Saturday, December 26, 2009

Hati-Hati Terhadap Sekolah Swasta Bilingual

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang kerja di sebuah kursus bahasa Inggris. Dia ceritakan kepada saya bahwa ada rekan kerja yang membuat sebuah program bahasa Inggris yang sangat sederhana. Tujuan dari program itu adalah untuk memberi petunjuk kepada para guru SD Negeri (yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali) tentang bahasa yang bisa mereka gunakan di dalam kelas saat memberikan perintah kepada siswa.

Tingkat bahasa sangat sederhana dan hanya merupakan perintah baku yang kemungkinan besar bisa digunakan oleh para guru SD. Misalnya, “Stand up”, “Sit down”, “Stop talking”, “Open your books”, dan sebagainya. Mungkin program seperti ini yang mengajarkan frase-frase baku bisa sangat bermanfaat untuk guru SD Negeri yang tidak bisa berbahasa Inggris. Kalimat yang sangat sederhana seperti itu hanya perlu dihafalkan saja dan diucapkan di kelas. Tetapi mereka tidak akan bisa mengajar dalam bahasa Inggris, dan kemampuan mereka hanya sebatas perintahkan anak begitu saja.

Lalu teman saya bercerita lagi: dia sangat terkejut saat dapat kabar bahwa program yang sederhana itu telah dijual pada sebuah sekolah swasta bilingual di Jakarta Selatan. (Maaf, nama sekolahnya tidak bisa disebutkan.) Sekolah itu, dengan uang masuk puluhan juta, yang menjual diri sebagai “sekolah bilingual”, beli sebuah progam yang diciptakan untuk guru SD Negeri yang tidak paham bahasa Inggris sama sekali! Jadi, kalau program seperti ini dibutuhkan oleh sekolah tersebut, kualitas dan kemampuan guru kelas mereka seperti apa???

Guru kelas di sekolah swasta bilingual itu seharusnya sudah cukup lancar dalam bahasa Inggris, sehingga mereka bisa mendidik muridnya menjadi bilingual. Dan kalau ternyata mereka masih perlu belajar kalimat yang sangat, sangat sederhana, maka kualitas dan kemampuan mereka sebagai guru bahasa bisa sangat diragukan. Dan oleh karena itu, klaim sekolah bahwa mereka adalah “sekolah bilingual” sangat diragukan.

Sebagai perumpamaan, bayangkan kalau ada buku biologi untuk kelas SD, dengan kalimat seperti “Ini hidung saya. Hidung dipakai untuk bernafas.” Lalu sebuah rumah sakit swasta yang mahal sekali beli buku itu, dengan alasan “supaya perawat dan dokter bisa belajar tentang biologi”!! Bagaimana kualitas rumah sakit tersebut, kalau dotker mereka perlu dibantu oleh buku biologi yang dibuat untuk tingkat SD? Sangat tidak masuk akal.

Sekolah swasta bilingual belum tentu sanggup mengajarkan anak anda berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Sangat mungkin mereka hanya menggunakan label “bilingual” karena mereka tahu orang tua mencarinya dan siap bayar puluhan juta kalau disediakan oleh sekolah. Kalau pakai istilah bilingual untuk menjual sekolah, daftar murid yang mau masuk panjang sekali. Tetapi kalau tidak pakai istilah “bilingual”, para orang tua akan mencari sekolah swasta lain.

Kalau tidak mau ditipu oleh sekolah anak anda, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

1.    Minta CV dari guru anak anda. Sekolah seharusnya punya, tetapi belum tentu mau bagikan dengan orang tua. Tetapi tidak bisa dijamin ada manfaatnya, karena kalau sekolah “licik”, mereka bisa saja membuat CV rekayasa, dan bagikan CV palsu itu kepada orang tua. (Saya sudah beberapa kali bertemu dengan guru asing di sini yang mengaku bahwa CVnya direkayasa supaya bisa dapat pekerjaan.)

2.    Bertanya kepada kepala sekolah tentang siapa yang bertanggung jawab atas program bahasa Inggris. Kalau sekolah memang sebuah sekolah yang punya program mengajarkan anak menjadi bilingual, seharusnya ada satu orang yang menjadi ketua progam tersebut, dan punya ilmu untuk mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, dan dia bisa membuat kurikulum untuk mencapai tujuan itu. Minta melihat CVnya, tetapi sekali lagi, kalau sekolah licik, mereka bisa berbohong saja. (Asal orang bule saja bukan kualifikasi untuk mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, terutama bila orang itu tidak punya pengalaman yang signifikan di dalam kelas.)

3.    Dari hasil pemeriksaan, orang tua bisa tahu guru anak anda dan ketua program bahasa Inggris pernah kerja di sekolah mana, atau lulusan universitas mana. Silahkan dicek kebenarannya sendiri. (Kalau tidak mau ditipu, anda harus investigasi sendiri. Anda tidak bisa percaya begitu saja pada pihak sekolah). Telfon atau kirim email dan mencari informasi tentang guru anak anda: apakah benar dia lulusan universitas tersebut atau pernah kerja di sekolah itu?  Dan sebagainya. Ini tidak berarti dia memang seorang guru yang baik, tetapi minimal anda bisa tahu bahwa CVnya bukan rekayasa yang dibuat untuk menipu orang tua.

4.    Nomor 3 di atas sangat penting dilakukan untuk mengecek latar belakang guru yang berasal dari negara asing (guru bule). Mungkin sekolah akan mengatakan “Kita bilingual” lalu orang tua akan diperkenalkan dengan guru bule yang berasal dari Inggris, Australia atau Amerika. Tetapi belum tentu orang itu punya kemampuan untuk mengajar bahasa. Di Jakarta, saya sudah berkali2 bertemu dengan guru bule yang tidak punya kualifikasi untuk mengajar, dan bahkan belum pernah kuliah. Contohnya, ada seorang kuli bangunan yang menjadi guru Toefl di sini, ada seorang sopir truk, seorang DJ (disc jockey), karyawan supermarket, dan sebagainya. Mereka bisa menjadi guru bahasa Inggris karena tinggal di sini, punya kulit putih, hidung mancung dan bisa berbahasa Inggris. Orang tua tidak pernah tanya tentang kualifikasinya, latar belakangnya, pengalamannya atau minta melihat CVnya. Hasilnya, sekolah itu bisa menipu orang tua terus, dengan menjual diri sebagai “sekolah bilingual”.

Memang ada sebagian orang asing yang menjadi guru bahasa Inggris di sini, padahal kualifikasinya di bidang lain (ekonomi, akutansi, seni, dll) dan saya sudah bertemu dengan guru baik seperti itu juga di sini. Mereka menjadi guru baik karena belajar terus tentang pendidikan, dan mereka memang pernah kuliah di luar negeri. Tetapi yang bisa membedakan antara guru baik dan buruk hanya orang yang punya ilmu pendidikan. Orang tua belum tentu bisa membedakan karena mungkin mereka tidak tahu apa yang baik atau tidak baik bagi murid di dalam sekolah.

Tetapi sebagai suatu prinsip, kalau guru anak anda masih perlu dibantu oleh bahan bahasa Inggris yang dibuat untuk guru dengan tingkat paling rendah, maka lebih baik anda meragukan kualitas guru tersebut untuk membuat anak anda menjadi bilingual. (Kalau perlu informasi tentang program bilingual yang baik, sudah ada beberapa post di blog saya yang bisa dibaca:  http://genenetto.blogspot.com).

Orang tua harus waspada, karena sekolah swasta bilingual adalah sebuah bisnis. Prioritas nomor satu adalah menghasilkan uang bagi pemiliknya. Prioritas nomor dua (pada posisi jauh di bawah nomor satu) adalah menyedikan apa yang diinginkan orang tua supaya orang tua tidak komplain. Orang tua minta bilingual, sekolah menyediakan. Orang tua minta kurikulum IB, sekolah menyediakan. Orang tua minta guru bule, sekolah menyediakan. Soalnya kalau sekolah tidak mau, orang tua (konsumen) akan pindah ke bisnis yang dimiliki orang lain (yaitu sekolah swasta yang lain).

Prioritas nomor tiga, adalah menyediakan sisitem pendidikan bagi para murid. Belum tentu baik dan benar, karena yang penting hanya menyediakan saja. Kalau siswa bisa bertahan dan berhasil, sekolah bisa klaim bahwa keberhasilan tersebut disebabkan oleh program sekolah. Tetapi juga sangat mungkin siswa itu akan berhasil di mana saja, karena sekolah sudah menyaring anak yang masuk, dan hanya terima anak mampu yang bakalan dapat IQ tinggi (seperti orang tuanya).

Sekolah dapat milyaran rupiah dari semua orang tua, jadi tidak mungkin mereka akan mengaku kalau guru mereka tidak kompeten untuk mengajar bahasa Inggris dan membuat anak anda bilingual. Mereka juga tidak akan mengaku kalau mayoritas dari guru mereka tidak punya latar belakang di bidang pendidikan, dan belum sanggup mengajar dengan baik dan benar. Selama anda siap bayar, mereka siap klaim diri sebagai sekolah bilingual dan keberhasilan anak anda akan diklaim sebagai keberhasilan sekolah dalam proses pendidikan. Lebih baik orang tua hati-hati dan tidak mudah percaya pada pihak sekolah swasta, terutama sekolah yang menjual diri sebagai sekolah bilingual.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment