Sunday, December 20, 2009

Seringkali Kita Meminta Melalui Ibadah yang Tergesa-gesa

Tarbawi Edisi 217
Oleh: Ustadz Sulthan Hadi

Sebuah sifat yang melahirkan keadaan jiwa yang tertekan dan emosi yang meluap, yang pengaruhnya bisa membunuh seseorang, yang akibatnya bisa membuat orang bercerai, yang bahayanya adalah keputusasaan, yang fenomenanya adalah berhentinya seseorang dari berdoa, dan hasil akhirnya adalah kefuturan. Sifat itu tidak lain adalah ketergesa-gesaan.

Sungguh, sifat ini adalah bagian dari fitrah penciptaan manusia. Akan tetapi kita diwanti-wanti dan diperintah untuk menjauhinya. Allah swt berfirman, "Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azab- Ku." (QS. Al Anbiya': 37)

Tergesa-gesa adalah sifat manusia yang hendak mendahului takdir, kecuali jika ia menjaga hubungannya dengan Allah swt, maka Dia akan mengokohkan pendiriannya, memberinya ketenangan, dan membuatnya selalu menyandarkan segala urusan kepada-Nya, sehingga ia ridha, berserah diri dan tidak tergesa-gesa.
Di antara ketergesaan manusia, terkadang dia meminta kepada Allah untuk disegerakan siksaannya, seperti dia meminta disegerakan kebaikan untuknya. Padahal, jika Allah mengabulkan permintaannya pastilah dia akan binasa. Karena itu Allah berflrman, "Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka, Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka." (QS. Yunus: 11)

Sikap terburu-buru juga seringkali menghinggapi ibadah-ibadah kita; sarana kita meminta dan memohon. Dan keadaan itu dapat kita. kenali pada hal-hal berikut.

Mengejar Target dan Hanya Ditunaikan Berdasarkan Sisi Lahir Semata
Agama ini dijalankan berdasarkan sisi lahir dan performa fisik, serta pengamalan dan pendalaman makna. Tidak diutamakan satu sisi, lalu sisi yang lain dilupakan. Dua-duanya harus menyatu. Seiring sejalan.

Akan tetapi, seringkali kita mendapati diri kita dan orang-orang di sekitar kita lebih fokus pada sisi lahir dari praktek agama ini, ketimbang memenuhi aspek makna dan pengamalannya. Hal ini, misalnya, terlihat ketika kita menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ketika menjalani ibadah ini, yang di dalamnya juga kita disunahkan mendirikan shalat tarawih dan qiyamul-lail, kita dapati bahwa kebanyakan dari kita tidak memahami hakikatnya, dimana ia harus ditunaikan secara penuh dengan menyertakan hati dan ruh; rasa khusyu' kepada-Nya; ketenangan; menampakkan keagungan, kebesaran, dan kemuliaan-Nya dengan meletakkan kening dengan sempurna di atas bumi-Nya. Sebab kita semua tahu di bulan itulah waktu yang sangat berharga untuk kita memperbanyak dan menyempurnakan ibadah sebaik mungkin, meminta dan memohon kepada-Nya kebaikan dan ganjaran yang berlipat ganda. 

Di sana, kita sering merasakan bahwa kita sebenarnya sering tergesa-gesa dalam beribadah; dalam shalat tarawih, qiyamul-lail, atau mungkin dalam membaca AI Qur'an. Kita tidak terlalu memperhatikan kesempurnaan berdiri, rukuk dan sujud yang kita lakukan, seperti juga kita tidak terlalu peduli tentang kesempurnaan tajwid dari ayat-ayat atau surat-surat AI Qur'an yang kita baca. Yang penting adalah, ibadah sudah kita selesai dan target kuantitasnya tercapai.

Seorang syaikh mengatakan, "Di bulan itu, masjid-masjid yang kita jumpai sering kali terkesan sedang melakukan perlombaan shalat tarawih. Sehingga terkadang imam hanya membaca satu atau dua ayat, yang membuat makmumnya tak sempat menyelesaikan dzikir dan bacaan-bacaan shalatnya. Jika pun ada yang membaca setengah atau satu halaman AI Qur'an, dia akan dicap sebagai orang yang memanjangkan shalatnya, dan lalu ditinggalkan oleh jamaah, yang akhirnya membuat masjidnya menjadi sepi."

