Thursday, December 01, 2011

Amnesty: Saudi keluarkan banyak kebijakan represif

Kamis, 01/12/2011 15:21 WIB
BBCIndonesia.com - detikNews
Arab Saudi ingin menjaga stabilitas keamanan di negaranya dan melarang aksi protes. Lembaga Amnesty International mengatakan Arab Saudi telah mengeluarkan banyak kebijakan represif sebagai reaksi atas gelombang unjuk rasa di Timur Tengah atau Arab Spring yang terjadi belakangan ini.

Dalam laporannya lembaga yang bergerak dalam penanganan hak asasi manusia ini mengatakan ribuan orang telah ditangkap dan banyak dari mereka yang tidak diproses melalui pengadilan. Sejumlah tokoh reformis di negara itu telah diberikan hukuman yang cukup lama setelah melalui persidangan yang disebut oleh Amnesty sebagai persidangan yang "sangat tidak adil"

Dalam laporannya Amnesty juga mengatakan bahwa pihak keamanan Arab Saudi telah menangkap ratusan orang yang menuntut agar keluarga mereka dibebaskan karena ditangkap tanpa proses peradilan dan penuntutan. Sejauh ini sejumlah aksi protes menentang kebijakan pemerintah Arab Saudi banyak terjadi di wilayah timur negara itu yang ditempati oleh kelompok minoritas Syiah.

Aksi protes ini dilakukan sejak bulan Maret lalu di sejumlah kota seperti Qatif, Ahsa dan Awwamiya dan melibatkan ratusan orang. Untuk meredam aksi itu, pihak keamanan telah menangkap setidaknya 300 orang pengunjuk rasa, sebagian besar kini sudah dibebaskan dengan syarat mereka tidak akan melakukan aski serupa lagi. Sementara yang lainnya mendapat sanksi larangan berpergian dari wilayah mereka.

Tanpa pengacara
Insiden terakhir yang mendapat perhatian Amnesty International terjadi pada pekan lalu saat pemerintah Saudi menghukum 16 orang dengan hukuman penjara berkisar antara lima hingga tiga puluh tahun. Dari 16 orang itu sembilan diantaranya adalah anggota kelompok reformis, Amnesty menyesalkan proses persidangan itu karena para terdakwa ditutup matanya serta di borgol tanganya. Selain itu pengacara mereka juga tidak diperbolehkan mendampingi para terdakwa dalam tiga sesi awal persidangan.

"Pengunjuk rasa damai dan pendukung perubahan politik di negara itu telah dijadikan sasaran untuk ditangkap sebagai upaya untuk meredam aksi serupa menyebar ke wilayah lain," kata Direktur Amnesty International untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, Philip Luther. Wartawan BBC untuk masalah keamanan, Frank Gardner mengatakan Arab Saudi sejauh ini memang telah menolak gelombang perubahan yang terjadi hampir di sebagian wilayah Timur Tengah.

Pemimpin Arab Saudi, Raja Abdullah menurut wartawan BBC telah bereaksi terhadap kondisi yang terjadi saat ini dengan mengeluarkan biaya miliaran dollar untuk membangun sistem keamanan dan pengembangan agama, dua pilar utama yang mendukung kekuasaan keluarga Al-Saud. Amnesty juga menyebut pemerintah telah menyusun undang-undang anti teror yang secara efektif bisa menjadikan tersangka kasus kriminal menjadi tersangka kasus teroris dan bisa diperpanjang penahanannya tanpa proses persidangan. Dalam catatan Amnesty, orang yang mempertanyakan integritas Raja dapat di hukum penjara minimal sepuluh tahun. (bbc/bbc)

2 comments:

  1. Rasulullah shallallahu'alayhi wa sallam bersabda, "suatu masa nanti akan berkumpul umat-umat (orang kuffar) untuk mengelilingi kalian sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya"

    mereka berkata, "apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah?"

    beliau menjawab, "tidak, pada saat itu kalian banyak dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit al-wahn"

    mereka berkata, "apakah penyakit al-wahn itu wahai Rasulullah?"

    Rasulullah menjawab, "cinta dunia dan takut akan mati"

    [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (4297) dan Ahmad (5/287) dari hadits Tsaubah radhiyallahu'anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam as-Shahihah (958)]

    ReplyDelete
  2. Gerakan Syi'ah di Indonesia LUAR BIASA aktifnya. Mereka sangat pintar menempatkan orang-orangnya di posisi penting dan sangat lihai MELOBI para pejabat pemerintah. Kelompok Syi'ah Indonesia mendapat dukungan secara terang-terangan dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

    Posisi yang mereka atur:

    1. Dr. Jalaluddin Rachmat untuk "menggarap" keluarga mantan Wakil Presiden Soedarmono dan kelompok elit Kebayoran Baru dengan menggunakan Yayasan Sehati (Pengajian Sehati).

    2. Ir. Haidar Bagir (Pimpinan di Harian Umum Republika) yang "menggarap" orang-orang dekat Habibie (Ketua Umum ICMI) yang kemudian menjadi Wapres dan sempat jadi Presiden sementara, dan kelompok intelektual lainnya.

    3. Prof. Dr. Quraish Shihab yang "menggarap" tokoh agama termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia), yaitu untuk mementahkan keputusan-keputusan MUI kalau ada keputusan MUI yang mau keras terhadap aliran-aliran sempalan. Dan dengan "pendekatannya" yang intensif kepada keluarga Cendana, akhirnya dia terpilih menjadi Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII, sehingga LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) mengeluarkan brosur kecil yang berjudul "Syi'ah dan Quraish Shihab.

    (Dikutip dengan beberapa penyesuaian dari buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Ahartono Ahmad Jaiz)

    ReplyDelete