Wednesday, May 12, 2010

Semangat Para Guru Indonesia

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Kemarin saya ketik email berjudul Ini Saatnya Untuk Mengubah Peran Guru Dalam Pendidikan Nasional. Email itu dibuat dengan niat memberikan semangat dan motivasi terhadap para guru supaya mereka bisa sadar bahwa mereka memiliki kemampuan yang besar untuk memperbaiki sistem pendidikan di sini secara nasional.

Saya kirim ke milis SD-Islam dan Klub Guru Indonesia, dan juga kepada semua teman saya kemarin.

Pada hari ini, ada 24 email baru di milis SD-Islam. Tidak ada satupun yang memberikan tanggapan terhadap email saya.
Ada 46 email baru di milis Klub Guru Indonesia. Tidak ada satupun yang memberikan tanggapan terhadap email saya.

Di milis SD-Islam, yang paling ramai dibicarakan adalah topik:
Nyata: Memotong Besi Dengan Air, Sebuah Teknologi Mahacanggih.... (10 email).

Dan di milis Klub Guru Indonesia, yang paling ramai dibicarakan adalah topik:
Demo PGRI (12 email), yang membahas baik-buruknya PGRI melakukan demo. Dan juga 62,7 Persen Remaja Indonesia Pernah ML (9 email).

Hari ini, saya pulang setelah maghrib dan saya kira akan ada banyak balasan terhadap tulisan saya, baik yang pro, maupun kontra, tetapi minimal ada semangat untuk membahas bagaimana guru bisa mengambil langkah dan peran yang besar dalam memperbaiki bangsa ini lewat pendidikan. Ternyata, tanggapan terhadap Ini Saatnya Untuk Mengubah Peran Guru Dalam Pendidikan Nasional = 0 email.

Mohon maaf kalau saya merasa sedih dan kurang bersemangat lagi untuk membantu para guru di sini. Untuk membangkitkan semangat para guru Indonesia mungkin membutuhkan tenaga sekuat bom nuklir, baru mereka akan melek.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

4 comments:

  1. >>> Kutipan : Mohon maaf kalo saya merasa sedih dan kurang semangat lagi untuk membantu para guru...

    It's ok, mister. Bisa dimaklumi karena itu hal yg manusiawi.

    But please janganlah bersedih terus. La tahzan :-)

    Umumnya seseorang atau sesuatu itu baru dipahami kebenaran & betapa berharganya pada saat dia sudah tidak ada.
    Sayang sekali ...

    Wassalam.

    ReplyDelete
  2. Walau bertahap tetap harus ada yang menyuarakan penolakan terhadap UN sebagai syarat kelulusan siswa.Sayangnya sulit menemukan seorang yang punya pengaruh yang mau menjadi pionir untuk menggagas dan memulai penolakan terhadap UN, harus ada sebuah gerakan bola salju, kecil tapi saat intens menggelinding akan membentuk bongkahan besar .Dulu, saat Suharto berkuasa sepertinnya mustahil untuk menumbangkannya, tapi setelah gerakan bola salju dimulai maka mampu menumbangkan kekuasaan yang bertahun-tahun ditakuti.Saya pikir pasti ada segelintir orang yang merasakan bahwa pendidikan di negeri ini salah kaprah dan harus diubah, tapi sayangnya tidak punya kekuatan untuk merubahnya, kalaupun ada tapi kecil jadi gaungnya nyaris tak terdengar dan tidak ada yang memperhatikan ditambah sedikit orang yang masih mempunyai idealisme untuk meluruskan dan mengubah konsep pendidikan ke arah yang lebih baik.Harus ada demo besar-besaran dan rusuh dulu baru didengar (bukan provokasi lohh, hehe..)habis kebiasaan di negeri ini begitu, kalau sudah rusuh baru dapat perhatian dari pemerintah bahwa hal itu bermasalah dan perlu diselesaikan.

    ReplyDelete
  3. Salam 'alaikum

    Tak ada yang sia-sia dalam perjuangan demi kebaikan meski harus sedikit demi sedikit. Hemm..ingin rasanya aku "keluar" dan melihat Indonesia dari "luar". Setidaknya akan bisa membawa satu pengetahuan yang lebih luas dan berharap bisa bergerak dengan berusaha memahami kultur sosiologi masy. Indonesia. Mungkin untuk guru ada kekhususan sifat mereka dan sikap kita terhadap mereka sehingga mereka lebih welcome...mungkin hanya soal cara.
    Dalam mencari solusi ada tesis dan antitesis dst.
    tapi kita harap Mr. Gene tak sedih terlalu lama. MOga Allah menguatkan dan memberi kemudahan jalan bagi kebaikannya.
    See you:)
    Wassalam

    ReplyDelete
  4. Saya yakin post itu di milis Klub Guru tidak dibaca oleh semua guru, atau separuh, atau 10% dari guru di situ.
    Soalnya kalau memang dibaca sampai selesai, saya kira mereka akan membahasnya, dan akan bertanya, “Kita mesti berbuat apa sekarang?”

    Ternyata tidak ada yang mau membahasnya. Tetapi segala sesuatu yang lain, seperti pengobatan alternatif, mau dibahas terus.
    Post itu tentang sikap guru, bahwa mereka merasa harus selalu pasif dan menunggu orang lain melakukan kebaikan. Itu yang menjadi masalah.

    Kalau UN hanya untuk statistik negara saja, supaya Presiden bisa memahami betapa besar kegagalannya di bidang pendidikan di negara ini, saya tidak keberatan. Tetapi selama dijadikan alat untuk menentukan kelulusan para siswa, saya akan menolak terus, karena itu sungguh tidak adil.

    Sayangnya, para guru Indonesia tidak peduli kalau siswanya menjadi korban ketidakadilan. Dan lebih parah lagi, para guru juga tidak peduli kalau mereka sendiri menjadi korban ketidakadilan.
    Mereka hanya sanggup mengeluh saja, dan tidak punya waktu untuk membaca artikel yang bisa mengubah cara pikirnya, apalagi berfikir, apalagi bersatu, apalagi bertindak secara nasional untuk kepentingan bersama.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete