Wednesday, August 10, 2011

Mohon Bantuan Untuk Anak Yatim di Desa Purwadana, Karawang


Assalamu'alaikum wr.wb.,

Saya pernah ceramah di desa Purwadana di Karawang. Saat berbincang dengan ustadz di situ, dijelaskan bahwa jumlah anak yatim di dalam satu desa ini cukup besar. Mungkin ada yang mau menyumbang atau menyalurkan program amalnya ke sana.

Di desa Purwadana ini, ada:        

173 anak yatim
162 orang jompo

Bantuan bisa disalurkan lewat rekening ini:

Bank: BNI
No rekening: 0216248507
Atas nama: BAZ
Kota: Karawang
Cabang: BNI Karawang

Bantuan sewaktu-waktu dan bantuan secara rutin sangat dibutuhkan di desa Purwadana, karena selama ini tidak ada donator tetap sama sekali untuk anak yatim dan jompo di situ. Ust Muhtadin, yang juga Ketua MUI setempat, sudah membuka rekening ini supaya bisa terima zakat dan sedekah dari ummat Islam kalau ada yang mau membantu.
Semoga bantuannya dibalas dengan segera oleh Allah SWT.

Ust. Muhtadin juga boleh dihubungi langsung lewat nomor HP: 085692070040 kalau ada yang perlu informasi lebih dalam.

Di desa ini sudah punya madrasah kecil (Ust Muhtadin yang mendirikan), dan banyak anak yatim sekolah di situ daripada sekolah umum yang lebih jauh. Tapi masih dibangun dan dalam kondisi sederhana.
Kalau ada yang mau membuat bakti sosial, santunan anak yatim, sunatan massal, atau acara lain, bisa menghubungi Ust Muhtadin secara langsung.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.  
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

1 comment:

  1. Tanpa sengaja hari senin yg lalu aku buka puasa bareng kaun dhuafa.

    Ceritanya begini: Senin sore aku ada janji mau bertemu dengan dosen pembimbing yg bekerja di BI. Pak Dosen ngasih waktu jam 7:00 pm. Jadi aku putuskan datang lebih awal agar bisa sholat magrib di masjid gedung tsb. Sampai masjid kira-kira jam 5.40 pm, aku mengamati masjid yang sangat nyaman. 10 menit kemudian ada pengumuman dari panitia masjid untuk yg mau ikut buka bersama agar memasuki ruang disisi kiri masjid ( serambi masjid). Aku menuju ke ruangan itu, dan betapa terkejutnya aku, ternyata di ruangan itu telah penuh dengan orang2, bagian depan untuk ikhwan dan bagian belakang untuk akhwat. Karena melihat penuhnya tempat, aku dan akhwat di belakangku hanya berdiri bingung mau duduk dimana. Melihat kebingungan kami, kemudian ada seorang panitia akhwat yg mendatangi kami dan meminta kami untuk duduk dibarisan paling depan. Setelah duduk dan berkenalan dgn akhwat dikiri kananku kemudian aku mengedarkan pandangan ke belakangku. Masya Allah, ternyata yg duduk dibelakangku adalah kaum dhuafa, ini terlihat jelas dari penampilan dan wajh mereka. Tiba-tiba buku kudukku berdiri karena menyadari begitu banyaknya kaum dhuafa disekitar gedung2 yang berdiri gagah di area segitiga emas. Jumlah mereka banyak karena para ibu-ibu juga mengajak anak-anak mereka. Ketika mataku menatap ke depan, ternyata jumlah orang dhuafa laki2 juga tak kalah banyaknya.

    Namun kesedihanku berubah menjadi keprihatinan takkala datang waktu pembagian nasi kotak. Karena mereka yg datang bukan hanya orang dewasa, mereka juga membawa anak-anak balita, maka satu keluarga bisa dapat lebih dari 2 nasi kotak,akibatnya panitia membagi nasi untuk orang dewasa saja. Ini mengakibatkan para ibu-ibu protes, mereka mendatangi panitia dan minta tambahan jatah nasi kotak dengan cara berteriak-teriak, Astaghfirullahu.

    Ya Allah ya Robby, hanya sekedar untuk nasi kotak sederhana, kaum dhuafa bisa berteriak-teriak karena tdk kebagian. Disisi lain, aku sering tidak bersyukur ketika makan makanan yg mahal namun rasanya kurang pas di lidah. Kaum dhuafa tdk punya pilihan menu. Akankah kita berpangku tangan?.....Bulan ini adalah waktu yg tepat untuk mulai meningkatkan empati kita sambil mendulang pahala.

    ReplyDelete