Saturday, February 28, 2009

Warga "Tonton" Klinik Aborsi Johar Baru

Sabtu, 28 Februari 2009 | 14:34 WIB
Laporan wartawan Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, SABTU — Klinik aborsi milik Hj Atun dikerumuni puluhan warga, Sabtu (28/2). Klinik yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara II Blok B 20, Johar Baru, Jakarta Pusat, itu digrebek pihak Kepolisian Sektor Johar Baru kemarin. Pemiliknya, Hj Atun serta dokter yang melakukan praktik aborsi, Dr Agung, sudah diamankan pihak kepolisian.

"Pengin tahu aja, lihat di TV kok heboh," ujar Riska, warga Senen, Jakarta Pusat, yang datang bersama suaminya.

Riska mengatakan ingin melihat proses penggalian yang kabarnya akan dilakukan pada hari ini. Warga lainnya, Dodi, mengaku tenang dengan terungkapnya praktik ilegal itu. Selama ini, dikatakan Dodi, warga resah dengan praktik klinik yang telah berjalan 10 tahun itu.

"Kan banyak juga calonya berkeliaran. Warga resah, tapi enggak tau mau gimana," ujarnya.

Hingga pukul 14.30, aparat kepolisian belum terlihat di lokasi. Kabarnya, polisi akan kembali melakukan penggalian di klinik yang berplang praktik Dr Abdullah itu. Selain di klinik, kemungkinan penggalian juga akan dilakukan polisi di rumah Hj Atun, yang hanya berjarak beberapa rumah dari klinik tersebut.

Sumber: Kompas.com


Penyidikan Aborsi Lanjut ke Dua Rumah Mewah
Jumat, 27 Februari 2009 | 21:38 WIB

JAKARTA, JUMAT — Penyidik dari Polsek Johar Baru tidak hanya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di klinik aborsi yang terletak di Jalan Percetakan Negara II Jakarta Pusat. Setelah melakukan pemeriksaan dan pembongkaran saluran air, malam ini penyidikan juga dilanjutkan ke dua rumah mewah milik Atun.

Salah satunya terletak tak jauh dari klinik aborsi berada. Polisi masih mencari barang bukti praktik aborsi yang diperkirakan telah berlangsung 10 tahun dan melayani 1000 kali aborsi per tahun.

Sejauh ini, tim Polsek Johar Baru telah membongkar tiga titik di klinik milik Atun. Dua titik itu adalah saluran air di teras dan WC di lantai dua. Selain itu, tim juga membongkar saluran air yang terhubung ke ruang eksekusi di lantai tiga. Di saluran air itu, ditemukan embrio-embrio yang telah membusuk.

Sementara itu, salah satu tersangka yang juga pemilik klinik, Atun alias Siska, dipindahkan ke Polsek Johar Baru karena mengalami depresi. Sebelumnya, Atun diinterogasi oleh pihak kepolisian karena bersikap tidak kooperatif kepada tim penyidik dalam proses olah TKP.

Namun, Kapolsek Johar Baru menyangsikan kondisi Atun. "Ah, itu hanya permainan otak saja. Saya tidak percaya," ujar Kapolsek Johar Baru Kompol Theresia kepada wartawan, Jakarta, Jumat (27/2) malam.

Sumber: Kompas.com

9 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr wb

    Sebegitu tak berharganyakah nyawa manusia...

    Zaman jahiliyyah bayi-bayi yang dibunuh adalah bayi yang berjenis kelamin wanita, karena saat itu mempunyai anak perempuan adalah aib buat mereka, tapi sekarang di zaman yang manusianya mengaku beradab, membunuh bayi-bayi sebelum mereka tahu apa jenis kelaminnya.

    Bayangkan kalau klinik itu sudah berpraktek selama sepuluh tahun, lalu setahunnya bisa melayani 1000 kali aborsi, berapa ratus ribu nyawa yang sudah mereka bunuh dan mereka akhiri hak hidupnya...

    Harusnya pelaku-pelakunya dihukum seberat-beratnya karena bukan saja sudah melakukan pembunuhan berantai tapi juga pembunuhan berencana ! Bahkan terorganisir pula...

