Wednesday, February 03, 2010

Sang 'Pedang Islam' pun Dipecat dari PKS


Selasa, 02/02/2010 10:34 WIB

Ketika subuh yang dingin itu, terdengar suara seorang ustadz lewat radio, yang menyampaikan materi mulai  dari tafsir Al Qur’an sampai pembahasan fikih praktis. Tetapi, sudah lama tidak mendengar suara ustadz, dan ustadz sendiri super sibuk mengingat ia dipercaya untuk menjadi wakil rakyat. Dia lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir bergelar Lc. Kemudian mengambil S2 di Universitas Islam Negeri Bandung ( dulu IAIN Sunan Gunung Jati ), K.H. Saiful Islam Mubarok Lc, MAg. adalah nama dari ustadz yang biasa memandu acara dialog Islam di salah satu radio swasta di Bandung.


Berbeda dari siaran sebelumnya,  subuh kala itu, ada ucapan perpisahan yang disampaikan, bahwa ia  tidak lagi berada di dalam gerbong Partai Keadilan Sejahtera  (PKS ). Tentu   mengagetkan, mengingat sebelumnya Saiful Islam adalah anggota dewan dari PKS, malah bercerai dengan PKS ? Ada apakah gerangan ? Namun di koran pagi itu, ada sebuah  jawaban  mengapa tokoh sekaliber Saiful Islam pada akhirnya ‘ ditendang ‘ dari PKS.

Menurut  harian Galamedia tertanggal 01 Februari 2010, dipecatnya KH. Saiful Islam terkait dengan perlawanannya terhadap kebijakan PKS yang dianggap tidak adil. Perlu diketahui bahwa Saiful Islam dapat dipastikan menjadi anggota DPR RI menggantikan Suharna Surapranata yang menjabat  Menristek di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Namun entah bagaimana ternyata PKS menghendaki agar KH.Saiful Islam tidak mengisi posisi tersebut.

Tentu ia melakukan perlawanan. Bagaimanapun suara yang diperoleh adalah amanah konstituen yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Tidak bisa partai berbuat otoriter seolah perjuangan kadernya ketika kampanye dan kepercayaan pendukung kader tersebut sebagai angin lalu. Maka perlawanan yang dilakukan Ustadz Saiful Islam sudah wajar.  Sementara kebijakan partai sangat terkesan kurang demokratis.

Menurut koran tersebut, selain perlawanan yang dilakukan Ustadz Saiful , ternyata alasan lain untuk memecat karena ketidakmampuannya memenuhi target 'setoran' kepada partai, meski untuk alasan yang kedua ini telah dibantah oleh Taufik Ridlo ketua DPW PKS Jabar. Sebenarnya tidak ada alasan untuk menyingkirkan tokoh ini  dari PKS. Surat pemecatan itu diterima oleh KH. Saiful Islam Mubarok Lc,MAg. tertanggal 30 Januari 2010 lalu dan hingga kini belum ada penjelasan resmi dari DPP PKS terkait pemecatan tokoh dan ulama yang dihormati di Bandung tersebut.

Padahal seorang Saiful Islam memiliki banyak pendukung yang bukan main-main dari segi jumlahnya, bukankah kebijakan PKS semacam ini hanya akan menjadikan para simpatisan dan kader-kader di bawah kebingungan dan tidak lagi percaya dengan partai? Sebelumnya telah dipecat Mohamad Haikal dan Ustadz Sigit Pranowo, yang keduanya menjadi anggota  Dewan Syariah DPW PKS Jakarta, karena dianggap melanggar disiplin partai. Inilah di antara langkah yang diambil PKS akhir-akhir ini. (m/berbagai sumber)

Sumber: Eramuslim

9 comments:

  1. Capek deh.......Buat temen2ku semua yg dulu PK* addict cuma ada 2 kata yang cocok aku ucapin "Capek deh......!"

    ReplyDelete
  2. Capek juga deh. Buat teman2 yang masih Khilafah addict, coba anda pergi ke Iran dan berprotes terhadap Khalifa di sana. Ribuan orang baru saja coba berprotes di sana, setelah pemilu direkaysa. Hasilnya: berprotes terhadap sistem pemerintahan, atau terhadap Presiden dinilai haram oleh sang Khalifa. Dan oleh karena itu, beberapa orang sudah dihukum mati dan sudah dibunuh oleh pemerintah (digantung) karena mereka melawan Khalifa.

    Daripada banyak komplain di sini dan menuntut harus ada Khalifa, coba datang ke Iran dan mengeluarkan pendapat yang berbeda dengan Khlifa. Setelah sudah ditangkap, disiksa dan digantung oleh aparat negara, silahkan kembali ke Indonesia dan suruh kita pasang sistem yang sama di sini, di mana pendapat satu manusia dinilai mutlak benar, dan tidak ada yang boleh melawannya dengan sangsi hukuman mati bila berani.

    Capeh deh. Hehehe…

    Masih enakan di Indonesia, di mana partai politik bisa naik, bisa turun, bisa dibubarkan, bisa dibentuk yang baru, bisa dikritik, dan bisa dilawan. Semuanya sah, dan tidak ada yang kena hukuman mati. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  3. yah terserahlah yang penting kita berjuang dan alhamdulillah banyak yang mendukung. gak hanya perjuangan lokal indonesia saja bahkan diseluruh negara banyak aktifis yang ikhlas berjuang dan mengajak umat untuk kembali ke sistem khilafah. ya klo sampeyan belum faham apa itu khilafah, bagaiman kedudukannya dlm Islam, ya susah menerangkannya, apalagi ditambah dasar pendidikan yang sekulerisme, ya sudahlah.

    pada intinya klo mau belajar atau mau memahami hukum khilafah ya buang jauh2 dulu pemahaman2 negatif, kebencian, kemudian bersifat adil, tidak memihak, dan jangan merasa seperti gelas yang sudah penuh, tapi merasalah bahwa gelas ini masih kosong dan harus terus diisi.

    sekali lagi Prediksi Mas Gene salah.
    1. PK* akan menang pemilu salah.
    2. Demokrasi yang diharapkan belum atau tidak pernah menyelesaikan kemiskinan.
    3. Pemilu yang diharapkan akan menelorkan sebuah kekuasaan yg baik atau bahkan lebih islami juga salah.
    4. Mendukung PK* ternyata PK* berkoalisi dgn P. Demokrat, juga mengecewakan.
    5. PK* berharap jd wapres juga ga kesampaian.
    6. menteri dr PK* juga mau terima mobil mewah, juga mengiris hati.

    apalagi ya besuk?......

    ReplyDelete
  4. Rif..:)
    Berbeda pendapat memang tidak salah..tapi kalau menebar kebencian atas persepsi sendiri juga tidak bisa dibenarkan dan belum tentu bisa diterima.

    Sistem sebuah negara tidak bisa dirubah sekejab mata, rubah dulu lah akhlak manusianya menjadi lebih baik dengan sistem apapun itu asal bertujuan baik..

    Kalau rasa 'ketidaksukaan' diumbar sebegitu demikian, apa yakin dapat respeck positif dari orang2 yang simpati.

    Berbuat kebaikan, ingin hidup dengan sistem kelola negara yang lebih baik..menawarkan idiologi silahkan saja, tapi
    jika manusianya tidak dipersiapkan dengan baik..buat apa..apa yakin sistem itu bisa langgeng sampai kiamat..

    Kejatuhan kekhalifahan2 sebelumnya bukan hanya rong2rongan dari luar..seperti konspirasi dsb..tapi juga dari dalam.., berkhianat dsb.., memang itu bukan salah sistem, lagi2 orang2nya kan.

    saya sih ga mau capek dulu mikirin ke jauhan..yang didepan mata dulu.., ngedidik generasi muslim sebagai generasi yang lebih baik, akhlak dsb.., lihat juga kerusakan moral anak bangsa didepan mata..pencegahannya kan bukan langsung merubah sistem! langsung sistem khalifah..pasti bisa selesai. Habis perkara??

    Ga melihat indonesia secara keseluruhan dulu: contoh kecil aceh..mencoba menerapkan hukum syariat.., tapi oknum penegak hukum syariat pun bisa berbuat tidak pantas.

    Ya hak kamu juga sih memperjuangkan itu, dan hak seluruh muslim memperjuangkan kebaikan, menegakan amar ma'ruf nahi munkar..., Beda jalan ga masalah kan..asal pegangannya tetap alqur'an dan alhadst dan bermuara sama..

    salam

    Rahma

    ReplyDelete
  5. Pak Ustadz, Anda lebih dibutuhkan oleh umat sebagai Ustadz bukan sebagai ustadz yang sekaligus politikus.

    Pengalaman telah membuktikan bahwa ustadz yang tergiur masuk ke politik pada akhirnya ke-ustadzan mereka menjadi kabur.

    Curahkan waktu anda untuk membina umat secara sungguh-sungguh, Insya Allah Jannatunna'im menanti anda.

    ReplyDelete
  6. iyah pak ustad mendingan nt duduk aja di mesjid sambil jikir seharian kalau Allah berkehendak indonesia maju ya maju politisinya baik ya baik.kalau Allah berkehendak negara ini hancur ya hancur,gitu aja kok repot,doa aja yang banyak !Politisi yang baik saja bisa tergelincir apalagi yang memang dasarnya bobrok ya,kasihan.....

    ReplyDelete
  7. Hi anonymous... hhhmmm beneran kembali lagi ya pada kondisi umum, kita seiman. Kita sama2 muslim tapi aku sangat tidak sepakat dengan komentar anda. Tidak masalah kan ya.

    Dalam Al-Qur'an Surah 13 ayat 11, jelas-jelas Allah SAW menyatakan yang terjemahannya dalam bahasa kita :
    "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka"

    Duduk saja di mesjid dan berdzikir terus berdo'a terus tanpa ada usaha sama sekali sepertinya bukan itu yang Allah ingin hambaNya lakukan.

    Saya yakin sekali bukan itu kondisi yang akan membuat Allah SAW sayang kepada hambaNya. Kalo memang tujuan hidup kita di dunia ini adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti perintah Allah & menjauhi laranganNya.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  8. Anonymous jikir itu apa sich? kayaknya kosa kata baru deh, apa ada hubungannya dengan pikir? he...he

    ReplyDelete
  9. Tema : Ukhuwah Imaniyah

    Persaudaraan yang haqiqi hanyalah persaudaraan yang dimiliki oleh kaum mukminin, yaitu persaudaraan yang dibangun diatas keimanan atau yang disebut dengan ukhuwah imaniyyah.
    Allah berfirman,” sesungguhnya kaum mukminin itu saling bersaudara” (al hujurat :10)

    Adapun persaudaraan selain itu, akan sirna dengan sirnanya keuntungan yang dicari. bahkan akan berubah menjadi permusuhan kelak dihari kiamat, sebagaimana firman-Nya,
    Allah berfirman, ” Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Az-Zukhruf: 67) ”

    Begitu indah ukhuwah imaniyyah. Lantas apa konsekwensi ukhuwah imaniyyah itu ?

    Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

    “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling benci membenci, saling membelakangi, jangan menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya, merendahkannya, dan menghinanya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya, beliau mengucapkannya tiga kali). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain haram mengganggu darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

    Hal ini sesuai dengan firman Allah,

    Wahai orang yang beriman! Janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (memperolok-olokkan) wanita-wanita lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela diri kamu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk nama (panggilan) ialah (panggilan) yang fasik (jelek) sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang zalim.
    Wahai orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan daripada prasangka, sesungguhnya sebahagian daripada prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain.( al Hujurat: 11-12)

    ReplyDelete