Sunday, October 04, 2009

Beberapa Berita Gempa Padang 2


Koordinasi Bantuan untuk Korban Gempa Tidak Jelas
Padang - Memasuki hari kelima gempa 7,6 SR yang melanda Sumatera Barat, bantuan untuk korban gempa masih minim. Parahnya lagi, Gubernur Sumbar beserta para stafnya susah ditemui untuk diajak koordinasi.
"Koordinasi bantuan untuk korban tidak jelas. Kalau kita lihat kepala daerah yang bertanggung jawab harusnya berkantor di sini, tapi kenyataannya jarang di tempat," ujar sumber dari pemerintah pusat yang bertugas menanggulangi masalah bencana yang enggan disebutkan namanya, Minggu (4/10/2009).


Bantuan & Relawan Menumpuk di Padang, Korban di Pariaman Terabaikan
Padang - Sudah empat hari pasca gempa mengguncang Sumbar yang menelan ratusan nyawa dan ratusan orang hilang. Namun sayangnya bantuan dari berbagai daerah serta relawan banyak menumpuk di Padang. Akibatnya Padang Pariaman terabaikan.
"Kita juga korban, tapi kenapa bantuan tidak merata? Jangankan relawan datang, tenda untuk kami berteduh pun tidak kunjung kami dapatkan," kata Imam Kalek, warga Kecamatan Patamuan, Pariaman dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (3/10/2009).
"Kami nggak tahu harus kemana lagi, kampung kami sudah rata dengn tanah. Pemerintah kok belum mejenguk kami," keluh seorang warga yang enggan disebut namanya. (cha/irw)


Korban Gempa Baru Terima Bantuan 10 Bungkus Mie Instan
Padang - Sungguh menyedihkan korban gempa di Sumatera Barat. Memasuki hari kelima, warga korban gempa hanya terima 10 bungkus mie instan. Kemanakah bantuan yang mengalir ke Sumbar?
Walau hanya menerima mie instan nenek renta ini tetap semangat membawanya di tenda darurat. Dia lantas berkumpul lagi dengan keluarganya. Mie instan pun dibukanya tanpa dimasak. Mie tanpa masak itu lantas dia berikan kepada Yuni cucunya yang baru berusia setahun.

Ribuan Pengungsi di Padang Pariaman Butuh Tenda
Padang - Pasca gempa selama lima hari, ribuan kepala keluarga (KK) di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, masih belum menerima bantuan tenda plastik. Padahal tenda itu sangat dibutuhkan untuk berteduh anak dan keluarga mereka.
"Cuma tikar buruk ini kami jadikan tenda. Tenda ala kadarnya ini hanya untuk berteduh anak-anak kami saja. Kasian mereka belum tahan angin malam," ujar Ujang (50) warga Kecamatan Batang Anai, Kab Pariaman dalam perbincangan dengan detikcom.
"Ini malam kelima kami tidur beratapkan langit. Rumah kami hancur rata dengan tanah. Tak tahu kami harus berbuat apa," keluh Hamzah warga lainnya.

285 Tewas dan 360 Hilang di Kabupaten Padang Pariaman
Kabupaten ini terdiri dari 17 Kecamatan yang semuanya terkena gempa. Data di Satkorlak setempat, akibat gempa ini tercatat sekitar 40.000 rumah mengalami kerusakan berat dan ringan. Sedang untuk korban luka-luka mencapai 700 orang.
Menurut Satkorlak Kabupaten Padang Pariaman, Hendra Aswara, saat ini bantuan tenda baru sekitar 200-an. Sementara yang dibutuhkan untuk para korban gempa di atas 5 ribuan.

50 Murid SD Tertimbun Bangunan Sekolah di Pariaman
Padang - Sebuah sekolah dasar (SD) di Pariaman, Sumatera Barat, amblas tertimbun longsor akibat gempa 7,6 skala richter (SR). Sebanyak 50 siswa diduga terkubur hidup-hidup.

