Tuesday, June 23, 2009

Protes di Iran Setelah Pemilu 2009

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Sejak pemilu Iran berakhir 1 minggu yang lalu, pihak oposisi menolak hasilnya dan mengatakan bahwa kemenangan Ahmadinejad direkayasa, dan mereka menuntut pemilihan ulang.
Setelah protes membesar pada minggu kemarin, yang diperkirakan mencapai ratusan ribu sampai 1 juta orang, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melarang semua warga berprotes.

Yang saya baca di berita dari berbagai sumber selama 1 minggu terakhir ini sebagai berikut:

  • Presiden Ahmadinejad menang dengan 63% dari suara, sedangkan Mir Hossein Mousavi dapat 34%.
  • Sebeum Pemilu, prediksi adalah Mousavi akan menang karena banyak warga sudah jenuh dengan Ahmadinejad.
  • Setelah dinyatakan Ahmadinejad menang, warga mulai berprotes. Kata seorang professor dari Universitas Tehran waktu diwawancarai Al Jazeera, diperkirakan 1 juta orang, karena warga sudah penuhi semua jalan besar ibu kota.
  • Setelah protes besar itu terjadi minggu kemarin, pemerintah mulai bertindak secara represif pada hari Sabtu dengan menyerang para pendemo, dan menembak juga dengan peluru tajam.
  • Sekarang dikatakan lebih dari 20 orang telah dibunuh. Ratusan orang luka-luka dan sekitar 500 orang lain juga ditangkap.
  • Di antara yang ditangkap adalah 100 tokoh oposisi dan juga sebagian dari keluarganya.
  • Yang belum ditangkap hanya Mousavi saja. Dia sudah mengeluarkan petunjuk pada pendukungnya untuk terus berdemo kalau dia ditangkap atau dibunuh oleh pemerintah.

Yang membuat pihak oposisi tidak percaya pada hasil pemilu adalah banyak sekali indikasi kecurangan. Mereka tidak punya bukti konkret, karena semua pemantau dari oposisi dilarang memantau proses pemilu, walaupun mereka berhak secara hukum.
Antara lain ada kejadian sebagai berikut:

  • Sebelum pemilu, para pemantau dari semua partai oposisi diberikan kartu identitas yang tidak sah (supaya tidak bisa masuk TPS), atau mereka ditolak begitu saja waktu hadir di TPS.
  • 30% dari semua TPS adalah TPS Berjalan, yang berada di belakang truk yang berpindah2 pada hari pemilu. Yang membawa TPS Berjalan itu adalah petugas dari Departemen Dalam Negeri, dan pihak oposisi tidak boleh ikut. Tidak ada yang tahu TPS Berjalan itu dibawa ke mana, dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada surat suara yang dikumpulkan (kalau memang ada yang dikumpulkan).
  • Semua komentator setuju bahwa jumlah orang yang hadir di TPS sangat luar biasa, dan jauh lebih besar dari yang normal. Banyak orang mengatakan mereka ikuti pemilu untuk pertama kali karena sudah jenuh dengan Ahmadinejad dan hadir di TPS secara khusus untuk mendukung Mousavi. (Sebelumnya, banyak orang golput karena merasa tidak akan ada yang bisa menggantikan pemerintah. Setelah Mousavi muncul sebagi tokoh oposisi dan calon presiden, baru ada harapan.)
  • Pada hari pemilu, jaringan sms ditutup oleh pemerintah.
  • Depdagri mengurangi stafnya, dan suruh semua petugas yang seharusnya menjaga untuk keluar dari gedung, sehingga tinggal jumlah staf yang paling minim.
  • Hasil pemilu mulai disediakan dalam waktu 4 jam saja, padahal dalam semua pemilu sebelumnya tidak ada hasil awal selama 24 jam.
  • Mousavi dapat hasil yang sangat kecil di daerah Azerbaijan, padahal dia berasal dari sana, dan orang di sana sudah ketahuan selalu mendukung kandidat dari wilayah mereka (seperti sering terjadi di Indonesia juga).
  • Setara dengan itu, kandidat lain bernama Mehdi Karroubi dapat hanya 5% suara di wilayah Lorestan, padahal dia mendapat 55% di situ dalam pilkada tahun 2005.
  • Dalam beberapa wilayah, jumlah orang yang ikut dalam pilpres melebihi jumlah orang yang tinggal di wilayah tersebut.

Di antara tindakan lain yang diambil dari pemerintah adalah:

  • Memblokir jaringan telfon supaya pendukung Mousavi tidak bisa menggunakan sms untuk berkomunikasi dan mengatur aski demo. (Para pendukung Mousavi adalah anak muda, yang sudah terbiasa dengan teknologi).
  • Siaran televisi juga diganggu suapaya orang tidak bisa dapat berita dari luar negeri, dan hanya bisa dapat info dari tivi milik negara.
  • Internet diblokir, karena digunakan untuk menyebarkan pesan antara anak muda secara cepat. Koneksi internet juga dibuat lebih lambat supaya pemerintah lebih mudah kontrol penggunaannya.
  • Ada anak muda yang mengatakan bahwa beberapa orang sedang dilacak keberadaannya lewat HPnya. Dan kalau mereka menggunakan HP dan sebutkan salah satu dari kata kunci tertentu (seperti kata “demo”), maka HPnya mati mendadak (telfonnya dimatikan dari provider).
  • Wartawan dari BBC disuruh keluar dari Iran dan siaran televisi Al-Arabiya TV dari Dubai disuruh tutup kantornya di Tehran.
  • Maziar Bahari, seorang wartawan dengan paspor Kanada yang kerja untuk Newsweek di Tehran, juga ditahan sejak minggu kemarin, dan tidak ada kabar lagi tentang dirinya (telah hilang).
  • Lebih dari 30 wartawan dan juga Blogger telah ditahan oleh pemerintah sejak awalnya protes pada minggu kemarin.
  • Pemerintah telah keluarkan kebijakan bahwa semua bentuk protes melanggar hukum.
  • Pemerintah sudah menyatakan bawah semua pendemo adalah “teroris” dan mereka akan dilawan dengan penuh kekuatan. Pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai izin untuk menggunakan peluru tajam untuk melawan mereka.
  • Pada hari Senin 22 Juni, setiap lampu merah di Tehran dijaga oleh polisi dan militer dengan senjata lengkap. Belum ada demo lagi.

Apakah ini yang dianggap “demokrasi” oleh Ahmadinejad? Kalau sekiranya dia menang secara mutlak, tanpa kecurangan, buat apa perlu memblokir HP, SMS, internet, dan televisi? Buat apa penjarakan wartawan dan blogger? Buat apa penjarakan tohok oposisi? Buat apa suruh polisi dan militer menyerang warga sipil yang sebatas jalan kaki dan teriak2, tanpa membawa senjata? Hal-Hal seperti itu tidak wajar dalam sebuah negara demokrasi, tetapi sering terlihat di negara diktator di mana sang diktator tidak mau dilawan oleh siapapun.

Sayang sekali Ayatollah Ali Khamenei langsung mendukung Ahmadinejad, dan setelah protes membesar, tetap mendukung pemerintah dan mengatakan semua bentuk protes dilarang dan semua orang harus tetap setia pada Ahmadinejad dan pemerintah. Kalau dia benar2 dekat sama Allah, seharusnya dia lebih peduli pada keadilan daripada membela pihak yang berkuasa.

Kata orang di Tehran, setiap malam para pemuda naik ke atap rumah dan apartemen dan teriak2 untuk beberapa jam. Yang diteriakkan antara lain adalah “Allahu Akbar”, “Matilah Diktator”, “Mousavi”, dan lain-lain. Ada juga laporan bahwa ada teriakan “Matilah Khamenei”.

Yang membuat saya sedih atas perkembangan ini adalah inilah yang dilihat oleh semua orang non-Muslim dan negara barat sebagai apa yang terjadi kalau agama masuk ke dalam politik. Mereka akan menilai Islam dari tindakan represif pemerintah Iran. Kalau kita mau menyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar, yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta, mereka cukup menujuk Iran sebagai contoh dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan Iran (yang menyatakan diri pemerintahan Islam) untuk berpegang pada kekuasaan.

Untungnya Indonesia telah memberikan contoh demokrasi yang lebih baik. Saat juga terjadi kecurangan dalam Pilpres 2009 di Indonesia, dengan 40-50 juta nama menjadi hilang dari DPT, dan banyak sekali bentuk kecurangan yang lain, ternyata tidak ada protes dari siapapun. Semua warga diam, semua partai Islam diam, dan tidak ada yang mau berprotes atas hasilnya Pemilu, sekalipun beberapa pemimpin partai politik merasa dicurangi. Itulah demokrasi versi Indonesia. Kecurangan tidak perlu dipersoalkan. Cukup nonton sinetron dan lupakan semua. Kenapa warga Iran tidak ikhlas dicurangi seperti warga Indonesia?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

Protest against fake elections TEHRAN IRAN 13 June 2009 17:45 PM

iran riot control officers completely surrounded by protesters June 13 2009

Riot Control Officers Beaten By Protesters

3 comments:

  1. Assalamualaikum Wr Wb,

    Mohon maaf sebelumnya, saya mungkin bukan seseorang yang pandai dalam menilai demokrasi yang terjadi di negara lain terutama di Iran & juga tidak mengikuti perkembangan pilpres di sana.