Hal ini, tentu saja tak diragukan menjadi bukti bahwa kita mengambil sesuatu dari agama ini hanya berdasarkan sisi lahirnya semata, tetapi melupakan intinya. Rasulullah saw melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan atau di luarnya hanya sebelas rakaat. Tetapi beliau memanjangkannya dan menyempurnakan semua gerakannya, memanjangkan pula bacaannya. Setelah beliau tiada, para sahabat kembali dikumpulkan oleh Umar bin Khatab dalam shalat tarawih bersama satu imam. Umar menambah jumlah rakaatnya menjadi dua puluh tiga, tetapi mereka tetap memanjangkannya hingga ada di antara mereka yang bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri.

Ibadah itu bukanlah senda gurau, permainan, atau hiburan. Tetapi ibadah adalah kekhusyuan dan konsentrasi di hadapan Allah swt. Dan karena itu setiap kita wajib melakukannya untuk mencari keridhaan-Nya di dalam setiap ibadah yang kita kerjakan.

Pasti kita semua sebagai seorang muslim, sangat menginginkan sekali agar bisa melaksanakan shalat secara khusyuk. Karena shalat khusyuk sesungguhnya adalah suatu kenikmatan. Tetapi ia hanya bisa diperoleh apabila kita melaksanakannya secara bersungguh-sungguh, meresapi setiap gerakannya, dan merenungi setiap bacaannya.

Hati adalah faktor yang sangat penting untuk kita bisa melaksanakan shalat secara khusyuk. Pasti akan sulit sekali untuk berkonsentrasi ketika shalat, apabila hati kita masih berpikir kemana-mana. Maka untuk mendalami makna shalat kita, konsetrasikanlah hati itu, rasakan bahwa Allah sedang melihat gerakan shalat kita, sehingga kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam melaksanakannya. Inilah sisi yang terkadang terlupakan, sehingga permintaan kita melalui ibadah ini seringkali tampak tergesa-gesa.

Terjebak pada Cara yang Instan
Perkembangan dunia yang semakin maju membuat banyak hal semakin mudah dan cepat. Sesuatu yang dahulu bisa diselesaikan dalam sebulan, hari ini hanya butuh dua atau tiga hari. Jarak yang tadinya hanya bisa ditempuh dalam sehari, sekarang mungkin hanya butuh satu atau dua jam. Keadaan ini kemudian mempengaruhi kehendak manusia untuk melakukan segala sesuatu serba cepat, singkat, dan mudah.

Berbagai hal kemudian dirumuskan dan dibuat sesederhana mungkin untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak lagi suka berlama-lama. Termasuk hal-hal yang menyangkut pengenalan dan pengajaran dalam agama.

Dahulu, mungkin kita hanya mengenal satu metode membaca Al Qur'an, misalnya. Tetapi sekarang ada puluhan metode dan cara cepat membaca Al Qur'an, yang ditawarkan oleh para pakar dan penemunya. Semua itu diciptakan dan dirancang demi memenuhi kebutuhan dan tuntutan banyak orang yang ingin dapat membaca AI Qur'an, tanpa harus duduk berlama, menghabiskan banyak waktu, seperti dulu kita mengeja huruf demi huruf.

Begitu pula dengan materi-materi keislaman, dibuat dengan ringkas dan padat agar orang-orang mampu dengan cepat dan mudah dalam memahami dasar-dasar pengetahuan agamanya.

Ingin cepat belajar agama dalam waktu singkat tentu tidak salah. Begitu juga memilih satu metode yang memang mampu memudahkan kita dalam belajar, pun tak salah. Apalagi jika kondisi seseorang yang ingin belajar memang tidak memungkinkannya untuk menghabiskan banyak waktu untuk fokus dalam persoalan itu. Akan tetapi belajar dengan waktu yang lama juga punya kenikmatannya sendiri, dan hanya dengan begitu seseorang dapat menemukan rahasia-rahasia pengetahuan, penghayatan yang dalam, dan perhargaan yang tinggi terhadap ilmu.

