Thursday, May 05, 2011

Tidak shalat bertahun2, kembali shalat setelah diskusi 2,5 jam


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin saya ada meeting dari pagi sampai dzuhur. Setelah itu, saya ke kantor orang. Di kantor tersebut, ada 2 staf yang sudah saya kenal dari beberapa bulan yang lalu, dan sudah pernah shalat bersama mereka di musholla. Ada juga satu orang yang baru, yang setahu saya juga Muslim tetapi baru ketemu dia dua kali.
Karena sudah masuk waktu dzuhur, saya ajak orang baru itu shalat di musholla. Kedua teman yang lain langsung ketawa. Saya kaget. Apa yang lucu?
Dia tidak bisa diajak shalat, kata mereka. Mereka sudah lama mencoba dan tidak berhasil. Saya kira mereka bercanda, lalu saya bertanya apa benar atau tidak. Orang itu mengatakan benar dan mulai menjelaskan kenapa.

Dia bercerita tentang masa kecilnya, dengan orang tua yang Muslim tetapi kejawen. Mereka ajarkan dia tentang shalat, tetapi sekaligus juga tidak selalu melakukannya. Juga ada ajaran bahwa shalat itu tidak begitu penting. Yang penting adalah hati kita dan bagaimana kita berbuat baik dan benar kepada orang lain, dan tidak menyakiti hati mereka.
Saya dengarkan dengan baik selama beberapa minit. Setelah dia sudah menjelaskan banyak, saya merasa harus diluruskan pendapat yang keliru ini. Saya jelaskan bahwa, mohon maaf, semua yang diajarkan oleh orang tua kepadanya adalah tidak benar. Shalat itu wajib dan tidak bisa ditinggalkan untuk alasan apapun (kecuali kita sedang melarikan diri dari musuh dalam keadaan perang, dan dalam keadaan itu, kita bisa berdzikir saja.) Orang jahat yang shalat masih lebih baik daripada orang baik hati yang tidak shalat.

Orang jahat yang masih shalat 5 waktu belum memutuskan diri dari Tuhannya. Dia masih diterima sebagai seorang Muslim, dan masih membuktikan bahwa dia beriman kepada Allah, walaupun mungkin dia korupsi, berbohong, menipu dan lain2. Dia masih bisa diampuni semua dosanya, karena pada saat shalat, dia berkomunikasi dengan Allah. Dia masih ada koneksi dengan Allah jadi Allah masih buka pintu bagi dia setiap hari untuk mencari ampun dan kumpulkan pahala dari perbuatan baiknya. (Tentu saja dengan harapan dia akan bisa memperbaiki diri, dan tidak selamanya berbuat salah.)

Sedangkan untuk orang yang tidak shalat, dia sudah memutuskan koneksi dengan Allah. Dia diberikan perintah wajib shalat dan secara sepihak, dia merasa boleh memutuskan sendiri untuk tidak peduli. Dia merasa bahwa dia punya hak untuk menolak perintah dari Tuhannya.

Saya samakan keadaan itu dengan dokter atau pilot. Dokter wajib membersihkan tangan dan sebagainya sebelum operasi. Kalau tidak, pasien akan kena infeksi. Bagaimana perasaan kita kalau dokter abaikan kewajiban itu karena lagi tidak mood atau merasa tidak ikhlas lalu melakukan operasi pada anak kita? Pilot wajib periksa seluruh pesawat sebelum tinggal landas. Sayap, bensin, rem, dll. harus diperiksa semua. Bagaimana perasaan kita kalau pilot abaikan kewajiban itu karena lagi tidak mood atau merasa tidak ikhlas? Masih mau kita terbang sama pilot itu?

Saya jelaskan lagi bahwa pada hari akhirat, yang pertama diperiksa oleh Allah adalah shalat. Bukan kebaikan hati kita kepada yang lain. Tetapi dia merasa kalau berbuat baik, maka dari pahala itu juga bisa masuk sorga. Saya jelaskan bahwa kalau kita berbuat baik, tetapi kebaikan itu TIDAK dilakukan karena Allah, maka belum tentu Allah akan memberikan pahala. Allah tahu kita melakukan kebaikan itu karena sangat utamakan hubungan kita dengan manusia yang lain. Tetapi kita melakukan itu karena membuat kita bahagia dan senang, bukan karena dianjurkan oleh Allah dan Nabi kita Muhammad SAW. Jadi buat apa Allah harus berikan pahala? Tidak ada peran Allah di dalam keputusan kita untuk berbuat baik kepada orang lain. Bisa jadi semua pahala dari kebaikan itu dihapus oleh Allah, dan dosa dari shalat kita yang tidak dikerjakan tetap. Mampus kita.

Dia baru mulai sadar tentang pentingnya shalat sebagai kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Masih ada banyak lagi yang saya sampaikan kepadanya tetapi intinya seperti itu, dan tidak bisa diketik isi dari seluruh percakapan itu karena terlalu banyak.

