Wednesday, January 27, 2010

Renovasi TMP Kalibata Telan Rp 23 Miliar

Assalamu'alaikum wr.wb.,
Ada yang terasa aneh di negara ini. Untuk urusan yang tidak penting sekali, tidak darurat dan tidak utama, puluhan milyar rupiah bisa muncul, entah dari mana. Tetapi untuk urusan yang justru penting, darurat dan utama, sorry deh, tidak ada anggaran. Jangankan anggaran, kepedulian saja belum tentu ada.

Untuk air mancur bisa dicari puluhan milyar. Untuk pagar dan tanaman di Monas ada milyaran. Untuk mobil mewah bagi menteri dan pejabat lain, ada puluhan sampai ratusan milyar. Dan sekarang, untuk orang YANG SUDAH WAFAT ada juga puluhan milyar.

Sedangkan, untuk anak miskin yang terpaksa putus sekolah, sorry, tidak ada anggaran (dan kalaupun ada anggaran, bisa dijamin sekali bahwa anggaran itu akan dikorupsi). Untuk anak miskin yang tidak bisa berobat, sorry, tidak ada anggaran. Untuk korban bencana yang masih harus tinggal di tempat pengungsian, sorry, tidak ada anggaran.

Tetapi untuk orang yang sudah wafat, puluhan milyar ada. Bayangkan kalau ada seorang “pahlawan negara” yang sudah wafat, tetapi bisa diajak bicara.

Kita bertanya saja:

“Pak, anda seorang pahlawan. Dan sekarang anda sudah wafat. Sudah ada di dalam kuburan, dan tidak ada yang ganggu di sana. Pemerintah punya dana puluhan milyar. Dengan uang tersebut, mereka bisa pasang mamer di sekitar kuburan anda, dan batu nisan anda akan dilapis dengan emas murni. Atau pilihan kedua, uang tersebut bisa disediakan untuk anak yatim dan anak miskin biar mereka bisa sekolah, berobat, dan makan dengan baik setiap hari.

Pertanyaan kami, perjuangan anda sebagai pahlawan negara punya tujuan yang mana:
1) Untuk dapat makam yang dihias dengan emas dan mamer, atau
2) Untuk kepentingan rakyat dan bangsa?”

Kira-kira pahlawan negara yang sejati menjawab apa? Sayangnya tidak ada lagi “pahlawan negara” yang duduk dalam pemerintahan. Adanya “pahlawan proyek”!

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene
*********

Renovasi TMP Kalibata Telan Rp 23 Miliar

Rabu, 27/01/2010 11:35 WIB
Andi Saputra - detikNews
Jakarta - Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, tempat jenazah orang yang berjasa pada negara bersemayam, direnovasi. Pemugaran menelan anggaran sebesar Rp 23 miliar. Sebanyak Rp 11 miliar di antaranya untuk renovasi tahap II. Renovasi tahap I sebanyak Rp 12 miliar, telah kelar tahun lalu.

"Dana dari APBN 2009 untuk renovasi tahap II senilai Rp 10,9 atau sekitar Rp 11 miliar," kata Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri pada upacara peresmian pemugaran TMP Kalibata, di Jalan Raya Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (27/1/2010). Renovasi tahap II meliputi penggantian lantai plaza seluas 2.692 m2, penggantian lantai depan plaza 7.856 m2, rehabilitasi kolam air mancur 2.962 m2 dan pedestrian 2.070 m2. Total areal TMP seluas 25 ha dengan jumlah makam 8.901.

"Kami harap, dengan selesainya renovasi, kita bangga dengan makam pahlawan. Seperti di luar negeri, makam pahlawan sangat indah," tambahnya. Hadir dalam peresmian tersebut, pasangan artis Ananda Mikola dan Marcella Zalianty. Marcella Zalianty didaulat membacakan puisi perjuangan karyanya sendiri.  "Diharapkan, generasi muda selain berziarah juga dapat menambah informasi pengetahuan kepahlawanan melalui buku leaflet/brosur yang terdapat di perpustakaan atau petugas TMP," kata Mensos.

TMP Kalibata diperuntukkan mereka yang telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia, termasuk para pahlawan nasional, anggota militer, dan pejabat tinggi negara. Semula TMP ini dibangun di Ancol, namun karena sudah tidak layak lagi, akhirnya dipindahkan ke Kalibata pada tahun 1953 dengan arsitek F.Silaban. (asp/nrl)

Sumber: detiknews.com

********
Komisi IX: Program 100 Hari Menkes Belum Bermakna
Amanda Ferdina - detikNews
Jakarta - 100 hari sejak dilantik, kinerja Menteri kesehatan beserta jajarannya dinilai belum bermakna. Tolak ukurnya adalah apakah masih ada rakyat yang ditolak berobat ke rumah sakit karena tidak mampu membayar. "Kalau mau jujur ngomong, program 100 hari belum bermakna apa-apa. Karena tolak ukurnya masalah rakyat ada penolakan dari rumah sakit," ujar Ketua Komisi IX, Ribka Tjiptani usai raker bersama Menteri Kesehatan, DPR, Senayan, Rabu (27/1/2010). […]
"Jamkesmas sudah berjalan tapi penolakannya di mana-mana. Tadi pagi saya dapat SMS dari Cianjur, ratusan orang dari rumah sakit Hassan Sadikin dipulangkan dengan siap menangis dan siap mati. Dan ini saya forward ke ibu menteri," jelasnya. Oleh karena itu, lanjut Ribka, harus bekerja sama dengan pemda dan departemen pusat. "Malah mundur karena Pemdanya Jamkesda dipersulit, SKTM (surat keterangan tidak mampu) ditolak," katanya. (amd/mad)

Sumber: detiknews.com

2 comments:

  1. Lagi...

    Kapal Rp 14 M Lebih Cocok untuk Pesiar Bukan Survei Terumbu Karang

    Kementerian Kelautan dan Perikanan dikecam. Jenis kapal seharga Rp 14 miliar itu lebih cocok dipakai untuk pesiar dibanding survei terumbu karang. "Kapal itu tidak relevan untuk memantau terumbu karang. Untuk memantau terumbu karang itu lebih kepada equipmentnya, peralatan dasar seperti sounder, monitor, laboratorium, dan alat selam. Bukan kepada kapalnya," kata Koordinator Destructive Fishing Watch (DFW) M Zulfikar saat dihubungi detikcom, Kamis (28/1/2010). Dia menduga, pembelian kapal ini lebih kepada menghabiskan anggaran semata. "Ini hanya justifikasi anggaran yang sudah lewat jadi dipaksakan agar keluar," imbuhnya.

    http://www.detiknews.com/read/2010/01/28/130328/1288071/10/kapal-rp-14-m-lebih-cocok-untuk-pesiar-bukan-survei-terumbu-karang?991102605

    ReplyDelete
  2. coba uangnya dikasih ke PT pelni untuk beli tambahan kapal antar pulau, biar pemerataan ekonomi merata..didaerah terpencil karena transpprtasinya bertambah.

    atau kasih aja ke TNI AU mereka kan suka mengeluh keterbatasan kapal untuk menjaga pulau2 terluar indonesia, nanti di ambil malaysia lagi gimana...kan lebih tepat guna..:)

    belum apa2 pejabat udah mau naik gaji, presiden pengen beli pesawat...padahal rakyat masih banyak yang melarat..hmm

    ReplyDelete