Saturday, April 28, 2012

Memilih Mana Antara Senyum Dan Saham?

Assalamu’alaikum wr.wb.,Saya merasa sedih. Kapan saya bisa menjadi orang kaya yang tidak perlu memikirkan uang lagi?Tadi ketemu seorang anak yatim, anak dari teman yang bapaknya wafat tahun kemarin. Saya pengen traktir dia makan steak karena dia suka banget dan jarang makan. Dia baru selesai Ujian Nasional dan belajar dengan sungguh2 sebelumnya selama beberapa bulan, jadi saya mau menghibur dia.

Pas diajak makan, saya tanya mau makan apa. Dia jawab, “Terserah Om”. Saya balas, “Terserah kamu”. Bolak balik begitu terus selama beberapa minit, karena dia tidak mau pilih. Saya tawarkan steak karena sudah tahu itu kesukaan dia dan dia jarang makan. Dia menolak. Nggak mau katanya. Saya melihat matanya. Saya tanya apa nggak mau karena lagi nggak pengen, atau karena takut terlalu mahal? Dia diam dan mikir dulu. Hahaha. Sudah ketahuan jawabannya. Dia tidak mau minta yang mahal. Saya paksakan dia makan steak, sambil dengarkan dia komplain terus bahwa dia tidak mau makan steak.

Setelah dibeli dan ditaruh di meja, senyumnya lebar sekali. Saat saya selesai makan, dia baru selesai makan setengah dari steaknya. Saya tanya kenapa, apa kurang enak rasanya atau benar2 nggak mau makan steak (seperti yang dia katakan tadi)? Dia senyum lebar lagi.

“Lagi menghayati steaknya,” katanya. Hahahah. Ya ampun. Saya perhatikan bahwa steaknya dipotong kecil sekali dengan pelan sehingga ada puluhan potongan kecil yang bisa masuk mulutnya satu per satu. Kayanya hanya dokter gigi yang lebih pelan dan hati2 dalam melakukan tugasnya.

Saat main ke rumahnya, ketahuan kulkas rusak lagi, padahal baru diservis setelah rusak minggu kemarin. Es krim Magnum yang saya beli kemarin sudah mencair semua. Ibu berkomentar, ya sudah, harus dicari uangnya untuk beli kulkas baru. Saya mau langsung berkomentar, “Biarkan saya yang beli,” tapi pas berfikir kembali, baru ingat bahwa saya juga tidak punya uang. Jadi harus gigit lidah dan menahan rasa sedih karena tidak bisa langsung beli buat mereka hari itu juga.

Anak yang satu itu pengen sekali naik pesawat keluar negeri, dan saya sudah bilang kalau ada uangnya nanti, saya mau ajak dia ikut ke Kuala Lumpur saat saya membuat visa kerja. Insya Allah awal bulan depan saya sudah bisa ke sana untuk membuat visa, tapi saya tidak berani berjanji kepada dia, karena masih berfikir apakah sanggup bayarin dia juga atau tidak, jadi baru “diinformasikan” saja kepada dia, bukan berjanji. Bapaknya sudah berjanji mau bawa dia naik pesawat ke luar negeri, tetapi sudah wafat duluan. Jadi itu terasa sebagai beban di dalam hatinya si anak.

Di dalam hati saya, ada daftar panjang barang2 yang mau dibeli untuk membantu anak-anak yatim dalam keluarga yang satu itu, dan banyak anak yatim dan anak miskin di tempat lain yang saya tahu. Mencari anak yatim dan anak miskin tidak perlu pergi ke pelosok, karena di Jakarta dan di sekitarnya sudah disediakan stok yang besar. Tetapi saya belum menjadi konglomerat jadi hanya bisa bermimpi saja dan membantu sebisanya setiap bulan dengan uang yang terbatas. Dan orang yang sudah menjadi konglomerat tidak begitu peduli, kecuali masuk bulan puasa, maka tiba2 mulai peduli semua untuk beberapa hari saja. Bulan puasa itu waktu “panen” untuk anak yatim dan panti asuhan.

Di satu sisi, saya iri sekali dengan orang kaya yang uangnya berlimpahan. Saya sering berfikir tentang apa yang bisa saya lakukan kalau ada uang ratusan milyar seperti mereka. Tetapi mereka dikasih uang yang banyak dan hanya merasa senang kalau uang mereka bertambah terus. 

Saya merasa senang dan puas kalau melihat senyumnya seorang anak yatim yang ditraktir makan dengan makanan kesukaan dia. Tetapi mereka yang menjadi konglomerat (karena diizinkan kaya oleh Allah) malah merasa senang kalau melihat saham mereka naik. Ada pilihan yang sederhana bagi kita semua: senyum atau saham. Mana yang lebih utama?

Jadi saya merasa iri pada mereka yang menjadi konglomerat karena tidak perlu peduli pada uang lagi, dan sekaligus saya merasa kasihan pada mereka karena mereka tidak bisa merasakan nikmat yang luar biasa dari senyumnya seorang anak yatim (kecuali sedikit sekali orang kaya yang memang juga dermawan, tetapi berapa persen itu dari semua?).
Jadi saya merasa sedih. Kapan saya bisa menjadi orang kaya ya? 

Tetapi sekaligus saya merasa senang sekali pada malam ini walaupun dompet sudah kosong. Pada saat orang konglomerat sudah pusing melihat nilai sahamnya naik-turun pada hari ini, saya mendapatkan nikmatnya melihat senyumnya seorang anak yatim pada waktu yang sama. 

Ada pilihan yang jelas: senyum atau saham? 

Biarkan konglomerat memilih yang mana saja yang mereka mau, karena saya sudah memilih juga. Terima kasih ya Allah, sudah memberikan kemudahan untuk memilih antara senyum dan saham. Saya sama sekali tidak mau menukar senyumnya anak yatim itu dengan saham senilai apapun. Tidak ada nikmatnya saham itu kalau dibandingkan dengan senyumnya seorang anak yatim yang dirahmati Allah.  

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

2 comments:

  1. :)
    Benar Pa, melihat senyum anak memang membahagiakan.
    Termasuk senyuman anak yatim.

    Orang-orang yang dermawan akan memilih keduanya.
    Senang melihat Sahamnya naik, hingga senyum yatim pun terus tertoreh.

    Senang melihat senyuman anak yatim, hingga berkahnya menaikkan Saham.

    Wallahu alam

    salam,
    afoe
    terangsaja@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Setuju dgn pak Afoe. CMIIW, menurut saya saham naik-turun itu adanya di bursa saja, dan yg pusing lihat saham naik-turun biasanya para trader yg notabene kebanyakan dari kalangan yg ekonominya biasa2 saja, bahkan byk jg yg pas-pasan, contohnya; trader dari kalangan mahasiswa, pegawai2 kantoran, bahkan pedagang warung kelontong (pernah ada merebak fotonya di internet pedagang warung di pasar tradisional sambil trading saham dgn laptop jadulnya), dll. Kalo konglomerat nya sih ga terlalu mikirin sahamnya naik-turun di bursa, yg dipikirin aset2 yg lain selain saham. Hehe..

    ReplyDelete