Monday, February 09, 2009

Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban



Jumat, 06/02/2009 17:46 WIB
Musdah Mulia: Tak Perlu Ditarik, Jangan Gampang Marah Kalau Dikritik
Niken Widya Yunita - detikNews

Jakarta - Staf ahli Departemen Agama Siti Musdah Mulia tidak setuju dengan seruan boikot Film Perempuan Berkalung Sorban. Ia menilai film itu justru mengungkapkan realitas penindasan terhadap perempuan dengan mengatasnamakan agama. Musdah menilai film itu tidak perlu ditarik dari peredaran.

"Saya membenarkan film ini mengangkat realitas. Dalam prakteknya seperti itu, sebagai umat Islam kita tidak suka agama kita membelenggu perempuan, ketinggalan zaman. Tapi pada kenyataannya memang masih banyak yang seperti itu," jelas dosen UIN Syarief Hidayatullah saat diminta tanggapannya, Jumat (6/2/2009). 

Musdah mengimbau umat Islam sebaiknya tidak gampang marah bila mendapat kritik atas praktek diskriminasi perempuan yang mengatasnamakan agama. Umat Islam harus jujur dan mengakui selama ini memang ada tokoh agama atau ulama yang sering mengajarkan pandangan yang salah tentang hak dan kewajiban perempuan Islam. 

 
"Film ini melawan pandangan salah yang selama ini ada di masyarakat, seperti ajaran melarang perempuan keluar rumah. Dulunya memang banyak yang seperti itu. Jadi jangan marah kalau dikritik," tegas perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang pemikiran politik Islam ini. 

Musdah menilai film yang diangkat dari novel karya Abidah Al Khalieqy ini tidak perlu ditarik dari peredaran. "Nggak perlu ditarik, kalau film ini dilarang, film Islam lainnya juga. Kalau diberikan satu warna masyarakat tidak punya alternatif. Islam itu berwarna-warni," pungkasnya.

Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya. Setting film ini rentang tahun 1980-an hingga 1998.

Imam besar masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub menilai film itu mencitrakan Islam sangat buruk dan telah melakukan fitnah terhadap pesantren. Ia menyerukan agar film itu tidak ditonton alias diboikot.

(nik/iy)

Sumber: Detiknews.com

6 comments:

  1. Dengan diributin seperti ini malah bikin orang-orang penasaran sama film ini, seperti iklan gratis saja. Padahal saya sudah lihat poster film ini sekitar sebulan yang lalu dan sepertinya tidak laku. Saya sendiri jadi penasaran.
    Coba para kyai, ustadz, ulama itu diam saja gak usah banyak komentar, film ini gak bakalan laku.

    ReplyDelete
  2. “Bagi yang ingin menonton film ini, berangkatlah dengan anggapan bahwa kita akan melihat suatu tontonan dan bukan tunutunan.”’

    isinya ga islami bgt. klo film islami tu setidaknya pake AlQuran n Hadits bwt dasar pa yang dilakukan. bukan buku2 dr barat!

    ReplyDelete
  3. diangkat dalam acara 'Debat' disalah satu TV, ehmm.sayangnya saya bukan pecinta film lokal..

    Saya suka2 aja ide-nya hanung bahwa film ini cuma untuk 'berkaca diri' sebuah kritikan agar kedepan ummat islam di indonesia bisa lebih baik etc..

    Ternyata banyak juga yang kontra..
    dan terlalu emosional ketika protes.

    Kyai juga hanya manusia biasa, walau dia selalu diposisikan sebagai seorang teladan di masyarakat, mereka juga ga lepas dari perbuatan khilaf layaknya manusia biasa>>> tapi sayangnya saya melihat statement narasumber yg kontra: berkesan kyai itu ga pernah berbuat salah??..,
    jadi terlalu melebar diskusinya.

    kalau ga salah pesantren juga termasuk hasil akulturasi budaya, ketika islam masuk ke nusantara mengadaftasi dari Hindu(narasumber yg bilang bahwa ini budaya islam??) hasil akulturasi sebenarnya...,

    saya ga peduli, mau laku apa engga tuh film,
    hanung cuma mencoba kritik dengan bahasa visual yg dia bisa..., saya cukup mengapreasi karyanya.

    Tapi terlalu banyak yg kontra, dengan komentar berbagai rupa..
    bikin film kan ga semudah bikin telur mata sapi.....>

    coba ketika anda disodorkan script dan hal lainnya, bikin film.
    apa anda yakin, karya anda lebih baik...

    saya cuma bikin dokumenter 15 menit aja, menggali ide2 agar sampai ke audience, setengah mampus produksinya, apalagi sineas beneran....

    ahh jangan2 cuma strategi marketingnya tuh film aja kali ya..biar dikomentarin.., ya siapa tahu..:)

    ReplyDelete
  4. upps bukan berarti saya ngedukung film itu ya..cuma ngomentarin 'debat' yg terlalu melebar di TV gara2 film ini.

    semoga ummat islam bisa lebih bijak dan cerdas lha melihatnya permasalahannya.

