Thursday, January 12, 2012

Gedung pencakar langit dan krisis keuangan

Dua buah berita yang sangat menarik. Coba dibaca keduanya, dan direnungkan. Kalau analisa dari Barclays Capital ini benar, dan memang ada hubungan antara pembangunan gedung tinggi dan krisis keuangan, maka apakah wajar kalau semua aparat langsung setujui pembangunan gedung 111 lantai di Jakarta? (Mungkin lebih baik berhati-hati, tetapi kalau “Pak Amplop” sudah bicara, segala sesuatu bisa berubah menjadi “boleh”!) Kata Barclays, krisis keuangan terjadi karena ada “alokasi investasi yang salah” yang menghasilkan gedung tinggi, tetapi abaikan kebutuhan ekonomi yang lain.
Dan selain pembangunan gedung tinggi, ada juga rencana pemerintah untuk membuat jembatan paling panjang (dan paling mahal) di dunia dari Banten ke Lampung. Rencana itu sudah diseutjui oleh SBY dan akan segera mulai. Walaupun bukan gedung, mungkin prinsipnya sama. Di saat separuh dari rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan, Mega Proyek yang menjadi fokus pemeritah dan pengusaha.
Siap-siap saja menghadapi krisis ekonomi yang lebih parah di sini!
Wassalam,
Gene

Gedung pencakar langit dan krisis keuangan
Terbaru  11 Januari 2012 - 08:54 WIB
Pembangunan gedung pencakar langit terkait dengan terjadinya krisis keuangan, menurut bank Barclays Capital. Contoh adanya "hubungan tidak sehat" menurut badan perbankan ini termasuk pembangunan Gedung Empire State di Amerika menjelang Depresi Besar dan gedung tertinggi saat ini, Burj Khalifa, dibangun sebelum Dubai hampir bangkrut. Cina saat ini adalah negara yang membangun paling banyak gedung pencakar langit, menurut bank itu.

India juga tengah membangun 15 gedung tinggi.
"Gedung-gedung pencakar langit di dunia merupakan tren pembangunan gedung tinggi dan menunjukkan alokasi investasi yang salah," menurut analis Barclays Capital. Bank itu juga mencatat gedung pencakar langit pertama di dunia, Equitable Life di New York, selesai dibangun tahun 1873 dan bersamaan dengan terjadinya resesi selama lima tahun. Gedung itu dihancurkan pada tahun 1912.

 Contoh lain yang diangkat adalah gedung Chicago's Wills Tower (yang sebelumnya disebut Sears Tower) tahun 1974 yang dibangun pada saat terjadinya guncangan harga minyak dunia.
Rumah termahal di India. Sementara di Malaysia, Menara Petronas dibangun tahun 1997 pada saat krisis keuangan Asia. Temuan ini dapat membuat sejumlah kalangan di London khawatir karena saat ini tengah dibangun gedung Shard, tertinggi di Eropa barat. Namun yang perlu dikhawatirkan investor adalah Cina yang tengah membangun 53% gedung tinggi dunia, kata Barclays Capital.

Dalam laporan terpisah, JPMorgan Chase mengatakan pasaran properti Cina dapat turun sekitar 20% di kota-kota besar dalam waktu 12 sampai 18 bulan mendatang. Di India, taipan Mukesh Ambani membangun gedung pencakar langit di Mumbai untuk kediaman keluarganya. Gedung tingkat 27 itu diperkirakan merupakan hunian termahal di dunia. Sejumlah surat kabar menyebutkan gedung itu memerlukan sekitar 600 orang untuk perawatan. Harga kediaman taipan di Mumbai itu diperkirakan lebih dari US$1 miliar (Rp 9 triliun).

"Saat ini, India hanya memiliki dua dari 276 gedung pencakar langit dunia dengan tinggi lebih dari 240 meter, namund alam lima tahun ke depan, negara itu akan memiliki 14 gedung tinggi baru," kata Barclays Capital. Indeks gedung pencakar langit Barclays Capital diterbitkan setiap tahun sejak 1999.

