Thursday, February 05, 2009

Jam sekolah baru gagal mengatasi kemacetan

Kamis, 05/02/2009 09:45 WIB
Dishub DKI: Jam Masuk Sekolah Hanya Mengurai Macet, Bukan Menghilangkan
Aprizal Rahmatullah – detikNews

Jakarta - Peraturan Gubernur (Pergub) tentang jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB tidak banyak mempengaruhi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Peraturan yang mulai diterapkan sejak 5 Januari 2009 lalu ini dianggap tidak berhasil mengatasi macet.

"Ya kita kan hanya mengurai (macet)," alasan Wakil Kadishub DKI Jakarta Riza Hashim pada detikcom, Kamis (4/2/2009).

Riza menuturkan, kebijakan Pemprov DKI Jakarta memajukan jam sekolah dari pukul 07.00 WIB menjadi pukul 06.30 WIB bertujuan untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta bukan untuk menghilangkannya. Menghilangkan kemacetan di Ibukota adalah hal yang sangat tidak mungkin. 

"Kalau menghilangkan macet susahlah, kalau ada yang bisa saya tantang itu," tambahnya.

Komnas Perlindungan Anak (PA) pimpinan Kak Seto pada Rabu kemarin menyatakan, kebijakan masuk sekolah pukul 06.30 WIB belum efektif dan justru membuat para siswa stres. Komnas menerima sekitar 500 surat pengaduan dari para siswa yang mengaku tertekan.  

Sumber: detiknews.com

########

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Sebelum dimulai, sudah banyak pihak yang merasa yakin bahwa kebijakan ini tidak akan membantu dalam mengatasi kemacetan, dan hanya akan menjadi beban untuk anak sekolah. Sekarang sudah terbukti. 
Pada saat negara ini mengalami berbagai macam masalah yang belum tuntas dari zaman dulu, Gubenur Fauzi Bowo dan Wagub Priyanto masih ingin bermain-main dan melakukan esperimen terhadap warga kota. 
Sebelum kebijakan ini dibuat, sudah jelas bahwa tidak ada landasan riset yang membuktikan manfaatnya terhadap kemacetan. Dan beberapa pihak kuatir hanya akan menjadi gangguan terhadap anak sekolah yang harus berangkat sekolah lebih pagi. Sebelumnya, sudah ada banyak anak yang berangkat tanpa sarapan karena buru-buru. Dan Pak Gubenur dan Wagub tidak keberatan kalau anak-anak itu harus masuk sekolah lebih cepat lagi, atau dalam kata lain, lebih banyak anak yang menjadi buru-buru dan masuk sekolah tanpa makan. 
Juga pasti lebih banyak anak yang menjadi ngantuk di sekolah dan tidak belajar dengan baik. Kalau dalam beberapa bulan mendatang, nilai Ujian Negeri bagi semua anak di DKI berkurang, Pak Gubenur pasti tidak mau disalahkan juga dan malah akan menyalahkan anak-anak yang tidak belajar dengan serius (dalam keadaan lapar dan ngantuk).
Yang jelas, tidak ada pengaruh terhadap cucu-cucu Gubenur dan Wagub yang pasti masuk sekolah swasta. Mungkin suatu tindakan yang tepat adalah Pak Gubenur dan Wagub mulai dari diri sendir dan menjadi contoh yang baik, dengan pindahkan semua cucu dan anak dari saudara mereka (dari keluarga besar) ke sekolah negeri, dan wajibkan semua anak itu berangkat ke sekolah naik angkutan umum (bukan naik mobil mewah seperti sekarang, yang hanya bikin jalan macet!)
Sayangnya, Gubenur dan Wagub tidak keberatan melakukan esperimen terhadap warga kota dengan anak sekolah sebagai calon korban. Dan seperti diperkirakan, eksperimen yang terbaru itu sudah gagal. 
Sekarang bagaimana? Apakah mereka akan perintahkan semua sekolah negeri kembali ke jam sekolah yang lama? 
Dan eksperimen apa yang berikut dari mereka yang posisikan warga kota sebagai korban?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

2 comments:

  1. doa semoga tetap dipanjatkan

    ReplyDelete
  2. Kalau saya jadi decision-maker sebuah perusahaan otomobil multinasional,
    saya pasti akan mengacaukan semua usaha pemerintah kota-kota negara dunia ketiga untuk membenahi sistem transportasi massal mereka,
    sembari giat membangkitkan stimulus konsumsi gila warga berpendapatan tinggi di kota-kota tersebut terhadap produk korporasi saya.

    ReplyDelete