    ReplyDelete
  2. Berarti ada kemajuan dalam masyarakat kita. Di zaman Jahiliyah, sebelum Rasulullah SAW, orang membunuh janin perempuan saja karena dianggap tidak bernilai. Sedangkan di zaman Jahiliyah modern ini, orang tidak lagi diskriminatif dan siap membunuh janin perempuan dan laki-laki juga, karena dua-duanya dinilai tidak berguna. Janin dan kehamilan tersebut akan mengganggu perzinaan anak remaja itu yang tidak diketahui oleh orang tua mereka.
    Pengaruh untuk berzina besar sekali di zaman jahilyah sekarang. Ada contoh buruk dari sinetron setiap hari, dari teman kampus, saudara dll. Dari internet apa lagi. Ada situs khusus untuk orang Indonesia yang tayangkan film2 porno buatan sendiri (amatuer). Di situ, kelihatan saudara2 kita yang bukan saja berzina tetapi upload filmnya ke internet untuk dilestarikan sepanjang zaman. Kalau ada orang yang download dan simpan film2 itu di lain situs, atau hard disknya, berarti film itu tidak bisa dihapus sepanjang zaman. Contohnya, film Yahya Zaini dan Maria Eva masih gampang dicari dan tidak bisa dihapus sama sekali.
    Dulu, aku pernah masuk salah satu situs tersebut, sambil jelaskan ke teman saya yang rajin berceramah (seorang ustadz). Saat itu, ada sekitar 500 orang online, melihat semua film2 yang tersimpan.
    Setiap film yang di-upload ada tanggal dan jamnya. Kelihatan bahwa pada hari itu saja, sekitar 150 film baru di-upload. Sambil kita diskusi ttg pentingnya menyebarkan informasi ini kepada para orang tua di pengajian dan masjid (supaya mereka bisa lebih rajin memantau anak remajanya, dan memperkuat keimanan mereka), kelihatan bahwa 5-6 film baru di-upload dalam 3 menit.
    Ustadz itu kaget setengah mati, karena baru tahu ada yang seperti itu di internet, yang dibuat oleh orang indonesia.
    Kalau ada teman yang membicarkan topik ini di dalam pengajian atau di masjid, tolong jelaskan kepada ibu dan bapak untuk tidak terlalu percaya kepada anak remajanya, khusunya soal tinggalkan mereka di rumah sendirian (yang membuka kesempatan untuk telfon teman perempuan, dan banyak film di internet kelihatan direkam di rumah pribadi dan kost). Juga lebih baik jangan kasih komputer dan internet kepada anak remaja di dalam kamarnya, tetapi taruh di tempat terbuka dengan layar diarahakan keluar supaya kelihatan dari jauh (jangan taruh supaya layar menghadap tembok).
    Memang tidak bisa aman 100% dan kalau ada anak remaja yang mau sekali berzina, dia pasti akan bisa cari tempatnya, dan sesudah itu pasti bisa ketemu klinik aborsi. Yang bisa dilakukan orang tua hanya berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi kesempatan dan risiko, dan berusaha untuk menciptakan hubungan dekat dengan anaknya supaya mereka akan lebih hati-hati. Banyak anak yang tidak dekat dengan orang tua tidak mau bicara tentang masalah seksual, dan karena itu, mereka akan mencari informasi dari teman. Hasilnya sangat buruk.
    Semoga orang tua bisa menyadari peran mereka dalam masalah ini, dan belajar untuk bicara dengan anak remajanya supaya jumlah remaja yang berzina bisa dikurangi.
    Semoga bermanfaat,
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  3. Astagfirullah... Na'udzu Billahi min Dzalik. Sama seperti ustadz itu, aku juga tidak sangka kalo sampe separah itu aktivitas pornographi bangsa ini. Masya Allah.

    Aku punya temen di kantor yang lagi bingung menghadapi anaknya. Dia berusaha tegas untuk tidak membiasakan dan membolekan anaknya nonton TV tapi di satu sisi karena ada internet, anaknya jadi ketagihan dengan internet. Anaknya umur 5 tahun itu sudah familiar banget bahkan bisa download game sendiri ke internet. Sementara ibu dan bapaknya bekerja, mostly seharian tidak di rumah. Secara kasat mata, tidak ada yg mengawasi aktivitasnya dgn internet. Dan temenku sudah mulai khawatir.

    Gene, aku numpang copy komentar ini untuk temenku.
    Terimakasih.

    Wassalam.
    Irma

    ReplyDelete
  4. Hehe...bukan kemajuan dong Pak Gene, tapi keterbelakangan bahkan lebih parah dari zaman jahiliyah.

    Sebagian besar yang datang ke klinik-klinik aborsi ya orang-orang yang hamil diluar nikah untuk menutupi hasil perbuatannya, mirisnya pera pelakunya tak pernah punya rasa malu karena telah berzina.