Sahabat Abdullah bin Mas'ud ra, adalah seorang yang cerdas. Bahkan mungkin kecerdasannya di atas rata-rata para sahabat yang lain. Untuk menghapal ayat atau surat dari AI Qur' an, dia cukup mendengar atau membaca tiga kali saja, maka ayat tersebut sudah melekat di kepalanya. Tapi tahukah kita, bahwa ia mempelajari surat AI Baqarah selama sepuluh tahun. lni menunjukkan bahwa belajar agama itu tidak bisa instan. Tidak bisa tergesa-gesa. Dan setelah itu sudah merasa cukup. Tidak. Melainkan harus dengan kesungguhan.

lnilah yang membedakan kita dengan orang-orang dahulu. Mereka belajar dengan penuh kesungguhan, dengan alokasi waktu yang tak terbatas, meski mereka juga sibuk berbisnis. Sebagian mereka menyelesaikan kitab-kitabnya di atas punggung onta, ketika mereka sedang melakukan perjalanan bisnis dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan hebatnya, umumnya mereka tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu saja, tetapi banyak dan beragam. Imam Ath Thabari, misalnya, meski mungkin kita lebih mengenalnya sebagai mufassir, tetapi ia juga seorang pakar sejarah, fiqih, dan sastra. Begitu juga dengan ulama yang lain.

Adapun kita, seringkali tergesa-gesa dalam belajar agama, ingin tahu banyak hal tetapi tak mau serius mengorbankan sedikit waktu kita untuk mendalaminya. Padahal belajar agama juga adalah ibadah, dan merupakan sarana kita meminta untuk mendapatkan kebaikan duniawi dan ukhrawi. Maka bagaimana mungkin kita meminta kesempurnaan agama dengan cara tergesa-gesa, seperti pilihan kita pada paket-paket yang instan.

Meninggalkan Dakwah karena Perubahan takTerlihat
Dakwah adalah cara lain untuk kita mendekatkan diri dan meminta kepada Allah swt. Karena ia adalah tugas yang dibebankan Allah kepada kita sebagai mukmin, agar manusia mengenal-Nya, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta menciptakan kedamaian dan membawa rahmat untuk segenap alam, maka dia termasuk ibadah. Dan karena tujuan-tujuan itu maka dakwah memiliki kemuliaannya dan keagungannya sendiri sebagai sebuah amal. Sekali lagi, dakwah adalah ibadah, dan dia adalah cara kita meminta kepada Allah agar dunia ini menjadi aman dan menentramkan.

Namun dakwah, bukanlah ibadah yang tanpa rintangan. Dakwah bukanlah medan yang tanpa bebatuan terjal.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Khabab bin Art ra, ia berkata, "Kami pernah mengadu kepada Rasulullah ketika beliau sedang istirahat berbantalkan senjata, di bawah naungan Ka'bah. Kami berkata, ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan (kemenangan) untuk kami, tidak berdoa untuk kami?'"

Beliau menjawab, "Orang-orang sebelum kalian, ada laki-laki yang dibuatkan lubang lalu dipendam di dalamnya, kemudian digergaji dari atas kepalanya sehingga terbelah dua, dan disisir dari sisir besi sehingga menembus daging dan tulangnya, tapi hal itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shan'a menuju Hadramaut tidak ada yang dia takuti kecuali Allah dan serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa."

Ada banyak di antara pelaku dakwah yang awalnya memiliki semangat dan motivasi meluap-luap; tidak kenal lelah menyampaikan kebenaran, siang malam mengajak orang berbuat kebaikan, berbagai rintangan dia lalui. Namun ketika dia merasa tidak ada respon dari masyarakat, atau karena kemungkaran tetap tak berkurang, mulailah mereka terlihat limbung, goyah, bahkan mungkin berhenti melanjutkan langkahnya, dan memilih melakukan tindakan-tindakan bodoh yang menunjukkan kalau dia sedang tertekan.

Dan dalam dakwah kita harus tahu, bahwa Allah swt telah menciptakan fase pertumbuhan dan perubahan dalam diri setiap makhluknya yang tak pernah berubah, dan bahwa setiap sesuatu memiliki ajal yang telah ditentukan, dan bahwa Allah tidak bisa dibuat tergesa-gesa seperti kita memutar roda sehendak kita, dan bahwa setiap buah memiliki jangka waktu untuk mencapai kematangannya sehingga kita merasa puas ketika memetiknya.

Dan setiap dai yang punya jiwa reformasi hendaknya mengetahui bahwa Allah tidak pernah menuntut dirinya untuk berhasil atau memenangkan Islam, sebab itu semua urusan Allah. Hak prerogatif Allah. Ketentuan Allah. Tetapi dai hanya diminta untuk bersungguh-sungguh, ikhlas, dan mengoptimalkan segala kemampuan yang dimilikinya. Allah swt berfirman, "Dan jika mereka berpaling, maka Kami tidaklah mengutusmu untuk menjaga mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali hanya menyampaikan."

Maka janganlah kita tergesa-gesa untuk melihat hasilnya, sebab hal itu hanya akan membuat kita futur; meninggalkan medan dan berhenti dari amal mulia itu.

Lelah Menunggu Datangnya Jawaban
Doa itu memiliki pahala yang besar, juga kedudukan yang penting di dalam Islam. Rasulullah saw telah menegaskan, "Sungguh, doa itu adalah ibadah." Beliau kemudian membaca ayat, "Dan Rabbmu berfirman, 'Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untukmu."
Dan seorang Muslim, jika ia selalu berdoa maka tak akan merugi selama tidak tergesa-gesa minta disegerakan jawabannya, atau memohon sesuatu yang dilarang, atau untuk memutus hubungan silaturahim. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Seseorang di antara kalian tentu akan diijabah (doanya) selama dia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa tetapi tidak diijabah untukku.’”

Beliau juga bersabda, "Tak ada seorang Muslim pun di atas muka bumi ini yang memohon kepada Allah dengan suatu doa melainkan Allah akan mengabulkan untuknya, atau dihindarkan dari satu keburukan yang semisalnya, selama dia tidak memohon sesuatu yang dilarang, atau untuk memutus hubungan silaturahim."

Tergesa-gesa, seperti dalam hadits ini menjadikan doa justru terhambat jawabannya. Ibnu Hajar AI Haitami lalu menjelaskan, "Sebagian imam berkata, bahwa sabda Rasulullah, '(Doa) seseorang di antara kalian akan diijabah, memiliki dua kemungkinan; pasti diijabah atau bisa diijabah. Jika pilihannya adalah yang pertama, maka dia ada dalam tiga keadaan; diijabah sekarang, ditunda, atau diganti dengan hal yang setimpal dengan yang dia minta. Namun jika ia tergesa-gesa, gagal lah satu di antara tiga hal itu dan doa menjadi sebuah amal yang terlantar. 

Maka berhati-hatilah selalu. Jangan tergesa-gesa dengan mengatakan, "Aku telah berdoa. Aku telah berdoa. Aku telah berdoa, tapi tak ada jawaban." Sebab kalimat seperti ini hanya akan memunculkan rasa bosan pada diri kita dalam berdoa, menjadikan kita cepat berputus asa, dan yang pasti akan menyakiti Allah swt, padahal sesungguhnya kita akan senantiasa selalu dalam kebaikan sepanjang kita tidak berhenti berdoa.

Berdoa adalah ibadah yang disyariatkan kepada kita, tetapi jawaban adalah hak Allah swt. Jika ternyata jawaban itu belum datang, atau kemudahan belum kita dapatkan hendaknya kita berprasangka baik kepada-Nya, mungkin kita belum bersungguh-sungguh, atau kurang ikhlas, atau barangkali masih ada dosa yang belum kita taubatkan kepada Allah.

Ibrahim bin AI Khawwash pernah bercerita, suatu saat dia keluar untuk menentang kemungkaran yang terjadi dalam satu kelompok masyarakat. Tetapi, langkahnya kemudian dihentikan oleh sekawanan anjing yang menyalak ke arahnya, hingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Dia kembali dan masuk ke masjid kemudian shalat. Setelah keluar dari masjid, kawanan anjing itu mengibas-ibaskan ekornya dan Ibrahim berjalan meninggalkannya, sehingga dia bisa meneruskan perjalanan dan melaksanakan niatnya.

Ibrahim ditanya tentang peristiwa itu, lalu dia menuturkan, "Dalam diriku sendiri saat itu masih ada kemungkaran, maka anjing-anjing itu pun menghadangku. Tatkala aku kembali dan bertaubat atas dosa-dosaku, maka yang terjadi adalah seperti yang kalian lihat."

Allah Maha Tahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada para hamba-Nya.

Yahya AI Bakka' juga pernah menceritakan, bahwa dirinya merasa berjumpa dan berdialog dengan Tuhan dalam mimpinya. Dia berkata, "Wahai Rabb, mengapa aku berdoa kepada-Mu namun tak kunjung Engkau kabulkan doaku." Tuhan berkata, "Wahai Yahya, Aku ingin mendengar suaramu.”

Jika kita merenungkan dua kisah ini, maka akan membawa kita pada kesadaran bahwa jawaban doa itu terkadang terhambat oleh satu hal. Karena itu, kita janganlah disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat; menduga-duga, berprasangka buruk, apalagi bersikap tergesa-gesa. Kita harus bebaskan diri dari itu, lepas dari bayang-bayang kegagalan.