Ini Alasan Tomy Winata Cs Bangun Signature Tower 111 Lantai 
Selasa, 10/01/2012 16:02 WIB
Suhendra - detikFinance
Jakarta - The Signature Tower dirancang menjadi gedung tertinggi ke-5 dunia dan tertinggi di Indonesia. Menara yang akan berlokasi di jantung Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta itu dirancang memiliki 111 lantai. Apa alasan memilih 111 lantai? Wakil Presiden Direktur PT Jakarta International Hotels & Development Tbk Santoso Gunara menjelaskan awalnya menara ini akan dibangun 88 lantai atau setara dengan Menara Petronas Malaysia. Selain itu, tower ini sudah lama direncanakan dibangun semenjak rencana awal pengembangan SCBD Jakarta.

"Sejak awal membangun SCBD memang kita rencanakan ada tower utama lah, dulunya pernah direncanakan 88 lantai, terakhir kita pikir ya udah lah tanggung kita bikin 111 lantai. Kalau Taiwan bikin 101 kita bikin 111 lah itu rencananya," katanya kepada detikFinance di kawasan gedung BEI, Selasa (10/1/2012). Menurutnya, pemilihan tinggi lantai hingga 111 lantai tak memiliki makna khusus. Namun yang pasti, sesuai dengan rencana Signature Tower ditargetkan memiliki ketinggian 600 meter, dengan nama yang sudah dipatenkan.

Ia juga menjelaskan setelah mempertimbangkan pesatnya dunia properti belakangan ini, pihaknya mulai terpacu untuk merealisasikan mega proyek senilai US$ 1 miliar itu. Menurutnya proyek ini bukan hanya aspek bisnis belaka, karena jika mengejar aspek bisnis membangun gedung 30-50 lantai justru lebih menguntungkan. "Ini rencananya untuk kebanggaan nasional juga," katanya.

Santoso menjelaskan menara yang akan berdiri 111 lantai tersebut memiliki luas 300.000 meter persegi dari sisi lantai dasar ke atas. Sementara jika menghitung dari lantai bawah tanah totalnya bisa mencapai 500.000 meter persegi. "Itu terdiri dari tiga bagian, hotel, perkantoran dan ritel, kalau ritel sambungan dari pacific place, nyambung. Menara ini lokasinya yang sekarang ini automall," katanya.

Sebagai perbandingan Gedung Taipei 101 di Taiwan memiliki ketinggian 509 meter. Gedung Taipei 101 lantai merupakan pencakar langit yang paling maju. Meski hanya menempati nomor urut ketiga dari gedung tertinggi di dunia, gedung ini memiliki keunggulan yaitu dilengkapi dengan teknologi fiber optik dan hubungan internet satelit dengan kecepatan tinggi. Gedung ini dilengkapi oleh dua lift tercepat di dunia yang dapat mencapai kecepatan maksimum 1.008 meter per menit (60,48 Km/jam). Gedung ini juga dilengkapi dengan sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88, menstabilkan menara ini terhadap goncangan yang timbul dari gempa bumi, angin topan maupun gaya dorong angin.

Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang menjadi lokasi Signature Tower dikembangkan oleh PT Danayasa Arthatama Tbk. Kepemilikan saham Tomy Winata PT Danayasa Arthatama Tbk hanya 0,001%, kemudian publik 17,58% dan pemegang mayoritas adalah PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) Tbk sebesar 82,4%.