    Saya cukup sering bergaul dengan anak-anak ABG, kalau dengar cerita-cerita mereka tentang teman-teman nya memang sangat mengkhawatirkan, memang betul orang tua salahnya memberikan kepercayaan dan kebebasan penuh pada anak-anak remaja mereka, sebagian orangtua berpikir bahwa anak-anak remaja wajar saja punya pergaulan, pedahal andai mereka tahu pergaulan macam apa yang dimiliki oleh anak-anaknya, betul seharusnya kontrol tidak boleh lepas dari para orangtua.

    Tontonan-tontonan berbau pornografi memang sangat mudah sekarang untuk diakses, tidak dapat di rumah maka mereka akan cari diluar, di warnet, di rumah teman di jalanpun begitu mudah untuk mendapatkan media yang menawarkan pornografi, lalu bagaimana menjaga dan membentengi mereka dari hal-hal negatif tsb, bekalan agama dan arahan dari orang-orang dewasa menjadi sangat penting bagi para remaja, walaupun sulit tapi mereka harus tetap mendapatkan hak memperoleh pembekalan keimanan.

    ReplyDelete
  5. Astaga, masih orang tua segitu tidak paham!?! Tidak ada anak seumur itu yg boleh pakai internet secarab bebas. Yang bisa ganggu anak di internet, banyak sekali. Bukan hanya pornografi, tetapi foto2 kekerasan,kematian, pembunuhan, kecelakaan mobil dan pesawat, dll.
    Selain itu, dengan masuk situs2 secara acak, bisa kena virus dan spyware.
    Nama situs tidak menentukan aman. Aku pernah cari foto2 satelit Masjid Al Haram karena lagi dibahas sama teman. Aku cari di google, dan salah satu link yang masuk top 10 adalah situs porno.
    Tanpa log in atau apa2, langsung ada foto orang telanjang dan film org berzina (pakai Flash, jadi langsung jalan di layar kecil.)
    Bagaimana kalau anak ketik "disney" lalu buka link yang ternyata ada film porno, atau gambar org yang sudah mati dengan cara sadis?
    Beberapa waktu lalu, aku baca suatu kejadian di Itali, di mana seorang pendeta lagi mengajar anak SD ttg internet dan komputer di ruangan kelas di sebelah gereja.
    Setelah cari "permen" dan buka link, malah dapat situs porno seperti saya jelaskan di atas.
    Pendeta itu langsung marah sekali dan hubungi wartawan dan pemerintah (dan karena itu masuk BBC).
    Kalau orang tua begitu awam, tolong sampaikan pesan dari saya sebagai seorang guru: Anak di bawah umur 16 DILARANG KERAS menggunakan internet sendiri, dan kalau sudah mencapai umur 15-16, lebih baik kalau masih dipantau dan diberikan pengarahan.
    Kalau orang tua tidak di rumah, bisa beli software seperti Cyber-Nanny, dan lain2, yang akan BLOKIR semua situs kecuali yang sudah diizinkan. Itu lebih aman.
    Teman saya yang ahli IT punya anak berumur 8 tahun dan intenet dikasih, tetapi dengan program tersebut, supaya anak bisa lihat intenet (yang sudah diizinkan) tetapi tidak bisa lihat secara bebas.

    ReplyDelete
  6. Yah faktanya seperti itu. Thanks. I will deliver you message to my friend.
    Tadi sore setelah forward komentar awal gene diatas, temenku cerita kalo abis nelpon ke rumah dan ternyata anaknya itu (perempuan) masih asyik dgn internet dan yang makin membuat dia senewen adalah karena penjaganya malahan tidur. Mungkin karena melihat anak sudah anteng main (dgn internet), jadi ditinggal tidur.
    Dan temenku itu ngasitau kalo besok dia akan berusaha utk tegas. Dia akan mengunci semua terkait dgn internet dalam kamar sama seperti TV. Karena melarang anak nonton TV saat orang tua tidak di rumah, mangkanya TV dikunci dalam kamar.
    Berat nian amanah jadi orang tua, harus cerdas & tegas tapi tetep penuh cinta.