    Salam.
    Inot

    ReplyDelete
  5. menurut saya, biarkan saja film ini berada dalam suasana kontroversi. Karena akan menjadikan semuan untuk intropeksi diri. Kebanyakan pola pesantren Indonesia jg tidak menggambarkan arena pendidikan Islam yg mumpuni yg menjamin ilmu agama Islam akan dapat dikuasai. Buktinya banyak alumni2 pesantren yg tdk mampu memberikan pencerahan bagi umat. Umat Islam yg rusak masih sangat banyak kan ! Alhamdulillah sistem pendidikan Islam saat ini telah mengalami reformasi dan kembali ke hakekat awal Islam yg sebeanrnya yaitu Alquran hadist. Biarkan kontroversi ? Akhirnya nanti orang2 pada rame2 untuk belajar posisi Wanita dalam Islam. Pasti semua kembali ke alquran hadist, akhirnya ilmu agamnya makin oke. Karena pasti banyak umat Islam yg tdk tahu posisi wanita dlm Islam berdasar quran hadist.
    Jadi intinya adalah akhirnya nanti seluruh pemirsa peminat film tersebut akan belajar Islam lebih dalam lagi dan kebenaran abadi qura dan hadist kembali lagi. Amin !

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum.

    Setelah membaca artikel "Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban" aku ingin menuliskan sesuatu yang mungkin bisa diambil manfaatnya.

    aku sama sekali tidak mengkritik film ini dari sisi agama karena memang pemahaman agama saya masih pas-pasan.

    aku hanya sedikit ingin menanggapi bagian ini: "seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya".

    - Mengenai perempuan tidak boleh jadi pemimpin;

    QS. 4 (An-nisaa') ayat 34: "Laki-laki itu pemimpin bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita),......"

    Dan masih ada hadist shahih tentang kepemimpinan yang menyangkut wanita menjadi pemimpin.

    - perempuan tidak boleh naik kuda,

    coba kita baca penggalan artikel ini:

    Wanita Di Saudi Arabia

    Selasa, 27 Februari 2007 16:07:11 WIB

    Ucapan kotor Ulil, "Inilah yang terjadi di Saudi Arabia, negeri Wahabi itu. Karena perempuan dianggap hewan, tidak boleh nyetir mobil. Itulah negeri Saudi Arabia, negeri Wahabi itu, apakah negeri semacam ini akan diikuti saudara saudara? ! ". Jawabnya : Ini kontradiksi ; sebab larangan nyetir mobil itu untuk menjaga kehormatan wanita. Sekiranya perempuan dianggap hewan oleh Saudi Arabia, tentu akan dibebaskan nyetir mobil seperti keinginan Ulil, yang sebenarnya juga keinginan musuh-musuh Islam?! Sebenarnya, apa beratnya bagi pemerintah Saudi memberikan kebebasan kaum wanita nyetir mobil. Bukankah itu malah menguntungkan mereka?! Anda bisa membayangkan, entah berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk mengambil sopir-sopir dari luar negeri -terbanyak adalah negeri kita Indonesia-. Namun, untuk membendung kerusakan yang lebih besar, mereka rela mengeluarkan dana yang cukup besar. Tidakkah anda menyadari hal itu?!

    ( mungkin ini bisa dianalogikan dengan berkuda).

    - perempuan tidak perlu berpendapat;

    Siapa yang bilang perempuan tidak perlu berpendapat? Kalau kita belajar Islam, tentu kita akan paham tentang cerita serang wanita yg menginterupsi pidato Khalifah Umar bin Khotob RA, ketika beliau sedang berceramah mengenai mahar wanita, dan Khalifah Umar bin Khotob RA kemudian menerima pendapat sahabiyah tersebut.

    - perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya;

    Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata: Berkata Rosululloh: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk mengadakan safar lebih dari tiga hari kecuali bersama ayah, anak laki-laki, suami, saudara lakilaki atau mahromnya yang lain."

    (coba bandingkan hadist ini dengan pernyataan di atas, ada bedanya kan? dalam hadist ini ada batasan waktu dalam keluar rumah, jadi tidak asal keluar rumah).

    aku menampilkan beberapa tulisan ini hanya sekedar untuk dibaca dan sebagai alat pembanding bagi yang selalu menjelekkan Islam karena pengetahuan tentang Islam kita yang masih terbatas sehingga kita belum bisa memahami makna dari alquran dan hadist sebagaimana Rosululloh Sholallohualaihiwasalam.

    mohon maaf bila ada yang salah, aku mencintai Islam sedalam aku punya cinta dan aku yakin tidak ada yang salah dalam Islam.

    Wasalamualaikum

    ReplyDelete