Friday, April 02, 2010

Polsek Penjaringan Buka Perpustakaan Umum

Polsek Penjaringan buka perpustakaan umum

Ini suatu ide yang cukup bagus. Semoga dikembangkan di wilayah lain. Saya sudah cari berita ini di koran Indonesia, tetapi belum ketemu. Baru lihat di Jakarta Post saja.
Bagaimana kalau ustadz2 yang punya koleksi buku yang besar, gabungkan dan gunakan untuk buka perpustakaan umum (atau minimal taman baca)?
Bagaimana kalau setiap kecamatan wajib mendirikan perpustakaan umum di kantor kecamatan?
Negara ini sangat sedikit perpustakaannya. Dan masih belum ada usaha untuk kembangkan jumlahnya secara serius oleh pemerintah, sayangnya. Padahal membaca adalah salah satu hal yang paling utama dalam pendidikan yang berkualitas.

Wassalam,
Gene

Penjaringan cop shop boasts new 1,000-book public library
The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Thu, 04/01/2010 11:04 AM  |  City
Police in Penjaringan subprecinct, North Jakarta, have since January run a library from the station building in a bid to win hearts and minds in the local community.
“We hope the public, particularly low-income people, will benefit from the library,” said Penjaringan Police deputy chief Adj. Comr. Febriansyah.
He added the facility was also expected to serve as a “source of knowledge” for police officers.
The library is a pilot project built in cooperation with the Kick Andy Foundation.
Several other subprecinct and precinct police stations will also get libraries as an extension of the
project.

Penjaringan resident and local schoolteacher Rokhiyah, on her second visit to the new library, said she enjoyed reading books there. “They’ve got a big collection, and the room’s pretty comfortable,” she said. The only drawback, she added, was that visitors were not allowed to check the books out, and had to read them there. Fifth-grader Riyanti said she had heard about the library from a friend and had been there seven times.

“I usually read for 30 minutes to an hour,” she said. The air-conditioned library, first opened on Jan. 25, carries more than 1,000 titles, ranging from children’s stories to general interest books on literature, management, law, politics, religion and spirituality, some of them in English. The library is open from 8 a.m. to 4:30 p.m. on weekdays, and from 8 a.m. to 12 noon on Saturdays. (lnd)

Sumber: thejakartapost.com

**************
[Bandingkan dengan berita ini dari tahun 2008 lalu]

Dana Perpustakaan Dipangkas
Monday, April 21, 2008
Baru 27,6 Persen SD yang Miliki
Senin, 21 April 2008 | 00:30 WIB
Jakarta, Kompas - Pemotongan anggaran Departemen Pendidikan Nasional sebesar 10 persen berdampak pada pemotongan anggaran untuk perpustakaan. Bahkan, terdapat program terkait peningkatan literasi yang dihapuskan tahun ini lantaran pemotongan anggaran tersebut.
Seperti diwartakan sebelumnya, pemerintah menyesuaikan kembali anggaran negara dengan memotong 10 persen anggaran di semua departemen, termasuk Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Pemotongan tersebut telah dipastikan seiring dengan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008, awal April lalu.
Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerah, yang semula dianggarkan sekitar Rp 41 miliar, kini terpotong separuhnya. Dana tersebut asalnya untuk bantuan rintisan dan penguatan taman bacaan masyarakat di 33 provinsi dengan target awal sekitar 2.250 lembaga.


Baca selengkapnya di sini.

3 comments:

  1. Assalamualaikum,
    Ide yang sangat menarik sekali untuk membangun perpustakaan umum di setiap kecamatan untuk meningkat minat baca masyarakat Indonesia yang masih-menurut saya- menyedihkan.

    Salam kenal Pak Gene, saya baca profil Anda di Republika.

    ReplyDelete
  2. Sayangnya, kebiasaan membaca belum menjadi budaya masyarakat ini, jadi banyak juga perpustakaan yang sepi penggemar...Anehnya konser musik dan sinetron baru dipadati pengunjung, tidak aneh juga kali ya...Yang lebih penting cari cara bagaimana 'memaksa' dan menumbuhkan kebiasaan untuk gemar membaca agar perpustakaan yang ada tidak berubah fungsi menjadi musium.

    ReplyDelete
  3. Harus dimulai dari sekolah.
    Kalau pemerintah peduli pada pendidikan dan masa depan bangsa, mereka akan utamakan perpustakaan di atas Ujian Nasional!

    ReplyDelete