    ReplyDelete
  7. Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Saya rasa itu juga bukan solusi yang tepat, soalnya nanti anak malah kesal dan makin penasaran tentang internet.
    Perlu diatur saja. Misalnya, boleh pakai internet selama 1-2 jam, tetapi harus dipantau oleh babysitter. Situs yang boleh dibuka bisa ditentukan, dan bisa install software yang memblokir yang lain. Setelah waktu selesai, harus dimatikan dan main dengan yang lain.
    Anak kecil sebenarnya sangat suka peraturan karena dengan demikian dia menjadi sanggup mengatur dunianya. Justru sulit bagi anak kalau “peraturan” tidak jelas, dan karena itu dia harus nebak-nebak, dan pasti salah juga. Kalau hari ini boleh pakai computer, dan besok dilarang, berarti peraturan tidak jelas. Anak akan merasa didzholimi. Jadi, dia pasti protes dengan keras.
    Tetapi kalau ada peraturan yang jelas, dia bisa menyesuaikan diri.
    Internet boleh untuk 1 jam. Setelah itu tidak boleh. Kalau melanggar (nyalakan sesudah waktu selesai), berarti ada sangsi. Sangsinya, tidak boleh pakai computer selama 3 hari.
    Ini menjadi peraturan rumah, dan jelas. Ada hak, ada larangan, ada sangsi.
    Dan kalau anak nurut dengan baik, bisa ditambahkan bonus, mis. anak boleh pakai internet selama 3 jam pada hari minggu, dengan syarat ibu ada di rumah.
    Dan seterusnya.
    Banyak orang tua sebenarnya tidak pernah (atau kurang) belajar parenting. Dan basic dari parenting adalah ajaran dasar pendidikan. Jadi kalau mau menjadi orang tua yang baik, belajar sedikit tentang pendidikan.
    Tetapi kebanyakan orang tua tidak mau, dengan banyak alasan (sibuk, capek, tidak ada masalah, dll.)
    Hasilnya, bapak kerja, ibu kerja, anak dibesarkan oleh (maaf) orang kampung yang hanya lulus SD, dan pada waktu sabtu-minggu, bapak dan ibu juga ada banyak acara, sehingga tidak begitu memperhatikan anak dengan baik selain menyuruh mandi cepat dan ganti baju untuk pergi ke pesta lagi.
    Setelah menjadi remaja, anak sudah malas mendengarkan orang tua, mulai bergaul dengan orang yang tidak baik, eksperimen dengan alkohol, narkoba, seks, dll. lalu orang tua bertanya; “Kenapa anak saya menjadi rusak begini? Apa salah saya?”
    Dan dia merasa telah menjadi orang tua yang baik. Artinya orang tua yang baik dalam benak dia adalah: anak masuk sekolah swasta yang mahal selangit, kamar ber-AC ada, pembantu ada 3, anak tidak pernah perlu kerjakan apapun (household chores: cuci pakaian, ngepel, menyapu, cuci piring, masak, merapikan kamar dll.) dan bahkan tidak perlu berdiri untuk ambil air minum – bisa menyuruh pembantu. Komputer ada, internet ada, Playstation 3 ada, I-pod ada… bukannya sudah hidup sempurna itu???
    Tetapi yang tidak dipahami orang tua adalah yang paling dibutuhkan untuk perkembangan baik anak adalah waktu untuk duduk di lantai dan main dengan orang tua kandung. Banyak orang tua yang tidak mau. (“Ada babysitter, buat apa saya duduk di lantai? Saya mau cek email.”)
    Jadi, banyak anak yang menjadi besar tanpa banyak bimbingan dari orang tua, karena peran orang tua sudah diserahkan kepada orang lain: pembantu, babysitter, kakek-nenek, kakak kandung, guru sekolah, guru les, dan sebagainya. Orang tua kemudian kaget ketika anak mereka menjadi “rusak” karena mereka merasa bahwa kehidupan yang mereka kasih kepada anak sudah serba sempurna dari awalnya, jadi anaknya seharusnya menjadi genius, bukan anak nakal.
    Kalau orang tua mau belajar sedikit, banyak masalah bisa diatasi dengan mudah. Asal orang tua mau terlibat dalam proses pendidikan anaknya.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete
  8. Gene, makasih ya untuk saran dan informasinya.

    salam,
    *irma*

    ReplyDelete
  9. Aww.

    Mr. Netto thanks alot untuk comment terakhir & two thumbs up 4u!

    Orang tua HARUS mau belajar BANYAK karena mereka harus sadar benar bahwa anak adalah titipan Allah yg punya hidup & kehidupan sendiri.
    Ya Allah sudah dikasih rejeki keluarga koq enggan belajar sebagai wujud syukur karena karunia-Nya y. Astaghfirullah....

    Www.

    ReplyDelete