41,8% suara dari total 2.400 responden jajak pendapat yang dilakukan di 33 provinsi sepanjang 25 Agustus-7 September 2008.

Dia berada jauh di atas Rizal Mallarangeng dengan 13,6%. Menteri Keuangan Sir Mulyani juga dianggap sebagai tokoh muda yang populer. Dia mendapatkan 9,8%, diikuti Pramono Anung 4,9%. Sementara Presiden PKS Tifatul Sembiring, Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri, Yuddy Chrisnandi, Fajroel Rahman dan Zulkifli Hasan masing-masing di angka 1%.

Peluang Nur Wahid menjadi capres terbilang besar. Sebab, dari kalangan internal partai, tampaknya Nur Wahid takkan mendapat ganjalan berarti. Hampir semua persyaratan telah dipenuhinya. Satu-satunya ganjalan berasal dari persoalan 'eksternal', yakni perolehan suara PKS pada pemilu legislatif 2009. Artinya, jika meraih suara minimal 20%, PKS akan mengajukan calon sendiri.

Menurut Zulkieflimansyah, politikus PKS, hasil survei LRI memang tidak terlalu mengagetkan buat PKS. Pasalnya, selama ini Nur Wahid merupakan figur yang kuat. Selain itu, dia dipandang sudah banyak berkorban untuk PKS. Dia termasuk salah satu pembangun partai dari awal. Wajar jika dia mendapatkan hasil yang maksimal sekarang dan di masa-masa yang akan datang.

Di era kepemimpinan Nur Wahid, PKS merebut suara pada Pemilu 2004 dengan 7% suara. Meyakinkan untuk partai baru. Angka itu melonjak tajam dibanding sekitar 1,5% suara Partai Keadilan (PK) pada Pemilu 1999. PKS kian percaya diri berkat keberhasilan Nur Wahid memimpin parpol ini.

Karena itu, bagi pengganti Nur Wahid, yakni Tifatul Sembiring, perkembangan ini merupakan angin segar. Dan Tifatul musti mendorong partainya agar meraih suara lebih banyak lagi dibanding pemilu 2009 agar bintang Hidayat kian menjulang.

PKS juga harus konsisten dan konsekuen dalam mengambil sikap antikorupsi, selain bersih, profesional, dan perduli. Pada akhirnya, perkembangan PKS akan tergantung dari kinerja para politisi, pengurus, aktivis, serta jemaah tablignya yang menyebar di seantero nusantara.

"Hari depan PKS tergantung dari keberhasilan para kadernya untuk konsisten dan konsekuen serta komit kepada rakyat kecil yang memerlukan pemberdayaan," kata Ray Rangkuti, Direktur LIMA, sebuah LSM anak muda. [I4]

Sumber: Inilah.com

Thursday, September 18, 2008

“Bocah Misterius”

[dari milis]

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.

Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.

Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.

Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.

Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk

setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.

Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!

Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.

Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main.

Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.

Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…..

Gosok gigi kala puasa

Judul: gosok gigi kala puasa

Kategori: Puasa

Nama Pengirim: fendy

Tanggal Kirim: 2006-09-27 13:08:33

Tanggal Dijawab: 2008-08-22 09:59:08


Pertanyaan

Assalamualaikum Wr. Wb,

bagaimana hukum dari menggosok gigi kala sedang berpuasa, hal ini dilakukan kala hari kerja krn kebetulan saya bekerja diperusahaan orang asing shg sering berbicara dg mereka. kita memahami bhw bau mulut sebetulnya mengandung nilai pahala dalam Islam. Namun orang asing belum tentu, maka utk menghindari kesan kurang baik thd ibadah puasa (dari orang asing, krn bau mulut tsb), maka saya setiap mau shalat zhuhur terlebih dulu gosok gigi. mohon penjelasan Ustadz menurut hukum Islam ? terima kasih banyak atas penjelasannya


Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Semoga Allah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.

Saudara Fendy, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum menggosok gigi di saat berpuasa. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa hukumnya makruh. Dalil yang mereka pakai hadis Rasulullah saw. yang berbunyi,

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau tidak sedap orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi.” (HR al-Bukhari).

