Monday, November 22, 2010

Tak Ikut Tes Aktivasi Otak Tengah, Siswa Diancam Tidak Naik Kelas

Sekarang di milis pendidikan, ada pembicaraan yang ramai tentang kegiatan “aktivasi otak tengah” yang sedang terjadi di sekolah2 dan tempat latihan. Sudah ada banyak komentar dari psikolog dan ahli pendidikan bahwa aktivasi otak tengan ini adalah sampah dan tidak benar. Disebut “pseudo-science” (atau ilmu buatan, alias rekayasa, tanpa landasan ilmiah yang benar). Sebaiknya orang tua tidak terpancing untuk mengkuti tes atau kegiatan seperti ini, yang katanya bisa membuat anak menjadi genius dalam satu hari saja. apalagi sekolah mengancam seperti ini. Kalau begitu hebat, suruh para guru dan kepala sekolah menjalankan dulu, dan membuktikan dulu bahwa mereka bisa menjadi genius dalam sekejap.

Wassalam,
Gene

Tak Ikut Tes Aktivasi Otak Tengah, Siswa Diancam Tidak Naik Kelas

INTIMIDASI MURID: Tak Ikut Tes Alfateta, Siswa Diancam

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief
Selasa, 16 November 2010 | 11:51 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Sekolah SD Islam Terpadu Nurul Hikmah, Tegalan, Jakarta Timur, mengintimidasi murid-muridnya yang tidak mengikuti ikut tes Alfateta atau aktivasi otak kiri dan kanan berbiaya Rp 500.000. Salah satu orang tua murid yang membeberkan kasus ini mengatakan, murid-murid sekolah tersebut diancam tidak naik kelas jika tidak mengikuti tes tersebut.

Memang tak ada pemaksaan di surat edaran, tapi secara verbal kepala sekolah dua kali bicara di depan anak-anak bahwa kalau tidak ikut mereka tidak naik kelas.
-- Orang Tua Murid

Orang tua murid tersebut mengungkapkan kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (16/11/2010), bahwa surat edaran mengikuti tes Alfateta itu dikirimkan dua pekan lalu. Untuk mengikuti tes sistem otak kiri dan kanan, setiap murid dipungut iuran Rp 500.000.
"Memang, tidak ada pemaksaan di surat edaran itu, tapi secara verbal kepala sekolahnya dua kali bicara di depan anak-anak kami bahwa kalau tidak ikut tes itu mereka tidak naik kelas. Ini intimidasi namanya, ini pemaksaan," ujar orang tua murid tersebut.
Menurut dia, ihwal pemaksaan tersebut sudah dikonfirmasikan ke sesama orang tua murid lainnya. Hasilnya, beberapa orang tua murid lain juga mengaku demikian perlakuan kepala sekolah yang diterima oleh anak-anaknya.

"Saya sudah cek ke teman-teman lain dan mereka bilang sama seperti itu. Anehnya, yang tanda tangan itu kepala sekolah dan wakil komite, bukan ketua komite sekolah. Terus terang, kami terkesan dipaksa," tuturnya.

Sumber: kompas.com

No comments:

Post a Comment