Thursday, January 12, 2012

Petisi dari Avaaz: Sandals For Justice

Sandal untuk Kapolri menjadi berita internasional dan menimbulkan petisi dari aktivis Avaaz. Luar biasa Indonesia! Jadi sorotan dunia karena sistem keadilan tidak bisa adil. 


Sandals For Justice:
Sejak polisi di Palu secara brutal menuntut ALL dengan kasus sandal, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, seluruh warga negara memilih untuk melawan. Jika kita bisa menggalang tekanan publik saat ini, maka kita bisa mengakhiri prilaku kesewenang-wenangan kekuasaan semacam ini.

Ini adalah kasus terbaru, setelah rangkaian kasus-kasus sebelumnya dari Aceh sampai Bima, dari Lampung sampai Cilacap. Semuanya melibatkan polisi yang secara sadar menggunakan kekuatannya, menerapkan hukum dengan semena-mena pada anak-anak dan orang biasa. Memang, masyarakat Indonesia yang peduli sudah membuat gerakan’banjir sandal‘ sebagai ekspresi perlawanan pada kasus itu. Sekarang, polisi dalam tekanan dan pemerintah pun merasakan dampaknya. Jika kita dapat membangun sebuah petisi publik yang merepresentasi banyak orang kepada Presiden Yudhoyono, kita bisa memaksa SBY untuk mengendalikan polisi dan memulai dilakukannya reformasi hal-hal yang kritis dan penting.

Kita harus bergerak cepat dan memperbesar tekanan untuk memastikan sistem keliru dan penyalahgunaan kewenangan harus segera dihentikan. Mari menjadikan kasus AAL sebagai kasus terakhir pada anak-anak kita. Klik link di bawah ini untuk menandatangani petisi untuk Presiden SBY, lalu sebarluaskan pada keluarga dan teman-teman. Bila jumlah penandatanganan ini mencapai 50 ribu orang, maka kami akan mengirimkan petisi ini pada Presiden SBY, sekaligus mengirimkan satu pasang sandal pada Presiden SBY untuk setiap 1000 petisi.

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

Seperti yang kita ketahui, polisi Indonesia telah gagal memenuhi pelayanan dasar hukum. Dalam waktu yang bersamaan, polisi dengan semena-mena bisa mengabaikan hukum dan lolos dari kasus pembunuhan, sementara warga masyarakat yang miskin dan tidak punya pengaruh, justru dihadapkan pada hukum yang keras. Itulah mengapa, meskipun AAL sudah bebas, dan polisi yang menuntut AAL sudah dipenjara misalnya, namun ribuan anak-anak tetap saja terancam akan masuk ke penjara karena kasus kriminal yang dituduhkan kepadanya. Dan berbagai laporan tentang perilaku polisi yang tidak proporsional terus bermunculan ke permukaan.

Tanpa adanya birokrat sipil yang menjadi atasan polisi, maka kasus-kasus yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan polisi, akan bisa dengan serta merta diabaikan oleh para pimpinan kepolisian. Maka, Presiden SBY harus bertanggungjawab atas hal ini. Presiden SBY juga dikatakan mengikuti perkembangan terakhir. Hal itu berarti, kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan respon atas petisi yang akan kita kirim, menuntutnya meminta maaf pada AAL, dan memulai reformasi yang serius.

Minggu lalu, lebih dari 100 pasang sandal sudah dikirim ke Mabes Polri di Jakarta. Hal itu adalah kritis paling pedas dan memalukan yang dimuat media nasional dan internasional. Dan sekarang, DPR RI akan memanggil Kapolri Timur Pradopo untuk mencari tahu penggunaan kekerasan berlebihan oleh polisi dalam demonstrasi hingga bentrok antara polisi dengan demonstran. Kita perlu menunjukkan kepada Presiden SBY dan polisi bahwa kita tetap mengawasi dan akan terus mengeluarkan protest pada hal-hal yang tidak sejalan dengan hukum dan keadilan. Mari bergabung dalam petisi untuk solidaritas pada AAL, dan untuk mendorong polisi lebih bertanggungjawab. Klik link di bawah ini untuk terlibat dalam pembuatan petisi untuk reformasi penting di tubuh polisi dan kirim ke semua orang:

http://www.avaaz.org/en/indonesia_sandals_for_justice/?vl

Salam solidaritas,

Alice, Antonia, Morgan, Ricken, Caroline, Pascal dan seluruh tim Avaaz

Information lebih lanjut:

Solidaritas Seribu Sendal Buat Briptu Ahmad (Tempo)
http://www.tempo.co/read/news/2012/01/02/214374800/p-Solidaritas-Seribu-Sendal-Buat-Briptu-Ahmad

No comments:

Post a Comment