Menurut mereka makruh hukumnya jika bau tersebut dihilangkan karena ia adalah sesuatu yang diterima dan disukai oleh Allah.

Namun demikian sebagian ulama yang lain tidak memahaminya demikian. Apalagi jika hal tersebut mengganggu orang lain. Terlebih lagi dalam riwayat lain para sahabat meriwayatkan bahwa Rasul saw. sering bersiwak (menggosok gigi) di waktu sedang berpuasa. Secara umum Rasul saw. menegaskan, “Bersiwak (gosok gigi) membersihkan mulut dan mendatangkan keridhoan Allah.” (an-Nasa’i, Ibn Hibban, dan Ibn Khuzaimah).

Hanya saja yang perlu diperhatikan bahwa pada saat ini menggosok gigi biasanya disertai dengan penggunaan pasta gigi (berbeda dengan siwak) sehingga apabila ada bagian yang tertelan masuk ke dalam perut bisa membatalkan puasa.

Oleh karena itu, kalau ingin berhati-hati, Anda bisa menggosok gigi saat menjelang subuh dan sesudah magrib. Kalaupun akan dilakukan di siang hari, maka pemakaiannya harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada yang tertelan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Sumber: Syariahonline.com


Hadits: bulan Ramadhan

Nabi bersabda:

Wahai manusia, sungguh kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung dan penuh berkah; yakni bulan yang di sana ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah jadikan puasanya suatu kewajiban dan ibadah di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu amalan (sunnah) di bulan itu, maka samalah dia dengan orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa mengerjakan amalan fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya.”

(HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.).

Tidak kuat berpuasa

Judul: tidak kuat berpuasa

Kategori: Puasa Nama

Pengirim: umi reza

Tanggal Kirim: 2008-09-07 16:20:01

Tanggal Dijawab: 2008-09-08 13:17:11


Pertanyaan

assalamu'alaikum, ustadz saya ibu yang sedang menyusui bayi sehingga ramadhan kali ini tidak kuat menjalankan puasa, pertayaannya bagaimana saya harus mengganti puasanya ? kalau harus membayar fidyah berapa nominalnya? dan apabila sudah membayar fidyah apa masih harus mengqodlo puasanya?


Jawaban

Assalamualaikum Wr.Wb

Segala puja dan syukur kepada Allah Swt dan shalawat salam semoga tercurah untuk RasulNya.

Berkenaan dengan wanita yang sedang menyusui, apakah dia boleh tidak berpuasa atau tidak pada bulan Ramadhan, maka jawabannya adalah boleh selama ada alasan yang dibenarkan oleh syariah/agama Islam. adapun bentuk alasannya ada dua katagori:

Pertama wanita menyusui tersebut kawatir akan keselamatan dirinya bilamana ia berpuasa, misalnya akan menjadikan dirinya sakit atau dampak buruk yang ditimbulkan, bisa dengan keterangan dokter yang bisa dipercaya atau yang lainnya.

Kedua wanita menyusui tersebut kawatir akan keselamatan anak yang disusuinya, misalnya disebabkan puasa, air susunya tidak keluar, akhirnya anaknya tidak mendapatkan asupan ASI dan pada gilirannya akan membawa kepada bahaya pada anak tersebut.

Dua keadaan tersebut membolehkan bagi wanita yang sedang menyusui untuk tidak berpuasa selama bulan ramadhan. Alasan katagori pertama, wanita tersebut dianggap seperti halnya orang sakit yang apabila berpuasa akan membuat sakitnya semakin parah dan tidak sembuh atau lama sembuhnya, hal itu didasari firman Allah:

ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر

barangsiapa sedang sakit atau sedang bepergian jauh ia dapat menunaikannya (puasa) pada hari-hari lain

Terlebih lagi bila kekawatiran wanita menyusui itu adalah kepada kondisi anaknya, misalnya takut anaknya akan sakit karena tidak dapat asupan ASI, dan alasan itu diperkuat dengan keterangan dokter muslim yang tidak diragukan ketaatannya kepada Agama dan ahli di bidang profesinya, maka wanita itu wajib tidak berpuasa, demi keselamatan jiwa anaknya, hal ini sesuai dengan firman Allah:

ولا تقتلوا أولادكم

janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.

