Wednesday, May 23, 2012

Hikmahnya Sebuah Senyuman

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Mungkin teman2 yang baca blog dan Facebook saya akan ingat Yusuf, anak SD yang menjadi pemulung. Saya mulai memberikan santunan kepada dia lebih dari 2 tahun yang lalu, supaya dia bisa lanjutkan sekolah ke SMP dan sekaligus berhenti menjadi pemulung. Kemarin saya ditelfon bapaknya Yusuf. Dengan minta maaf berkali2, dia tanya apa ada kemungkinan saya bisa membantu keluarganya lagi. (Bapak dan Ibu masih kerja sebagai pemulung). Ternyata kakaknya Yusuf sudah selesai SMP dan mau masuk SMK, jurusan Multimedia. Tetapi ada biaya masuk sekian juta, dan tidak boleh dicicil. Harus bayar lunas sebelum akhir bulan Mei ini.

Dari suara bapak, kedengaran bahwa dia tidak enak minta tolong lagi kepada saya. Soalnya, bulan ini saya juga dapat sedikit sedekah dari teman2 yang mau bantu saya, dan sebagai tanda syukur kepada Allah, saya sudah memberikan 1 juta kepada Yusuf dan keluarganya kemarin. Jadi saya paham kenapa bapak merasa tidak enak minta lagi. Tetapi dia tidak tahu bahwa saya sedang senyum sambil mendengarkan permintaannya. Kenapa? Karena saya bersyukur bahwa keluarga yang sangat miskin ini masih merasa ada tempat untuk mendapatkan pertolongan. Alhamdulillah saya dianggap sebagai orang yang sanggup membantu, dan bapak merasa bisa hubungi saya kalau ada masalah. Saya senyum sambil dengar terus.

Saya sedang menghemat uang karena akhir bulan ini insya Allah ke Kuala Lumpur untuk membuat visa kerja baru. Jadi saya takut tidak sanggup bantu dengan langsung kasih semuanya dari uang saya sendiri. Daripada menolak begitu saja, saya tetap berusaha membantu mereka. Alasannya sederhana:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Saya hubungi beberapa teman, dan tanya kalau mereka ingin bantu saya bersedekah, untuk kumpulkan uang yang dibutuhkan. Alhamdulillah mereka juga langsung setuju, dan dalam sekejap, sudah dapat janji mereka untuk membantu. Malam itu, saya mulai merenung. Membantu ratusan atau ribuan keluarga miskin memang pasti susah, kecuali bagi orang yang kaya sekali. Tetapi untuk membantu satu keluarga saja, atau satu anak miskin saja, tidak begitu berat. Apalagi ada banyak teman dan kenalan yang juga siap membantu kalau diminta bantuannya. Insya Allah semua orang yang punya pekerjaan dan kehidupan cukup nyaman bisa bantu satu anak atau satu keluarga kalau memang ada niat membantu. Dan rasanya nikmat kalau memang terbiasa membantu orang lain, seolah-olah menjadi “agen” bagi Allah untuk menyebarkan kebaikan atas nama Allah.  

Saya merenung lagi. Mungkin sudah 2 tahun saya kenal keluarga Yusuf, dan selain bantu dengan uang bulanan, ada juga beberapa tambahan (seperti uang sekolah ini). Semuanya bermula dari mana sampai saya bisa dianggap sebagai “penyelamat” bagi satu keluarga?  Ternyata semuanya dimulai dengan sebuah senyuman.

Dulu, waktu pertama kali ketemu Yusuf, dia seorang anak SD yang setelah sekolah langsung mulai kerja sebagai pemulung. Tangannya begitu hitam dan kotor, sampai saya takut sekali salaman dengan dia; takut kena bakteri. Dari pertama kali dia melihat saya, seorang bule yang pakai baju koko dan jalan kaki ke masjid, dia senyum saja. Dia tidak bicara, dan tidak pernah minta apa-apa. Hanya senyum saja. Begitu mudah dia bisa senyum walaupun kehidupannya begitu berat.

Dari itu saya mulai memberikan sedikit uang tunai kepada dia setiap kali ketemu di jalan, lalu menjadi rutin setiap jumat, lalu menjadi uang bulanan, lalu menjadi bantuan apa saja yang bisa diberikan. Dan sejak itu, dia terima permintaan saya, berhenti kerja sebagai pemulung, dan sekarang setelah sekolah dia bisa main bola dengan teman2nya. Tangannya sudah tidak pernah hitam lagi kalau ketemu saya.  

Tentu saja semua bantuan yang diberikan kepada mereka itu berasal dari Allah, dan hanya datang lewat tangan saya, dan teman2 saya yang sudah bantu juga (terima kasih teman2!). Dan bantuan itu muncul, hanya disebabkan satu hal yang sangat kecil dan mungkin diremehkan banyak orang: sebuah senyuman manis! Tanpa kata apapun, tanpa minta apapun, hanya senyuman saja. Begitu besar bantuan Allah yang bisa muncul dan berlangunsung bertahun-tahun dari hal yang begitu kecil.

Teman2, tolong sebarkan senyuman. Harganya tidak ada, jadi tidak ada yang bisa jatuh bangkrut kalau senyum kepada orang lain. Dan mungkin dari satu senyuman itu, yang kita anggap begitu tidak penting dan remeh, bisa dimulai sebuah hubungan baik yang penuh dengan rahmat Allah seperti yang terjadi di antara saya dan keluarga Yusuf. Saya mulai memberikan uang kepada Yusuf karena dia selalu senyum kalau melihat saya di jalan, dan hal itu saja yang gerakkan hati saya untuk lebih memperhatikan dia daripada puluhan anak pemulung yang lain.

Sebarkan senyuman. Mungkin saja itu menjadi pintu rahmat dari Allah untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Bantuan Allah bisa datang dari arah yang tidak tersangka, dan siapa tahu, mungkin senyuman kita kepada orang lain akan menjadi pemicu sehingga mereka siap membantu kita dengan urusan kita, hanya karena senyuman di muka kita membuat mereka merasa lebih tenang dan ikut senyum juga.

Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah” (HR. Tirmidzi dan Abu Dzar). 

Rasulullah SAW bersabda, “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi). 

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau sekali-kali meremehkan suatu kebaikan, walaupun itu hanya sekedar untuk menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (senyum).” (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment