Wednesday, January 13, 2010

Polisi Syariah di Aceh Ditangkap Karena Diduga Memperkosa Tahanannya

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Artikel ini ada di halaman depan Jakarta Post hari ini (Rabu 13 Januari 2010). Saya baru saja cari berita yang sama di Detik.com, tidak ada. Di Kompas.com, tidak ada. Di Republika.co.id, tidak ada. Kenapa hal seperti ini tidak mau dilaporkan oleh media nasional? Seorang pewira polisi dikutip oleh Jakarta Post dan dia membenarkan bahwa Polisi sudah menangkap dua petugas “polisi Syariah” dan sedang mengejar satu lagi, karena dugaan mereka memperkosa seorang wanita setelah menahannya di Polsek Syariah.

Apakah situs berita yang lain tidak mau atau tidak berani melaporkan hal ini? Kenapa?

Inti ceritanya, Polisi Syariah menangkap satu pasangan laki-laki dan perempuan yang sedang berduaan di pinggir jalan. Karena dinilai melanggar hukum syariah, keduanya langsung ditangkap dan dibawa ke Polsek Syariah di Kabupaten Langsa. Di situ, ada dugaan si perempuan diperkosa secara bergantian oleh 3 petugas Polisi Syariah tersebut.

Kepala Polisi Negara setempat Adj. Sr. Comr. Yosi Muhammartha mengatakan dua anggota polisi syariah sudah ditangkap dan satu lagi sedang dikejar. Kenapa berita ini tidak/belum masuk koran yang lain?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene
*******
Sharia police arrested for ‘rape’

Hotli Simanjuntak ,  The Jakarta Post ,  Banda Aceh, Aceh , Tue, 01/12/2010 11:12 PM, National
A serious blow to the credibility and morality of Sharia police in Aceh province, has occurred after several members were detained for an alleged gang rape in Langsa regency. Police in the regency said Tuesday they had arrested two Sharia police officers, or Wilayatul Hisbah, for reportedly raping a female detainee at the Langsa Sharia Police Station. The Langsa Police are also hunting down another suspect who is currently on the run.

Langsa Police chief Adj. Sr. Comr. Yosi Muhammartha said the three suspects were accused of jointly raping a university student when she was held in a cell at the station. The woman was gang-raped by the three Sharia policeman during her interrogation, he added.

Yosi said the issue began when Sharia police officers were conducting patrol on the night of Jan. 8, and found a couple on the side of the PTPN-1 Langsa ring road. The police brought the pair to the Sharia police office in Langsa. The suspects then questioned the couple in relation to violating the 2003 Sharia Public Indecency Bylaw.

Sumber: thejakartapost.com


[Update: Saya baru ketemu ini]

Tahanan Khalwat Diperkosa Oknum Wilayatul Hisbah
LANGSA- Malang benar nasib Melati (bukan nama sebenarnya), warga Langka yang ditahan lantaran sedang berbuat mesum dengan seseorang lelaki yang bukan muhrimnya. Akibat perbuatannya itu, Melati ditahan oleh Wilayatul Hisbah dan Satpol PP Langka.
Tidak hanya itu, di dalam tahanan Melati harus menerima nasib yang lebih buruk lagi. Tiga oknum Wilayatul Hisbah dan Satpol PP yang menjaga sel tahanan, memperkosanya secara bergiliran pada Selasa (11/1) malam. Ketiga oknum Wilayatul Hisbah yang seharusnya menjadi petugas pelaksana hukum syariat itu adalah berinisial MN dan FA yang berhasil ditangkap aparat Polres Langsa dan DS yang masih buron dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=56375

Oknum WH Akui Perkosa Tahanan
LANGSA - Dugaan pemerkosaan tahanan wanita oleh tiga oknum Wilayatul Hisbah (WH) Kota Langsa makin mendekati realitas yang sesungguhnya, setelah tersangka yang berinisial MN (29), mengakui perbuatannya kepada penyidik Polres Langsa, Senin (11/1).
http://www.serambinews.com/news/view/21606/oknum-wh-akui-perkosa-tahanan 

13 comments:

  1. was looking for the news in its Indonesian language but so far only found here.

    I first read it this morning on The Jakarta Globe, and got very disturbed by this following comment:
    A medical examination confirmed that the victim had been grievously sexually assaulted and that she had suffered a severe hemorrhage as a result of the rape.