Dengan demikian, wanita menyusui boleh untuk tidak berpuasa pada bulan ramadhan dengan alasa tersebut di atas.

Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah yang harus dilakukan oleh wanita tersebut, apakah dia harus mengqodlo' puasa, membayar fidyah, atau melakukan dua-duanya? jawabannya adalah apabila alasan wanita menyusui tersebut tidak berpuasa karena alasan dalam katagori pertama, yaitu takut / kawatir akan kondisi dirinya, dimana kondisinya seperti orang sakit yang tidak mampu berpuasa, atau kawatir sakitnya akan semakin parah, maka kewajibannya adalah sebagaimana kewajiban orang yang tidak berpuasa karena sakit, yaitu mengqodlo / mengganti puasa, di hari-hari lain sejumlah hari yang ia tidak berpuasa pada bulan ramadhan, dan tidak harus berturut-turut. hal itu sebagaimana tersebut dalam ayat di atas: barangsiapa sedang sakit atau sedang bepergian jauh ia dapat menunaikannya (puasa) pada hari-hari lain

Adapun apabila alasan wanita tersebut tidak berpuasa karena alasan dalam katagori kedua,dimana ia takut akan kondisi anak yang disusuinya, maka dalam hal ini para ulama' berbeda pendapat, antara ia harus mengqodlo puasa, membayar fidyah, atau mengqodlo' dan membayar fidyah sekaligus. Ibnu Umar r.a dan Ibnu Abbas r.a (dua sahabat Rasulullah) berpendapat : boleh wanita itu berfidyah, tanpa mengqodlo’ puasa. akan tetapi sebagian besar ulama’ berpendapat wanita itu harus mengqadla’ puasa saja, selain dari itu juga ada sebagian ulama’ yang berpendapat wajib mengqodlo’ puasa dan berfidyah.

Kemudian manakah di antara pendapat mereka yang paling benar. Semoga hal ini tidak membuat orang islam bingung harus mengikuti pendapat yang mana. Setiap mereka (para ulama’) adalah ahli ijtihad, dimana setiap ijtihad mereka akan mendapat pahala, jika benar ijtihadnya, maka dua pahala mereka dapat, dan jika mereka salah maka tetap mereka mendapat pahala satu. Mereka semua berijtihad berdasarkan dalil-dalil al-Quran dan sunah tidak berbicara secara qath’i, sehingga dalil-dalil itu sifatnya masih dhanni, kemudian para ulama’ itu mengambil kesimpulan dari dalil-dalil yang ada. Bagi yang berpendapat cukup dengan membayar fidyah saja, karena mereka memasukkan kondisi orang hamil dan menyusui, dalam katagori orang-orang yang tidak mampu berpuasa sebagaimana dalam ayat:

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين

Orang-orang yang berat menunaikan puasa ia wajib berfidyah memberi makan seorang miskin (tiap harinya) (QS. 2: 184)

Mereka manafsirkan ayat ”orang-orang yang berat menunaikan puasa” yang dimaksud adalah orang tua, orang yang sakitnya tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, wanita hamil dan menyusui. Dengan demikian wanita hamil atau menyusui yang tidak berpuasa, cukup dengan membayar fidyah.

Adapun mereka yang mewajibkan mengqodlo puasa, karena wanita hamil atau menyusui yang tidak berpuasa, sama halnya dengan orang-orang yang mendapat rukhsah atau keringan untuk tidak berpuasa dibulan ramadhan, seperti orang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya, orang musafir, sehingga dengan demikian kewajiban mereka adalah mengqodlo di hari-hari yang lain.

Yusuf Qardlawi seorang ulama’ kontemporer memberikan pendapatnya bahwa wanita itu cukup dengan berfidyah saja, tanpa harus mengqodlo’, terlebih adalah wanita yang amat subur, mereka hampir tidak mempunyai kesempatan untuk mengqadla’ puasa yang ditinggalkan. Dalam tahun ini mereka hamil, dan dalam tahun berikutnya mereka menyusui sampai dua tahun, tahun ketiganya ia hamil lagi, begitu seterusnya selama kurun waktu tertentu, jika mereka diwajibkan mengqodlo puasa adalah sesuatu yang sangat memberatkan, karena mereka bisa berpuasa selama setahun penuh untuk menggantin semua puasa yang pernah ia tinggalkan selama ia hamil dan menyusui, sedangkan Allah tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-hamba-Nya.

Adapun nominal fidyah yang harus dibayarkan adalah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas, yaitu memberi makan satu orang fakir miskin setiap hari, dari jenis makanan yang ia makan kesehariannya, atau bisa senilai dengan makanan yang ia makan dalam kesehariannya. Jika dalam sehari ia makan senilai dua puluh lima ribu, maka ia membayar fidyah sebesar itu, namun jika makannya cukup dengan sepuluh ribu, atau bahkan kurang dari itu, maka berfidyah dengan senilai itu. Jika ia memberi lebih dari batas itu, adalah sesuatu yang baik. Sebagaimana dalam firman Allah:

فمن تطوع خيرا فهو خير له

Adapun jia ia dengan sukarela memberi makan lebih dari seorang miskin (tiap harinya),itu adalah lebih baik baginya (QS. 2:184)

Sebagai catatan: hendaklah setiap muslim beriman dan taqwa kepada Allah Swt, dengan berusaha menjalankan perintah-perintahNya sesuai dengan kemampuannya, seseorang lebih tahu akan dirinya, dan Allah Maha Tahu. Jika memang masih mampu untuk menjalankan puasa, dan diyakini tidak akan membawa kepada dampak keburukan bagi dirinya atau anaknya, maka hendaklah ia melakukan kewajiban itu, meskipun dengan sedikit berat, jika masih dalam batas kemampuannnya, maka berat itu tidak di anggap sebagai sesuatu yang menyusahkan, oleh karenanya Allah berfirman:

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

Jika kamu –tetap- berpuasa (dalam kondisi yang berat itu), itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. 2:184 )

Namun jika memang benar-benar kekawitiran itu beralasan, bahkan didukung dengan keterangan dari medis yang dipercaya,amanah, tentang dampak yang akan ditimbulkan dengan ia tetap berpuasa, maka berlakulah keringanan Allah dengan segala konsekwensinya. Wallahu a’lam.

Wassalam.

Sumber: Syariahonline.com


Sunday, September 14, 2008

Vertical City di Dubai: Tingginya 2,4 km


[dari teman di milis]




























Setelah Burj Dubai hampir selesai, Arab Saudi berencana membangun mile high tower.

Gambar 1

Dubai pun gak mau kalah, maka dibuatlah Vertical City yang tingginya bakalan 1.5 mil (=2.4 km).





























Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Gambar 5


Kekeringan di Sudan, rarusan bencana di indonesia, terhinanya Palestina, kacaunya negri Irak, fakirnya Somalia, etc etc semoga bisa terlihat lebih jelas bagi mereka yang tinggal di ketinggian tsb sehingga bisa menumbuhkan rasa simpati mereka.

However, khusus bagi Indonesia, ratusan proyek2 prestisius tsb adalah peluang besar bagi para profesional utk bekerja, berbisnis etc etc mengais ribuan bahkan jutaan atau milyaran US dollar di wilayah timur tengah.

Salam,

Hanif

######

[komentar Gene]:

Kalau semua uang yang dikeluarkan untuk proyek2 ini dijadikan uang beasiswa untuk anak yatim dan anak miskin, berapa banyak anak di negara2 Islam yang bisa sekolah dengan dana tersebut?

Sayangnya, orang Islam yang kaya biasanya sangat jauh dari contoh Nabi Muhammad SAW yang hidup dengan cara yang sederhana dan habiskan harta yang ada untuk kepentingan orang lain. Mungkin orang Arab yang Muslim dari lahir tidak sanggup membaca hadits Nabi sehingga mereka tidak tahu kehidupan Nabi seperti apa. Mungkin perlu dibuat terjemahan hadits dalam bahasa mereka supaya bisa paham. Orang Arab pakai bahasa apa ya? Yang jelas, sepertinya mereka tidak paham kalau hadits ditulis dalam bahasa Arab. (Hehehe.) Bahasa Al Qur’an dan hadits adalah bahasa Arab, sama seperti bahasa Nabi SAW, tetapi yang tidak paham isinya malah orang Arab. Aneh ya?

Mungkin kita bisa membantu mereka dengan mengirim ustadz dari Indonesia ke negara2 Arab untuk mengajarkan mereka tentang Islam dan contoh yang jelas dari Nabi kita.

Wassalam,

Gene Netto

######

[Komentar Hanif]:

Mas Gene Netto,

Inilah kenyataanya. Org2 Arab timur tengah itu kayanya luar biasa. Jauh lebih kaya ketimbang org2 barat. Sungguh saya menyaksikan bahwa mobil Chrysler, Lamborghini, Dodge, Ferrari, etc etc terasa bagaikan mobil biasa saja dan nggak mewah krn saking banyaknya di negri arab. Toyota Camry yg merupakan mobil mentri di Indonesia terasa kayak bemo / metromini saja di UAE. Dan jujur saja, gedung2 tinggi dan indah di Dubai itu sebenarnya juga banyak yg kosong krn mahal sekali sewanya melebihi Eropa.

Al Quran dan As Sunnah adalah berbahasa Arab. Mereka paham betul. Mereka shalat, membaca Quran itu memakai bahasa yg sama ketika mereka ngobrol dg teman2nya. Tetapi, mengerti suatu hal belum tentu melaksanakan. Palestina, Irak, Sudan, Somalia itu dekat sekali dg negri2 kaya, tapi anda tahu sendiri kenyataanya.

Pernah suatu ketika saya ditawari rokok oleh org Arab. Saya jawab, "haram". Dia bilang, "anda benar". Tapi dia tetap merokok. Jadi bukannya mereka nggak faham hal2 buruk, tetapi mereka terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Penyakit wahn ini sebenarnya bukan menghinggapi org arab saja, tetapi mungkin juga sebagian besar umat Islam termasuk indonesia.

Fakta2 di atas adalah nyata. Lalu bisakah indonesia mengubah mereka? Saya kira susah. Tak sedikit ulama2 dan masyayikh arab yg telah mengingatkan mereka. Para ulama tsb itu memiliki warna kulit, bahasa, pakaian, etc etc yg sama dg mereka. Tetapi, ya masih seperti inilah kenyataannya.

Indonesia sendiri nggak lebih baik dari Arab. Berapa ratus trilyun kekayaan indonesia yg telah dicuri oleh org indonesia sendiri. Dan mengapa org susah sekali berinvestasi di Indonesia. Berapa meja yg hrs dilalui utk mendapatkan surat ijin investasi. Pabrik belum berjalan, eh pungli sudah dimana2. Lain sekali dg kebijakan pemerintah Dubai yg memberikan kemudahan di segala bidang. FYI, Dubai itu nggak punya minyak. Dubai hanya mengandalkan sektor investasi. Yg punya minyak itu Sharjah (UAE), Abu Dhabi (UAE), Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Saudi.

Menurut saya, akan lebih baik kalau Indonesia berusaha sebanyak mungkin kecipratan uang2 org Arab dg cara yg halal. Uang2 tsb bisa digunakan utk membangun Indonesia. Pemerintah RI haruslah proaktif utk melobi pemerintah Arab. Melobi agar expor, tenaga ahli indonesia, etc etc bisa masuk ke Arab dg mudah. Kalo perlu org Arab ditawari utk membangun gedung super tingginya itu di Indonesia.

