Tuesday, August 24, 2010

Sebuah Kisah Ramadhan

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Tadi saya sudah makan malam dan siap berangkat ke masjid untuk shalat Isya dan Tarawih. Tapi saya lupa bahwa waktunya sudah mulai maju sedikit sekarang, jadi harus berangkat lebih cepat. Baru mau ganti baju, ada perasaan harus buang air besar. Ya sudahlah. Ke WC dulu. Baru selesai, kedengaran adzan dari masjid. Uhh ohhh….
Lari ke kamar, cepat ganti baju, cepat wudhu, cepat semprot minyak wangi. Dan lari ke arah pagar depan tanpa kancingkan baju dulu…
Tiba-tiba ada suara qomat dari masjid!! Uhh ohhh… Biasanya agak lama, 5-7 menit setelah adzan, kok hari ini cepat sekali? Ada apa nih?

Keluar dari rumah, jalan cepat ke arah masjid, sambil kancingkan baju di jalan. Sambil jalan, dihitung rakaat pertama, rakaat kedua (dari suara imam). Sampai jalan raya, lampu merah baru berubah dan sekarang tidak bisa menyebrang karena ada banyak lalu lintas. Harus menunggu lampu merah berikut. 1 menit. 2 menit. 3 menit.…. Uhh ohhh…

Akhirnya lampu merah datang juga. Tetapi masih belum bisa menyebrang. Di Indonesia, lampu merah berarti sebagian mobil dan motor berhenti, tetapi ada banyak juga yang merasa masih berhak lewat, jadi mereka malah ngebut untuk lewat pertigaan sebelum mobil di sebelah bisa bergerak. Mau menyebrang, harus lihat-lihat dulu dan siap berhenti di tengah jalan karena masih ada motor yang ngebut lewat. Ada juga risiko motor dari sebelah kiri yang melawan arus, jadi harus melihat ke dua arah sekaligus pada saat mau menyebrang.

Sudah tidak ada lagi pembaccan ayat dari masjid. “Allahu Akbar”. Uhh ohh, ini sudah rakaat yang ketiga….
Jalan cepat, lari sedikit, ke arah masjid. Karena baru hujan tadi, jalanya becek. Akhirnya, secara tidak sengaja, kaki jatuh ke dalam air kotor di halaman masjid. Terasa air itu loncat ke atas dan kena kaki dan tangan, dan pasti juga kena baju dan celana di bagian belakang.  Ttapi kaki sudah kelihatan kotor, jadi mau nggak mau, harus ke tempat wudhu untuk cuci kaki!

“Allahu Akbar.” Uhh ohhh…. Ini sudah rakaat ke-empat. Mungkin karena lagi jalan cepat, atau karena sandal sudah tua, tiba-tiba bagian jepitan di sandal putus dan tidak bisa dipakai lagi. Kaki kiri langsung jatuh ke bawah di halaman masjid (yang kotor sekali), dan menjadi lebih kotor lagi. Saya jadi loncat-loncat sedikit di atas kaki kanan, sambil mendekati tangga masjid.

Sudah sampai masjid, kelihatan jemaahnya sudah duduk untuk tasyahud akhir. Uhhh ohh…
Lari ke tempat wudhu, siram kaki dan tangan, baju dan celana tidak sempat diperiksa, dan jalan cepat ke dalam masjid. Mendekati syaf terakhir… dan pas saya dalam proses takbir, imam memberi salam pertama ke kanan. Takbir saya masuk atau tidak, saya tidak berani memutuskan, karena terlalu pas sekali. Sayang benar sudah begitu cepat lari ke masjid, dengan begitu banyak tantangan, dan akhirnya tidak dapat shalat berjemaah juga. (Jangan tanya kenapa tidak bergabung saja dengan orang lain di syaf belakang, yang akan berdiri dan lengkapi shalatnya karena mereka masbuk/ketinggalan satu rakaat atau lebih. Tidak dipikirkan sama sekali! Kenapa ya?!)

Setelah shalat Isya selesai, saya sempat duduk dan berfikir: “Kok Ramadhan saya jadi MIRIP UPIN DAN IPIN SEKARANG?????”
Kayanya semua adegan yang terjadi tadi itu lebih mirip mereka daripada saya!