    “This is now a top priority case for us, considering that the suspects have completely humiliated the Shariah Police,” Yosi said.
    http://thejakartaglobe.com/home/acehs-shariah-police-stained-forever-by-gang-rape/352556

    My goodness, becomes top priority case cause it "completely humiliated the Shariah Police"???
    That's nothing compared to what the girl must bear throughout her life! Hypocrite rules!

    ReplyDelete
  2. You want the news in Indonesian, Gene? You’ve got it!
    - http://www.surya.co.id/2010/01/11/dugaan-oknum-wh-perkosa-tahanan-polisi-harus-usut-tuntas.html
    - http://blog.harian-aceh.com/wajah-penegakan-syariat.jsp
    - http://tgj.co.id/detil-berita.php?id=4423
    - http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=40342:usut-tuntas-oknum-wh-perkosa-tahanan-&catid=42:nad&Itemid=112
    - http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=81088:pejabat-wh-tak-berwenang-melakukan-penahanan&catid=13:aceh&Itemid=26

    Now what will you do with those? What will you do, Gene?

    Let’s straighten the fact here. The news didn’t appear first in Jakarta Post, it appeared first in Serambi Indonesia, the biggest local daily in Aceh. (see http://www.serambinews.com/news/view/21459/tiga-oknum-wh-diduga-perkosa-tahanan )
    Yes Gene, you give us the link but you seem to forget the details. Just because you can’t find it, that doesn’t mean it’s not there.

    Jakarta Post is in the same group with Kompas. They often publish similar news. You’re the one who have been telling us that Jakarta Post often forces Islam into a corner, may be you should ask why that news seems to be exclusive for Jakarta Post only and doesn’t appear in Kompas? Since they are in the same group, it’s an easy matter to publish on both dailies like they frequently do.

    You know something, Gene? I see this matter from a different perspective. I’m thinking about the victim’s condition. It’s a rape case, a very sensitive issue. So there should be an exception for this one. You see, I’m glad that it only makes local news and not the national headlines. I can’t imagine the life that she has to live through if what she experienced had to be national headlines, especially since she lives in Aceh where its standards are quite different from us. She already suffers so much, and I don’t think national headlines will give her any help. It will only disturb her privacy and wound her more. I’m glad that it doesn’t make national headlines because I want to see her recovers soon (although she may never recover completely).

    ReplyDelete
  3. Anonymous, I also noticed and was disturbed by the same sentence. Juga sangat disayangkan bahwa mereka anggap “top priority” karena mempermalukan Syariah Police. Seharusnya setiap kasus pemerkosaan di sana juga menjadi prioritas tinggi.

    Jangan sampai terjadi hal yang serupa dengan Pakistan, di mana wanita yang melaporkan dirinya diperkosa malah akan dipenjarakan karena dianggap “mengaku berzina”.

    ReplyDelete
  4. @ Visiteur, coba baca komentar saya lagi. Saya tidak mengatakan tidak ada. Saya juga tidak mengatakan masuk Jakarta Post paling pertama dari semua. Saya mengatakan ada di halaman depan JP (dan itu biasanya berarti ceritanya dianggap besar, dan oleh karena itu, biasanya juga ada di koran nasional lainnya).
    Setelah saya cari lagi (saat itu) hanya dapat di 2-3 koran lokal dekat Aceh. Kalau sekarang sudah masuk lebih banyak koran, wajar saja. Walaupun begitu, apakah sudah masuk Kompas dan Republika? Kalau sudah, berarti tidak ada masalah lagi. Kalau belum, saya penasaran dan ingin tahu alasannya.
    JP dan Kompas memang satu grup. Tetapi pembacanya agak berbeda. Apakah itu alasannya masuk JP dan bukan Kompas? Apakah karena editor? Alasan lain?

    >>Now what will you do with those? What will you do, Gene?

    I don’t plan to do anything. I have no idea what you are talking about.

    >>Let’s straighten the fact here. The news didn’t appear first in Jakarta Post, it appeared first in Serambi Indonesia, the biggest local daily in Aceh.

    Saya tidak tahu anda mau meluruskan”fakta” yang mana. Tidak ada yang mengatakan masuk JP paling pertama. Jadi, tidak ada yang perlu diluruskan.

