Monday, May 14, 2012

Apa Irshad Manji Boleh Diserang dan Bukunya Dilarang Beredar?

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Di Facebook saya dan di tempat lain, ada pendapat yang mengatakan benar kalau Irshad Manji diserang, dan buku dia dilarang beredar. Saya ingin memberikan sebuah tanggapan, kalau ada yang mau memikirkan perkara ini dari sisi yang lain. Saya tidak mendukung penulis itu, dan tidak setuju dengan pendapatnya dalam banyak hal. Tetapi saya juga tidak setuju kalau dia boleh diserang sekelompok orang, tanpa landasan hukum. Saya juga tidak setuju dengan pendapat yang minta agar bukunya dilarang beredar, karena dikuatirkan “efek buruk terhadap ummat” kalau boleh dibaca.

Kalau Irshad Manji melanggar hukum, biarkan polisi dan pemerintah bertindak. Ternyata, dia tidak melanggar hukum. Tetapi yang terjadi adalah sekelompok orang Muslim mengatakan “Kami tidak suka pembicaraan anda, atau buku anda, jadi kami berhak menyerang anda!”
Kalau tindakan itu dibenarkan, korban berikut siapa? Orang Ahmadiyah diserang, Polisi diam dan biarkan. Orang Syiah diserang, Polisi diam dan biarkan. Orang dalam aliran sesat diserang, Polisi diam dan biarkan. Yang berikut siapa?

Mungkin saya yang menjadi sasaran berikut? Gene Netto mengritik pemerintah, atau NU, atau Muhammadiyah, atau orang Muslim yang tidur saat khutbah jumat, atau orang Muslim yang tidak peduli pada anak yatim karena sibuk korupsi untuk sekolahkan anaknya di Amerika. Boleh dong diserang rumahnya Gene Netto dan teman2 digebukin, dan Polisi harus diam. Betul? Pendapat Gene Netto tidak boleh dibaca, karena bisa mengganggu “ketertiban ummat”.
Kalau sekelompok orang Muslim tidak suku pembicaraan orang lain, atau tulisannya, maka orang itu boleh diserang. Betul? Ini negara hukum rimba. Betul?

 Ada buku yang mengatakan Soeharto adalah pahlawan negara. Penulis buku itu boleh diserang kan? Rumahnya dirusak, anggota keluarga dihajar. Polisi harus diam. Betul?
Ada buku yang mengatakan Islam masuk dan berkembang di Indonesia lewat negara Cina, bukan dari Aceh. Penghinaan besar terhadap wali songo dan pedagang Arab yang datang ke Aceh dulu. Penulis itu boleh diserang, bukunya boleh dibakar, toko buku yang mau menjual bukunya diancam akan dibakar, dan Polisi harus diam. Betul?

Sekitar 2 tahun yang lalu, ada buku baru dari profesor di Australia yang mengungkapkan peristiwa 1965 di Indonesia, dan hasil dari penelitian justru membongkar banyak kebohongan pemerintah yang diajarkan kepada rakyat selama ini. Pemerintah Indonesia langsung melarang buku itu beredar, dan tetap melarangnya sampai sekarang. (Tapi dia taruh di internet secara gratis agar bisa dibaca orang yang mau membacanya. Dalam bahasa Indonesia). Kenapa pemerintah takut? Karena bisa “menggangu ketertiban masyarakat”. (Artinya, masyarakat bisa terganggu kalau baca pendapat yang berbeda dari pemerintah, dan merasa dibohongi selama ini!) Ini yang terjadi kalau buku dengan sangat gampang dilarang beredar, hanya karena kita tidak suka isinya. Itu suatu jalan yang penuh dengan bahaya, karena menimbulkan pertanyaan, “Pendapat mana yang mesti dilarang?”

Masih ingat Gereja Katolik? Dulu mereka siap membunuh orang yang menulis pendapat yang bertentangan dengan Gereja. Misalnya, ada yang menulis bahwa Yesus hanya seorang Nabi dan bukan anak Tuhan. Orang itu dibunuh, dan bukunya dibakar, dan dilarang beredar. Apa ummat Islam setuju kalau buku seperti itu dilarang beredar, karena bisa mengganggu ketertiban ummat Katolik? Siapa yang berhak mengizinkan buku seperti itu, tetapi melarang buku Irshad Manji? Isinya sama-sama mengganggu sebuah ummat. Dilarang? Dan penulis diserang, dan dipaksakan untuk tidak berani berbeda pendapat dengan ummat? Siapa yang punya hak untuk memutuskan hal itu?

Orang Indonesia rata2 tidak belajar tentang sejarah, karena pemerintah dari zaman dulu sampai sekarang tidak meninginkan rakyat yang cerdas dan kreatif. Karena rakyat yang seperti itu akan bertanya dari mana tokoh atau partai X dapat uang untuk menang dalam pemilu dan pilkada. Mereka akan tanya darimana ratusan milyar untuk bayar iklan tivi terus pada masa kampanye. Mereka akan bertanya siapa yang bisa mengakses data di server KPU dan KPUD setelah pemilihan selesai (supaya bisa diubah datanya dan menangkan satu pihak). Tetapi kalau rakyat bodoh dan dibodohi terus, maka elit politik dan elit bisnis bisa merampas kekayaan negara ini untuk kepentingan diri sendiri, dan rakyat tidak akan bisa berbuat apa-apa karena berada dalam kondisi lemah.  

