Monday, February 09, 2009

SD Islam Yg Tidak memperhatikan Kualitas

[email dari orang tua di milis pendidikan]

Dear all,
Saya orang tua murid kelas-1 yg anaknya bersekolah di salah satu SD swasta Islam di Bandung Timur. Ijinkan saya untuk menumpahkan uneg-uneg di milis ini. Kebetulan saya mengenal nama seorang guru SD (wakil KepSek) tersebut di milis ini.

Ada beberapa hal yg mau saya ungkapkan :1. Sering terjadinya guru yg mengundurkan diri. Dan tahun 2008 lalu ada 5 guru yg keluar. Alasannya sangat membuat hati saya sedih yaitu gaji yg sangat kecil. Bayangkan ada Yayasan yg "tega" menggaji seorang guru dg gaji dibawah Rp.500 ribu perbulan ? Dan mayoritas guru-gurunya digaji dibawah 1 juta/bulan. Tolong yaa pak disampaikan ke ketua Yayasannya, utk memperhatikan kualitas pengajaran dg memberikan gaji yg layak !!! Kemana tuh pak uang yg cukup besar mengalir masuk ditiap tahun ajaran baru ? Belum lagi SPP nya yg sangat besar ? Kenapa Ketua Yayasannya tidak memperhatikan mutu pengajaran dg memberi gaji yg layak kpd guru-guru ???

2. Akibat banyaknya guru yg mengundurkan diri, sekolah jadi "limbung". Dan hebatnya lagi, sampai minggu kedua diawal tahun ajaran baru, guru pengganti belum ada. Bayangkan sebuah sekolah swasta yg bayarannya "mahal" sampai minggu kedua Proses Belajar Mengajar belum bisa berjalan normal ! Banyak guru senior yg merangkap utk mengajar karena guru pengganti belum ada. Baru pd minggu ketiga masuk guru pengganti. Tolong hal ini jg disampaikan yaa pak ke Ketua Yayasannya.

3. Ini yg lebih dasyat lagi. Guru-guru baru tersebut akhirnya ditugaskan utk menjadi guru wali kelas di kelas-1. Selain mjd guru wali, guru-guru baru tsb juga diberikan beban utk mengajar hampir semua mata pelajaran. Bayangkan, anak-anak yg masih kelas-1 diajar oleh guru-guru yg belum berpengalaman mengajar di kelas-1. Kenapa bukan guru senior yg mengajar di kelas-1 ? Bukankah anak kelas 1 SD memerlukan sentuhan yg lebih dibandingkan anak-anak kelas atas ?

4. Guru-guru baru itu membawa anaknya yg masih bayi ke kelas. Di satu sisi saya iba melihat seorang ibu mengajar di depan kelas sambil menyusui anaknya. Atau sering kali harus meninggalkan kelas karena anaknya menangis diluar. Seharusnya guru-guru spt ini jangan dijadikan guru wali utk anak kelas-1. Kenapa tidak diberikan utk kelas yg lebih tinggi !!!

5. Tidak adanya proses transfer pengalaman dari guru senior kpd guru baru. Kami para ortu di kelas-1 bisa melihat begitu banyak kejadian dimana guru-guru baru yg belum berpengalaman mengajar anak SD kelas-1 dilepas begitu saja !!! Begitu jg pd saat acara Camping, terjadi kekacauan dilapangan akibat tidak adanya kekompakan team sesama guru.

Dan masih banyak banyak lagi uneg-uneg yg mau saya sampaikan disini seperti misalnya tidak ada koordinasi guru di sekolah, pengawasan makan siang, baju seragam, buku, dll. Insya Allah akan saya tulis lagi berbagai uneg-uneg saya tersebut.

Mohon uneg-uneg saya tersebut ditindaklanjuti oleh Ketua Yayasan dan Kepala Sekolahnya. Saya akan pantau adakah tindaklanjutnya. Jika tidak ada tindak lanjutnya akan saya sebutkan nama SD tersebut di milis ini dan milis-milis lainnya. Terus terang, hampir 80% ortu kelas-1 kecewa dg keadaan SD tsb. Uang masuknya lumayan mahal lho. Dan mereka yg kecewa ini menyatakan tidak mau memasukkan anak-anaknya yg lain ke SD tsb. Silahkan buat survey kpd ortu utk kelas-1, insya Allah mereka menyatakan KECEWA dg kondisi SD ini. Dan mungkin ortu di kelas atas jg kecewa. Saya tantang anda utk membuat survey ini kpd ortu.

Terima kasih,
Cici

5 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr wb

    Persoalan yang Bu Cici hadapi kok mirip dengan masalah yang saya dan teman-teman saya alami juga ya,jadi saya paham betul apa yang bu Cici rasakan sekarang atau mungkin itu memang hal yang banyak dialami oleh sebagian SD Islam.

    Kadang guru-guru dan kepala sekolah tidak punya posisi yang terlalu bisa menekan pihak yayasan, boikot yang bisa dilakukan hanya mengundurkan diri dari sekolah sebagai bentuk protes atas ketidak pedulian pihak yayasan, tapi yang jadi korban adalah anak didik dalam hal ini, karena pihak yayasan tentu dengan mudah mendapatkan guru pengganti tanpa memikirkan kualitasnya.di sekolah teman saya lebih parah, guru yang vokal dalam menyampaikan aspirasi malah diminta mengundurkan diri oleh yayasannya, jadi seakan-akan pihak guru tidak boleh punya aspirasi, apapun perlakuan yayasan harus terima, kalau tidak silahkan cari tempat mengajar lain, semakin banyak guru baru maka semakin murah sistem penggajiannya jadi hal itu tidak menjadi masalah buat yayasan.

    Sebenarnya yang punya power adalah pihak orangtua murid dan komite sekolah karena dari merekalah uang yayasan terkumpul ( SDI swasta ), coba orangtua dan komite sekolah buat aksi yang membuat pihak yayasan bisa membuka mata, atau ancaman untuk menarik siswa dari sekolah tsb juga cukup ampuh menurut saya, kalau murid makin berkurang tentu pihak yayasan baru bisa mengevaluasi diri.

    Dari pengalaman tsb, alhamdulillah sekolah tempat saya mengajar sekarang sudah agak lebih baik, setelah evaluasi dalam segala hal tentunya, baik pihak yayasan, guru, kepala sekolah dan komite sekolah tentunya.Tahun kemarin sudah tidak ada lagi guru yang keluar.

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum wr wb

    Persoalan yang Bu Cici hadapi kok mirip dengan masalah yang saya dan teman-teman saya alami juga ya,jadi saya paham betul apa yang bu Cici rasakan sekarang atau mungkin itu memang hal yang banyak dialami oleh sebagian SD Islam.

    Kadang guru-guru dan kepala sekolah tidak punya posisi yang terlalu bisa menekan pihak yayasan, boikot yang bisa dilakukan hanya mengundurkan diri dari sekolah sebagai bentuk protes atas ketidak pedulian pihak yayasan, tapi yang jadi korban adalah anak didik dalam hal ini, karena pihak yayasan tentu dengan mudah mendapatkan guru pengganti tanpa memikirkan kualitasnya.di sekolah teman saya lebih parah, guru yang vokal dalam menyampaikan aspirasi malah diminta mengundurkan diri oleh yayasannya, jadi seakan-akan pihak guru tidak boleh punya aspirasi, apapun perlakuan yayasan harus terima, kalau tidak silahkan cari tempat mengajar lain, semakin banyak guru baru maka semakin murah sistem penggajiannya jadi hal itu tidak menjadi masalah buat yayasan.

    Sebenarnya yang punya power adalah pihak orangtua murid dan komite sekolah karena dari merekalah uang yayasan terkumpul ( SDI swasta ), coba orangtua dan komite sekolah buat aksi yang membuat pihak yayasan bisa membuka mata, atau ancaman untuk menarik siswa dari sekolah tsb juga cukup ampuh menurut saya, kalau murid makin berkurang tentu pihak yayasan baru bisa mengevaluasi diri.

    Dari pengalaman tsb, alhamdulillah sekolah tempat saya mengajar sekarang sudah agak lebih baik, setelah evaluasi dalam segala hal tentunya, baik pihak yayasan, guru, kepala sekolah dan komite sekolah tentunya.Tahun kemarin sudah tidak ada lagi guru yang keluar.

    ReplyDelete
  3. Mohon di sebutkan initialnya sehingga kita2 yg sedang mencari SD akan lebih hati2 dlm memilih. Tks

    ReplyDelete
  4. Assalamu alaikum .

    Mohon diinformasikan SD mana? kalao tidak secara jelas, inisialnya saja seperti koment saya di atas..saya jadi bingung dengan info ini..jadi kesannya semua SD Islam jelek..

    terima kasih

    wassalam

    ReplyDelete
  5. Istri saya mengajar di sebuah SD Islam di wilayah Bandung Timur. Ia kerja (mengajar) dari pukul 07.00-16.00, kadang-kadang ada pembinaan hingga pukul 17.30. Gaji perbulan kurang dari 1 juta, karena 1 hari digaji sekitar Rp 35.000 an! Guru pun tidak mendapat jatah makan (atau kalau tidak salah, gaji Rp 35.000, itu gaji mengajar 30.000, jatah makan sehari 5.000). Ada kegiatan di luar mengajar, seperti rapat, pembinaan, pembimbingan siswa (fild trip), ulangan atau kegiatan lainnya, guru tidak mendapatkan kompensasi, mungkin hanya nasi bungkus alakadarnya.
    Saya sering berpikir, begitu terhinanya istri saya sebagai guru. Betapa tidak manusiawinya pemilik yayasan memperkerjakan para guru. Padahal konon tiap ngomong selalu berbumbu islami entah sok islami, selalu ada pembinaan-pembinaan yang dilakukan ke guru yang adalah doktrinasi agar guru ikhlas mengajar, guru taat kepada yayasan … bla ... bla ... sungguh ironis, .... padahal sekolah tersebut bukan sekolah gratisan atau murahan, bukan sekolah yatim piatu atau panti asuhan .... Konon, biaya masuk belasan juta, SPP ratusan ribu rupiah .... Mungkin nama Islam hanya dijadikan kedok atau kendaraan saja dan guru jadi sapi perasan ...
    Kini istri saya dan hampir 9 orang guru lainnya mengundurkan diri dari sekolah tersebut, dan konon memang tiap tahun selalu ada banyak guru yang mengundurkan diri, namun sepertinya pengunduran diri guru yang "keroyokan" itu tidak pernah dijadikan bahan evaluasi bagi pihak yayasan/sekolah. Mereka selalu berdalih, "Biarin guru pada keluar juga, karena pelamar yang lain masih berjubel". Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun ...

    ReplyDelete