Wednesday, September 01, 2010

Warga Histeris Rebutan 1.000 Tumpeng Klenteng Kwan Sing Bio

Seandainya pemerintah bisa memberikan kesejahteraan terhadap warga, pada saat warga diundang untuk acara seperti ini, mungkin tidak ada yang datang (atau hanya sedikit) karena semuanya bisa hidup sendiri, tanpa perlu pembagian sembako.
Sayangnya, negara seperti itu belum terwujud, dan acara dan keributan seperti ini terjadi terus menerus.

Wassalam,
Gene

********
Warga Histeris Rebutan 1.000 Tumpeng Klenteng Kwan Sing Bio
Selasa, 31/08/2010 15:11 WIB
TB Utama - detikSurabaya
Tuban - Ratusan warga histeris berebut tumpeng dalam ritual tahunan Sembahyang Arwah yang digelar di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, di kawasan Jalan RE Martadinata Tuban, Selasa (31/8/2010).

Meski tak sampai terjadi korban atau warga yang terinjak-injak, namun dalam acara rebutan 1.000 tumpeng yang berisi nasi, roti, serta mie instan dan permen itu, sempat terjadi kegaduhan. Warga histeris saat berebut bahkan diiringi teriakan dan tangis anak-anak yang ikut berebut tumpeng.

Kegiatan tersebut merupakan ritual tahunan yang dilakukan umat dari Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Sembahyang Arwah atau Sembayang Rebutan, merupakan ritual berdoa untuk mendoakan arwah keluarga yang telah wafat namun tak diketahui letak makamnya.

Pantauan detiksurabaya.com di lokasi ritual di Klenteng Kwan Sing Bio menyebutkan, warga sudah mulai berkumpul sejak pagi meskipun acara rebutan tumpeng baru dilakukan setelah kegiatan Sembahyang Arwah. Praktis kegiatan rebutan tumpeng yang telah disiapkan panitia itu dilakukan setelah matahari bergeser dari ubun-ubun sekitar pukul 12.00 WIB ke atas.

Meski cuaca sangat panas, para warga itu rela mengantre dan berdesak-desakan dengan warga yang lain demi untuk mendapatkan tumpeng yang disediakan panitia. Mereka rela menunggu hingga tumpeng dikeluarkan dari dalam klenteng. Tampak orangtua, pria, wanita dan anak-anak ikutan berdesakan.

Begitu tumpeng di keluarkan, mereka langsung berdesakan berebut. Panitia kewalahan hingga terjadi kegaduhan di tempat perhelatan. Terdengar pula anak-anak menangis dan ibu-ibu histeris saat berebut tumpeng. Mereka kesakitan ketika terjepit ratusan orang yang merebut isi tumpeng.

Acara rebutan tumpang tersebut akhirnya bisa dikendalikan setelah jajaran Satuan Dalmas dari Polres Tuban secara cepat melakukan pengamanan. Hingga akhirnya tumpeng pun berhasil diperebutkan dengan aman hingga acara selesai.

"Kalau ikut merebut isi tumpeng, biasanya bisa mendapatkan berkah. Makanya msekipun panas seperti ini, saya ikut acara rebutan tumpeng di klenteng ini," kata Nurkolis (31), warga Jalan Diponegoro-Tuban yang ditemui usai perebutan tumpeng di klenteng Kwan Sing Bio Tuban.

Pengurus Klenteng Kwan Sing Bio, Gunawan, kepada wartawan mengatakan, sebenarnya acara rebutan tumpeng merupakan bagian dari ritual Sembahyang Arwah atau Sembahyang Rebutan. Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun.