Prosedur Kirim Bantuan via Lanud Halim Perdanakusumah
Jakarta - Ingin mengirimkan bantuan via Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah namun bingung caranya? Ini prosedurnya.

Kurang Air, Toilet Umum di Padang Bau Minta Ampun
Padang - Dampak gempa 7,6 SR yang mengguncang kawasan Sumatera Barat (Sumbar) betul-betul membuat hidup warga sulit di segala lini. Selain trauma pascagempa yang menyiksa, kesulitan bahan makanan, susah air bersih, melejitnya harga kebutuhan pokok, untuk urusan buang hajat pun warga harus berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman.
"Sekarang, untuk buang hajat pun susahnya minta ampun. Rata-rata toilet umum yang saya masuki kekurangan air, bahkan kering sama sekali. Baunya minta ampun," ujar Anton Hilman, wartawan sebuah kantor berita di Padang.

Jepang Bangun Klinik Kesehatan Darurat di Pariaman
Padang - Untuk membantu meringankan korban gempa, Pemerintah Jepang membangun klinik darurat di Kabupaten Padang Pariaman. Klinik yang terbuat dari tenda yang cukup luas ini bisa mengobati ratusan korban gempa.

Warga Antre Air Siap Minum di Banjir Kanal Padang
Padang Timur dan Padang Barat, Padang, Sumatera Barat, mengantre air siap minum, Minggu (4/10) di pinggir sungai Banjir Kanal Padang Timur.
Proses penyulingan memakan waktu sekitar 1 jam dan menghasilkan 900 liter air. Warga yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak terlihat sabar mengantre dengan membawa dua jeriken yang bisa memuat 25 liter air.
"Kami malah khawatirnya air siap minum itu dipakai buat mandi. Peruntukannya kan untuk kebutuhan minum warga," kata salah seorang petugas, Oloan Simanjuntak.

Bangunan di Padang Seharusnya Dirancang Ramah Gempa
Menurut dia, sebenarnya dalam berbagai kasus di Indonesia saat mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) konsultan sudah mengajukan rancangan bangunan ramah gempa. Namun, pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan terhadap bangunan terkadang masih sangat lemah sehingga desain (rancang bangun) yang seharusnya ramah gempa seringkali tidak terpenuhi.

Kerugian Akibat Gempa di Pariaman Rp 1 Triliun
PARIAMAN, KOMPAS.com-Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman memperkirakan sementara ini jumlah kerugian materiil yang dialami Kota Pariaman akibat gempa yang melanda Sumatera Barat, Rabu (30/9) lalu mencapai Rp 1 triliun lebih menyusul rusaknya puluhan ribu bangunan di wilayah itu.

Penyakit Mulai Hinggapi Korban Gempa
PARIAMAN, KOMPAS.com — Sejumlah korban gempa 7,6 skala Richter di Kenagarian Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mulai terserang diare, flu, dan demam akibat kedinginan berada di tenda darurat.
Salah seorang tim Dokter Posko Kesehatan Polda Sumatera Selatan di Pulau Air, Tandikek, Iptu, Rahmat Fajar, mengatakan, korban yang datang ke posko umumnya mulai terserang demam, diare, dan flu.
"Kami hanya punya persediaan obat-obatan untuk 100-an personel yang bertugas melakukan evakuasi 400-an warga yang tertimbun longsor. Tapi, warga yang sudah terserang beragam penyakit tentu persediaan yang diberikan dulu," katanya.
Bantuan obat-obatan hingga hari ketiga pascagempa belum sampai ke posko petugas yang melakukan evakuasi, termasuk sarana air bersih baru sampai Sabtu sore.
Rahmat menilai, koordinasi terlihat belum berjalan normal sehingga bantuan logistik untuk petugas yang melakukan evakuasi di Cumanak, Pulau Koto, dan Lubuk Laweh, Nagari Tandikek, belum maksimal.