Tetapi sungguh disayangkan ternyata pemerintah RI kalah proaktif dg PJTKI yg kerjaanya ngirim TKW ke arab. Akhirnya, Indonesia sendiri dinilai sebagai bangsa babu dan rendahan. Bukan hanya itu, sebagian TKW itu juga berakhlak buruk bahkan ada yg nekat jadi pelacur kelas teri. Sering sekali para sopir taxi dari Pakistan bertanya, "Apa saja yg dilakukan lelaki indonesia. Kok yg kerja cuman wanitanya saja yg bekerja?"

Setahu saya, para professional Indonesia itu apabila ditawari kerja di Inggris, Australia, Amerika, Singapura maka senangnya minta ampun. Yg terbayang adalah mewahnya dan tingginya bayaran mereka. Tetapi kalo ditawari kerja di Arab (sektor non-migas) terkadang menganggap sebelah mata. Padahal org2 Eropa berlomba2 ke Arab krn tax-free policy. Dan betapa banyak org2 India yg berpendidikan biasa (ijazah S1 nya cuman dari univ nggak terkenal di India) dan kerja di Arab tetapi gajinya melebihi gaji profesor di Amerika dan insinyur di Perancis. Kenapa para Indonesians berlomba2 ke barat utk kerja (yg susah sekali utk mendirikan shalat) jika rezeki itu berpusat di Arab.

Hanif

di Sharjah


Saturday, September 13, 2008

Assalamu’alaikum, CINTA

September 13, 2008 oleh vizon

Judul tersebut adalah judul sebuah sinetron produksi Sinemart di RCTI, tayang setiap hari pukul 22.00 wib. Pemerannya antara lain Nirina Zubir, Richard Kevin dan Didi Petet. Aku mengetahuinya karena memang setiap hari iklan sinetron itu wara-wiri di stasiun tv swasta tersebut.

Aku tidak mengikuti sinetron itu. Di samping karena aku sudah mulai membatasi diri menonton sinetron, juga karena jam tayangnya yang sudah kelewat malam. Kalau diikuti terus, bisa-bisa sahurnya lewat lagi.

Tadi malam, sinetron ini tiba-tiba menarik perhatianku. Bukan karena ceritanya atau akting pemainnya. Melainkan karena soundtracknya. Ketika aku akan mematikan tv, sinetron ini mau dimulai dan terdengarlah soundtracknya.

Lagu yang mengiringi sinetron ini berjudul Raja Jatuh Cinta milik Numata. Karena musiknya asyik, aku teruskan mendengarkan sampai selesai. Tapi, di tengah-tengah lagu, terselip beberapa kalimat yang menurutku tidak pantas untuk dilakukan dan inilah yang membuatku tertarik untuk membahasnya.

Di sela-sela lagu itu, terdengar seseorang yang membacakan surat Al-Fatihah dan Asmaul Husna dengan irama yang cukup baik. Sebetulnya bacaan ayat-ayat al-Qur’an itu bukanlah lirik asli dari Numata. Itu hanyalah bentuk kreatifitas pihak Sinemart.

Menurutku, memasukkan ayat-ayat al-Qur’an dalam sebuah lagu tidaklah tabu, asal ada korelasi antara ayat tersebut dengan syair lagu. Tapi, dalam kasus ini, aku tidak melihat sama sekali hubungan antara surat Al-Fatihah dan Asmaul Husna dengan syair lagu Raja Jatuh Cinta tersebut.


Berikut lirinya:

ku tak bisa berhenti

untuk mengejarmu

walau kini yang ada

***

kamu tak mau

ku tak bisa berhenti

untuk mencintaimu

jangan tanyakan mengapa

karna ku tak tahu

***

[reff]

1000 wanita menggoda

hanya kamu yang jadi rebut hatiku

1000 kali kau hancurkan

masih ada banyak waktuku

tuk memaksamu

***

hooo… hooo…

raja sedang jatuh cinta kepadamu

***

ku tak bisa berhenti

untuk memujimu

dan aku takkan menyerah

oh hanya kamu

***

ku tak bisa berhenti

untuk mengagumimu

jangan sia-siakan aku

ku ingin kamu

***

Terlihat sedikitpun tidak ada korelasinya…!

