Friday, March 06, 2009

93,7 Persen Anak Indonesia Pernah Ciuman, Petting, dan Oral Sex

Senin, 2 Maret 2009 | 16:30 WIB

JAKARTA, SENIN — Banyak sekali orangtua sekarang terperangkap dalam ketidaktahuan dan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi maraknya peredaran materi pornografi, baik dalam bentuk keping cakram, video games, maupun komik. Padahal, anak-anak makin rentan terpapar materi pornografi yang pada akhirnya bisa menimbulkan kecanduan seks dan merusak otak.

Demikian disampaikan Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman dalam seminar bertema "Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia", Senin (2/3), di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta.

"Banyak orangtua tidak tahu harus berbuat apa ketika anaknya mogok sekolah, mulai kelas lima sekolah dasar sampai sekolah menengah atas karena main games tak henti-hentinya," kata Elly Risman. Hampir tiap hari ada saja berita tentang anak dan remaja berbuat mesum dan foto bugil yang ditayangkan, baik di televisi, maupun dinikmati rekan sebaya mereka.

Dalam Pertemuan Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas IV-VI sekolah dasar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tahun 2008 terungkap, 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah, dan koran.

Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27 persen), terbawa teman (10 persen), dan takut dibilang kuper (4 persen). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36 persen), rumah teman (12 persen), warung internet (18 persen), dan rental (3 persen). "Kalau kita jumlahkan, yang melihat di kamar pribadi dan di rumah teman, berarti satu dari dua anak melihatnya di rumah sendiri," ujarnya.

Adapun hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 menunjukkan, sebanyak 97 persen dari responden pernah menonton film porno, sebanyak 93,7 persen pernah ciuman, petting, dan oral sex, serta 62,7 persen remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama pernah berhubungan intim, dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah menggugurkan kandungan.

Kondisi ini terjadi karena mereka sudah terpapar pada pornografi sejak belia. Hal itu dikatakan Elly. Dari pertemuan Yayasan Kita dan Buah Hati dengan puluhan ribu orangtua di 28 provinsi ketika seminar, pihaknya menemukan rata-rata hanya 10 persen dari para orangtua yang bisa menggunakan peralatan atau permainan canggih yang mereka belikan untuk anak-anak mereka.

Bahkan, belakangan ini banyak situs internet dengan nama yang tidak terkait dengan materi seks ternyata mengandung materi pornografi. Beberapa dari situs itu bahkan menggunakan nama tokoh kartun yang digemari anak-anak seperti Naruto, serta memakai istilah nama hewan seperti lalat atau nyamuk yang biasanya dibuka anak-anak itu ketika mengerjakan tugas sekolah.

Mereka umumnya tidak tahu dampak negatif video terhadap kerusakan otak anak. "Kita berada dalam kultur abai pada anak sendiri. Di sisi lain, kita semua belum menganggap bencana pornografi itu sama pentingnya dengan masalah flu burung, HIV/AIDS, narkoba, dan penyakit-penyakit menular lainnya," ujarnya.

Maka dari itu, ia mengajak agar para orangtua, baik ayah maupun ibu, lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka sejak belia. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak lelaki, mengakibatkan terputusnya jembatan komunikasi antara orangtua dan anak. Hal ini membuat banyak anak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi.

Pemerintah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran materi pornografi, "Antara lain dengan membatasi atau memblokir situs-situs internet pornografi, menerapkan regulasi yang ketat terhadap video games, terutama yang mengandung materi tidak edukatif atau berbau pornografi," kata Elly.

Sumber: Kompas.com

#######

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya tidak 100% yakin dengan hasil survei ini. Masalahnya, kita tidak bisa memastikan bahwa anak2 tersebut menjawab survei dengan jujur. Bisa saja ada sebagian anak di antara mereka, terutama anak laki-laki, yang tidak begitu peduli dengan hasil yang dikumpulkan (karena tidak berpengaruh terhadap kehidupan mereka), dan karena itu, mereka merekayasa jawaban supaya merasa lebih hebat dan jagoan. 
Justru sangat mungkin seorang anak laki yang ditanya apakah pernah mencium perempuan, atau melakukan seks, dia akan menjawab iya, padahal belum. Dia hanya ingin merasa bahwa dirinya lebih jantan, dan tidak peduli pada hasil survei yang jadi rusak kalau dia jawab dengan cara yang tidak jujur. 

Benar atau kurang benar, hasil survei ini sebaiknya kita terima saja dulu sebagai tanda dari pergaulan remaja yang sudah tidak baik, dan sangat patut kalau para orang tua lebih memperhatikan kehidupan dan pergaulan anak remaja mereka. Sangat mungkin mereka pernah (atau sering) menonton film porno tanpa sepengetahuan orang tua. Dan kalau iya, ada pengaruh yang sangat besar terhadap pikiran mereka, yaitu setelah menjadi terbiasa nonton saja, menjadi terdorong untuk mencoba. 
Orang tua tidak bisa menjaga anaknya selama 24 jam, dan cepat atau lama harus mulai lepaskan mereka untuk menjadi orang dewasa. Salah satu kunci untuk mengatasi masalah ini adalah komunikasi. Orang tua yang sering bicara dengan anaknya tentang masalah pribadi dengan emosionalnya mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendidik anaknya supaya dia mau menghindari pergaulan yang tidak baik. 
Kalau anak justru tidak akrab dengan orang tua, sangat mungkin dia akan mulai melakukan eksperimentasi secara seksual (baik nonton saja, maupun bercoba-coba), dan sembunyikan semuanya dari orang tua. 
Kalau orang tua anggap anaknya “baik” dan tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu, saya rasa semua orang tua juga demikian. Banyak sekali anak yang pernah ceritakan kepada saya (sebagai gurunya) tentang kehidupan pribadi mereka, jadi saya lebih tahu daripada orang tuanya. Dan saya juga lihat dengan mata sendiri anak di sekolah bahasa Inggris saya dulu yang duduk di koridor dan ciuman gaya bintang film porno (seperti suami isteri ++), padahal salah satu anak itu memakai seragam sekolah swasta Islam terkenal. Saya yakin orang tuanya tidak tahu apa-apa tetang mereka dan apa yang mereka lakukan saat kursus bahasa Inggris.

Kalau orang tua “tangkap” anaknya pas lagi melihat film porno, ada dua reaksi: marah, dan tidak marah. Mungkin sebagian orang tua langsung memilih marah, dan itu wajar karena memang dosa. Tetapi belum tentu itu reaksi yang terbaik untuk jangka panjang. 
Kalau orang tua merasa lebih baik membuat anak “takut”, dan yakin anak akan merasa takut, silahkan dimarahi. Tetapi kalau anak sudah pernah (atau sering) dimarahi dalam masalah yang lain (misalnya, tidak kerjakan PR), dan anak malah jadi cuek, dan tidak berubah, berarti mungkin orang tua perlu mencari jalan yang lain.
Kalau bisa menahan emosi dan tidak menjadi marah, ada solusi yang satu lagi: ajak anak berfikir dan berdiskusi (tanpa gunakan emosi marah). Anak bisa diajak berfikir bahwa orang yang dia tonton itu juga saudara orang lain. Bagaimana kalau itu jadi adik perempuan atau sepupu dia? Atau teman sekolah? Atau tantenya? Dan sebagainya. Ajak dia berfikir bahwa melihat hal seperti itu sama dengan melihat orang melakukan dosa besar, dan malaikat sama Allah sedang marah terhadap mereka, tetapi anak malah nonton dan merasa senang! Bagaimana perasaan Allah terhadap anak? Apakah senang atau marah juga?

Bisa bertanya kenapa anak melihat film seperti itu? Iseng? Nafsu? Keduanya bisa dibicarakan. Anak bisa diajak berpuasa sunnah dengan ayahnya, dan diskusi berdua tetang nafsu yang dia rasakan sebagai hal yang normal dari Allah untuk semua manusia, dan sebagainya. Tetapi walaupun Allah memberikan kita nafsu, Dia juga memberikan kita perintah untuk mengendalikan nafsu, dan seterusnya.
Kalau anak merasa bisa bicara dengan orang tua, dan tidak dimarahi saja, sangat mungkin akan terbuka jalur komunikasi yang baru antara orang tua dan anak. Yang menjadi hambatan terbesar adalah ketidakinginan orang tua untuk membahas masalah seperti ini dengan anak remajanya. Dan karena itu, kebanyakan orang tua memilih “tidak mau tahu” dan berasumsi semuanya baik. Atau kalau mereka jadi tahu, mereka memilih untuk menjadi marah pada saat itu saja, dan setelah itu dianggap selesai. Sayangnya, justru sangat mungkin bahwa masalah akan berlanjut, tetapi anak remaja akan lebih hati-hati supaya tidak ditangkap lagi. 

Sebaiknya orang tua menjaga pergaulan anaknya dengan anak lain. Kalau anak pergi, harus jelas ke mana dan dengan siapa. Kalau orang tua melihat ada teman yang dianggap tidak baik, bicara dengan anak dan ajak dia mencari teman yang lain. Dan jangan kasih komputer dan internet kepada anak remaja di dalam kamar tidurnya. Taruh komputer di tempat terbuka, seperti dekat ruang makan, batasi penggunaannya, dan pastikan bahwa anak mengerti bahwa komputer dan internet adalah bonus dari orang tua dan bukan hak bagi anak. Kalau disalahgunakan, bisa diambil kembali. Terserah dia untuk memilih.
Orang tua juga perlu paham tentang apa yang diberikan kepada anak. Kalau kasih Hp yang canggih, yang bisa simpan video (seperti 3gp), orang tua harus tahu di mana file seperti itu berada di dalam HP dan bagaimana aksesnya. Harus mengerti tentang flashdisk, CD rom, dan semua folder yang ada di computer. Jangan sampai orang tua sangat awam dan anak bisa simpan film porno di Hp dan bawa ke sekolah, karena orang tua (atau guru) tidak paham tentang teknologi itu, dan karena itu tidak tahu bagaimana digunakan untuk hal yang tidak baik. 

Dan yang terpenting adalah anak yang paling terjaga adalah anak yang diberikan pengertian agama yang baik dari dini. Akhlak dan keimanan yang diberikan dari ajaran Islam menjadi benteng ketika anak berhadapan dengan anak lain yang ajak dia berbuat dosa. Tetapi orang tua masih perlu waspada dan jangan begitu saja percaya kepada anak remaja, terutama anak laki. Berasumsi mereka baik, tetapi memantau juga. Jangan takut untuk sewaktu-waktu periksa tas, kamar, Hp dan komputer mereka. Justru kalau mereka merasa dipantau terus, insya Allah akan mengurangi rasa “aman” yang membuka kesempatan untuk melakukan kesalahan.

Ada ribuan film porno buatan anak Indonesia di internet sekarang. Dan dari sebagian kecil yang pernah saya lihat, kebanyakan kelihatan dibuat di dalam rumah pribadi (atau hotel). Bahkan saya pernah lihat satu, di mana anak remaja itu bicara sendiri dan mengatakan “Numpung orang tua lagi pergi seharian, kita bisa main seks dulu” dan kelihatan pacarnya yang sudah telanjang. Lalu mereka bikin film. Di atas tempat tidur orang tuanya!

Orang tua yang lebih mampu merasa mereka membantu anaknya dengan memberikan uang saku ratusan ribu rupaiah (atau jutaan) dan kartu kredit. Sayang sekali kalau uang itu malah memberikan mereka kesempatan untuk menyewa kamar hotel. Orang tua yang kerja dan pulang malam tidak bisa memantau anaknya, dan juga merasa anak bisa mengurus diri sendiri karena sudah remaja. Ternyata, mereka memang bisa mengurus diri sendiri: mereka menjadi sibuk belajar biologi dengan teman sekolah di kamar tidur. Karena bapak dan ibu pulang di atas jam 9 malam, mereka kasih uang dan kebebasan kepada anaknya supaya tidak perlu diurus oleh orang tua. Orang tua tidak mau repot! 

Solusinya, kalau anak mau pergi untuk makan malam di mall dengan teman2 sekolah, berikan uang secukupnya, dan besok pagi minta semua kwitansinya: dari makan, dari nonton, dari belanja dan sebagainya. Minta penjelasan dari semua yang dia lakukan. Itu lebih aman daripada kasih ratusan ribu atau jutaan rupiah secara bebas tanpa syarat apapun. 
Kalau anak sudah terbiasa menjelaskan diri kepada orang tua tentang ke mana dia pergi, dengan siapa, sampai jam berapa, makan apa, dan seterusnya, dan membuktikan semua, insya Allah mereka akan menjadi biasa dan akan merasakan bahwa itu satu bagian dari kasih sayang orang tua. 

Kalau orang tua merasa bahwa anaknya “baik-baik saja” dan tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu karena sudah disekolahkan di sekolah swasta Islam yang mahal selangit, mohon maaf, dari pengalaman saya sebagai guru, justru anak kaya itu di sekolah swasta yang cepat rusak. Mereka dikasih komputer dan internet di kamarnya dari umur 8-10 tahun, tanpa batas, dan tanpa syarat. Dan bapak serta ibu pulang jam 9 malam setelah anaknya sudah tidur, jadi tidak ada komunikasi yang baik. 
Anak miskin malah sibuk membantu orang tua jualan di warung sampai jam 9 supaya ada uang untuk sekolah bulan depan. Jadi, mohon jangan anggap bahwa masalah seks dan film porno bagi remaja adalah hal yang hanya dilakukan anak yang “tidak baik” dari keluarga yang “tidak baik”. Hal itu bisa terjadi di mana saja, dan justru orang tua yang merasa sangat yakin bahwa anaknya tidak akan begitu yang mahal terpukul paling keras kalau akhirnya dia tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh anak selama beberapa tahun. 

Kuncinya adalah orang tua harus selalu waspada, dan perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak. 

Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

4 comments:

  1. Aww.

    Saat novel Jakarta Under Cover terbit beberapa tahun lalu, hasil survey mengenai seks bebas di daerah Yogyakarta sudah banyak dipertanyakan, tidak heran bahwa alinea I yang Gene kemukakan adalah mengenai kesangsian survey yang lagilagi rasanya jauh dari kebenaran.

    Terlepas dari itu semua, pengalaman pribadi saya dengan orang tua (walaupun saat itu - saat saya menginjak usia remaja hanya mengenal Alm. papa)yang sangat akrab membuat perjalanan hidup saya cenderung "Flat" menurut ukuran teman-teman sebaya saya saat itu.

    Bicara dari sudut pandang orang tua, menurut alm. papa saat itu Beliau sering berbicara dengan saya bahwa harus dibawa gampang dengan memposisikan diri sebagai si anak KARENA orang tua sudah pernah melewati fase remaja sementara si anak baru mengalaminya saat ini.

    Sementara dari sudut pandang anak, si anak diajak berkomunikasi & berdiskusi bagaimana harus bersikap dalam menjalani hidup tanpa harus melanggar norma-norma agama dengan alasan bahwa agama itu membawa kebebasan bermartabat bagi pelakunya.

    Kami 4 (empat) bersaudara Alhamdulillah diajarkan basic agama sebagai pedoman/pegangan hidup bukan sebagai ritual yang isinya hanya do & dont, walaupun alm. papa hanya pegawai biasa yang bukan ahli agama. Tapi soal pelaksanaan agama.....Alhamdulillah Beliau bisa jadi panutan yang sempurna buat kami anak-anaknya. Teman-teman kami juga menganggap Beliau role model yang gaul. :)

    Setiap do & dont sebisa mungkin orang tua harus bisa memberikan alasannya, walaupun memang tidak semua bisa dijabarkan dengan alasan logika karena keterbatasan pengetahuan manusia. Si anak juga dibawa ke dalam aura diskusi yang aktif mengenai agama sebagai jalan hidup dengan tujuan untuk mengenal Allah sebagai penuntun hidup & BUKAN debat kusir yang mempertanyakan Ke-Maha Agung-anNYA yang akhirnya makin menjauhkan kita dari jalan lurus agama.

    Atas segala khilaf & salah dalam menanggapi tulisan terakhir Gene mohon dibukakan pintu maaf.

    Www.

    ReplyDelete
  2. surveynya emang bisa jadi dipertanyakan, 93,7 %, wah nominal yg besar,

    yang saya pertanyakan itu
    usia anak2nya berapa?
    apa remaja, pra remaja?

    lha kalo usia Sekolah dasar?

    Iya, dibuku jakarta Undercover(sayangnya saya males bacanya:)
    survey2 yg dilakukan di kota yogya tentang virginitas remaja kuliahan, wahh bener2 bikin gerah juga.., banyak yg komplain , pas survey itu muncul, status saya pun menjadi salahsatu mahasiswa di kota tersebut. Berita ttg survey itu jadi hangat dikalangan mahasiswa dulu.

    Tapi saya pikir, survey ga bisa juga dijadikan tolak ukur sepenuhnya menilai sesuatu, harus ada data pembanding.

    Sayangnya saya belum punya pengalaman jadi orang tua:)
    Tapi mungkin ada banyak nilai positif yg diajarkan orangtua saya sejak kecil.
    >>Betapa galaknya mereka kalau nyuruh saya mengaji ke rumah ustaz>>
    >>kalau ingin mendapatkan sesuatu, baik itu barang atau sekadar sebuah buku, harus ada usaha<< untuk punya baju baru, mainan, buku , harus dapat peringkat 1 dulu di sekolah,..beratt bener...

    Tapi galak ga cuma galak, setelah itu ortu biasanya ngajak ngomongnya gini:
    ini bekal kamu buat masa depan, kalau bapak-ibu begini-begitu sama kamu, semua demi kebaikan kamu..bla..blaa, selalu ada waktu untuk bicara.

    intinya Tetap sama: basic agama, kedekatan orang tua dan anak, dan pendidikan yg terawasi.

    semoga kedepan hasil surveynya bisa menurun...,33% gitu

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum wr wb.

    Terlepas itu benar atau tidak tapi faktanya memang sangat mudah sekali kita jumpai pasangan muda mudi yg berduan ditempat2 sepi bahkan kadang sudah berani bermesraan dimuka umum.

    Semua itu adalah bagian dari kerusakan moral atau akhlak. Banyak orang berpendapat bahwa sebaiknya kita berdakwah jgn dibagian politik atau sistem islamnya dulu, tapi mari kita berdakwah untuk memperbaiki akhlak umat terlebih dahulu, kemudian baru tentang syariah Islam.

    Klo saya malah sebaliknya. Bahwa Akhlak itu adalah buah dari diterapkanya sebuah sistem. Kerusakan akhlak yg kita jumpai selama ini adalah bagian dari penerapan sistem yg rusak. Sehingga harus segera diganti dengan sistem yg baik yg rahmatan lilamain.

    Akhlak itu adalah buah, Sistem adalah pohonnya, aqidah adalah akarnya.

    Aqidah sekuler dengan sistem kapitalis, maka akan menghasilkan akhlak yg serba bebas dan boleh.

    Aqidah Islam dengan Sistem syariah, maka akan menghasilkan akhlak yg baik yg Islami.

    Semoga bermanfaat.

    Wassalamualaikum wr wb.

    ardobinardi.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Ass.Wr.Wb.

    kawa2ku semua yang mulia dan dimuliakan Kanjeng Gusti Allah SWT...

    To say is easy, to do is difficult. Mendidik anak sendiri jauh lebih sulit daripada mendidik anak orang lain. Bagi yang telah memiliki anak puber, pasti akan mengerti. Tidak mutlak, sebagian besar. Namun, setidaknya kita wajib berusaha menjadi orang tua yang memberi teladan yang baik. Kapan anak bertemu dengan ortunya? Ayah bekerja, pulangnya minimal selepas magrib. Mengapa ? Macet...
    Ibu mengurus keperluan anggota keluarga lain, rumah dan memasak. Pembantu ? Rata-rata keluarga indonesia berada dalam garis sederhana, tidak mewah. Intinya adalah ... dengan waktu tersedia yang sesedikit mungkin itulah, dapat digunakan untuk berusaha memberi tauladan akhlak yang islami dan berdoa/bermunajat kepada Yang Esa. Itu saja. Insya Allah selamat dunia dan akhirat, sekeluarga. Amin.

    Wass.Wr.Wb.

    A Father.

    ReplyDelete