Wednesday, February 18, 2009

Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film PBS

Thursday, 12 February 2009 18:46

Awas, ada propaganda paham liberal yang menyusup dalam dunia perfilman. Demikian ujar sutradara Chaerul Umam mengomentari film Perempuan Berkalung Sorban (PBS)
Hidayatullah.com--Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) tak hanya menuai kritik di kalangan ulama dan umat Islam. Tak urung, kalangan sineas sendiri ikut-ikut gerah. Kritik datang langsung dari Chaerul Umam, mengatakan. Fim PBS tidak hanya melecehkan Islam, namun juga mengandung unsur propaganda politik.

"Film tersebut mengandung propaganda politik. Bagaimana tidak, dunia pesantren dicitrakan sangat buruk. Dan secara tidak langsung, seluruh pesantren memiliki kultur demikian," ungkap Chaerul kepada www.hidayatullah.com.
Chaerul menyayangkan, banyak siaran talkshow sebagaimana acara debat yang difasilitasi stasitun TV one baru-baru ini yang menghadirkan Hanung Bramantyo sang sutradara.
Menurutnya, hal itu hanya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk ber-hujjah (berpendapat) dan bersilat lidah. Dengan demikian, dia dapat menyakinkan masyarakat. Padahal, dalam dunia seni hal tersebut tidak boleh dilakukan.
"Seharusnya yang membedah kontroversi itu adalah pihak lain, baik yang kontra maupun yang pro. Namun bukan dari pihak Hanung sebab, itu setali tiga uang. Celoteh nya pasti tidak cover both side," tuturnya.

Sebagai seorang sutradara senior, Chaerul mengetahui ketidakseimbangan (unbalance) dalam film tersebut. Bagimana kisah buruk kiyai dan pesantren yang di-blow up secara sepihak. Sedangkan pesantren dan kiyai yang bagus tidak disentuh.
Chaerul tidak hanya setuju dengan keputusan MUI yang menyuruh agar film tersebut ditarik dan direvisi, lebih keras lagi, Chaerul juga beranggapan bahwa film tersebut sudah tidak layak lagi direvisi.

"Untuk apa film PBS ditarik dan direvisi, film tersebut dibuang saja, tidak ada yang perlu direvisi,"tuturnya. Kecuali, jika Hanung mau menampilkan realitas pesantren secara jujur dan equal (setara), maka film tersebut bisa direvisi. "Itupun sangat banyak sebab, terlalu banyak kesalahan," imbuhnya.
Menurutnya, banyak adegan yang cukup menyulut kemarahan masyarakat dalam film tersebut. Dalam film itu banyak adegan yang jahili. Bahkan mengadopsi gaya-gaya Kristiani. Seperti, Annisa tokoh utama (PBS) yang mengajak Khudori bekas pacarnya untuk berzina di kandang kuda. Belum sempat kejadian itu terlaksana karena Khudori menolak sudah keburu ketangkap basah. Kemudian ditangkap dan disuruh dirajam. Hanya dengan bukti jilbab yang dicopot rajam pun dilakukan.
"Di adegan ini, secara fiqhiyah saja sudah salah. Namun, rajam tetap dilakukan," tutur Chaerul. Tidak hanya itu, ibu Annisa menghalang-halangi. Dia membolehkan, asal si pelempar bersih tidak memiliki dosa. Bukankah ini cerita Kristen seperti Makdalena yang yang mau dirajam. Tiba-tiba datang Yesus yang kemudian membolehkan rajam asal si perajam tidak berdosa?.
Dari bukti-bukti inilah, menurut Chaerul, sebenarnya film PBS termasuk dalam pelecehan agama. Dan bisa dibawa ke pengadilan dengan dalih penistaan agama.
Menurutnya, dalam hal ini, MUI harus menjadi mediator ke pengadilan. Sebab, jika pencegahan tersebut tidak cepat dilakukan, maka ditakutkan respon masyarakat akan bergerak.

Selain pembuat film, menurut Chaerul, yang paling bertanggung jawab adalah LSF. Sebab, lembaga ini telah meloloskan PBS.
Propaganda paham Liberal
Ketika ditanya bagaimana caranya agar insan perfileman tetap kreatif tanpa harus tergelincir masalah sensitif, seperti masalah SARA. Menurutnya, sebenarnya, hal itu tidak akan terjadi jika para sineas jujur dalam membuat film tanpa ada propaganda terselubung. Dan hal itu tidak akan mematikan insan film dalam berkreasi. Menurut Chaerul, tolok ukurnya cukup sederhana, yakni bisa mengangkat masalah apa saja asal solusinya baik.
"Yang jelas, adegan dan solusinya Islami. Jangan adegannya islami namun solusi jahili, kemudian dikatakan film religi, " jelasnya.
Seperti adegan perzinahan dan kemesraan diadegankan secara vulgar. Padahal hal tersebut sangat berbahaya.
"Masalah sentuhan saja sudah dipermasalahkan dalam masyarakat, apalagi pemerkosaan," katanya. Secara sepintas ia menilai, Hanung sengaja ingin meniru-niru Barat dalam membuat film.