Menurutku, sama sekali tidak pantas surat Al-Fatihah yang berisikan tentang pujian kepada Allah dan penghambaan diri kepada-Nya serta Asmaul Husna yang merupakan bentuk ekspresi keagungan Allah, dipersandingkan dengan lagu yang berisi romantika cinta makhluk semata. Aku tidak hendak mengatakan kalau ini adalah bentuk pelecehan terhadap ayat-ayat yang agung itu. Tapi, peletakannya benar-benar tidak tepat dan harus segera dikoreksi.

Persoalannya sekarang adalah, bagaimana caranya menyampaikan protes ini? Dan bila memang bisa disampaikan, apakah pihak yang bertanggungjawab mau mendengarkan dan lantas merubahnya? Sejauh pengamatanku selama ini, pihak stasiun tv maupun rumah produksi, selalu tidak peduli dengan kritikan semacam ini. Mereka baru akan melakukan tindakan bila protes tersebut diikuti dengan aksi dari kelompok-kelompok garis keras, dan ini aku tidak suka.

Akhirnya bagaimana? Aku hanya bisa menggunakan jari-jariku untuk menuliskannya di sini. Barangkali ada manfaatnya.

Sumber: Surauinyiak.wordpress.com


Friday, September 12, 2008

A 9/11 “What If…?”

(Buat yang bisa bahasa Inggris).

This article is rather long, but very interesting reading. It compares the Spanish response to terrorist attacks on their soil with the US response to 9/11.

For the Spanish, the response was police work, intelligence agencies, arrest, trial (now complete), and prison for the guilty. An estimated cost of about $6 billion in total for the entire process, and one police officer died.

For the US, it was launching a "War on Terror", invasion of two nations, 4,000 troops dead, about 50,000 troop seriously injured (many with arms and legs amputated), an estimated 1 million Iraqis dead, 5 million Iraqis made homeless, 2.3 million Iraqis living in neighboring countries as refugess, a direct increase in terrorism globally, ignoring the United Nations, and a total cost of around 1 trillion dollars, give or take a few hundred billion.

What a difference it makes if you have a President who obeys the law instead of manipulating it for the benefit of big business and oil companies.

Regards,

Gene Netto

#####

A 9/11 “What If…?”

By Peter Dyer

September 11, 2008

What if we had never gone to war? What if, after the shocking crimes of September 11, 2001, the United States had pursued a different course?

What if all the blood which has been spilled in the name of justice still flowed in living veins; all the American, Iraqi and other lives shattered were still whole; all the homes destroyed or lost still standing, still occupied by families who never harmed us?

We have spent monumental treasure and energy on two wars. What if, instead, we had invested a fraction of that in a determined, unrelenting effort to bring Osama bin Laden to justice in a fair and transparent trial in a court of law?

Of course, we'll never know.

When we were confronted with the most heinous series of terrorist acts in our history Americans overwhelmingly lined up behind President Bush's call for a "Global War on Terror."

We can only speculate on what might have been the result of a different course of action, guided by a fundamentally different vision.

For two reasons, though, such speculation would not be entirely baseless:

One week after the U.S. began bombing Afghanistan, the Taliban presented us with an opportunity to investigate the possibility of a peaceful, legal resolution to the crimes of 9/11.

On Oct. 14, 2001, Afghanistan's deputy prime minister, Haji Abdul Kabir, announced that if the United States stopped the bombing and produced evidence of bin Laden's guilt, "we would be ready to hand him over to a third country" for trial.

President Bush, determined to launch and pursue the "war on terror," refused even to discuss, much less investigate this possibility.

A Different Course

Exactly 30 months after 9/11 there was another catastrophic terrorist attack in another country: Spain. On March 11, 2004, 191 people in Madrid were killed and over 1,800 injured when 10 backpack bombs exploded on four morning rush-hour commuter trains.

As with 9/11, "11-M" was the most devastating series of terrorist acts in Spanish history. But Spain chose the path the U.S. rejected.

The Spanish government addressed the crimes of 11-M with the tools, techniques and resources of law enforcement. There was an investigation, arrests, a trial, and appeals.

Continue reading the article here: Consortiumnews.com