Thursday, July 23, 2009

Perhatian: Anak Indonesia Dilarang Main Game. Hukuman 10 Tahun Penjara!

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Sungguh gila penegak hukum di negara ini. Baik polisi, jaksa, hakim, semuanya seharusnya merasa malu bahwa kasus ini masih berlanjut. Anak kecil ditangkap, tetapi bandar judi raksasa dibiarkan saja. Anak kecil dipenjarakan, tetapi pejudi yang punya koneksi tidak bisa ditangkap, apalagi disidangkan atau dipenjarakan.

Ada begitu banyak perampok, pembunuh, pemerkosa, koruptor, dan lain-lain yang tidak dikejar, tidak ditangkap, tidak disidangkan dan tidak dipenjarakan. Kenapa 10 anak kecil bisa diteror terus oleh penegak hukum yang tidak punya hati, hanya karena mereka main game di sekitar bandara? Kenapa anak ini, yang terpaksa semir sepatu biar ada uang untuk sekolah, bisa ditangkap? Kenapa mereka bisa ditahan 1 bulan daripada langsung dipulangkan kepada orang tuanya? Kenapa kasus ini masih berlanjut? Kenapa tidak ada protes yang keras dari masyarakat? Kenapa semua pemimpin partai politik diam?
Kenapa semua ketua ormas Islam diam?
Kenapa Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia diam?
Kenapa Presiden diam?

Apakah ini cermin dari “keadilan” versi Indonesia? Orang kaya tinggal ketawa saja dan menyogok, dan anak SD-lah yang perlu takut pada penegak hukum?

Sayang sekali kalau tidak ada orang kuat yang juga peduli pada keadilan di negara ini.
Kasihan sekali anak bangsa yang harus takut pada polisi, jaksa dan hakim.
Hukuman maksimal terhadap anak-anak ini adalah 10 tahun penjara? Karena mereka main game? Walaupun mungkin mereka tidak dipenjarakan nanti, mereka sudah ditahan 1 bulan yang menyebabkan mereka tidak bisa mengikuti ujian sekolah, dan oleh karena itu tidak bisa naik kelas. Bukannya itu sudah merupakan hukuman yang berat?

Kasihan sekali anak bangsa ini yang tidak punya perlindungan terhadap penegak hukum yang tidak punya hati! Kasihan sekali anak bangsa ini yang tidak punya advokat kuat yang bisa berjuang untuk hak-hak mereka. Kasihan sekali anak bangsa ini bila semua pemimpin tidak peduli pada keadilan dan juga tidak ingin begerak cepat untuk melindungi anak bangsa.

Mudah-mudahan bukan anak-anak anda yang ditangkap besok dan dipenajrakan 1 bulan setelah polisi melihat mereka main game di depan sekolahnya. Tetapi anda orang mampu, jadi anda pasti bisa bayar biar anak-anak anda dapat “keadilan” dan tidak dipenjarakan. Begitu caranya dapat keadilan di sini, bukan? Semoga anak anda selamat, dan mari kita sama-sama lupakan 84 juta anak dari orang tua yang lain di negara ini, karena mereka bukan saudara kita, dan kenapa kita mesti peduli kalau anak-anak itu tidak dapat keadilan atau perlindungan?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

********
Perjudian Anak Kembali Disidangkan

Selasa, 21 Juli 2009 | 11:34 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Pingkan E Dundu
TANGERANG, KOMPAS.com — Persidangan kasus perjudian 10 anak lelaki yang masih berstatus pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama kembali digelar di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (21/7). Sidang yang dipimpin majelis hakim diketuai Ratna Pudyaningtyas berlangsung di ruang persidangan anak HR Purwoto Ganda Subrata SH. Seperti sidang pertama, Senin (13/7), sidang ini tertutup untuk umum. Para hakim, jaksa, dan pengacara juga tidak memakai jubah saat bersidang, melainkan berbaju safari.

Sedangkan anak-anak berstatus terdakwa yang berusia antara 12-16 tahun juga mengenakan topeng terbuat dari kardus. Mereka adalah Sar, Ba, Rs, Dh, Rh, Ro, Ms, If, Tk, dan Df, seluruhnya warga Desa Rawa Rengas, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, dan Cengkareng, Jakarta Barat. Anak-anak tersebut didampingi orangtua masing-masing dengan penasihat hukum anak-anak, Ricky Gunawan dan Christine Tambunan dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, dari Lembaga Bantuan Hukum, dengan Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Anak, Arist Merdeka Sirait.

Seperti diberitakan, Jaksa Rizki Diniarti mendakwa ke-10 anak itu telah bermain judi dengan taruhan Rp 1.000 per anak di kawasan bandara pada 29 Mei lalu. Mereka bermain lempar koin dan ditangkap di telapak tangan untuk ditebak sisi mata uang koin pecahan Rp 500 mana yang berada di atas. Pada saat itu, datang polisi dari Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta dan menangkap mereka untuk dibawa ke Polres. Atas perbuatan itu, anak-anak didakwa melanggar Pasal 303 kesatu butir kedua KUHP mengenai perjudian yang ancaman hukumannya 10 tahun. Selain itu, para terdakwa didakwa dengan dakwaan subsider, yakni melakukan perjudian yang melanggar Pasal 303 bis KUHP.

Sebelum sidang dimulai, anak-anak menunggu di ruang tunggu jaksa sebelum menuju ke ruang sidang. Wajah anak-anak yang seluruhnya bekerja informal sebagai tukang semir sepatu di dalam Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu ditutup topeng sehingga yang terlihat hanya bagian mata mereka. Berbeda dengan sidang sebelumnya, hari ini kesepuluh anak-anak itu datang dengan menggunakan pakaian bebas bukan seragam sekolah. "Kami minta izin sehari tidak masuk sekolah," ujar Tk, salah seorang anak.

Sumber: Kompas.com

No comments:

Post a Comment