Sementara itu, kepemilikan saham Tomy Winata berdasarkan laporan keuangan Maret 2011 di PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) Tb sebesar 15,87%, Sugianto Kusuma 9,76%, Santoso Gunara 0,40%, pemegang saham Indonesia, masing-masing dibawah 5% dengan total kepemilikan saham 53,32% dan pemegang saham asing dengan masing-masing persentase kurang dari 5% dengan total 20,65%. (hen/dnl)

1 comment:

  1. "Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah." (HR. Bukhari)


    Ini Dia Calon 20 Menara Tertinggi, RI Masuk Urutan ke-5
    Jumat, 06/01/2012 13:44 WIB
    Angga Aliya – detikFinance
    [Gambar gedung2 itu bisa dilihat di situs detik.com]
    Jakarta - Memasuki abad 21, menara setinggi 300 meter atau biasa disebut dengan supertall dianggap sudah ketinggalan zaman. Saat ini, dunia sedang memasuki ke jaman megatall alias gedung-gedung dengan tinggi lebih dari 600 meter. Seperti dikutip dari Archdaily, Jumat (6/1/2011), belum lama ini The Council on Tall Buildings and Urban Habitat mengeluarkan daftar 20 gedung tertinggi di tahun 2020, sebanyak 18 diantaranya memiliki tinggi lebih dari 500 meter, sehingga istilah supertall sudah tidak cocok lagi menggambarkan mereka.

    Berikut daftar 20 menara tertinggi di tahun 2020 nanti:

    Kingdom Tower, Jeddah dengan tinggi 1.000 meter.
    Burj Khalifa, Dubai dengan tinggi 828 meter
    Ping An Finance Center, Shenzhen dengan tinggi 660 meter
    Seoul Light DMC Tower dengan tinggi 640 meter
    Signature Tower Jakarta dengan tinggi 638 meter
    Shanghai Tower dengan tinggi 632 meter
    Wuhan Greenland Center dengan tinggi 606 meter
    Makkah Royal Clock Tower Hotel dengan tinggi 601 meter
    Goldin Finance, Tianjin dengan tinggi 597 meter
    Lotte World Tower, Seoul dengan tinggi 555 meter
    Doha Convention Center and Tower dengan tinggi 551 meter
    One World Trade Center, New York dengan tinggi 541 meter
    Chow Tau Fook Guangzhou dengan tinggi 530 meter
    Chow Tai Fook Binhai Center dengan tinggi 530 meter
    Dalian Greenland Center dengan tinggi 518 meter
    Pentominimum, Dubai dengan tinggi 516 meter
    Busan Lotte Town Tower dengan tinggi 510 meter
    Taipei 101 dengan tinggi 508 meter
    Kaisa Feng Long Centre dengan tinggi 500 meter
    Shanghai WFC dengan tinggi 492 meter

    Pada awal abad 21, menara Petronas setinggi 452 meter menyandang gelar sebagai gedung tertinggi di dunia. Sepuluh tahun kemudian, gelar tersebut berpindah ke Burj Khalifa yang menjulang lebih dari setengah kilometer, tepatnya 828 meter. Saat ini, konstruksi calon menara tertinggi di dunia sedang dikerjakan. Menara yang bernama Kingdom Tower di Jeddah setinggi 1 km. Hanya dalam dua puluh tahun, gelar menara tertinggi di awal abad 21 bisa dilewati dengan tinggi dua kali lipat. Kini menara 600 meter sudah menggantikan tren 300 meter.

    Dua puluh menara tertinggi di 2020 itu tersebar di 15 kota di tujuh negara. China memimpin dengan mengklaim bahwa 10 dari 20 menara itu akan dibangun di negaranya. Disusul oleh Korea Selatan dengan tiga menara, Saudi Arabia dua menara, dan Eropa juga dua menara. Sebanyak 14 Menara berada di Asia, dan lima menara di Timur Tengah. Ping An Finance Center di Shenzhen, China, dijadwalkan selesai 2015. Gedung setinggi 660 meter itu akan menjadi yang paling tinggi di negeri tirai bambu tersebut, menawarkan lebih dari 300.000 m2 ruang perkantoran.
    Sumber: finance.detik.com
    http://finance.detik.com/read/2012/01/06/133638/1808507/1016/ini-dia-calon-20-menara-tertinggi-ri-masuk-urutan-ke-5?f9911023

    ReplyDelete