Tuesday, February 23, 2010

Layangan Hilang di Jakarta - Playstation Lebih Asyik Daripada Layangan

Ini sepertinya benar sekali. Dengan peningkatan ekonomi, hampir semua orang tua ingin beli Play Station bagi anaknya, biar mereka nggak kalah dengan teman sekolah yang sudah punya PS-3. Dan kalau anak lagi konsentrasi main Play Station, maka orang tua menjadi bebas dan tidak perlu memantau anaknya lagi.
Sayangnya tidak ada gerakan lagi untuk kembali ke layang-layang. Saya masih ingat dulu, waktu pertama kali datang ke Jakarta, saya memang merasa kagum karena setiap sore kelihatan layang-layang di mana2. Sekarang memang menjadi sepi sekali…

Wassalam,
Gene

Layangan Hilang di Jakarta - Playstation Lebih Asyik Daripada Layangan


Selasa, 23/02/2010 17:07 WIB
M. Rizal Maslan - detikNews
Jakarta - Dua kakak beradik tengah asyik memainkan layang-layang di kawasan Monumen Nasional (Monas). Sang adik menggulung benang, dan sang kakak mengendalikan layangan. Ayah mereka hanya memperhatikan dari jauh.
Namun, hanya mereka yang bermain layangan di Monas. Layangan yang dimainkan pun adalah layangan hias berbuntuk burung dan ekor panjang berwarna merah biru. Agak kontras jika menyadari di Monas sedang berlangsung Gebyar Betawi, Minggu (21/2/2010). Ini adalah acara untuk melestarikan budaya Betawi, dan dulunya layangan tidak bisa lepas dari kehidupan anak-anak di Jakarta.

Berbeda jauh memang dengan dunia anak-anak di Jakarta sampai dekade 1990-an. Saat lagi musim, langit Jakarta semarak dengan layangan. Bukan layangan hias, melainkan layangan aduan yang berbentuk belah ketupat sederhana itu.

"Sekarang susah benar lihat orang main layangan di Jakarta. Kalau lagi musim ada juga yang main, tapi segelintir," kata Sigit, warga Manggarai, Jakarta Selatan kepada detikcom.

Di Manggarai, kata Sigit, masih ada anak kecil bermain layangan. Namun penjualnya makin jarang. Padahal dahulu, tua mua, miskin kaya, semua asyik bermain layangan. "Sekarang paling di Monas, itupun kalau ada lomba," jelasnya.

Mungkin tidak hanya di Jakarta, di Tangerang, Bogor dan Depok, anak-anak kian jarang bermain layangan. Padahal saat Sigit masih kecil, semua orang bermain layangan. Bermain layangan butuh kreatifitas dan keterampilan sendiri. Saat puncak musim layangan sampai 1990-an, anak-anak bermain layangan, di lapangan, gang, sampai jalanan.

Mengejar layangan putus tidak kalah serunya. Anak kecil sampai pemuda berlari-lari membawa galah panjang memburu layangan aduan yang terbawa angin. Kemanapun layangan terbawa angin, mereka akan mengejar. Tidak jarang mereka berebut sampai layangan robek. Namun tidak ada yang marah apalagi berujung tawuran.

"Apa mereka berantem? Nggak kan. Mereka malah tertawa membawa layang robek itu. Mereka bangga kalau bisa membawa pulang layangan aduan yang putus. Ibaratnya layangan ini udah teruji kelaikan terbangnya," ujar Sigit mengenang masa kecilnya itu.

Dahulu, layangan selain dibeli, juga dibuat sendiri. Termasuk pula layangan Kowang atau Petheng. Layangan Kowang ini lebih banyak berkembang di pinggiran Jakarta. Ukurannya besar dan ditempelkan pita bekas kaset atau daun kelapa. Saat mengudara, layangan Kowang berbunyi nyaring.

Sebenarnya yang lebih seru, adalah membuat layangan aduan yang sederhana. Bilah bambu diraut kecil-kecil dengan teliti, disambung benang berbentuk segi empat. Perlu ketepatan dalam membuat rangkanya agar layangan bisa terbang seimbang dan bermanuver. Benang layangan pun penting perannya dalam adu layangan. Yang menjadi favorit adalah benang gelasan, benang yang dibalur kanji bercampur bubuk kaca semprong.

Tempat jualan layangan paling terkenal di Jakarta di Guntur, Jakarta Selatan dan Kwitang, Jakarta Pusat. Guntur punya koleksi paling lengkap dari layangan sampai benang. Namun Kwitang punya benang gelasan bermutu tinggi.

"Ini kayaknya permainan yang penuh keterampilan semua golongan, tapi herannya justru ditinggalkan orang sekarang ini," ungkapnya.

Banyak hal yang membuat layangan makin jarang dimainkan. Tanah kosong di Jakarta tergusur oleh bangunan. Kabel listrik makin banyak dan beragam. Lalu lintas pun makin ramai dan membahayakan jika ingin mengejar layangan. Faktor utama yang mengalahkan layangan adalah Playstation.

"Dua yang mengubah itu, komputer dan Playstation (PS). Anak-anak sekarang lebih kerajingan main PS atau game di komputer. Padahal, lebih sehat main layangan," pungkasnya.

Keceriaan anak-anak bermain layangan kini tergantikan dengan wajah-wajah sepi menatap layar televisi. Tangan yang tadinya memegang gulungan benang, kini digantikan dengan joystick. Riuh rendah suara anak berebut layangan, kini digantikan dengan komunikasi seperlunya agar permainan di layar televisi tidak terganggu. Aktivitas berlari, menarik-ulur benang, kini hanya digantikan dengan duduk dan duduk.

Layangan pun kini menghilang dari dunia anak-anak kita bersama permainan tradisional lain yang mengajarkan kebersamaan, kerja sama, dan kreativitas. Layangan, gatrik, patok lele dan congklak. Sigit pun hanya menggumamkan lagu kesayangannya di waktu kecil.

"Kuambil buluh sebatang. Kupotong sama panjang. Kuraut dan kupintal dengan benang. Kujadikan layang-layang. Berlari.. Bermain.. Bermain layang-layang, Bermain kubawa ke tanah lapang. Hati gembira dan senang...". (zal/fay)

Sumber: Detik.com

No comments:

Post a Comment