Akhirnya sudah berlalu 2,5 jam. Ashar sudah dekat, dan saya masih belum shalat dzuhur atau makan siang. Saya buka sepatu dan ajak dia ikut shalat. Saya jelaskan kepadanya: Kalau mau ikut, silahkan, kalau masih mau tinggalkan shalat silahkan. Saya mau ajak di ke jalan yang benar, tetapi tidak mau memaksa. Dia harus memilih sendiri.

Saya masuk musholla, dan setelah satu minit, dia ikut masuk dan shalat bersama saya.
Setelah shalat, saya kembali ke ruangan mereka dan makan siang. Setelah makan, sudah masuk waktu ashar, dan saya buka sepatu karena mau shalat lagi. Saya baru mau berdiri, dan pada saat itu ada telfon yang masuk. Saya terima dan bicara beberapa minit. Setelah selesai, orang itu tidak ada di ruangan. Ke mana dia? Pergi rokok di luar kata temannya. Saya cari di luar karena mau coba ajak dia shalat lagi. Tidak ada. Ke mana dia? Saya jalan ke arah musholla. Mungkin dia masuk salah satu ruangan yang lain. Pas saya menuju musholla, tiba-tiba kelihatan badan orang yang sedang turun ke posisi sujud. Saya lihat bajunya. Itu dia yang saya carikan! Ternyata dia sudah tidak menunggu saya lagi dan pergi shalat ashar sendiri karena saya kelamaan (terima telfon).

Teman2, kita semua bisa melakukan hal seperti itu. Saya bukannya seseorang yang ahli dalam dakwah, walaupun pengalaman sudah banyak. Tetapi yang dibutuhkan adalah keinginan untuk mendengarkan orang itu yang ibadahnya kurang bagus, berusaha untuk memahami masa lalu dia (walaupun salah), dan tidak langsung mengritik dia secara keras atau mengejek orang tuanya yang memberikan pendidikan yang salah. Kita hanya perlu dengarkan saja, menyampaikan ajaran yang benar, dan ajak orang itu untuk berpikir dan merenung lagi. Insya Allah kalau akalnya sehat, dia bisa terima masukan dari kita. Tetapi kuncinya adalah kita harus sabar dan menyampaikan kebenaran dengan suara yang baik dan lembut, tanpa memberi kesan sedang menyerang dia atau mengutuk dia karena sudah lama berbuat salah atau berdosa. Insya Allah hatinya masih bisa dibuka oleh Allah.

Dan sebenarnya pada saat itu, bisa dikatakan bawa Allah-lah yang bicara dengan dia, cuma pakai suara kita untuk menyampaikan kebenaran (karena Allah tidak mungkin bicara langsung kepada manusia biasa seperti kita). Saya tidak punya niat bicara lama dengan dia pada hari itu, dan juga tidak “mencari” kesempatan untuk berdakwah, tetapi Allah yang tempatkan kami di satu ruangan dan berikan waktu yang cukup untuk membuka hati dia lewat dialog. Selama kita kerjakan dengan ikhlas, insya Allah akan ada hidayah dan petunjuk bagi orang itu, yang berasal dari Allah dan disampaikan lewat suara kita.

Jangan anggap anda tidak bisa. Anda juga bisa. Cuma perlu berusaha, dengan sikap dan suara yang baik, dan insya Allah akan cepat mendapatkan pengalaman. Dan setiap pengalaman itu membuat kesempatan yang berikut terasa lebih mudah lagi. Kalau anda merasa sudah ketemu orang yang perlu bantuan untuk menjadi lebih dekat kepada Allah, ajak dia bicara. Dan kalau dia terima, berarti itulah kesempatan yang Allah berikan kepada anda untuk berdakwah. Tetapi harus bersabar, dan mungkin harus siap berkorban sedikit. Contohnya, saya jadi tidak makan siang sampai jam 3 sore karena tidak mau menghentikan diskusi itu. Dikuatirkan suasana akan berubah lagi kalau berhenti dan mulai lagi, atau mungkin dia takut bicara lagi dan akan berusaha untuk pergi.

Tetapi karena saya bersedia mendengarkan dia, dan dia bersedia mendengarkan saya, dan suasana mendukung diskusi kita, akhirnya ada hasil yang baik. Bagi orang seperti itu, yang terpenting adalah menjaga perasaan itu supaya tidak mundur lagi dan kembali seperti semula. Dan oleh karena itu saya masih rajin kontak dia setiap hari, cuma untuk tanyakan kabar dia, dan sekali-sekali menanyakan shalatnya juga (tetapi tidak setiap waktu). Insya Allah hidayah yang dia terima dari Allah sekarang tidak akan hilang begitu saja, dan ibadahnya akan makin banyak dan keimanannya makin kuat.

Silahkan coba sendiri. Insya Allah juga akan dirasakan nikmatnya kalau membantu salah satu saudara kita kembali kepada Allah dan jalan yang benar, sesuai dengan contoh Rasulullah SAW.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto


0 comments:

Post a Comment