Hahahahahahaha…….

Semoga puasa dan ibadahnya kita semua diberikan kemudahan dan rahmat yang besar dari sisi Allah. (Dan jangan lupa beli sandal baru untuk dipakai ke masjid, biar nggak putus di tengah jalan!!! Hehehe.)

Selamat puasa semua.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

4 comments:

  1. Ass Wb Wb,

    The story, funny, entertaining ... touching,dikemas nya lucu ... tapi salut utk Om Gene utk semangat nya ke masjid, nanti jgn telat lagi biar biar bisa jalan lbh santai, semoga setiap langkah Om diberikan ganjaran pahala yg berlipat oleh Allah SWT, tetap sehat dan semangat ya ... hehehe

    Semoga Allah SWT memberikan kita semua rahmat, kemudahan dan keberkahan Nya, Aamiin

    Selamat berpuasa, perbanyaklah berdoa ...


    Wassallam

    ReplyDelete
  2. tarawihnya 11 rakaat ya=)
    kemarin saya juga nyoba tarawih yang dekat kost-an, untuk pertama dan terakhir kalinya kesana, walaupun dekat,entah cuma karena hari itu saja atau apa, imamnya bacaannya banyak yang salah=( padahal itu kan cuma surat di juz 30, agak mengganggu 'pendengaran' juga,
    ditambah, musholla kecil itu(mereka nulisnya sih sudah masjid, tapi rasanya belum layak)kamar mandinya kumuh sekali, apalagi toilet untuk perempuan, karena letaknya terpisah, mengerikannya..masa ga ada pintunya=0 horror banget..

    ternyata, untuk tarawih juga butuh 'perjuangan'=)

    ReplyDelete
  3. (Jangan tanya kenapa tidak bergabung saja dengan orang lain di syaf belakang, yang akan berdiri dan lengkapi shalatnya karena mereka masbuk/ketinggalan satu rakaat atau lebih. Tidak dipikirkan sama sekali! Kenapa ya?!)

    Mendekati syaf terakhir… dan

    Shaf terakhirnya yang benar yang mana sih Pak? jadi bingung bacanya he..he

    seneng baca postingan yg ini, soalnya isinya beda ama yang biasanya (bukan kritikan pada negeriku tercinta).

    Kalau baca tulisan ini jadi ingat cerita tentang Abu Bakroh yang karena takut tertinggal rokaat pertama saat sholat berjamaah dengan Rosululloh Sholallohu'alaihiwasalam, maka saat memasuki masjid karena jamaah sudah rukuk maka Abu Bakroh lari ke barisan paling belakang dalam posisi rukuk, dan beliau dapat rukuk sempurna.

    Setelah selesai Sholat Rosululloh Sholallohu'alaihiwasalam bertanya kepada jamaah, siapakah yg tadi lari-lari mengejar sholat jamaah, dan Abu Bakroh mengaku, kemudian Rosululloh Sholallohu'alaihiwasalam, menasehati Abu Bakroh agar lain kali tidak melakukan hal demikian lagi, yaitu terburu-buru mengejar sholat berjamaah, tetapi Abu Bakroh tidak disuruh mengulang sholatnya.

    Jadi Pak Gene, Next Time, jangan jalan buru-buru biar sendalnya yang udah tua ngga putus n ikut sholat berjamaah dengan tenang.

    Trus berbukanya jangan makan banyak-banyak, cukup kurma 99 biji biar ngga pingin BAB saat mau sholat isya ( bercanda.com).

    Allohua'lam bissowab

    ReplyDelete
  4. Sayang, kisah Ramadhan Om Gepin hanya seorang yang jadi aktornya, kawan-kawan gengnya mana yaah? Tentu lebih seru lagi. ツ

    Benar kata Anonymous, berbukanya cukup dengan yang ringan-ringan aja - korma. Makan malamnya yang berat ditunda sampai tarawih selesai kalo ga mo telad tarawehan ama Ipin Upin dan kawan-kawan.

    Kalo kita.. beli sandal baru bukan karena putus, tapi karena hilang dicolong orang di halaman masjid. Sekarang beli sandalnya yang murah meriah azza biar orang tidak tertarik nyolong.. dan pulang tarawehan tidak lagi nyeker. :D

    ReplyDelete