Duh, Tenda 4X6 Meter Itu Diisi 50 Orang
KERINCI, KOMPAS.com - Korban gempa di Desa Lolo Gedang dan PS Kerman, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi kekurangan tenda dan selimut, sehingga satu tenda terpaksa dihuni tujuh kepala keluarga (KK) atau 50 jiwa.
Untuk selimut, korban gempa tersebut masih menggunakan kain biasa, karena selimut mereka sudah tidak layak pakai akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah, kata Jarwati (40), seorang korban gempa, Minggu (4/10).

3 comments:

  1. Assalamu’alaikum Wr Wb

    Mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berkata-kata atau berteori, tindakan nyata dengan memberikan bantuan dana dan do’a akan lebih bermanfaat, iri juga melihat para sukarelawan yang berangkat ke Padang untuk membantu korban gempa secara langsung, tapi kalau saya berangkat hanya bisa jadi penonton diantara reruntuhan gempa ya hanya menambah masalah yang sudah menumpuk.

    Saya hanya ingin bermuhasabah saja, mengingatkan diri saya pribadi terutama dengan berbagai teguran dan peringatan Allah melalui berbagai bencana yang mulai akrab dengan kita akhir-akhir ini.Walau akal kita bisa berpikir bahwa gempa adalah gejala alami tapi hati dan kitapun bisa mencerna dengan keimanan.

    Disini kita masih bisa bersyukur bahwa bencana itu tidak kita rasakan secara langsung, kita masih bisa mencari air bersih dengan mudah, masih bisa makan sesuai selera, masih punya tempat berteduh yang nyaman walau sederhana.Disini saya mulai bertanya, sementara warga Tasikmalaya dan Padang diberikan cobaan dengan bencana gempa sedangkan kita di Jakarta diberikan cobaan kenyamanan hidup, sebenarnya siapa yang lebih beruntung, kita yang sekarang hidup dengan nyaman atau mereka yang merasakan langsung ketundukan dan ketakberdayaan atas kekuasaan Allah ? Biasanya cobaan kenyamanan akan membuat kelalaian dari ketaatan dan menjadikan pelakunya terus mencari dunia sedangkan ujian penderitaan mampu membuat pelakunya sadar akan takdir dan kekuasaan Allah saat menyadari bahwa manusia begitu tak berdaya untuk menghindar dari kehendak Allah, bahkan sekedar untuk memprediksi guncangan bumi, apalagi menghentikannya.

    Masih segar dalam ingatan saat Jakarta mendapatkan sedikit guncangan sisa gari gempa Tasikmalaya sudah cukup membuat kita panik, saya teringat Firman Allah dalam surat Al Zalzalah ayat 1 :

    “ Apabila bumi diguncangka dengan guncangan yang dahsyat “

    AllahuAkbar, belum dahsyat baru 7,6 SR saja Tasikmalaya, Padang sudah porak poranda, bagaimana dahsyatnya, manusia menyerah pada takdirnya, mungkin belum guncangan baru tiupan… Ya Allah masih belum waktunyakah kita bertaubat dan lebih mendekat lagi pada Sang Pencipta, mudah-mudahan kita tidak menjadi orang-orang yang berhati keras dengan menunggu gempa dengan 9 SR baru mau tersadar bahwa janji Allah itu nyata adanya.

    Padang, Tasikmalaya…betapa Allah sayang kalian, agar kalian tak mengalami bumi yang diguncang dengan dahsyat, Kita…mampukah mengambil hikmah dengan berusaha terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaatan kita walau ujian dan peringatan itu jauh disana, semoga…

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    al Fakir
    tara

    ReplyDelete
  2. Semua komentar Tara bagus. Terima kasih.

    Gene

    ReplyDelete
  3. Terima kasih kembali Pak Gene, saya hanya coba mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan rasakan, maaf tulisannya loncat-loncat jadi ada kalimat yang tidak nyambung, maklum terburu-buru dikejar-kejar deadline RPP, hehe..

    ReplyDelete