    >>Yes Gene, you give us the link but you seem to forget the details. Just because you can’t find it, that doesn’t mean it’s not there.

    I did not say that the article was not there. I said “I could not find it”. Do you understand the difference?

    ReplyDelete
  5. >>You know something, Gene? I see this matter from a different perspective. I’m thinking about the victim’s condition. It’s a rape case, a very sensitive issue. […]You see, I’m glad that it only makes local news and not the national headlines. […] She already suffers so much, and I don’t think national headlines will give her any help. It will only disturb her privacy and wound her more. […]

    @ Visiteur. Jadi setelah wanita itu ditangkap karena dinilai melanggar syariah, dan ditahan, lalu diperkosa oleh “para penjaga moralitas” di Aceh, anda malah mau kasus ini tidak diberitakan secara besar? Nama wanita itu tidak disebutkan oleh semua koran. Jadi, bagaimana mengganggu privacy dia? Dan kalau didiamkan, dan dibiarkan lewat begitu saja, apakah akan tuntas? Bagaimana kita bisa tahu? Mungkin para petugas tersebut punya koneksi dengan pejabat setempat, jadi setelah ditangkap polisi, mereka bayar dan dilepaskan begitu saja. dan tidak ada wartawan yang bertanya2 lagi. Lalu, 1, 2, 3, 4 wanita yang lain juga ditahan dan diperkosa, dan kasus2 itu juga tidak diangkat untuk pembicaraan publik.

    Apakah benar2 perlu Polisi Syariah di Indonesia? Apakah masyarakat Aceh memang mintanya? Apakah pernah ada referendum di mana masyarakat diminta pendapatnya tentang Polisi Syariah? Atau apakah ide ini datang dari penguasa, dan dipaksakan terhadap masyarakat?

    Di zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada Polisi Syariah. Kenapa kita butuhkan? Apakah mereka sanggup menjaga moralitas dalam suatu komunitas secara paksa? Bagaimana sikap kita kalau terjadi hal yang buruk seperti yang pernah terjadi di Saudi, di mana Polisi Syariah memaksakan wanita muda masuk kembali ke dalam asrama yang sedang kebakaran sehingga beberapa dari mereka wafat? Kebakaran terjadi di tengah malam, jadi wanita2 muda itu lari keluar dari gedung tanpa menggunakan abbayah (yang menutupi seluruh tubuh). Polisi syariah lewat, dan memaksa mereka masuk kembali asrama yang sedang kebakaran dan suruh mereka menutup aurat sebelum boleh keluar. Saya lupa berapa banyak yang mati.

    Apakah perlu terjadi di Aceh juga, sebelum kita boleh membahas pro dan kontra Polisi Syariah? Saya belum yakin Polisi Syariah adalah ide yang baik dan bagus untuk suatu masyarakat. Tetapi saya juga belum melihat diskusi mengenai hal ini yang diperbolehkan di tengah masyarakat Aceh. Oleh karena itu, saya angkat berita ini di sini, biar orang lain bisa tahu, dan berfikir sendiri tentang apakah Polisi Syariah itu adalah ide yang baik atau tidak.

    Sekian saja.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  6. Menggelitik telinga saya ketika anda mengatakan "dizaman Nabi tidah ada polisi Syariah"...
    Jelas tidak ada label seperti itu... Namun hukum apa yang digunakan? bisa anda jawab? kalau bisa anda pasti mengerti kenapa tidak ada label polisi syariah pada saat itu.
    Saya pribadi mengutuk perbuatan ini. Pemerkosaan itu sangat keji, siapapun yang melakukan... mau polisi syariah, mau petingi agama, mau pejabat korup, mau preman pasar atau BABE si manager anak2 asongan jalanan yang diduga memperkosa anak laki2 dan memutilasinya, sama saja tindakannya tidak terpuji.
    Seperti masalah istana di penjara pondok bambu... ini masalah Oknum.
    Kita tidak bisa serta merta menjustifikasi sitem atau hukumnya jelek.
    Mungkin anda ingat istilah, it's depen on the man behind the gun, atau kebenaran (agama) itu seperti sumber cahaya, namun seringkali yang kita liat adalah kaca pembungkusnya.
    Atas pertanyaan anda yang lain, saya sangat menghargai apabila anda mau mengkaji, menelaah ataupun melakukan studi mengenai hukum syariah sendiri dan yang ada di ranah aceh, serta bagaimana pandangan masyarakat aceh secara keseluruhan mengenai hukum ini. karena anda samasekali tidak memaparkan data2 pada saat anda melontarkan ide dan pertanyaan.
    terimakasih.

    ReplyDelete
  7. Hai Novi. Yang saya maksudkan dengan "dizaman Nabi SAW tidah ada polisi Syariah" adalah dari apa yang saya baca di berita, “polisi syariah” itu lebih diarahakan untuk “menjaga moralitas”. Yang ingin saya tanyakan, apakah mungkin “moralitas” bisa dijaga secara paksa oleh pihak luar? Yang saya paham dari moralitas adalah itu sesuatu yang kita rasakan di dalam hati. Kalau kita mendidik anak untuk memahami agama dengan benar, sikap dan perbuatan mereka akan moral, sesuai dengan ajaran agama. Di zaman Nabi SAW, setahu saya tidak ada orang yang mutar2 mencari orang lain yang melakukan tindakan tidak bermoral supaya bisa dihukum. Kalau ketahuan (secara tidak sengaja) lain lagi. Tetapi tidak ada pasukan yang mencarinya. (Mereka sengaja mencari “aib orang” supaya bisa dihukum).

    Jadi saya tertarik dari sisi prinsip, apakah mungkin moralitas bisa dijaga secara paksa oleh pihak luar? Dan kalau tidak bisa, apa yang akan terjadi bila orang yang menjaga moralitas malah bisa lebih buruk daripada orang yang mereka tangkap? Semua orang Indonesia selalu bilang “oknum” kalau ada kasus yang masuk berita. Ada polisi yang disogok, itu pasti oknum (bukan kebiasaan bagi semua). Tetapi sekarang malah ketahuan bahwa itu yang normal, dan bukan “oknum”. Bagaimana dengan polisi moralitas? Mereka punya kekuasaan yang luas. Sejauh mana mereka lebih moral daripada anggota masayarakat yang lain?
    Saya tidak punya data yang bisa dilontarkan. Saya bukan periset yang fokus pada polisi moralitas di Aceh. Tidak berarti saya tidak boleh bertanya dan berfikir. Atau apakah bertanya juga tidak boleh (kaya di Orde Baru)? Semua orang yang berkuasa harus selalu dinilai dalam kebenaran dan tidak boleh dipertanyakan.

    Pasukan penjaga moralitas di Iran kena banyak tuduhan sekarang, tentang perbuatan mereka yang tidak bermoral, tetapi sebelumnya tidak boleh diungkapkan karena mengritik penguasa setara dengan menjadi pengkhianat bangsa dan oleh karena itu boleh ditangkap, disiksa dan dihukum. Apakah Aceh harus menjadi separah itu sebelum ada orang yang boleh bertanya2? Mau berapa banyak orang Muslim menjadi korban tanpa dipedulikan oleh kita?

    ReplyDelete
  8. I see eye to eye with you and really appreciate you were very eloquent and kind to explain your argument above, Mr. Gene.

    Anda berkata, "Yang ingin saya tanyakan, apakah mungkin “moralitas” bisa dijaga secara paksa oleh pihak luar? Yang saya paham dari moralitas adalah itu sesuatu yang kita rasakan di dalam hati."

    Saya hanya bisa bilang, "shadaqta wa bararta wa ana dzaalika minassyaahidin". Saya mengamini statemen Anda.

    Rasulullah.saw diutus ke dunia untuk meluruskan akhlak pun bukan dengan cara-cara sebanal yang dilakukan Polisi Syariah--term polisi syariah ini oksimoron buat saya anyway--melainkan Nabi hanya bertindak menyampaikan.

    Ya. Persoalan kemanusiaan seperti ini harusnya diekspos besar-besaran, agar membuka mata siapapun, bahwa a-gama bukan semata atribut luar dengan embel-embel syariah atau hal persetan apalah.

    Saya... senang sekali terpeleset ke blog Anda. Senang sekali. Dan mudah-mudahan dari komentar ini bisa berlanjut ke diskusi via instant messaging atau e-mail.