"Kegiatan ini tujuannya untuk mendoakan para leluhur yang telah wafat, namun belum diketahui letak makamnya," kata Gunawan. (fat/fat)

Sumber: surabaya.detik.com

4 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr wb.

    ya, andai saja semua orang memikirkan kesejahteraan bersama..
    dan lagi makanan yang dipersembahkan untuk musryk adalah haram bagi umat Islam
    tapi kebanyakan, adalah orang-orang yang mendustakan agama...
    andai saja mereka tahu, tentu akan berlomba-lomba dalam bersedekah dan kebaikan saat di dunia.
    berapa banyak orang yang ingin kembali ke dunia, walau hanya sedetik/sesaat demi kesempatan untuk beramal dan bertaubat...
    sedangkan, saat di dunia kebanyakan manusia menghamburkan harta dan waktu untuk hal yang sia-sia, yang tidak berguna di akhirat nanti, bahkan untuk hal-hal dosa yang semakin memberatkan.
    Kalau saja semua sadar, jangankan uang haram, uang halal saja dihitung tiap sen-nya di akhirat nanti, apalagi uang haram, hanya orang bodoh yang mau ambil uang haram, apalagi diberikan ke anak istri dan keluarganya... itu sangat zalim kepada diri dan kerabatnya sendiri.

    berapa banyak orang yang korupsi milyar bahkan trilyun, akhirnya mati, menikmati uangnya hanya sekejap mimpi, selebihnya harus menghadapi murka Allah untuk selamanya.
    jika saat ini kita mati, maka hidup sekian puluh tahun lalu (tidak sampai seratus) akan seperti mimpi sekejap mata.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  2. Kalo dipikir-pikir maka orang yang beranin melakukan korupsi atau orang yang berani mengambil hak orang lain adalah bisa berkategori musyrik juga.

    Mereka sudah mempersekutukan ALLAH, mereka sudah menjadikan harta sebagai Tuhan.
    Mereka sudah punya Tuhan selain ALLAH, yaitu harta.

    Na'udzu billahi min dzalik...

    Wassalam.

    ReplyDelete
  3. Mereka ambil sebelum acara dimulai. Jadi secara resmi, mereka belum dapat izin untuk mengambilnya (walaupun nanti akan begitu juga).
    Tapi karena belum diizinkan ambil, apakah jatuhnya ke hukuman pencurian, dan mereka semua dicap pencuri oleh malaikat?

    ReplyDelete
  4. Asslamu'alaikum wr wb

    Satu sisi memang potret kemiskinan di Indonesia, sementara pemerintahnya kurang peduli dan asyik memperkaya dan mematut diri sendiri saja, jadi lupakan berharap banyak pada pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, tapi di sisi lain mungkin kultur juga berperan, lihat saja acara-acara seperti grebek Maulid, grebek Syawal sampai ‘grebek maling’ juga dilakukan dengan cara berebut dan dorong-dorongan, yang antri di depan ingin mendapatkan sebanyak mungkin, yang antri di belakang takut tidak kebagian, maka emosi dan rasa egoismelah yang dikedepankan.Bukan hanya kejadian di klenteng ini, tapi sebagian besar pembagian zakat juga terjadi hal serupa.Mungkin maksud para muzakki itu baik membagikan sebagian hartanya, tapi teknisnya dari tahun ke tahun tidak juga mau diubah walau kadang memakan banyak korban, kok ya tidak kapok.

    Pengalaman saya saat mengadakan baksos sembako murah, walau harga yang dijual hanya beda 100 atau dua ratus rupiah saja, orang akan tetap mengejar meski harus antri panjang, jadi bayangkan kalau hal itu uang cuma-cuma atau sembako gratis, siapa yang tak mau…Ada yang memang benar-benar membutuhkan tapi kadang ada juga yang memang serakah (maaf).

    Para ustadz dan penceramah telah berhasil memotivasi orang untuk beramal dan berinfaq buat sebagian orang, mungkin tema yang sekarang harus digencarkan adalah menjaga ‘izzah agar jangan jadi bangsa peminta-minta, tidak tergiur dengan barang gratis dengan cara menadahkan tangan.Saya kira Palestina lebih miskin dan lebih menderita dari Indonesia, tapi mereka bisa tampil sebagai umat Islam yang penuh ‘izzah dan mengharamkan mengemis dan meminta-minta.Saya tergelitik saat salah seorang pengemis ABG dan Jakarta tertangkap kamera tv dan ditanya oleh reporter uang hasil mengemisnya untuk apa, pengemis tsb menjawab untuk beli HP, hehe…..

    ReplyDelete