    Yang pertama harus dicermati terutama orang awam seperti saya adalah saya tidak mengerti apa agenda & program yang ditawarkan baik oleh Ahmad Dinejad maupun Mousavi.

    Senin kemarin saya mendengar Bapak Nuim Hayat dari radio Australia, yang biasa menjadi komentator radio Light FM, ybs mengatakan bahwa Ahmad Dinejad itu adalah seseorang yang sangat jujur, dia mempunyai dua buah buku tabungan yang satu kosong yang satu hanya berisi USD 170 dan memang dia sangat berani dalam menentang barat, sedangkan Mousavi banyak digandrungi oleh kaula muda yang menginginkan perubahan.

    Dulu yang ada di benak saya, warga Iran terutama wanita adalah yang berbusana muslimah tertutup versi timur tengah, setelah saya melihat di blog nya Pak Gene Netto yang berupa foto demostrasi, ternyata mereka lebih modern dari muslimah di Indonesia, jilbab yang dikenakan hanya berupa selendang alakadarnya, well sangat modern. Mungkin mereka menginginkan perubahan yang condong seperti Turki.

    Terserah lah apa yang terjadi di sana, yang sangat perlu di perhatikan adalah apa yang akan terjadi di sini di negara kita, semoga pilpres kita lancar tidak ada kendala ataupun huru hara apapun serta tidak ada tindakan provokatif yang memicu keributan baik secara verbal maupun pengerahan masa, dan semoga Allah SWT memberikan kita pemimpin yang terbaik, amin.


    Wassallam,
    faza

    ReplyDelete
  2. Apa sesuatu itu harus diperbandingkan terus dengan indonesia?
    Muslim memang mayoritas disini, tapi negara ini bukan negara agama, indonesia juga, bukan sebuah negara yang menjunjung sekularisme tingkat tinggi, Disini Jilbab bebas dipakai disegala bidang profesi sampai ke anchornews di TV juga, Saya masih jauh lebih bersyukur walau negara saya selalu di lihat sisi negatifnya terus dan diperbandingkan: Tapi kebebasan berhijab , bersuara, masih dihargai, lepas dari baik buruknya negara ini ada.
    Memang ummat islam masih kurang bersuara lantang di negara ini, tapi bukan berarti mereka Diam.

    Terus terang saya juga prihatin dengan kondisi yang melanda negeri para Mullah Tersebut, Yang tadinya menjadi panutan akan keberaniaan sebuah negara mayoritas muslim bisa bersuara jauh lebih lantang dengan negara2 lain.

    Saya ga bisa menjudge- bahwa pihak mousavi, pihak demonstran itu yg paling benar dan mempersalahkan pemimpinnya karena hasil Pemilu yang buruk di negara itu,
    Ada beberapa kutipan wawancara Dubes Iran di TV nasional, yang menceritakan kondisi negaranya, dan keinginan kaum muda di iran yang ingin terbebas dari belenggu atau tunduk pada pemimpin spritual negara mereka, ingin lebih besar dukungan dari pihak luar terhadap proses demokrasi dinegaranya. Sehingga timbul2 kecurigaan akan adanya campur tangannya pihak asing ditambah sensitifnya isu nuklir iran.

    Itu urusan dalam negerinya mereka, saya harap solusi terbaik yang bisa disepakati semua Pihak di Iran, agar tidak terjadi perpecahan. Karena akan membuat citra semakin buruk terhadap negara2 mayoritas muslim yang selalu kacaw balau jika berbenturan dengan demokrasi.

    ReplyDelete
  3. Saya tidak tau persis yang terjadi di Iran. Apakah benar berita yang disampaikan oleh media demikian adanya. Apalagi media barat. Saya suka bingung kalo meliat info yang disampaikan oleh i.e CNN, ini benar nga yah ? apalagi yang mengenai isu Timur Tengah. Yang jelas kalo seandainya berita ini benar, saya harap warga Iran bisa menyelesaikannya dengan cara damai. Doa saya juga smoga PEMILU Indonesia damai dan yang menjadi pemimpin adalah orang yang sholeh.

    Wassalam,

    ReplyDelete