    Salam kenal dan salam hangat,
    Aris

    ReplyDelete
  9. Hai Aris. Saya merasa agak tidak senang kalau ada semacam “polisi moralitas” (dengan nama apa pun). Saya memang bukan ahli syariah jadi kalau ada seorang ustadz yang mau membantah, saya pasti kalah. Tetapi saya melihatnya dari sisi pendidikan (karena saya seorang guru). Di dalam kelas orang lain, guru harus menjaga ujian dengan penuh konsentrasi untuk mencegah anak2 dari nyontek. Saya malah keluar dari kelas, jalan ke ruang guru, bikin kopi, dan kembali setelah berbincang dgn teman2 guru. Ada guru yang hampir pingsan lihat saya di luar kelas. Dia bilang “Gene, murid kamu pasti nyontek semua! Kamu gila keluar dari kelas.” Saya senyum saja, dan ajak dia mengintip ke dalam kelas. Ternyata, tidak ada yang nyontek. Guru lain kaget. Kok bisa?

    Saya jelaskan: ada beberapa strategi yang saya gunakan. Yang terpenting, saya ajarkan anak2 ttg tujuan tes itu. Saya jelaskan manfaatnya kalau saya tahu mereka belum paham dan masih perlu bantuan. Saya hilangkan pikiran bahwa tujuan tes itu adalah untuk “lulus” dan mengarahkan mereka pada konsep tes itu supaya guru tahu siapa yang masih perlu dibantu karena belum paham. Lulus atau tidak lulus menjadi persoalan yang kecil. Hasilnya, tidak ada yang mau nyontek. Dan malah, ada seorang murid yang lulus dengan nilai pas, dan setelah saya jelaskan bahwa tes itu hanya untuk mengukur ilmu yang sudah ada, dan lulus tidak penting, dia malah minta ulangi level itu, karena merasa belum paham (walaupun lulus tes akhirnya).

    Saya ajarkan mereka untuk percaya diri, dan kendalikan diri. Dan dilakukan dengan setiap kelas, dan alhamudlillah, selalu berhasil. Dengan sistem polisi syariah, daripada mengajarkan, saya harus mengancam dan memaksa, serta memantau terus. Hasilnya bagaimana? Saya yakin hasilnya beda sekali dengan murid di kelas saya yang dalam waktu singkat berhasil mengendalikan diri. Kalau masyarakat diajarkan untuk berfikir secara syariah, buat apa polisi?

    ReplyDelete
  10. Selanjutnya, kalau ada polisi syariah, apakah menjamin masyarakat yang lebih islamiah? Atau apakah hanya orang2 tertentu saja yang menjadi “korban” atau “sasaran”? Contoh: di Aceh ada polisi syariah/moralitas. Kalau 3 tukang ojek main judi di pinggir jalan dengan uang logam (yang totalnya tidak lebih dari 10 ribu, dan mereka hanya sekedar iseng saja), mereka akan ditangkap, disidangkan, dan dihukum cambuk sekian kali. Tetapi, seorang pengusaha yang kaya bisa buka kamar besar (suite) di hotel bintang 5, panggil teman2 untuk berjudi, sambil minum alkohol dan pakai narkoba, dan juga pesan cewek2 untuk temani mereka dan menari bugil di atas meja sekaligus. Apakah kira2 ada anggota polisi syariah yang berani masuk kamar tersebut? Apalagi kalau di dalam kamar itu ada beberapa pejabat tinggi dan juga mungkin pewira polisi.

    Jadi, fungsi polisi moralitas itu bukan untuk membuat masyarakat lebih moral. Itu hanya bisa dilakukan dengan pelajaran tentang moralitas. Fungsi polisi syariah lebih untuk menciptakan “kesan” bahwa di dalam masyarakat itu moralitas dijaga dan sulit untuk menyimpang dari jalan yang benar. Tetapi sebenarnya, buat orang mampu, tidak ada bedanya. Yang kena razia pasti kaum yang miskin dan tidak berkuasa. Lalu mereka dicambuk, sedangkan pejabat dan pengusaha di hotel berbintang tidak akan pernah ditangkap.

    Ada teman yang bercerita tentang polisi syariah/moralitas di Saudi. Mereka akan memukul wanita yang jilbabnya tidak rapi sehingga rambut masih kelihatan. Lalu dia juga menjelaskan bahwa satu blok dari Masjid il Haram ada pelacur yang pakai abayah (penutup untuk seluruh tubuh). Dan dia jelaskan bagaimana caranya memanggil mereka untuk berzina di hotel. Semua orang sudah tahu, katanya, tetapi wanita2 itu tidak pernah ditangkap padahal mereka berdekatan sekali dengan Masjid yang paling suci di dunia. Dia juga jelaskan tentang klub khusus untuk orang homoseks yang ada di pinggir kota (saya lupa kota mana). Polisi juga tidak berani masuk sana, dan malah jaga di pintu masuk, karena salah satu anggota kerajaan yang menjadi “backing” di situ (karena dia juga homo).

    Kalau cerita2 itu benar (saya tidak ada alasan untuk tidak percaya pada dia), maka polisi moralitas itu hanya menjaga “kulit” saja yang kelihatan di pinggir jalan. Mereka tidak mencari orang yang paling buruk moralitasnya, dan hanya sekedar menekan masyarakat untuk tidak berbuat apa2 di pinggir jalan. Sedangkan orang yang lebih buruk lagi tidak dicari, apalagi kalau ada koneksi kuat pada kerajaan/penguasa.

    ReplyDelete
  11. Sebagai komentar terakhir, saya tidak yakin bahwa masyarakat bisa menjadi lebih baik dan bermoral dengan cara “dipaksakan”. Ini kembali pada ilmu pendidikan ttg motivasi intrinsik (dari dalam) dan ekstrinsik (dari luar). Kalau ada motivasi (paksaan) dari luar untuk melakukan perbuatan X, lalu motivasi (paksaan) itu dihilangkan, berarti perbuatan X tidak akan tetap. Pasti mengalami perubahan. Yang baik, dihentikan, dan yang buruk dikerjakan. Itu terjadi karena tidak ada niat dari dalam diri sendiri untuk melakukan yang baik.

    Kalau ada Polisi Syariah di Jakarta, saya sudah pasti dicambuk berkali2. Dulu saya datang ke kafe dan membuat pengajian di situ untuk “Ibu2 gaul”. Mereka minta saya datang setelah seorang ustadz menolak datang (karena di kafe). Saya datang, dan mereka bertanya2 tentang alkohol (emang haram kalau hanya sedikit dan tidak mabuk?), tentang aurat dan jilbab (emang harus menutup aurat terus, bukan hanya untuk shalat?), tentang shalat (kalau tidak shalat pada suatu waktu, harus dilupakan karena sudah “di luar waktu”, jadi kesiangan untuk shalat subuh, berarti tidak ada shalat subuh, betul?), dan seterusnya.

    Yang laki hanya saya, yang lain perempuan semua, tidak berjilbab, dan malah bajunya sangat “terbuka”. Dan kita berada di KAFE. Mereka sangat ingin tahu tentang Islam, tetapi malu datang ke “pengajian” di mana ada banyak “Ibu2 pengajaian” yang tidak bersahabat. Dalam pikiran mereka, kalau tidak hafal banyak ayat, tidak berjilbab, tidak rajin shalat, dll, tidak boleh/tidak berhak datang ke tempat pengajian Ibu2 karena tidak akan terima secara baik di situ. (Itu persepsi mereka).

    Saya berusaha untuk berdakwah, dan menjawab semua pertanyaan mereka sehingga mereka lebih memahami Islam dan mau belajar lagi setelah hari itu. Saya berada di situ justru untuk memperbaiki akhlak, ilmu dan keimanan ibu2 itu. Untung tidak ada Polisi Syariah yang lewat pada waktu itu! Saya pasti ditangkap dan dicambuk. Haram, haram!!!

    ReplyDelete
  12. berita ini meng-ingatkan gw tentang si tifatul sembrono yg mengoceh kalo tsunami disebakan oleh hal-hal porno.

    jadi tsunami aceh lalu itu merupakan upaya pre-emtive dari Allah S.W.T untuk mengurangi kebejad-an orang Aceh, yg masih saja tersisa, dibuktikan dengan kejadian pemerkosaan ini.

    ReplyDelete
  13. berita ini meng-ingatkan gw tentang si tifatul sembrono yg mengoceh kalo tsunami disebakan oleh hal-hal porno.

    jadi tsunami aceh lalu itu merupakan upaya pre-emtive dari Allah S.W.T untuk mengurangi kebejad-an orang Aceh, yg masih saja tersisa, dibuktikan dengan kejadian pemerkosaan ini.

    ReplyDelete