Monday, May 28, 2012

Hikmahnya Sebuah Senyuman No.2




 
Ini hikmahnya sebuah senyuman. Ini foto Yusuf (kanan) yang datang ke rumah kemarin untuk menerima uang sekolah buat kakaknya, Dadang (kiri). Keduanya tidak kerja lagi sebagai pemulung, tetapi bapak dan ibu masih, dan semuanya masih tinggal di tempat pemulung, tanpa air dan WC di dalam gubuk mereka (ada satu tempat di luar buat semua pemulung).

Dua hari yang lalu, bapak mereka telfon saya dan minta bantuan dapat uang sekolah untuk masuk SMK bagi Dadang. Saya kumpulkan dari beberapa teman karena tidak sanggup kasih semuanya sendiri. Saat saya kasih tahu bapak uangnya sudah siap untuk diambil, dan ini sedekah bukan pinjaman, dia menangis terus di telfon dan membaca doa yang panjang buat saya dan teman2 saya yang bersedia membantu dia, tanpa minta apa-apa dari dia.

Dia mengatakan tidak menyangka bisa dapat bantuan yang begitu besar, dengan begitu cepat, dan dalam bentuk sedekah bukan pinjaman, jadi tidak ada beban bayar kembali. Harapan dia cuma satu: anaknya harus bisa dapat pekerjaan yang lebih baik, dan jangan sampai mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dengan menjadi pemulung juga. Sekarang, setelah saya mulai kasih uang bulanan ke Yusuf dari dua tahun yang lalu, dia berhenti menjadi pemulung dan menjadi sangat senang main bola dengan teman2nya setelah sekolah (daripada kerja). Dan hubungan kami dimulai dari sebuah senyuman saja.

Teman2, jangan takut membantu orang lain. Allah Maha Tahu, dan Allah yang berjanji untuk bayar kembali uang yang kita keluarkan untuk membantu orang lain.

245. Siapakah yang mau memberi PINJAMAN kepada Allah, pinjaman yang BAIK (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan MELIPAT GANDAKAN pembayaran kepadanya dengan LIPAT GANDA yang BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
(QS. Al-Baqarah 2:245)
Allah tidak akan sia-siakan uang yang kita keluarkan, dan akan menggantikannnya dengan berlipat ganda, dan juga akan memberikan pahala kepada kita. Dan kalau pahala kita banyak, insya Allah doa-doa kita untuk diri sendiri dan keluarga juga lebih cepat dikabulkan. Dan Allah juga berjanji (lewat hadiths Nabi SAW) untuk mempermudah semua kesulitan kita juga. Jadi tidak ada ruginya bagi kita, kalau mau peduli pada saudara2 kita yang lebih miskin.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Dan kalau ada yang merasa keberatan membantu orang miskin, dengan berfikir, “Nanti bagaimana kalau mereka ketergantungan pada kita?”, maka coba hilangkan perasaan buruk itu, dan berfikir seperti ini: Bukannya kita semua punya ketergantungan terhadap ALLAH SWT setiap detik?? Bagaimana kalau Allah mulai menunjukkan sikap yang sama terhadap kita? Rezeki kita di dunia dibatasi, karena Allah tidak mau kita ketergantungan pada Dia. Kita sering dipecat dari pekerjaan, karena Allah tidak mau kita ketergantungan pada gaji kantor. Kita sering jatuh sakit berminggu2 karena Allah tidak ingin kita ketergantungan pada kesehatan. Air hujan habis dan menjadi musim paceklik bertahun-tahun (seperti di Afrika) karena Allah tidak mau kita ketergantungan pada air gratis yang jatuh dari langit terus, tanpa kita bayar.

Bukannya kita sendiri dalam keadaan ketergantungan pada Allah setiap detik? Kalau iya, buat apa kita merasa keberatan kalau ada orang miskin (seperti pemulung) yang merasa ketergantungan terhadap sikap dermawan kita? Sedangkan Allah sendiri yang berjanji untuk mengembalikan uang itu kepada kita dengan berlipat ganda, dan juga memberikan pahala yang luas. Kalau memahami dengan baik, justru uang yang kita keluarkan adalah investasi terhadap rezeki kita di masa depan. Kita kasih 100 ribu kepada pemulung, Allah kembalikan 1 juta kepada kita (atau lebih). Apakah kita tidak mau?

Apakah kita mau hidup dalam keadaan uang terbatas terus? Karena “uang yang berlipat ganda” tidak pernah datang kepada kita (atau jarang) disebabkan kita keberatan bersedekah kepada siapa saja yang lebih miskin? Allah yang berjanji untuk bayar kembali uang itu. Bukannya itu cukup bagi kita? Pegang janji Allah itu, dan jangan takut membantu orang miskin. Allah Maha Tahu dan Maha Melihat.

92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada KEBAJIKAN (yang sempurna), sebelum kamu MENAFKAHKAN sebahagian HARTA yang kamu CINTAI. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(QS. Ali ‘Imran 3:92)

Rasulullah SAW bersabda : “Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah GANTI bagi orang yang BERINFAQ”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah KEHANCURAN bagi orang yang MENAHAN INFAQ.”
(HR. Bukhari dan Muslim )

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang beriman bagi orang yang kenyang perutnya, sedangkan tetangganya kelaparan hingga tampak tulang rusuknya.” ( HR. Bukhari)

Dari Ibnu Umar dan Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jibril selalu menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang Muslim". (HR. Bukhari & Muslim)

Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment