Monday, April 12, 2010

Trauma Setelah Dipukul Guru, Para Siswa SD Nanggungan Takut Sekolah

Senin, 12/04/2010 11:30 WIB
Guru Main Pukul
Oto Nugraha Adi - detikSurabaya
Pacitan - Aksi pemukulan yang dilakukan D, oknum guru SD Nanggungan Pacitan membuat para korban trauma. Bahkan sebagian takut kembali ke sekolah. Salah satunya, Dimas Wahyu Saputra (10) masih tampak lemas. Bahkan beberapa kali, siswa kelas 4 itu mengaku pusing dan muntah-muntah.

"Dia sering merasa pusing. Kalo sudah begitu biasanya keluar keringat dingin dan muntah," papar Sujarno (50), orang tua Dimas kepada wartawan, Senin (12/4/2010). Sujarno menuturkan, pasca kejadian itu anaknya tidak mau buka mulut. Ia mulai curiga setelah korban mengeluhkan bagian belakang kepalanya yang benjol. Setelah didesak, bocah berambut lebat itu baru mau menceritakan kejadian sebenarnya.

"Mau saya periksakan ke dokter tapi anaknya tidak mau," imbuhnya. Hal serupa juga dialami Yuanda Yanuar Pradana (10) korban siswa lain. Akibat tendangan yang dilayangkan guru D, dia mengalami cedera pada bagian kaki. Hingga Senin pagi, Yuanda tidak mau berangkat ke sekolah lantaran takut.

"Sementara di rumah dulu," ujarnya singkat kepada wartawan di rumahnya Dusun Tawang, Nanggungan. Seperti diberitakan sebelumnya, aksi pemukulan yang dilakukan D, oknum guru SD Nanggungan terjadi Sabtu (10/4/2010) di ruang kelas 4. Diduga jengkel, pelaku yang sedang mengajar pildacil di ruangan lain langsung masuk kelas 4 dan menghajar belasan siswa yang sedang memukul-mukul bangku.

Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 12 siswa mengalami cedera pada beberapa anggota tubuh. Sebagian siswa telah masuk sekolah, namun beberapa orang lainnya masih trauma. (fat/fat)

Sumber: surabaya.detik.com

Guru Main Pukul, Wali Murid Serbu Sekolah
Senin, 12/04/2010 10:05 WIB
Oto Nugraha Adi - detikSurabaya
Pacitan - Puluhan wali murid menggelar aksi unjuk rasa di SD Nanggungan, Pacitan. Aksi ini dipicu pemukulan yang dilakukan guru terhadap 9 orang siswa kelas 4. Data yang dihimpun, pemukulan itu terjadi pada Sabtu (10/4/2010) saat tidak ada jam pelajaran. Karena tidak ada mata pelajaran para siswa kelas 4 yang ada di dalam kelas serentak memukul-mukul bangku.

Saat itulah guru berinisial D datang ke ruang kelas 4 yang saat itu sedang mengajar di kelas lain. Dan seketika itu langsung memukul beberapa siswa. Sebagian besar dipukul di bagian kepala dan anggota tubuh lainnya dan sebagian siswa lainnya ditampar.

"Adik saya mengalami benjol pada kepala bagian belakang. Sekarang masih trauma, belum mau masuk sekolah," kata Fitri (27) salah satu kerabat dari murid yang dipukul Guru D kepada wartawan di sela-sela aksi, Senin (12/4/2010).  Wali murid mendesak pihak sekolah untuk memindahkan guru D. Mereka tidak ingin guru D mengajar di sekolah itu karena sikapnya yang emosional. (wln/wln)

Sumber: surabaya.detik.com

8 comments:

  1. Assalamua'laikum wr wb.

    Mr. Gene,
    Ada pemahaman yang keliru dalam konsep pendidikan, entah itu salah siapa, tapi menjadi kewajiban kita perlahan membantu memberi arahan yang benar, semoga generasi setelah kita bisa menikmatinya.

    Dahulu saya diajari pelajaran budi pekerti, tapi SD sekarang tidak lagi, malah diajari yang harusnya konsumsi SLTP SMU bahkan kuliah.
    akhirnya guru juga ikut-ikutan lupa tujuan utama pendidikan.
    seharusnya TK diajari bgm cara membuang sampah yang benar, cara antri, mengunjungi teman yang sakit, berbicara santun dan halus, menghormati orang lain dsb. yang justru itu di ajarkan di sekolah Jepang.
    malah sekarang di TK dan SD kita disuruh menghapal pengetahuan2. yang tidak ada hubungannya dengan membentuk kepribadian yang bagus dengan alasan kompetensi dengan negara maju, negara maju mana?
    kompetensi macam apa?, yang menumbuhkan generasi yang kehilangan hati nurani bahkan cenderung ganas.

    Wassalamu'alaikum wr wb

    ReplyDelete
  2. Memang ada banyak sekali masalah pendidikan di negara ini, dan perbaikan terjadi terlalu lambat. Sayangnya...

    ReplyDelete
  3. Menurut pendapat saya, selama masih ada anak dan generasi yang lahir yang lahir, bahkan selama masih ada nafas maka tidak ada kata terlambat, dan menjadi kewajiban mereka yang memahami.
    begitu Rusaknya masyarakat jahilliyah Arab dahulu sehingga kejahatannya tak pernah terbayang dalam peradaban manapun, akhirnya dapat tunduk kepada Islam, bahkan meskipun awalnya Rasulullah berjuang sendiri.

    ReplyDelete
  4. assalamu'alaikum.
    saya kebetulan tau persis kejadian ini seperti apa.
    sangat disayangkan ketika anda dengan begitu gampang percaya dengan apa yang dikatakan oleh media.
    faktanya kejadiannya tidak benar2 dijelaskan dan ada beberapa hal yang trlalu dilebih2kan.
    waktu itu guru D sedang melatih anak kelas 3 pildacil.
    Itu merupakan jam ekstra karena sebenarnya jam pelajaran sudah usai, dan guru D yang bertugas mengajar untuk persiapan lomba.
    Sedangkan untuk anak kelas 4 mereka seharusnya belajar iqro', dan gurunya sayang sekali tidak hadir lalu mereka membuat keributan sehingga mengganggu anak kelas 3.
    skali dua kali guru D sudah mengingatkan, tapi tidak diindahkan.
    terakhir anak kelas 4 tersebut menggedor2 pintu anak kelas 3 yang sontak membuat guru D marah. Bisa jadi karena sudah mengajar full dan capek.
    Yang dilakukan oleh guru tersebut MENENDANG hanya di bagian KAKI itupun tidak keras. hanya sekedar untuk membuat efek jera, sayangnya media begitu melebih2kan, dan tidak ada konfirmasi dengan narasumber lainnya.
    Mohon sebelum mengeluarkan opini dicek terlebih dahulu akan kebenaran sumber beritanya. bukan asal repost dan mengeluarkan opini berlebih.
    terimakasih.
    wassalamualaykum

    ReplyDelete
  5. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Hhhmmmm opini yang berlebih itu yang di kalimat yang mana toh ?

    Kayaknya post diatas tidak ada opini hanya post dari web lain. Cuman komentar2 aja tapi kayaknya biasa aja. Yah entahlah...

    Untuk d'only Nay, apakah ada contoh dari Nabi yang membolehkan kita memukul seorang anak hanya karena mereka berisik dan membuat keributan ?
    Saya berusaha membayangkan keributan paling parah seperti apa yang dapat dilakukan seorang anak kelas 4 SD ???

    "MENENDANG hanya di bagian kaki itupun tidak keras" tapi membuat si anak kelas 4 SD trauma, lemas, pusing, muntah2, dst.
    Saya ingat sekali waktu usia SD pernah punya guru galak dan saya truly bener2 ketakutan dibuatnya. Dan saya bahkan memang pernah tidak berani masuk ke dalam kelasnya. Padahal hanya karena dia "galak" bukan karena pernah memukul saya di kelas kayaknya.

    Jadi saya tidak heran kalo ada anak kecil yg trauma dengan guru yang pernah memukulnya. Karena dimarahi dengan suara keras dan mata melotot saja, saya pikir banyak anak kecil sudah bakalan ketakutan setengah mati.

    Yah sekedar pendapat saja dari seorang yg bukan berprofesi sbg guru dan tidak punya pengalaman mengajar.

    Wallahu'alam bish-shawwab.

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  6. @anonymous : jadi cerita tentang pusing, muntah, dan mual2 itu cerita bohong, karena tidak ada pemukulan di bagian kepala.
    Bisa jadi karena ortu mereka dendam dan memang bermaksud memojokkan si guru tersebut.
    pada koran hari senin dinyatakan bahwa murid2 tersebut trauma secara psikis, mual, dan muntah2..tapi hari selasa kemarin anak2 kelas 4 tersebut olahraga dan bahkan guru olahraganya sengaja mengambil rute yang agak jauh dari rute lari yang biasanya dan ternyata mereka baik2 saja.
    karena memang sebenarnya mereka sehat2 saja dan tidak ada kejadian muntah dan mual seperti yang diberitakan.
    jadi yang saya maksudkan untuk tidak dengan buru2 memposting ulang berita yang belum dapat diketahui kebenarannya.

    ReplyDelete
  7. satu lagi,
    dalam hal ini sebaiknya juga mempertimbangkan kondisi psikis guru yang sudah mengajar dari pagi hingga siang, masih ditambah dengan mngajar ekstra tanpa istirahat.
    dan sebelum guru tersebut benar2 jengkel beliau juga sudah mengingatkan berkali2 sebelumnya dan tidak diindahkan. sementara untuk melatih pildacil dalam rangka lomba memang dibutuhkan konsentrasi.
    bayangkan anda mengajar anak kelas 3 yang pastinya gak gampang, kemudian anda juga dituntut untuk sabar menghadapi kelas laen yang mengganggu proses belajarnya.
    sebaiknya analogi terbalik juga anda pakai, tidak hanya melihat dari salah satu sisi saja.terimakasih

    ReplyDelete
  8. itulah perlunya klarifikasi pada pihak yang bersangkutan secara langsung, tidak semua media jujur dan mendapat berita yang sebenarnya, sebagian besar melebih-lebihkan dan cari sensasi,namanyajuga media kalo nggak cari sensasi nggak laku kalo mau tahu cerita sebenarnya memang seharusnya dari pihak berwenang dan narasumber langsung jadi tidak hanya menduga-duga, ingat pendengaran, penglihatan bahkan perkataan diminta pertanggungjawabannya kelak.

    ReplyDelete