Dan salah satu cara untuk membodohi rakyat adalah dengan menyerang orang yang menulis buku yang tidak diinginkan. Sudah dilakukan oleh Adolf Hitler dan Nazi pada tahun 1935, sebelum perang dunia kedua. Pemikiran rakyat sengaja diarahkan sehingga hanya ada satu pendapat yang boleh benar, yaitu pendapat Hitler, dan akhirnya semua orang menjadi takut berbeda pendapat dengan dia.

Tetapi rakyat Indonesia tidak belajar tentang itu. Mereka tidak belajar tentang demo orang Nazi yang ramai2 membakar buku di tempat umum. Buku tentang komunis? Bakar. Buku tentang agama? Bakar. Buku tentang hak pekerja dalam serikat buruh? Bakar. Buku tentang kebebasan berfikir? Bakar. Buku yang menjelaskan bagaimana seorang tokoh bisa menjadi diktator dan merusak negaranya? Bakar. Buku yang menjelaskan kejahatan para jenderal terhadap rakyat? Bakar. Buku tentang HAM? Bakar.

Ini sudah dilakukan. Sejarah sudah ada. Tetapi rakyat Indonesia dengan sengaja tidak dididik untuk mengetahui apa yang pernah terjadi di negara2 yang lain. Dan itu supaya pada saat pemerintah atau penguasa melakukan hal yang sama di sini, maka rakyat akan menganggap itu hal “baru” dan belum pernah terjadi di tempat lain, jadi tidak ada pelajaran dari pengalaman orang lain itu, karena baru terjadi di sini saja. Dan semua kekuatiran terhadap “masa depan yang buruk” akan diungkapkan, tanpa ilmu, tetapi berdasarkan persepsi dan asumsi saja.
1. “Apa yang akan terjadi kalau buku itu dibiarkan beredar dan tidak dibakar? Bisa kiamat. Harus dibakar. Penulis harus diserang, agar dia tidak berani berbeda pendapat dengan [Hitler].”
2. “Apa yang akan terjadi kalau buku itu dibiarkan beredar dan tidak dibakar? Bisa kiamat. Harus dibakar. Penulis harus diserang, agar dia tidak berani berbeda pendapat dengan [sekelompok orang Muslim].”

Bisa melihat kemiripannya?

Semoga bermanfaat sebagai renungan bagi yang mau.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
(Saya tinggal di Pancoran, Jakarta Selatan kalau ada yang mau menyerang sekarang. Tapi minta tolong dibawakan roti tawar juga, karena sudah habis dan tidak aman kalau saya keluar dari rumah karena saya punya “pendapat yang berbeda”. Terima kasih.)

2 comments:

  1. Saya mengikuti pemberitaan mengenai Irshad Manji yang saudara sebutkan. Saya lebih setuju dengan dialog karena begitulah yang diajarkan Islam dalam menghadapi 'musuh'. Tetapi saya melihat Irshad Manji bukanlah orang yang mau diajak dialog. Saya dapat berita bahwa dalam diskusi Salihara dia mengatakan bahwa dialog dengan "kelompok radikal" itu tidak perlu. Saya juga dengar kelompok intelektual INSISTS sudah meminta panitia di Salihara untuk diundang dalam bedah buku Manji. Tapi ditolak. Sebenarnya atmosfir "dialogis" itu sudah ditutup oleh kelompok pro Irshad Manji sehingga tersisa sebuah pertanyaan: kalau bukan cara akademis, cara apa lagi yang harus dilakukan? Umat Islam yang menolak memiliki alasan. Mereka bukan takut debat atau dialog tetapi tidak diberi kesempatan dialog. Saya yakin kalau pihak kontra Manji juga diundang, hal-hal yang saudara dengar di televisi Indonesia tidak akan terjadi. Coba anda dengar press conference Manji di tvOne. Sangat provokatif, sama dengan bukunya. Dia jelas tidak siap berdialog. Jimmy Abdillah.

    ReplyDelete
  2. saya setuju sekali dengan pendapat sdr jimmy abdillah, media sering tidak memberitakan suatu masalah, seolah olah umat islam di indonesia ini kejam dan anarkis, padahal indonesia adalah negara paling toleran, cthnya walaupun mayoritas islam tp banyak pejabatnya yg kristen, gereja bertebaran dimana mana, sekolah kristen/katolik juga banyak, cb di us, obama diisukan islam aja udah heboh minta ampun. balik ke soal irshad manji, dia kan tamu berarti dia harus menghargai peraturan yg berlaku di tempat yang dia kunjungi, ibaratnya aja sdr gene punya rmh, di rmh ada aturan, tiba2 salah satu penghuni rmh sdr gene mengajak temannya berkunjung, si temen ini gak punya aturan, bcr keras2, main musik sampai malam keras2, gak peduli waktu shalat, makan buang sampah smbarangan, sdr gene menegur baik2 tp si tamu malah marah2 nah kira2 apa yg akan dilakukan sdr gene? mengusir tamu tsb atau membiarkannya saja? atau memanggil polisi utk mengusir tamu tsb? eh stlh diusir oleh polisi malahan si tamu bilang HAM nya sdh diinjak injak oleh saudara gene.... nah lo??? msh dibela???

    ReplyDelete