Padahal masyarakar sekuler beda dengan Indonesia yang agamis. "Di Barat, agama adalah agama, sedangkan film adalah film," tegas Chaerul.
Chaerul beranggapan bahwa virus liberalisme, terutama dalam hal bisnis yang menghalalkan segala cara telah memasuki dunia perfilman nasional sekarang ini. Untuk mendapat banyak simpati dan untung tinggi, mereka melakukan beragam cara. Salah satunya liberalisasi film.
Chaerul Umam menyarankan, agar pembuat film harus membawa penasihat. Setidaknya, sebelum proses dan ketika proses ataupun hasilnya harus dikonsultasikan dengan penasihat ahli.
Sebagaimana diketahui, Chaerul Umam mulai dicatat sebagai sutradara yang baik lewat film "Al Kautsar", tahun 1977, produksi PT Sippang Jaya Film, dan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". [ans/hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

2 comments:

  1. Assalamualaikum Wr Wb,

    Itulah kalau belajar islam ngga scr kaffah, kalau dari sudut si hanung yg penting profitable, mslh itu syarii or ngga no dua, apalagi skrg film yg beraliran religi lagi diminati.

    Ybs ngga mau tahu diprotes or not, the show must go on, utk skrg yg penting minimal balik modal ngkali ya.

    Sangat disayangkan byk sineas muda kita yang keblinger, gembar gembor menginginkan kebebasan dlm berkreasi tanpa ada rasa tanggung jawab moral, yg lbh parah lagi mereka menuntut agar lembaga sensor (LSF) dihapuskan & juga penghapusan thd UU pornografi alasannya krn not adjustable with the existing condition, wah kalau sdh begitu mau di bawa kemana the next generation. Aliran kebebasan yang menjadikan keblabasan.

    Saya pernah berkunjung ke beberapa pesantren, misalnya Nurul Fikri di anyer, tempatnya nyaman untuk belajar, murid mereka byk yg jadi juara olimpiade matematika, fisika, fasilitasnya juga bagus ada studio music, lab computer, lap basket, voli, bola & in door swimming pool, pokoknya modern. Bbrp minggu yg lalu saya juga mengunjungi pesantren Assyifa di sadang purwakarta, bangunannya termasuk baru mgkn 2 thn & ada bbrp tower utk asrama puteri/a ktnya sih dananya dari middle east pemiliknya org hamas, bagus banget, bersih & rapi.

    Untuk masuk ke dua pesantren tsb diatas ngga mudah, ada ratusan org mendaftar dlm sehari, biasanya pendaftaran di buka sebulan, belum lagi testnya, ada test IQ, test bbrp mata pelajaran, hafalan & bacaan Al Quran. Saya lihat sendiri & berpikir betapa beruntungnya orang tua yg anaknya diterima di tempat tsb, Subhanallah.

    Jadi sangat disayangkan kalau si hanung, buat film mundur lagi ke bbrp tahun yg lalu zaman kuda gigit besi, jadi membuat image negative thd pesantren, kasian bg para org tua yg sdh susah payah merayu anaknya utk msk pesantren, krn si anak menonton film tsb jd phobia sama pesantren.

    Jika ingin membuat film kebebasan perempuan kenapa harus mengambil background pesantren dan juga kenapa dialognya di luar nilai keislaman, ehm sgt disayangkan ya, lulus sensor lagi, nanti ujung-ujungnya SARA, ada baiknya bagi mereka yang memang berencana membuat film bernuansa islami agar berkonsultasi dulu dgn pihak yg mengerti nilai keislaman (baik fiqih, tauhid, tarikh) dari ulama/ kyai atau MUI agar pesan yang disampaikan di film tidak menyimpang & dpt dipertanggung jawabkan.

    Maaf , mungkin ada yg tidak setuju dgn pendapat saya or masih ada kekurangan, ditunggu masukan nya ya.


    Wassallam,
    faza

    ReplyDelete
  2. assalmkm..
    za..sayangnya kamu cuma berkunjung, dan belum tahu kehidupan di dalamnya seperti apa, ya kalo masalah ngomongin banyak prestasi yg dicetak lembaga pesantren, bukan main banyaknya, Dan saya tidak memungkiri itu. Apalagi jika pesantren sudah masuk kategori modern dsb...
    Tapi saya juga ga mau membantah, kerikil2 kecil yang diangkat film itu, realitanya sebenarnya masih terjadi di masyarakat, khususnya yang masih memegang teguh model pesantren tradisional, tapi mungkin yang ditampilkan film tersebut emang kurang balance...
    sehingga menimbulkan banyak pro kontra, apalagi bagi orang yang sama sekali tidak pernah tahu kehidupan berstatus santri.

    Saya pernah ketika jadi jurnalis amatiran, silaturahmi ke pesantren2 yg saya rasa cukup punya nama besar di jawatimur dan indonesia, banyak fakta yang menarik, yang mungkin ga bisa saya bagi semuanya disini, kadang ada peraturan2 yg untuk orang diluar kalangan pesantren sangat tidak masuk akal, tapi sukses diterapkan.

    seharusnya juga hal seperti itu jadi pembelajaran, kita ga bisa hanya bisa protes dan mencap mereka memiliki agenda terselumbung dengan kata liberalisme dsb.
    Inti permasalahannya tetap menyangkut hak perempuan yg menurut saya temanya sebenarnya sangat umum sekali, cuma mungkin settingnya dilingkungan pesantren dan kyai yang menimbulkan polemik besar dan jadi terkesan serampangan, orang jadi mengaburkan 'cerita'nya dan lebih fokus ke isu pesantren dan hal2 lainnya.

    maaf ya saya ga mengkritik statement siapapun, cuma sekadar share s dan bukannya saya jadi lebih tahu tentang pesantren, setidaknya saya pernah tahu tinggal disana, dan lingkungan rumah juga ada beberapa pesantren kecil, insyaalloh emang ga sesuai dengan penggambaran film itu, kyai-nya gaul kok:)

    salaam

    ReplyDelete