Maka, berdoalah kita dengan khusyu, disertai selalu bertaubat dari segala kesalahan dan berdirilah di depan pintu-Nya, Maharaja alam semesta ini. Mohonlah kepada-Nya dengan tenang. Jangan berhenti. Tidak tergesa-gesa. Mintalah dengan di sertai keyakinan bahwa Dia akan menerima permintaan kita.

Merasa Cukup dengan yang Wajib dan Melakukan di Sisa Waktu
Bagi kita yang mungkin selalu dihadapkan pada kerja yang padat dan aktivitas yang mengharuskan untuk selalu berburu dengan waktu, seringkali kita menunaikan ibadah secara terburu-buru; entah bersegera melakukannya agar tidak terlambat bekerja, atau mengakhirkannya di ujung waktu yang tersisa karena memprioritaskan pekerjaan yang belum selesai.

Dua keadaan itu tentu saja tidak melahirkan kekhusyuan yang maksimal dan pelaksanaan yang sempurna karena benak kita selalu dibayang-bayangi tugas dan pekerjaan. Akibatnya, kita merasa cukup hanya dengan melakukan perintah yang wajib dan sering mengabaikan perintah-perintah yang sunah. Ibadah hanya dijalani sebagai rutinitas untuk memenuhi kewajiban kepada Allah, yang terus berlalu tanpa ruh dan tanpa makna.

Ketika di pagi hari, misalnya, selepas shalat Shubuh kita tidak sempat melakukan dzikir pagi, atau tilawah Al Qur'an karena harus segera merapikan diri untuk berangkat kerja. Sementara sebagai seorang karyawan, kita selalu mendedikasikan dan mengerjakan segala tanggungjawab dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Kita berusaha untuk selalu menjaga kinerja yang baik agar karir kita di kemudian hari pun menjadi baik. Sebab karir yang bagus akan berbanding lurus dengan penghasilan tentunya. Kita selalu ingin menunaikan pekerjaan dengan baik dan perfect, sehingga jika terjadi suatu kesalahan, kita akan segera menelusuri akar masalah, dan mencari solusi terbaik agar masalah tersebut tidak terulang kembali.

Entah kenapa, untuk masalah pekerjaan kita selalu berusaha untuk tepat waktu masuk kantor. Jika jam masuk kantor adalah pukul delapan pagi, kita sering sampai di sana lima belas atau sepuluh menit lebih awal. Setiap pergi ke kantor kita selalu berusaha untuk tampil rapi dan wangi, suatu keadaan yang sangat bertolak belakang dengan aktivitas kita ketika bangun tidur. Shalat Shubuh kita cukup dengan hanya menggunakan pakaian tidur, tanpa gosok gigi, apalagi memakai wewangian. Pendeknya, yang penting kewajiban kita bisa gugur.

Pada jam istirahat, selepas makan siang, biasanya kita asyik mengobrol dengan teman-teman kerja. Sementara shalat Zhuhur kita tunaikan lima menit menjelang waktu istirahat selesai. Walhasil, shalat Zhuhur yang kita kerjakan dengan sangat terburu-buru, waktu yang amat singkat. Dari mulai wudhu pun sudah terlihat terburu-buru.

Maka selepas salam, kita langsung kembali ke tempat kerja. Tidak ada dzikir ataupun shalat qabliyah dan ba'diyah. Semua serba terburu-buru.

Gambaran di atas merupakan refleksi dari rutinitas harian kita. Disadari atau tidak, terkadang kita tidak adil dalam menyikapi urusan dunia dan akhirat. Meski kita sering mengatakan bahwa dalam hidup ini harus seimbang antara dunia dan akhirat, tapi kita mungkin perlu bertanya pada nurani sendiri, benarkah kita telah melakukan itu? Benarkah kita sudah memposisikan timbangan dunia dan timbangan akhirat pada posisi yang sama tinggi, jika takarannya harus seimbang?

Ibadah adalah tempat kita meminta, sarana kita memohon, dan cara kita mengadukan persoalan kepada Sang Pencipta. Tapi ia seringkali dikalahkan oleh urusan duniawi kita, disisihkan oleh tugas kerja kita. Ia ditunaikan secara terburu-buru, tanpa disertai dengan perenungan yang dalam dan konsentrasi yang memadai, sehingga karena itu kita tidak merasakan ada pengaruh yang besar dalam hidup kita.[]

No comments:

Post a Comment